Selasa, 21 November 2017

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Perihal Keselamatan Agama di Luar Islam

oleh : M. KHOLID SYEIROZI, 0 Komentar
Sebagaimana ditunjukkan al-Qur’an dan Hadis, Islam dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu semua agama tauhid yang dibawa para Nabi dan Rasul dan nama bagi agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an menunjukkan kesatuan umat manusia, anak cucu Adam, yang menyembah Allah (QS. al-Anbiya’/21: 92) dan terikat penjanjian primordial untuk mengesakan-Nya (QS. al-A’râf/7: 172). Manusia kemudian terpecah-belah dan Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menegakkan agama tauhid (QS. al-Baqarah/2: 213). Ibrahim adalah tokoh penting yang diutus Allah untuk memulihkan monoteisme. Ajaran Nabi sesudahnya, termasuk Ismail, Ishak, Yakub dan keturunannya, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad adalah kesinambungan dari monoteisme Ibrahim (QS. Ali Imran/3: 84; QS. an-Nisa’/4: 125). Agama itu disebut sebagai Islam, yang arti generiknya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah. Pengikutnya, dari dulu hingga sekarang, disebut sebagai Muslim/Muslimin atau امة مسلمة (QS. al-Hajj/22: 78; QS. Ali Imran/3: 85, 52; QS. Al-Baqarah/2: 128; QS. Yusuf/12: 101; QS. An-Naml/27: 31; QS. Yunus/10: 84). Hanya Islam agama di sisi Allah (QS. Ali Imran/3: 19). Siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, niscaya tertolak (QS. Ali Imran/3: 85). Menimbang konteks dan pertaliannya, dua ayat terakhir berbicara tentang Islam dalam makna generik, yaitu agama tauhid.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Haruskah HTI Dibubarkan?

oleh : IQBAL AHNAF, 0 Komentar
Dalam beberapa bulan terakhir wacana pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menguat. Atas desakan sejumlah ormas, polisi menghentikan kegiatan HTI di banyak tempat. Merespons tuntutan ini, pada 3 Mei 2017, Mendagri menyatakan pembubaran HTI tinggal menunggu waktu. Sebelumnya Kapolri dan Menko Polhukam memberikan sinyal serupa. Tuntutan pembubaran HTI didasarkan pada tuduhan bahwa organisasi ini ingin mengubah ideologi dan dasar negara yang dianggap sudah final. Tujuan HTI untuk mendirikan sistem pemerintahan alternatif yang disebut “khilafah” dianggap sebagai agenda makar yang tidak boleh dibiarkan bebas di Indonesia.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Pembaharuan Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Strategi

Kesulitan pertama di dalam upaya membentangkan pemikiran-pemikiran Abdurrahman Wahid (selanjutnya Gus Dur, sesuai sebutan akrabnya) terletak pada luasnya spektrum yang menjadi minatnya selama ini. Gus Dur bukan seorang akademisi yang setia menghuni perguruan tinggi dan menumpahkan perhatiannya pada satu dua topik masalah saja. Ia adalah seorang cendikiawan-aktivis, dan boleh dikata juga, seorang eksiklopedis, dengan perhatian luas dan beragam, yang membentang mulai topik agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan hingga soal-soal praktis seperti sepak bola dan film.
Kategori : Headline , Kajian

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

oleh : AKHMAD SAHAL, 0 Komentar
Ketika wacana “Islam Nusantara” ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu, banyak kalangan yang nyinyir dengan menuduh “Islam Nusantara” sebagai ekspresi antipati terhadap Arab, baik orang Arab, budaya Arab, maupun segala sesuatu yang berbau Arab. “Islam Nusantara’ dianggap mengkotak-kotakkan Islam, bahkan dicurigai sebagai strategi baru dari Barat, Zionis, JIL dll, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Islam ya Islam. Titik.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Presiden dan Sastra(wan), dengan Pram di Antaranya

Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Siasat di Tengah Tarian Para Bissu: Sebuah catatan untuk Gerakan LGBT di Indonesia

Tahukah anda, siapa para Bissu itu ? Jika mengikuti pandangan Matthes, maka Ia adalah orang suci yang akar katanya dari ‘bessi’ (suci). Digelari demikian, karena mereka tidak haid dan dan tidak mengeluarkan darah kotor, meski jiwa dan tampilannya perempuan. Puang Matoa Saidi (almarhum) menegaskan identitas Bissu ini dengan mengatakan ”Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakunrai toi” (laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki juga bukan perempuan). Lazimnya para Bissu ini memang calabai atau waria, namun diantaranya juga ada perempuan. Itulah mengapa Identitas Bissu ini dianggap melampaui 5 identitas gender yang diakui masyarakat Bugis; Uroane (pria), Makkunrai (wanita), Calabai (waria), calalai (perempuan berjiwa dan berkarakter laki-laki) dan Bissu itu sendiri yang menghimpun identitas sebelumnya. Bissu juga di posisikan sebagai ahli spritual Kuno, yang mengerti bahasa langit dan paham dengan perbintangan (kutika).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Islam Marah Bolehkah?

oleh : IRZA ANWAR SYADDAD, 0 Komentar
“Kita butuh Islam Ramah, bukan Islam Marah”, (Gus Dur). Benarkah kita tidak butuh “Islam Marah”? Apakah dalam sejarahnya, (orang) Islam tidak pernah marah? Dalam tulisan yang berjudul “Abu Dzar yang Kontroversial”, Jalaluddin Rakhmat mengisahkan hidup salah satu sahabat Nabi yang terkenal akan kezuhudannya dan pembelaannya atas orang-orang lemah –dan terlemahkan–(mustadh’afin), yaitu Abu Dzar al-Ghifari. Dikatakan kontroversial karena –tulis Jalaluddin Rakhmat– banyaknya riwayat dari Abu Dzar yang membela orang miskin. “Kekasihku, Rasulullah saw., mewasiatkan aku untuk mencintai orang miskin dan bergaul akrab dengan mereka”, ujar Abu Dzar.[1]
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Islam Indonesia dan Pemulihan Luka Bersama via Keadilan dan Penulisan Ulang Sejarah

Walaupun umat Islam[1]memiliki kekuatan dan posisi yang diperhitungkan dalam kehidupan berbangsa hari ini, misalnya dengan pengakuan pemerintah terhadap peran kaum santri baru-baru ini atau terhadap peran ormas-ormas Islam (NU dan Muhammadiyah) dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, umat Islam belum menjadi penentu dan pelopor atas peran-peran kebangsaan yang bersifat terobosan dan memiliki jangkauan panjang ke depan. Di tengah gelapnya situasi berbangsa, umat Islam turut menjadi trouble factor yang memperunyam situasi dan kehilangan kendali atas apa yang terjadi—belum berhasil menjadi faktor penentu yang mampu membawa bangsa keluar dari kegelapan dan sengkarut permasalahannya.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Tempat Ibadah Sebagai Bagian dari Pelayanan Publik

Dua peristiwa kerusuhan bernuansa antar agama yang membawa korban nyawa terjadi di waktu yang berdekatan dan di dua ujung provinsi Indonesia, timur dan barat. Di kabuaten Tolikara, provinsi Papua terjadi bersamaan dengan Hari Raya Iedul Fitri dan di Singkil provinsi Aceh bertepatan dengan peringatan hari besar Tahun Baru Hijriyah. Tanpa bermaksud mengingkari kompleksitas permasalahn di kedua peristiwa memilukan itu, tempat ibadah merupakan isu sensitif.Ikut terbakarnya Musholla di pasar di Tolikara menjadi perhatian besar dari publik. Sementara penutupan dan pembakaran gereja di Singkil merupakan masalah pokok dari kerusuhan itu sendiri.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Menangkal Radikalisme dengan Pendekatan Lokal

oleh : AHMAD SUAEDY, 0 Komentar
Hampir semua hasil riset dan survei mutakhir tentang kecenderunganradikalisme dan ciri-cirinya di Indonesia sudah disebut dalam laporan risettersebut. Hasil kesimpulan riset tersebut juga sudah bisa dibaca, bahwa adaangka yang cukup signifikan tentang kecenderungan anak muda untuk tertarik danmenjadi pendukung paham dan aksi radikal di kalangan mahasiswa perguruan tinggiagama di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa kecenderungan itu tidak hanyaterjadi di kalangan Islam atau perguruan tinggi Islam melainkan juga agama yang lain. Fenomena tentang kecenderungan dukungan terhadap intoleransi dankekerasan dengan dasar atau argumen agama juga sudah disebut di dalam laporanriset tersebut.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi