Senin, 10 Desember 2018

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Tentang 1965 dan Jalan Terjal Rekonsiliasi

oleh : HARIS EL MAHDI , 0 Komentar
Minggu kedua Agustus di tahun 1945, dua bom berhulu nuklir menghantam dua kota strategis yang menjadi lumbung logistik pasukan Dai Nippon, Hiroshima dan Nagasaki. Inilah untuk pertama kali dan satu-satunya, setidaknya sampai saat ini, senjata nuklir digunakan dalam sebuah perang. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki mereduksi sangat drastis kekuatan Dai Nippon dan menjadi tanda awal berakhirnya Perang Dunia ke-2. Perang ini dimenangkan secara gemilang oleh pihak sekutu yang dipimpin aliansi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di daratan Eropa, pasukan NAZI juga mengalami kekalahan besar dan terjepit. Di Penghujung cerita, Hitler dan Istrinya, Eva mati bunuh diri, meski jasadnya hilang misterius. Perang Dunia ke-2 berakhir anti-klimaks. Namun, bukan berarti dunia menemukan kedamaian. Paska PD Ke-2, dunia dibagi dalam dua kubu besar, yang merefleksikan pemenang PD ke-2. Bagi-bagi rampasan perang. Dua kubu itu adalah kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bernard Russel menyebutnya sebagai Blok Declaration of Independence dan Blok Manifesto Communist.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Catatan dari Orasi Alissa Wahid di Tunas Gusdurian 2018: Menjaga Indonesia, Menapaktilasi Gus Dur

oleh : KIAI MARZUKI KURDI, 0 Komentar
Dari sisi teori tata panggung, penampilan Alissa di acara Tunas Gusdurian 2018 lalu tidak tampak sebagai seorang Orator. Di panggung yang cukup luas yang penuh dengan dekorasi wayang dia memilih berdiri di tepi ujung paling depan. Memakai pakaian sederhana, seperti biasanya, tanpa asessoris dan dengan gerak-bahasa tubuh, ekpresi-mimik yang jugabiasa,juga tidak ada diksi atau kalimat bombastis yang keluar dari mulutnya---demi efek penampilan. Semua itu seperti mempertegas, sebagaimana diakuinya sendiri, dirinya tidak berbakat menjadi seorang Orator. Alissa tampil seperti sehari-hari saja. Kekuatan penampilannya yang berbicara sekitar 45 menit siang itu, justru terlihat pada watak yang tergambar dari emosi batinnya saat mengemukakan sesuatu yang terjadi dan melanda bangsa Indonesia terkait kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan agama( poleksosbud-gam). Ia, waktu itu, dengan daya kritisnya, merasa perlu mengemukakan cara pandang dirinya, dengan tetap mengambil jarak dengan beberapa kelompok beserta kepentinganya masing-masing sembari menghindari rasa romantisme seorang aktivis. Yakni kesaksian tentang ketidakadilan, pelanggaran HAM, radikalisme, intoleransi, makin mengguritanya korupsi, perampasan hak warga oleh kekuatan tertentu, penguasaan sumberdaya alam oleh asing dan beragam macam bentuk perilaku buruk yang menciderai harkat dan martabat kemanusiaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kesadaran Relasional Antara “Aku, Kamu, dan Kita”

oleh : AFIF MUHAMMAD, 0 Komentar
“Kepuasan yang terlalu dini akan membuat kita lupa diri dan sombong, padahal tidak satu hal pun di dunia ini yang memiliki satu sisi, semuanya jamak. Mempertahankan suatu sisi dengan mati-matian tanpa kenal sisi lain hanya akan membuat kita tampak bodoh” demikian tutur anonim. Pengetahuan dan pemahaman yang dangkal mengakibatkan kekacauan. Anonim diatas merupakan fatwa klasik agar manusia senantiasa berfikir terbuka, universal, dan luas. Untuk mewujudkannya, tentu semuanya butuh proses panjang melalui kesadaran dan kometmen kuat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Idul Adha, Empati untuk Meiliana dan Guyonan Gus Dur

oleh : SAIFUL HAQ, 0 Komentar
Empati untuk Meiliana datang saat Idul Adha, saya teringat guyonan Gus Dur. Hari raya Idul Adha atau kita sebut juga sebagai Idul Qurban baru saja kita rayakan. Perayaan keagamaan yang mengingatkan kita kepada hari ketika Nabi Ibrahim, yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah, kemudian sembelihan itu digantikan “stuntman” oleh-Nya dengan domba. Saya tidak akan membahas keseluruhan sejarah Idul Adha, tetapi lebih tertarik momen percakapan nabi Ibrahim dan anaknya Ismail terkait perintah Allah lewat mimpi sang Bapak. Hal ini diabadikan dalam surat Ash-Shaffat ayat 102.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ibu Meiliana, Maafkan Aku....

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Ibu Meiliana, maafkan aku. Ternyata keterangan saya sebagai saksi ahli dalam persidanganmu tak didengarkan hakim. Hakim lebih memilih bisikan lain, daripada bisikanku. Saya sudah berusaha sekuat pengetahuan yang saya miliki untuk membebaskankanmu dari tuduhan melakukan penodaan agama, meskipun saya tahu biasanya hakim tidak akan tahan dengan tekanan massa. Engkau akhirnya tetap divonis melakukan penodaan agama dengan pidana 18 bulan. sebelumnya menduga, jaksa akan terpengaruh dengan argumentasi saya dan menuntutmu bebas. Mengapa? Setelah sidang, salah satu jaksa mendekati saya sambil berkata: "Terima kasih pak atas keterangannya. Banyak yang mencerahkan saya, termasuk posisi fatwa dalam Islam". Ternyata, dugaan saya inipun meleset.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam (Catatan untuk Tunas Gusdurian 2018)

oleh : IRFAN AFIFI, 0 Komentar
Ada rumusan umum yang setidaknya bisa disepekati dalam Temu Nasional Gus Durian 2018 terkait perumusan salah satu dari Sembilan nilai Gus Dur, yakni khususnya terkait gagasan “pribumisasi Islam”, bahwa Pribumisasi Islam sebagai sebuah nilai yang ditawarkan Gus Dur tidak dimaksudkan untuk mengganti bacaan Al Fatihah yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, Minang, Batak dll. Dalam konteks abstraksi, Gagasan Pribumisasi islam tidak ingin mengganti apa yang universal dan tetap dari ajaran agama (ast-stabit), seperti nilai ibadah sholat atau ajaran-ajaran keimanan, tauhid, dll yang bersifat pokok dalam agama (usul). Namun, Pribumisasi Islam hanya berusaha menempatkan apa yang cabang (furu’) yang bersifat berubah (al mutaghaiyyir) dalam ajaran syari’at (fikih) sebagai sebuah fakta yang lentur dalam persinggungannya dengan realitas kebudayaan Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengatasi Radikalisme ala Gus Dur

oleh : KH. HUSEIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Andaikata Gus Dur masih ada hari ini dan menyaksikan hiruk-pikuk aksi-aksi radikalisme dan kekerasan atas nama agama, apakah yang akan beliau lakukan?. Ini pertanyaan yang diajukan seorang pemuda pada acara bedah buku “Gus Dur dalam Obrolon Gus Mus”, pada peresmian Pergerakan Griya Gus Dur, 24/01/16 lalu. Aku mengira-ngira saja atau berimajinasi. Membaca dan mempelajari paradigma, world view dan karakter spiritualisme Gus Dur, pertama-tama kita akan mengatakan bahwa Gus Dur tidak akan melakukan perlawanan terhadap para pelaku kekerasan dan kaum radikal melalui cara yang sama. Dengan kata lain Gus Dur tidak akan mengatasi kelompok garis keras dan kaum radikal tersebut dengan jalan kekerasan serupa dan militeristik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Islam, dan Bhinneka Tunggal Ika

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Alkisah.... Suatu malam yang hening di sebuah sanggar Hindu, di sisi utara Pulau Bali yang indah, tiga orang sahabat lintas-iman, dengan balutan rasa hormat dan ikatan persahabatan yang erat, berdiksusi tentang konsep wali atau santo atau orang suci. Diskusi itu mengantarkan ketiganya pada sebuah titik pertemuan spiritualitas tertinggi, rasa keagamaan yang mendalam. Ketiga orang itu adalah Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka, dan Romo Mangun Wijaya. Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Kedalaman peristiwa itu terrekam jelas dalam tulisan Gus Dur yang mengisahkan peristiwa tersebut. "Baik agama Hindu, Katolik maupun Islam, memandang...orang suci...memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain...ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan...ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia. Persamaan pandangan inilah yang membuat kami...saling menghormati dengan sepenuh hati.... Saya tidak pernah memikirkan perbedaan...melainkan justru persamaan...yang selalu kami jadikan sebagai titik pandang untuk melakukan pengabdian kemanusiaan." (Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 83-84).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi