Minggu, 17 Desember 2017

BERITA DAN ARTIKEL UTAMA PILIHAN REDAKSI KAMPUNG GUSDURIAN

Berita dan Artikel Utama Pilihan Redaksi Kampung Gusdurian

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Ignasius Sandy

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Ignasius Sandyawan Sumardi mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996. Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Dialog Tanpa Senjata

oleh : SARJOKO, 0 Komentar
“Maaf, boleh saya minta air putih saja?” kata Felip Karma, saat diberi segelas teh hangat untuk menemani diskusi. “Saya bernazar untuk tidak meminum selain air putih, sampai Papua merdeka,” sambungnya lagi. Sebuah nazar yang menunjukkan betapa kuat dan gigihnya ia dalam berjuang. Sebelum 22 Agustus kemarin, nama Filep Karma sangat asing di telinga saya. Beberapa kali mengikuti berita soal penangkapan pejuang OPM, saya tidak menghafal nama-nama tokohnya. Bahkan saya tidak menyadari bahwa Filep Karma adalah salah satu dari lima tahanan politik yang dibebaskan oleh Jokowi tahun 2015 lalu. Ia ditahan karena turut mengibarkan bendera kejora di Jayapura tahun 2004. “Setelah saya dibebaskan, saya tetap akan berjuang. Selama Papua belum merdeka, berarti perjuangan saya belum selesai!” tegasnya.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Filep Karma, Gus Dur, dan Papua

Filep Karma tak pernah surut memperjuangkan hak-hak warga Papua yang kerap mengalami ketidakadilan dan diskriminasi. Menjadi tahanan politik selama 11 tahun adalah bagian dari kisah pejalanan hidupnya. “Saya tidak tahu, kapan Papua akan merdeka, yang tahu hanyalah Tuhan semata. Kita hanya akan terus berusaha, sampai Tuhan memanggil kita.”terang Filep Karma. Senin malam (22/8), ia menjadi tamu kehormatan dalam acara diskusi bersama para aktivis, wartawan, dan anak muda yang tengah menggeluti isu Papua di Griya Gusdurian.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Damai untuk Papua

oleh : B JOSIE SUSILO HARDIANTO, 0 Komentar
Kebijaksanaan tidaklah diukur dari panjangnya usia.... Anton Sumer tercenung di depan televisi. Pemberitaan tentang wafatnya mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid menyita seluruh perhatiannya. ”Ai, aduh. Kami, orang Papua, layak bersedih. Beliau bapak kami orang Papua. Beliau pula yang mengembalikan lagi nama Papua,” kata Anton sambil memegang kepalanya. Dulu, semasa Orde Baru, tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Namun, oleh Gus Dur tembok-tembok ketakutan itu diruntuhkan. Dulu Papua disebut dengan Irian, demikian juga dengan penduduknya, orang Irian.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jihadisme Toleran

oleh : YAHYA CHOLIL STAQUF, 0 Komentar
Sebelum naik cetak, Gus Dur meminta saya membacakan naskah buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid yang ditulis Greg Barton itu. Pada bagian pendahuluan, Greg sudah mencicil kesimpulan tentang Gus Dur dengan menyebutnya sebagai ’’pemimpin muslim liberal’’. Saat saya membacanya, Gus Dur serta-merta menyela. ’’Greg keliru itu!’’ katanya. ’’Saya ini bukannya liberal. Saya toleran.’’ Apa bedanya? ’’Kalau liberal, tidak perlu jihad. Setiap individu dipersilakan berpikir apa saja dan menjadi apa saja semau-maunya. Toleran itu tidak meninggalkan jihad, tapi tidak memaksakan kehendak.’’ Mungkinkah berjihad secara toleran?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sekali Lagi Tentang Gus Dur

oleh : NADIRSYAH HOSEN , 0 Komentar
Masih adakah yang tersisa yang belum ditulis tentang Gus Dur? Rasanya sudah dibahas semuanya baik yang fanatik mendukungnya maupun yang fanatik membencinya. Tapi tidak mengapalah saya tuliskan juga catatan ini –ini bukan bid’ah kan. Saya orang yang rasional, bukan gemar dunia mistik. Jadi, saya memahami Gus Dur juga lewat pendekatan yang rasional. Kalau memahami beliau lewat ‘dunia lain’ tentu bukan maqam saya bicara hal seperti itu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Perempuan dan Perdamaian dalam Tradisi Agama-Agama Ibrahim

oleh : ISNA LATIFA, 0 Komentar
Jika ada anggapan bahwa Yahudi adalah Israel, ISIS adalah Islam, dan Donal Trump adalah Amerika, maka bisa dipastikan anggapan itu salah.”Ujar David Elcot, seorang profesor di New York University disaat sesi diskusi bersama Shira. Sama halnya jika ada pendapat yang mengatakan Yahudi kejam, Yahudi jahat, dan Yahudi biadab. Ini hanyalah pendapat yang sangat sempit. Yahudi sebagaimana dengan Islam atau agama lain memiliki potensi yang sama. Di dalam Islam juga terdapat ISIS yang sama kejamnya dengan Israel yang sampai hari ini terus melakukan penekanan terhadap rakyat Palestina.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Catatan dari Workshop Perubahan Sosial JGD

Jaringan Gusdurian Indonesia pada Senin (18/07) mengadakan Workshop bertema “Social Change: Can Prophets of Justice Actually Work Together?” bersama David Elcott, profesor di New York University. Tema yang diangkat adalah tentang kepemimpinan dan strategi dalam melakukan perubahan sosial. Mengingat selama ini, dalam melakukan perubahan, tidak jarang seorang melakukannya dengan aksi kekerasan (violence). Demo, membakar ban, membuat kericuhan dengan pengguna jalan, gambaran itu sering kita lihat bukan? Apakah pendekatan seperti itu masih efektif dilakukan dalam mencapai perubahan? Jika tidak, apakah pendekatan non-violence (tanpa kekeraan) sendiri juga mampu mengatasi permasalahan di dunia yang penuh dengan kekerasan?
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Meninggalkan Pekerjaan di Luar Negeri, Membangun Desa dengan Kopi

oleh : FAWAZ, 0 Komentar
Alkisah, di sebuah negeri bernama Abyssinia (kini bernama Ethiopia), seorang pengembala bernama Kaldi heran melihat kambing-kambing gembalaannya bertingkah aneh usai menyantap buah yang baru pertamakali ia lihat. Kambing-kambing itu terlihat gembira. Kaldi lalu mencicip buah itu, seketika tubuhnya terasa segar usai mengonsumsi buah tersebut. Lantas ia lekas memberitahukan hal ini kepada penduduk desa tempat ia tingal. Tak butuh waktu lama, buah itu menjadi populer di desanya hingga menjalar ke desa-desa sekitar. Selanjutnya, kopi menjadi semakin populer dalam waktu singkat. Lebih lagi usai Ethiopia menginvasi Yaman dan mulai menanam kopi di sana. Berkat andil pedagang-pedagang dari jazirah arab, penyebaran kopi semakin menjangkau banyak wilayah. Bangsa Arab juga yang menemukan cara baru mengonsumsi buah kopi, yaitu kopi diolah menjadi bahan minuman setelah sebelumnya buah kopi dikonsumsi dengan cara dimakan begitu saja. Kisah ini bisa ditemukan di Majalah National Geographic pada artikel berjudul Escape from Arabia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Halal Bihalal: Merajut Harmoni Kemanusiaan

Sejak awal ibadah puasa di bulan Ramadan dimulai, dimensi sosial berupa penghargaan dan perhormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan selalu merefleksi dalam berbagi ritualitas ibadah yang memiliki nilai khusus di bulan Ramadan, dari puasa, sedekah, infaq, hingga zakat fitrah. Bahkan setelah Ramadan berlalu, penghargaan ajaran Islam terhadap perikemanusiaan itu semakin dipertegas oleh momentum Idul fitri, hari dimana umat Islam merayakannya sebagai hari kemenangan, hari kembali kepada fitrah (asal kejadian) yang berarti suci, seperti seorang bayi yang baru keluar dari rahim Ibunya, bersih, suci ibarat selembar kertas putih tanpa noda.
Kategori : Headline , Opini