Jumat, 16 November 2018

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Mudik Atau Tetap Mabuk Kuda Lumping

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pekerjaan rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang genap 73 tahun merdeka masih banyak. Suara sekaligus gerak positif sebagaimana dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah nama lain yang berani mudik (pulang) terhadap ajaran Islam, amanat negara dan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada mabuk (hilang kesadaran) seperti pemain kuda lumping. 70 persen dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia ialah followers Rasulullah SAW, menganut agama Islam, agama perdamaian. Produksi masif ujaran kebencian hingga fitnah yang telah ditegaskan dosanya lebih besar dari membunuh dalam QS Al Baqarah ayat 217, dewasa ini sungguh mencabik hakikat perdamaian. Tidakkah itu memberi kesan, jika ternyata kita telah jauh meninggalkan Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Negara Islam dalam Pengembaraan Gus Dur

oleh : ZAIM AHYA, 0 Komentar
Gus Dur pernah melakukan pengembaraan, mencari arti negara Islam. Baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Hal itu wajar, karena sebagai seorang muslim. Namun mengapa kemudian beliau menolak dari adanya konsep negara Islam? Bagi umat Islam yang meyakini mendirikan Negara Islam adalah sebuah keharusan, terus berusaha mewuwudkannya merupakan konsekuensi logis dari keyakinannya itu. Tidak mendirikan negara Islam adalah berdosa bagi mereka. Mungkin kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah contoh yang terdekat dalam masalah ini. Walaupun sudah dibubarkan dan gugatannya ditolak karena terbukti berkeinginan mendirikan Khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (kompas.com-07/05/2018), namun masih terasa gemanya dari trending topik twitter pada 07/05/2018 kemarin.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pendekatan Kultural Gus Dur terhadap Konflik Aceh dan Papua

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah meletakkasan dasar-dasar penyelesaian konflik Aceh dan Papua dengan Republik Indonesia secara damai pada masa kepresidennya 1999-2001. Presiden Gus Dur melakukannya dengan pendekatan kultural dan personal dengan penghormatan terhadap hak-hak kolektif masyarakat Aceh dan Papua dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan dasar-dasar tersebut, maka penyelesaian damai Aceh dan Papua bersifat permanen. Demikian kesimpulan disertasi Ahmad Suaedy, Anggota Ombudsman RI dan mantan Direktur Eksekutif the Wahid Institute dan Anggota Board Jaringan GusDurian Indonesia, dalam ujian terbuka di paska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan judul VISI KEWARGANEGARAAN KULTURAL ABDURRAHMAN WAHID DALAM PENYELESAIAN KONFLIK ACEH DAN PAPUA, 1999-2001, Senen (14/5) di Kampus Pasca UIN Suka, Yogya.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kartun Tempo dan Respon Gus Dur

oleh : HAMIDULLOHIBDA , 0 Komentar
Hebohnya kartun Majalah Tempo, edisi 26 Februari 2018 yang mengakibatkan Front Pembela Islam (FPI) demo besar-besaran harus menjadi pembelajaran. Kejadian itu membuktikan masyarakat masih “miskin literasi seni” dalam media massa. Literasi seni di sini meliputi membaca, mengapresiasi, menafsir, bahkan mengritik kartun sebagai produk seni, budaya, dan produk pers.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

SIKAP JARINGAN GUSDURIAN JAWA BAGIAN BARAT TENTANG PEMILIHAN KEPALA DAERAH SERENTAK DI JAWA BARAT

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Pada 27 Juli 2018, masyarakat Jawa Barat akan menggelar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara serentak di 17 kabupaten / kota termasuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Tidak kurang dari 61 Pasangan Calon (Paslon) akan memperebutkan kursi pemimpin di wilayah masing-masing. Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak guna memastikan proses Pilkada dapat berjalan secara jujur, adil, bebas dan menghasilkan pemimpin-pemimpin terbaik. Jaringan Gusdurian Jawa Bagian Barat mencermati Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan tingkat dinamika sosial politik yang paling tinggi di Indonesia, terlebih lagi pada momen-momen politik seperti Pilkada. Bahkan dalam beberapa kasus, Pilkada juga kerap memunculkan tren meningkatkan politik identitas dari pihak-pihak tertentu untuk tujuan meraup suara pemilih. Karena itu, sebagai salah satu elemen masyarakat, Jaringan Gusdurian Jawa Bagian Barat menyampaikan sikap sebagai berikut:
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kartini Sebagai Foto Model

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Dalam tulisannya tentang desain dokumen yang menganalisis hubungan antara teks dan gambar, Aliisa Makynen (2012) memulai tulisannya dengan sebuah pepatah lama yang banyak dikenal orang: “Sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata”. Di sini hendak dinyatakan bahwa sebuah gambar bisa lebih menjelaskan gagasan daripada deretan kalimat dalam sebuah tulisan. Pepatah ini mengandung kebenaran yang nyaris tak terbantahkan. Rambu-rambu lalu lintas hingga buku resep masakan telah membuktikan kebenaran ini. Sekalipun demikian, saya ingin mengawali tulisan tentang Kartini ini justru dari pertanyaan: Mungkinkah sebuah gambar justru menghilangkan makna kata-kata?
Kategori : Headline , Opini

Kelakar Madura Buat Gus Dur

oleh : ARIF GUMANTIA, 0 Komentar
Buku ini diterbitkan kembali dengan momen yang tepat, ketika ruang publik kita dibanjiri oleh narasi-narasi yang serius dan penuh kepalsuan ( kemunafikan ). Ruang publik baik di dunia nyata maupun dunia maya riuh rendah dengan narasi-narasi yang tidak mempunyai relevansi dengan esensi kehidupan. Buku yang pernah terbit tahun 2001 ini tidak hanya relevan untuk dibaca saat ini, tetapi juga signifikan. Buku karya ki Dalang H. Sujiwo Tejo ( penulisnya menyebut dirinya dalang, karena menurutnya seorang dalang dalam proses kreatifnya mesti menguasai sastra, musik, seni rupa, teater, dan sebagainya ) ini membuat pembaca seolah dibawa ke masa ketika Gus Dur masih hidup, ketika ruang publik kita banyak diwarnai dengan joke dan anekdot yang segar, ruang publik yang membuat kita tertawa lepas dan merayakan hidup dengan menertawakan diri sendiri.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Itikad Kata-kata

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
”Bu, apakah kita sama sekali tidak boleh menyebut kata banci? Bagaimana kalau kita sedang harus berdiskusi tentang itu? Masak tidak boleh disebut sama sekali?” Demikian tanya anak saya yang berusia 10 tahun.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kepada Sayyidina Umar, Rindu Berat Ini Kami Alamatkan

oleh : SURAJI, 0 Komentar
Sebulan yang lalu kami menghadiri konferensi pers untuk meminta Presiden memberikan grasi kepada Kyai Nur Aziz, seorang Kyai kampung yang sedang menjalani vonis delapan tahun penjara, akibat memperjuangkan para petani Surokonto Wetan, Kendal Jawa Tengah. Mereka sudah lebih 25 tahun menggarap lahan Perhutani yang terlantar, dan harus melepas tanah tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi