Minggu, 17 Desember 2017

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Fatwa MUI Bukan Hukum Positif

oleh : HIFDHIL ALIM, 0 Komentar
“Fatwa Majelis Ulama Indonesia bukanlah hukum positif.” Pernyataan tersebut saya gunakan sebagai mukaddimah dalam kolom ini dengan tujuan penegasan pendapat saya bahwa fatwa yang diterbitkan oleh MUI tidak bernilai sebagai hukum positif. Tentunya, sebelum sampai ke penegasan itu, saya mengajukan dua perihal yang saya jawab terlebih dahulu, yang kemungkinan besar menggelayut di pikiran para pembaca yang budiman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Fatwa MUI, Atribut Natal, dan Soal Kerukunan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada 14 Desember 2016 tentang “hukum menggunakan atribut non-muslim”. Fatwa itu menyatakan bahwa menggunakan atau mengajak/memerintahkan penggunaan “atribut keagamaan non-muslim” adalah haram. Fatwa itu tak menyebut Natal dan umat kristiani secara eksplisit. Namun kentara bahwa fatwa itu merujuk kepada—kita nyatakan terus terang saja—muslim yang menggunakan atribut yang dipersepsikan sebagai “atribut Kristen”, seperti pakaian Sinterklas dan aksesorisnya.
Kategori : Headline , Pilihan Redaksi

Alissa Wahid: Nilai Keislaman Gus Dur Sangat Relevan Mengatasi Kebencian

oleh : ADMIN, 0 Komentar
“Menghadapi tantangan meningkatnya kebencian antarsesama muslim maupun terhadap kelompok lain akhir-akhir ini, kami merasa nilai keislaman yang diperjuangkan KH Abdurrahman semakin relevan untuk digemakan kembali. Karena itu Peringatan ke-7 Tahun Wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember ini mengambil tema ‘Mengaji Gus Dur; Menebar Damai Menuai Rahmat’,” tandas Alissa Wahid, ketua Panitia Peringatan yang juga puteri sulung Gus Dur, (Selasa, 20/12).
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Peran Guru Agama dalam Memutus Akar Radikalisme

oleh : MUHAMMAD ARAS PRABOWO, 0 Komentar
Kedamian adalah suatu hal yang sangat berpengaruh dalam harmonisasi berbangsa dan bernegara. Kehidupan yang damai hanya bisa diwujudkan dengan sikap toleransi antar manusia, khususnya dalam negara yang memiliki penduduk dengan suku, agama, ras yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut hanya dapat diikat dengan tali toleransi antara ummat Seperti yang digagas oleh KH. Abdurrahaman Wahid (Gus Dur) yang tertuang dalam beberapa karyanya. Pimikirannya tidak hanya tertuang dalam bentuk tulisan saja, tapi telah banyak mengubah arah kehidupan bangsa ini. Pluralisme Gus Dur telah menjadi corak tersendiri dalam menata kehidupan bangsa yang beragam perbedaan ini. Kerena pemikirannya yang monumental ini, berhasil mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan di negara kesatuan republik Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Wacana Khilafah di Negara Pancasila

Perdebatan antara diskursus Keislaman dan Pancasila sebagai dasar negara, menemukan titik temu, ketika para perumus dasar negara Indonesia yang tergabung dalam panitia sembilan mencapai kompromi (kalimatun sawa). KH. Wahid Hasyim disebut-sebut sebagai tokoh yang menjadi penengah antara kelompok Islamis dan Nasionalis dalam perdebatan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berbunyi "Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya", yang kemudian disepakati perubahannya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan itu diterima dan disepakati oleh seluruh anggota dalam tim Sembilan menjadi sila pertama dalam rumusan Pancasila.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menjaga Semangat Toleransi, Gusdurian Solo Adakan Diskusi dan Nonton Film

SOLO, Sabtu – Dalam memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh setiap tanggal 16 November, Gusdurian Solo dengan beberapa elemen komunitas yang ada di Kota Solo menggelar acara nonton film dan diskusi dengan tema “BEDA dan SETARA”. Kegiatan yang berlangsung di pendopo Taman Cerdas, Kecamatan Jebres, Kota Solo tersebut berlangsung dengan khidmat, diikuti kurang lebih 50 peserta pada hari Sabtu, 19 November 2016. Dalam kegiatan ini, pelaksanaan acara dibantu beberapa elemen komunitas maupun organisasi yang ada di Kota Solo. Elemen yang tergabung tersebut, tak lain dan tak bukan adalah memiliki komitmen dalam menjaga semangat toleransi di tengah keberagaman bangsa. Beberapa elemen maupun organisasi yang tergabung di dalam kegiatan tersebut antara lain adalah Komunitas Nandur, Akasavakya, PMII Komisariat Kentingan serta Komunitas Literasi Buku Revolusi.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Membedah Pemikiran Gus Dur, Mengurai Permasalahan Bangsa

oleh : NUR SHOLIKHIN, 0 Komentar
Gus Dur ketika masuk partai, dia terjun di lahan persengketaan petani dengan perusahaan. Bagi Gus Dur, partai politik adalah alat untuk memperjuangkan masyarakat. Bahkan orang-orang yang dididik oleh Gus Dur banyak yang belum memahami. “Kok eman-eman Gus Dur masuk partai politik. Kalau saya memandang, kebesaran kita di masyarakat sipil juga harus dibuktikan juga untuk menata politik. Tapi jangan sampai politik menjadi panglima,” terang Nur Khalik Ridwan saat menyampaikan materi tentang Biografi Gus Dur pada agenda Kelas Pemikiran Gus Dur (KPG) V di Kampung Batik Giriloyo, Bantul, Sabtu (19/11/2016).
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Peringati Hari Toleransi Internasional, JGD Pasuruan Bagikan 1000 Stiker Dan Baca Puisi Toleransi

oleh : MAKHFUD SYAWALUDIN, 0 Komentar
Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) Jaringan GUSDURian (JGD) Pasuruan bersama Puluhan pemuda lintas agama di kabupaten Pasuruan, bagikan 1000 stiker dalam memperingati Hari Toleransi Internasional di Perempatan Taman Dayu Pandaan. “Sore tadi, kami bersama puluhan pemuda dari GBIS Pandaan, PMII Ngalah, PMII Pancawahana, Kelenteng Tjoe Tik Kong, dan Universitas Yudharta Pasuruan menyebarkan 1000 stiker di Perempatan Taman Dayu Pandaan Pasuruan.” Ungkap Pendeta Otniel Rossa Setiawan selaku Anggota Jaringan GUSDURian Pasuruan kemarin sore (26/11/2016). “Motivasi kami satu dan sederhana, seperti kata Gus Dur, bahwa Indonesia ada karena keberagaman. Kami berbeda tetap satu, yakni Indonesia.” Pungkasnya.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gusdurian Semarang Peringati Hari Toleransi Internasional dengan Ziarahi Tokoh Pluralisme Semarang

oleh : FAHMI DAN ZULFA, 0 Komentar
Pemuda yang tergabung dalam Jaringan Gusdurian Kota Semarang bersama pegiat keberagaman kota Semarang berkumpul di pelataran makam Bergota pada Kamis, (17/11). Mereka berziarah ke makam Mbah Sholeh Darat sebagai bagian agenda pembuka Pekan Hari Toleransi Internasional yang telah ditetapkan PBB sejak 16 November 1995. Mbah Sholeh Darat merupakan tokoh ulama kharismatik Semarang dan guru dari dua tokoh bangsa, KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. Rombongan yang terdiri dari Gusdurian, PMII Kota Semarang, KPS, Pelita, PPMI DK Semarang, LBH, rumah pelangi, komunitas payung, paguyuban pedagang kaki lima dan Permahi melanjutkan ziarah ke taman makam pahlawan Giri Tunggal makam MGR Soegijapranata. Ikut serta Romo Aloys Budi Purnomo, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Media “Islam” yang Menyebarkan Marah

Islam berasal dari kata as-silmu (damai), aslama (menyerahkan diri/pasrah), istalma mustaslima (penyerahan total kepada Allah), saliimun salim (bersih dan suci), dan salamun (selamat). Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tersebut terbukti mampu membawa masyarakat kegelapan menuju dunia baru, yang terang serta melampaui zaman. Apakah yang tidak tepat dalam Al Quran sebagai kitab suci, petunjuk, tuntunan? Alam semesta telah dibahas dalam QS Al Anbiya ayat 30. Bahkandermatoglyphics alias studi ilmiah sidik jari yang ngetrend beberapa tahun ini dengan tegas telah dinyatakan dalam QS Al Qiyaamah ayat 3-4. Termasuk bagaimana ketentuan lisan, hingga berita yang baik telah ditegaskan dalam QS Al Hujurat ayat 6.
Kategori : Headline , Opini