Selasa, 21 November 2017

SAMA-SAMA BERMIMPI BESAR

Rabu, 17 Agustus 2016
oleh : admin
Dibaca sebanyak 2045 kali
Di tengah-tengah momen perayaan kemerdekaan seperti saat ini, tulisan Gus Dur dengan judul “Sama-sama Bermimpi Besar” layak kita renungkan kembali. Di dalamnya, Gus Dur membicarakan sosok Bung Hatta, Sang proklamator kemerdekaan bangsa ini. Gus Dur sangat apik dalam menarasikan sisi lain dari kehidupan Bung Hatta yang tidak banyak orang ketahui. Terutama dari sisi kesantrian dan identitasnya sebagai seorang Muslim. Gus Dur juga tidak lupa mengajak pembaca untuk memiliki impian yang besar sebagaimana Bung Hatta, yang memiliki semangat dalam merumuskan Indonesia merdeka. Sehingga namanya dikenang sampai sekarang. Mengutip pernyataan Gus Dur dalam tulisan di bawah ini: “Mengapa tidak bermimpi besar, tidak berangan-angan jauh: pembebasan bangsa dari kungkungan ketidakadilan, menegakkan demokrasi secara konkret. Kita semua dari generasi, dari masa sebelum Bung Hatta hingga ke anak cucu toh tidak akan kekurangan anggota yang memiliki impian besar.

 

Sama-sama Bermimpi Besar

Oleh: K.H Abdurrrahman Wahid

 

Pagi itu, dalam perjalanan sejak pukul enam dari kota Banyuwangi ke pesantren Blokagung, kami berdua melihat di dekat kota kecil Jajak ada bendera setengah tiang berkibar. Isteriku bertanya, siapa yang meninggal dunia? Seperti biasa, aku terus berspekulasi: mungkin lurahnya yang mati, atau camatnya. Sampai di Pesantren Blokagung juga tidak ada yang tahu.

Jam sebelas baru kami mengetahui beritanya, ketika ada tamu datang dari kota: Bung Hatta telah  pergi meninggalkan kita semua. Lengkaplah sudah kepergian para proklamator kemerdekaan kita.

Tokoh ini dahulu agak disalahpahami oleh gerakan keagamaan Islam karen penolakannya yang tegas terhadap gagasan negara teokratis. Bung Hatta bukan bagian dari perjuangan kita, begitulah kira-kira jalan pikiran berbagai macam gerakan itu.

Akan tetapi di akhir hayatnya, Bung Hatta justru menjadi contoh dari seorang muslim tulen. Setiap jumat selalu datang terdahulu, langsung menuju tempat yang sama di baris pertama. Mobil bernomor B-17845 menjadi penghias halaman masjid Matraman Jakarta secara tetap selama tiga puluh tahun.

Kesantrian Bung Hatta yang penuh dengan jadwal waktu tetap untuk beribadat kepada Allah dijadikan contoh yang ditularkan dari mulut ke mulut, dari guru ke murid. Tidak peduli besarnya perbedaan jalan pikiran masyarakat yang memenuhi masjid itu dengan jalan pikiran Bung Hatta sendiri.

Kalau ada yang tidak setuju dengan kerasnya pengeras suara yang mengumandangkan suara adzan dari masjid tersebut, mungkin Bung Hatta-lah orang yang pertama akan bersikap demikaian. Tetapi sikapnya untuk berdiam diri di hadapan kenyataan seperti itu justru dihargai orang di lingkungan itu: pinter ngemong, kata orang Jawa. Kearifan orang yang telah menemukan hubungannya sendiri dengan Tuhannya, tidak terganggu dengan manifestasi kehidupan beragama orang banyak di sekitar.

Tidakkah orang-orang muslim muda yang cenderung melemparkan kritik kepada umatnya dalam segala hal sebaiknya belajar dari sikap berdiam dirinya Bung Hatta?

Seminggu kemudian sejumlah mahasiswa muslim berbincang-bincang tentang besarnya impian orang seperti Bung Hatta: Indonesia Merdeka – di saat belum ada tanda-tanda kemerdekaan sedikitpun. Masyarakat sejahtera, adil dan makmur – selagi semua nilai luhur diinjak-injak seperti sekarang ini. Keseimbangan hidup lahir dan batin – selagi materialisme masih mengungkung jalan pikiran kita sebagai bangsa. Kehidupan politik serba bersih dan wajar  - di saat korupsi masih menjadi budaya, diberantas dibibir dan dikerjakan oleh yang punya bibir.

Mengapakah angkatan anda tidak mampu bermimpi besar seperti itu, tuduh (ini perasaanku, sebetulnya mereka hanya bertanya) mereka kepadaku. Andacuma puas dengan impian sektoral, yang tetap saja berwatak sepotong-sepotong  betapa mulianya sekalipun. Anda repot dengan impian tentang pesantren, yang cuma satu sektor saja dari kehidupan bangsa. Mungkin sekali bahkan cuma satu sektor saja dari kehidupan bangsa. Mungkin sekali cuma sektor yang tidak begitu penting.

Mengapa tidak bermimpi besar, tidak berangan-angan jauh: pembebasan bangsa dari kungkungan ketidak-adilan, menegakkan demokrasi secara konkret; bahkan Daud Yoesoef saja masih lebih jauh jangkauannya karena ia ingin mencerdaskan kehidupan bangsa.

Terdiam aku menghadapi deretan pertanyaan di atas. Bagaimana dapat dijawab dengan memuaskan, kalau aku sendiri juga belum tahu apa jawaban yang diberikan.?

Menegakkan keadilan dan kehidupan politik yang benar-benar demokratis? Nanti disangka kriminal, seperti anak-anak ITB dan tokoh-tokoh Demo beberapa Universitas. Menyuarakan aspirasi rakyat tentang tanah? Nanti dituduh pejuang salon, seperti kawan-kawan di fraksi DPR.

Membuat blue print tuntas tentang strategi alternatif bagi pembangunan? Melaksanakan proyek di sebuah desa  terpencil saja belum mampu, mengapa berani-berani membuat rancangan seperti itu? Apa tidak tahu, teknokrat dibappenas dan departemen-departemen saja, yang didukung oleh cukong-cukong IGGI, tidak dapat membuat rancangan pembangunan yang baik?

Terdiam, karena tidak dapat meyakinkan para mahasiswa itu. Bahwa impianku juga sebesar impian Bung Hatta dan kawan-kawannya seangkatan. Bahwa kerja kami dari berbagai program di pedesaan yang terpisah-pisah juga akan berakhir pada sesuatu yang universal. Bahwa perjuangan kemanusiaan sekarang harus bermula dari mendengarkan suara Pak tani yang mengharapkan pinjaman modal empat ribu rupiah bagi isterinya untuk berdagang kecil-kecilan, membawa rinjing berjualan kerupuk asin ke pasar terdekat.

Sulit untuk menggambarkan bahwa berbincang dengan lurah tentang saluran air yang baru untuk desanya sama penting dan luas jangkauannya dengan pertemuan Mao Tse-dong di Telaga Barat dekat kota Hankow, yang membentuk partai komunis China enam puluhan tahun yang lalu.

Sukar menunjukkan bahwa kerja di pedesaan dalam sebulan proyek kecil sama hasil transformatifnya dalam jangka panjang dengan rapat-rapat gelap kelompok Opsir Merdeka di Mesir-nya raja Farouk, kelompok pimpinan Gamal Abdel Nasser. Sama hebat dengan rapat Perhimpoenan Indonesia di Holand, di mana Bung Hatta turut merumuskan impian besar Indonesia merdeka.

Sungguh sulit untuk diterangkan kepada angkatan adik-adik karena tidak ada unsur showbis politik dalam kerja-kerja di pedesaan itu. Biarlah mereka toh harus mencari jalan sendiri, tidak usah terlalu minta bantuan, petunjuk, atau contoh dari kakak-kakak mereka. Kita semua dari generasi, dari masa sebelum Bung Hatta hingga ke anak cucu toh tidak akan kekurangan anggota yang memiliki impian besar.