Jumat, 31 Maret 2017

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

oleh : AKHMAD SAHAL, 0 Komentar
Ketika wacana “Islam Nusantara” ramai diperbincangkan beberapa waktu lalu, banyak kalangan yang nyinyir dengan menuduh “Islam Nusantara” sebagai ekspresi antipati terhadap Arab, baik orang Arab, budaya Arab, maupun segala sesuatu yang berbau Arab. “Islam Nusantara’ dianggap mengkotak-kotakkan Islam, bahkan dicurigai sebagai strategi baru dari Barat, Zionis, JIL dll, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Islam ya Islam. Titik.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Presiden dan Sastra(wan), dengan Pram di Antaranya

Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Siasat di Tengah Tarian Para Bissu: Sebuah catatan untuk Gerakan LGBT di Indonesia

Tahukah anda, siapa para Bissu itu ? Jika mengikuti pandangan Matthes, maka Ia adalah orang suci yang akar katanya dari ‘bessi’ (suci). Digelari demikian, karena mereka tidak haid dan dan tidak mengeluarkan darah kotor, meski jiwa dan tampilannya perempuan. Puang Matoa Saidi (almarhum) menegaskan identitas Bissu ini dengan mengatakan ”Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakunrai toi” (laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki juga bukan perempuan). Lazimnya para Bissu ini memang calabai atau waria, namun diantaranya juga ada perempuan. Itulah mengapa Identitas Bissu ini dianggap melampaui 5 identitas gender yang diakui masyarakat Bugis; Uroane (pria), Makkunrai (wanita), Calabai (waria), calalai (perempuan berjiwa dan berkarakter laki-laki) dan Bissu itu sendiri yang menghimpun identitas sebelumnya. Bissu juga di posisikan sebagai ahli spritual Kuno, yang mengerti bahasa langit dan paham dengan perbintangan (kutika).
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Islam Marah Bolehkah?

oleh : IRZA ANWAR SYADDAD, 0 Komentar
“Kita butuh Islam Ramah, bukan Islam Marah”, (Gus Dur). Benarkah kita tidak butuh “Islam Marah”? Apakah dalam sejarahnya, (orang) Islam tidak pernah marah? Dalam tulisan yang berjudul “Abu Dzar yang Kontroversial”, Jalaluddin Rakhmat mengisahkan hidup salah satu sahabat Nabi yang terkenal akan kezuhudannya dan pembelaannya atas orang-orang lemah –dan terlemahkan–(mustadh’afin), yaitu Abu Dzar al-Ghifari. Dikatakan kontroversial karena –tulis Jalaluddin Rakhmat– banyaknya riwayat dari Abu Dzar yang membela orang miskin. “Kekasihku, Rasulullah saw., mewasiatkan aku untuk mencintai orang miskin dan bergaul akrab dengan mereka”, ujar Abu Dzar.[1]
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Islam Indonesia dan Pemulihan Luka Bersama via Keadilan dan Penulisan Ulang Sejarah

Walaupun umat Islam[1]memiliki kekuatan dan posisi yang diperhitungkan dalam kehidupan berbangsa hari ini, misalnya dengan pengakuan pemerintah terhadap peran kaum santri baru-baru ini atau terhadap peran ormas-ormas Islam (NU dan Muhammadiyah) dalam membangun kehidupan beragama yang moderat, umat Islam belum menjadi penentu dan pelopor atas peran-peran kebangsaan yang bersifat terobosan dan memiliki jangkauan panjang ke depan. Di tengah gelapnya situasi berbangsa, umat Islam turut menjadi trouble factor yang memperunyam situasi dan kehilangan kendali atas apa yang terjadi—belum berhasil menjadi faktor penentu yang mampu membawa bangsa keluar dari kegelapan dan sengkarut permasalahannya.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Tempat Ibadah Sebagai Bagian dari Pelayanan Publik

Dua peristiwa kerusuhan bernuansa antar agama yang membawa korban nyawa terjadi di waktu yang berdekatan dan di dua ujung provinsi Indonesia, timur dan barat. Di kabuaten Tolikara, provinsi Papua terjadi bersamaan dengan Hari Raya Iedul Fitri dan di Singkil provinsi Aceh bertepatan dengan peringatan hari besar Tahun Baru Hijriyah. Tanpa bermaksud mengingkari kompleksitas permasalahn di kedua peristiwa memilukan itu, tempat ibadah merupakan isu sensitif.Ikut terbakarnya Musholla di pasar di Tolikara menjadi perhatian besar dari publik. Sementara penutupan dan pembakaran gereja di Singkil merupakan masalah pokok dari kerusuhan itu sendiri.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Menangkal Radikalisme dengan Pendekatan Lokal

oleh : AHMAD SUAEDY, 0 Komentar
Hampir semua hasil riset dan survei mutakhir tentang kecenderunganradikalisme dan ciri-cirinya di Indonesia sudah disebut dalam laporan risettersebut. Hasil kesimpulan riset tersebut juga sudah bisa dibaca, bahwa adaangka yang cukup signifikan tentang kecenderungan anak muda untuk tertarik danmenjadi pendukung paham dan aksi radikal di kalangan mahasiswa perguruan tinggiagama di Indonesia. Yang menarik adalah bahwa kecenderungan itu tidak hanyaterjadi di kalangan Islam atau perguruan tinggi Islam melainkan juga agama yang lain. Fenomena tentang kecenderungan dukungan terhadap intoleransi dankekerasan dengan dasar atau argumen agama juga sudah disebut di dalam laporanriset tersebut.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Memutus Peristiwa 65 dengan Skema 1-5-1; Rekonstruksi Cara Pandang Gus Dur

oleh : AAN ANSHORI, 0 Komentar
SUDAH beberapa tahun ini, Jaringan GUSDURian memobilisasi kampanye hari Perdamaian Internasional. Aksi yang selalu dihelat setiap tgl 21 September ini biasanya serentak dilakukan di berbagai kota dengan mengambil momentum persoalan lokal. Khusus tahun ini, tagline yang diusung mengambil salah satu kutipan masyhur alm. Gus Dur; Perdamaian tanpa Keadilan adalah ilusi. Bapak pluralisme yang wafat 6 tahun lalu itu agaknya cukup menyadari; di tangan mayoritas despotik seperti Indonesia, perdamaian tidak selamanya linier dengan keadilan.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Marxisme-Leninisme

oleh : ROY MURTADHO, 0 Komentar
PERJUMPAAN Gus Dur dengan Marxisme, bisa kita baca dalam biografi yang ditulis oleh Greg Barton. Sebagaimana pengakuannya sendiri ketika remaja di Yogyakarta menjadi santri Kiai Ali Maksum Krapyak, ia telah membaca Das Capital karya Marx dan What Is To Be Done? karya Lenin. Gus Dur juga tertarik pada ide Lenin tentang keterlibatan sosial secara radikal, seperti dalam Infantile Communism dan dalam Little Red Book nya Mao (kutipan kata-kata Ketua Mao).[1] Digambarkan bahwa di satu sisi ia menemukan banyak ide menarik dalam pikiran-pikiran kaum Marxis, tetapi ia juga terganggu oleh antagonisme Marxisme dengan agama.[2] Meski demikian, Gus Dur masih tetap berharap bahwa dalam Islam ia dapat memperoleh jawaban bagi masalah-masalah ketidakadilan, kemiskinan, dan penindasan yang menjadi tema utama dan mengemuka dalam Marxisme-Leninisme.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Islam Nusantara dan Hal-Hal yang Belum Selesai

[Disclaimer: tulisan ini menyoal wacana Islam-Nusantara; berisi kritik dan beberapa usulan. Tulisan ini dibagi dalam empat poin dan bisa dibaca secara terpisah. Empat poin yang dibahas dalam tulisan ini ialah: (1) tentang problem definisi; (2) tentang NU dan budaya; (3) tentang fikih dan pengaruh konteks; dan (4) tentang relasi agama-budaya. Tulisan ini, seperti judulnya, juga belum selesai, karena deskripsi tentang Islam-Nusantara dalam tulisan ini hanya didasarkan pada artikel-artikel yang tersebar di internet terkait tema itu hingga saat tulisan ini ditulis. NU sendiri sebagai pengasas kampanye Islam-Nusantara belum mengeluarkan definisi resminya. Seiring dengan munculnya gagasan-gagasan dan artikel-artikel baru lainnya, tulisan ini akan ditambal atau direvisi di beberapa bagiannya.]
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi