Minggu, 18 November 2018

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Gus Dur, Islam, dan Bhinneka Tunggal Ika

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Alkisah.... Suatu malam yang hening di sebuah sanggar Hindu, di sisi utara Pulau Bali yang indah, tiga orang sahabat lintas-iman, dengan balutan rasa hormat dan ikatan persahabatan yang erat, berdiksusi tentang konsep wali atau santo atau orang suci. Diskusi itu mengantarkan ketiganya pada sebuah titik pertemuan spiritualitas tertinggi, rasa keagamaan yang mendalam. Ketiga orang itu adalah Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka, dan Romo Mangun Wijaya. Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Kedalaman peristiwa itu terrekam jelas dalam tulisan Gus Dur yang mengisahkan peristiwa tersebut. "Baik agama Hindu, Katolik maupun Islam, memandang...orang suci...memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain...ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan...ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia. Persamaan pandangan inilah yang membuat kami...saling menghormati dengan sepenuh hati.... Saya tidak pernah memikirkan perbedaan...melainkan justru persamaan...yang selalu kami jadikan sebagai titik pandang untuk melakukan pengabdian kemanusiaan." (Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 83-84).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Anatomi Radikalisme di Indonesia

oleh : M KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Radikalisme ada pada semua agama, tetapi dalam Islam, radikalisme atau fundamentalisme terbukti memainkan peran politik terpenting sejak abad ke-18 (Barber, 1995: 206). Radikalisme dan fundamentalisme, sebagai istilah, sering bertukar tempat karena bermuara pada satu ide: menjalankan agama sampai ke akar-akarnya, mendasarkan seluruh aspek kehidupan kepada agama. Kaum fundamentalis Islam umumnya menganggap Islam adalah agama sempurna yang mencakup kerangka acuan semua aspek kehidupan— duniawi dan ukhrawi—mengatur manusia sejak dari cara makan, tidur, bersuci, beribadah, berniaga, hingga bernegara. Mereka menganggap aturan bernegara sama bakunya dengan ketentuan syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Ketentuan ibâdah dan siyâsah sama-sama tawqîfî (doktriner).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Membaca Konsep Pribumisasi Islam dan Inkulturasi Iman Kristiani dalam Konteks Indonesia

oleh : PAULUS BAGUS SUGIYONO, 0 Komentar
Relasi antara agama dan budaya selalu menjadi isu yang menarik dalam sejarah peradaban umat manusia. Tidak jarang tegangan-tegangan selalu terjadi dalam dinamika keduanya. Meski demikian, tegangan ini menghidupkan, sebab selalu mengajak kita untuk mampu menempatkan diri dalam posisi yang tepat di antara keduanya. Dalam konteks lokal, Indonesia pernah mengalami adanya stimulus-stimulus agama yang datang dari luar, antara lain Islam dan Kristen. Kedua agama ini tentu mengalami pergulatan yang berbeda-beda dalam perjumpaannya dengan budaya lokal di Indonesia. Dalam perjumpaan dengan keduanya, sejatinya identitas budaya Indonesia terus-menerus dipertajam.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Perihal Keselamatan Agama di Luar Islam

oleh : M. KHOLID SYEIROZI, 0 Komentar
Sebagaimana ditunjukkan al-Qur’an dan Hadis, Islam dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu semua agama tauhid yang dibawa para Nabi dan Rasul dan nama bagi agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an menunjukkan kesatuan umat manusia, anak cucu Adam, yang menyembah Allah (QS. al-Anbiya’/21: 92) dan terikat penjanjian primordial untuk mengesakan-Nya (QS. al-A’râf/7: 172). Manusia kemudian terpecah-belah dan Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menegakkan agama tauhid (QS. al-Baqarah/2: 213). Ibrahim adalah tokoh penting yang diutus Allah untuk memulihkan monoteisme. Ajaran Nabi sesudahnya, termasuk Ismail, Ishak, Yakub dan keturunannya, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad adalah kesinambungan dari monoteisme Ibrahim (QS. Ali Imran/3: 84; QS. an-Nisa’/4: 125). Agama itu disebut sebagai Islam, yang arti generiknya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah. Pengikutnya, dari dulu hingga sekarang, disebut sebagai Muslim/Muslimin atau امة مسلمة (QS. al-Hajj/22: 78; QS. Ali Imran/3: 85, 52; QS. Al-Baqarah/2: 128; QS. Yusuf/12: 101; QS. An-Naml/27: 31; QS. Yunus/10: 84). Hanya Islam agama di sisi Allah (QS. Ali Imran/3: 19). Siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, niscaya tertolak (QS. Ali Imran/3: 85). Menimbang konteks dan pertaliannya, dua ayat terakhir berbicara tentang Islam dalam makna generik, yaitu agama tauhid.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Haruskah HTI Dibubarkan?

oleh : IQBAL AHNAF, 0 Komentar
Dalam beberapa bulan terakhir wacana pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menguat. Atas desakan sejumlah ormas, polisi menghentikan kegiatan HTI di banyak tempat. Merespons tuntutan ini, pada 3 Mei 2017, Mendagri menyatakan pembubaran HTI tinggal menunggu waktu. Sebelumnya Kapolri dan Menko Polhukam memberikan sinyal serupa. Tuntutan pembubaran HTI didasarkan pada tuduhan bahwa organisasi ini ingin mengubah ideologi dan dasar negara yang dianggap sudah final. Tujuan HTI untuk mendirikan sistem pemerintahan alternatif yang disebut “khilafah” dianggap sebagai agenda makar yang tidak boleh dibiarkan bebas di Indonesia.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Pembaharuan Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Strategi

Kesulitan pertama di dalam upaya membentangkan pemikiran-pemikiran Abdurrahman Wahid (selanjutnya Gus Dur, sesuai sebutan akrabnya) terletak pada luasnya spektrum yang menjadi minatnya selama ini. Gus Dur bukan seorang akademisi yang setia menghuni perguruan tinggi dan menumpahkan perhatiannya pada satu dua topik masalah saja. Ia adalah seorang cendikiawan-aktivis, dan boleh dikata juga, seorang eksiklopedis, dengan perhatian luas dan beragam, yang membentang mulai topik agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan hingga soal-soal praktis seperti sepak bola dan film.
Kategori : Headline , Kajian

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

oleh : AKHMAD SAHAL, 0 Komentar
Ketika wacana “Islam Nusantara” ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu, banyak kalangan yang nyinyir dengan menuduh “Islam Nusantara” sebagai ekspresi antipati terhadap Arab, baik orang Arab, budaya Arab, maupun segala sesuatu yang berbau Arab. “Islam Nusantara’ dianggap mengkotak-kotakkan Islam, bahkan dicurigai sebagai strategi baru dari Barat, Zionis, JIL dll, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Islam ya Islam. Titik.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Presiden dan Sastra(wan), dengan Pram di Antaranya

Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Siasat di Tengah Tarian Para Bissu: Sebuah catatan untuk Gerakan LGBT di Indonesia

Tahukah anda, siapa para Bissu itu ? Jika mengikuti pandangan Matthes, maka Ia adalah orang suci yang akar katanya dari ‘bessi’ (suci). Digelari demikian, karena mereka tidak haid dan dan tidak mengeluarkan darah kotor, meski jiwa dan tampilannya perempuan. Puang Matoa Saidi (almarhum) menegaskan identitas Bissu ini dengan mengatakan ”Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakunrai toi” (laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki juga bukan perempuan). Lazimnya para Bissu ini memang calabai atau waria, namun diantaranya juga ada perempuan. Itulah mengapa Identitas Bissu ini dianggap melampaui 5 identitas gender yang diakui masyarakat Bugis; Uroane (pria), Makkunrai (wanita), Calabai (waria), calalai (perempuan berjiwa dan berkarakter laki-laki) dan Bissu itu sendiri yang menghimpun identitas sebelumnya. Bissu juga di posisikan sebagai ahli spritual Kuno, yang mengerti bahasa langit dan paham dengan perbintangan (kutika).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Islam Marah Bolehkah?

oleh : IRZA ANWAR SYADDAD, 0 Komentar
“Kita butuh Islam Ramah, bukan Islam Marah”, (Gus Dur). Benarkah kita tidak butuh “Islam Marah”? Apakah dalam sejarahnya, (orang) Islam tidak pernah marah? Dalam tulisan yang berjudul “Abu Dzar yang Kontroversial”, Jalaluddin Rakhmat mengisahkan hidup salah satu sahabat Nabi yang terkenal akan kezuhudannya dan pembelaannya atas orang-orang lemah –dan terlemahkan–(mustadh’afin), yaitu Abu Dzar al-Ghifari. Dikatakan kontroversial karena –tulis Jalaluddin Rakhmat– banyaknya riwayat dari Abu Dzar yang membela orang miskin. “Kekasihku, Rasulullah saw., mewasiatkan aku untuk mencintai orang miskin dan bergaul akrab dengan mereka”, ujar Abu Dzar.[1]
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi