Selasa, 22 Oktober 2019

CINA AMPYANG GULA JAWA

Selasa, 13 Mei 2014
oleh : Aghnia Rahmi
Dibaca sebanyak 4734 kali
Mengeja keberagaman sesederhana menerima perbedaan pasangan. Itulah yang terlukis dalam sorot mata pasangan pernikahan antaretnik Cina dan Jawa di Lasem. Bagi mereka, garis batas etnik telah kabur. Namun rupanya, apa yang mereka yakini tidak sejalan dengan arus utama. Di tengah desakan lingkungan sosial, mereka tetap gigih memperjuangkan komitmen berbalut romansa. Ikhtiar mereka berhasil. Dengan tetap berpijak pada akarnya, mereka bertransfromasi menjadi manusia hibrid, manusia Indonesia.

 “Cina Lasem itu seperti ampyang gula Jawa,”[i] canda Pak Yon, salah seorang warga Lasem, kota kecil di pesisir pantai utara Jawa yang bersebelahan dengan Rembang. Kalimat itu membuka obrolan santai antara saya dan beberapa warga Lasem di kantor FOKMAS (Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah Lasem), pada suatu malam di awal bulan Februari 2013. Katanya, orang Cina Lasem lebih mirip seperti orang Jawa. Kulitnya berwarna coklat gelap, mirip warna gula Jawa. Mendengarnya, seketika dahi saya berkerut. Obrolan malam itu menyisakan satu pertanyaan: Bagaimana bisa mereka tampak serupa?

Keesokan harinya, seakan berusaha menjawab celotehan ringan Pak Yon, jelajah kota Lasem dimulai. Ditemani tiga aktivis FOKMAS, saya mengunjungi beragam artefak budaya seperti klenteng, wihara, dan beberapa rumah gladak. Hari itu siang cukup terik. Kami memutuskan untuk melepas penat di sebuah warung kopi di Desa Babagan. Sejenak, kuperhatikan dengan seksama rupa dari si penjual kopi. Kulitnya gelap berwarna coklat. Matanya sipit. Hidungnya pesek.Sebuah kumis dan jenggot tipis menghiasi  sekitar mulutnya. Perpaduan yang unik. 

Iseng, saya bertanya pada si bapak penjual kopi “Pak, namanya siapa?” Bukannya mendapati sebuah jawaban, saya justru dikejutkan oleh sebuah pertanyaan balik dari si penjual kopi. “Mau nama Cina apa Jawa?” Setelah banyak bercakap-cakap, kejanggalanku terjawab sudah. Rupanya ia meneruskan garis keturunan Cina dari sang ayah dan garis Jawa dari sang ibu. Misteri celotehan Pak Yon mulai terkuak. Kudapati sebongkah puzzle atas fenomena pernikahan antaretnik Cina dan Jawa di Lasem. Tak puas sampai di situ, saya memutuskan untuk menetap dan tinggal dengan masyarakat Lasem untuk beberapa waktu. Seakan membawa misi “Cina ampyang gula Jawa”, saya menjadi sumringah mengulik fenomena tersebut.

Menarik sekali ketika mendengar kisah pernikahan antaretnik di Lasem. Terlebih, Lasem yang notabenenya memiliki rekam jejak harmonisasi dua kelompok etnik, tentu memiliki pengaruh yang berbeda. Tidak seperti pernikahan intraetnik, pernikahan antaretnik―terlebih Cina dan Jawa―menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Tantangan sosial menjadi salah satu pemantik amunisi kehancuran relasi dengan keluarga. Tidak sedikit dari pasangan tersebut yang merelakan renggangnya hubungan dengan kedua orang tua. Tidak berhenti sampai di situ, tantangan identitas etnik dan tradisi menjadi satu babak baru. Dibutuhkan toleransi yang tinggi untuk memahami satu sama lain. Ikhtiar mereka menjadi satu tanpa menanggalkan keberagaman identitas masing-masing, meneguhkan proses hibridisasi menjadi manusia Indonesia.

 

Melawan Arus Utama

Dalam konteks makro, seperti yang diceritakan Peter Carey dalam bukunya Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa, bahwa kaum arus utama memandang pernikahan antaretnik Cina dan Jawa sebagai sesuatu yang tidak lumrah manakala dilangsungkan dalam konteks silang kelas sosial.[ii] Kelas sosial tersebut kemudian dimaknai secara pragmatis melalui tingkat pendidikan dan pekerjaan. Terlebih, martabat dan kelas sosial masih menjadi isu sensitif. Diskursus yang muncul saat ini adalah minimnya pernikahan eksogami, yakni termasuk pernikahan antarkelas dan antaretnik. Sedangkan pernikahan endogami atau sesama kelompok etnik, masih mendominasi diskursus di masyarakat.

Di Lasem, pernikahan eksogami yang dalam konteks penelitian ini adalah pernikahan etnik Cina dan Jawa sudah berlangsung sejak abad 15 M.[iii] Seiring perkembangannya, diskursus terkait pernikahan Cina-Jawa pun beragam. Beberapa warga menilai pernikahan Cina-Jawa merupakan hal yang tidak tabu ketika kedua belah mempelai berasal dari kelas sosial menengah ke bawah. Masyarakat kelas sosial dan ekonomi yang tinggi, cenderung menghindari pernikahan antaretnik. Kalaupun pernikahan antaretnik terjadi, keduanya sama-sama berasal dari kelas sosial yang tinggi. Tren yang lain, yakni pernikahan berdasarkan faktor ekonomi, yang pada era kolonial dikenal dengan pernikahan orang Cina dengan gundik Jawa.

Beragam pandangan terkait pernikahan Cina-Jawa menuntun pada kontroversi. Tidak dapat dipungkiri, kontroversi dari keluarga merupakan salah satu tantangan terberat bagi pelaku pernikahan antaretnik. Beragam alasan bermunculan. Perbedaan kelas sosial menjadi alasan dominan. Sedangkan alasan etnisitas memicu konflik dan ketegangan di keluarga pasangan yang sama-sama berasal dari kelas sosial tinggi. Mitos seperti abu orang Cina yang lebih tua dari orang Jawa,[iv] serta isu politik yang dilemparkan pemerintah terkait “anti-Cina” juga menjadi pemicu ketegangan.

Bagi pelaku pasangan pernikahan antaretnik, pandangan arus utama yang menentang pernikahan mereka adalah suatu bentuk ketidakadilan. Konfrontasi mereka terhadap arus utama terkait diskursus pernikahan antaretnik muncul dalam bentuk keputusan untuk menikah dan melangsungkannya, baik secara diam-diam, maupun atas sepengetahuan orang tua kedua belah pihak. Berdasar pengamatan dan wawancara yang saya lakukan, salah satu faktor yang mendukung keputusan tersebut adalah preferensi kontak budaya tiap individu.

 

Hibridisasi: Jembatan Harmoni

Pernikahan antaretnik merupakan suatu kontestasi atas hibridisasi identitas etnik. Hibridisasi dimaknai sebagai sebuah proses silang budaya yang dalam konteks penelitian ini adalah budaya antara etnik Cina dan Jawa. Sekat antar etnik (ethnic boundaries) tidak lagi menjadi isu utama dalam hibridisasi. Hibriditas dalam konteks relasi “Kami” dan “Liyan” menjadi semakin kabur dan terdefinisikan kembali lantaran proses globalisasi.

Hibriditas yang lekat dengan kemajemukan identitas etnik merupakan counter-attack atas konsep multikulturalisme yang cenderung me-monokultural-kan tiap individu.[v] Ia merupakan upaya dekonstruksi dari konsep ketunggalan identitas. Seorang individu tidak digambarkan dengan identitas tunggal atau bahkan identitas mayor dalam kelompok etniknya. Namun, identitasnya tergambar sebagai pencampuran dari beragam kultur atau etnik dan merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar, yakni bangsa (nation). Sebelum menikah, tiap individu masih membawa identitas kultural dan etnik yang telah lama diterapkan di keluarganya. Setelah mengalami beragam dialektika dalam kontestasi pergulatan diri, identitas etnik kemudian menjadi semakin lebur.

Menariknya, diskursus yang terbangun dalam tiap pasangan antaretnik bukanlah identitas tunggal ke-Cina-an atau ke-Jawa-an lagi, melainkan identitas jamaknya seperti Cina ampyang gula Jawa. Setiap individu dalam pasangan pernikahan mengakui bahwa pasangannya berasal dari etnik yang berbeda, namun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Munculnya sikap terbuka dipengaruhi oleh preferensi kontak budaya tiap individu.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perselisihan masih saja terjadi, seperti finansial keluarga, pemahaman karakter, dan distribusi pekerjaan domestik. Namun ketiga permasalahan tersebut bukanlah muncul lantaran perbedaan etnik. Permasalahan terkait penerapan tradisi dan cara mendidik anak, juga tidak memantik perselisihan yang berarti.

Hal inilah yang dipahami oleh salah satu pasangan pernikahan antaretnik Cina dan Jawa, SW (84)―peranakan Cina Lasem generasi ke delapan―dan MR (71)―keturunan priyayi Jawa. Hingga kini, keduanya masih mempertahankan tradisi masing-masing. SW yang beragama Kong Hu Cu, masih rajin sembahyang leluhur di sebuah altar di rumahnya. MR, yang beragama Islam,  masih rajin beribadah dan berpuasa. Bahkan ketika perayaan hari besar seperti Imlek, MR turut menyiapkan segala perlatan, termasuk kertas sembahyang. Ketika MR berpuasa, SW pun tidak serta merta makan di depan istrinya. Sikap toleransi yang tinggi tanpa paksaan ditunjukkan oleh pasangan ini.

Hal serupa juga ditunjukkan oleh pasangan lain, ST (51), keturunan Jawa,  dan TN (62), keturunan Tionghoa.  Saya kerap kali menghabiskan waktu sore hari di Lasem bersama dengan mereka, sekadar mengobrol santai. TN bertutur bahwa suaminya selalu mengizinkan dirinya untuk mengurus sembahyang leluhur kedua orang tuanya. Sikap toleransi inilah yang mengakselerasi proses hibridisasi.

Proses adaptasi dan transfromasi menjadi manusia hibrid inilah yang perlu diapresiasi. Hibridisasi kemudian menjadi jembatan negosiasi dan harmoni. Seperti pernyataan Aguilera yang dikutip oleh Ling Chen, menyebutkan bahwa pernikahan antaretnik dan proses adaptasi yang terjadi dapat menjadi bukti empiris bahwa harmonisasi antar dua kelompok etnik memang nyata.[vi] Ketika individu berada pada level tersebut, mereka tidak melihat identitas etnik sebagai sesuatu hal yang monokultur, tetapi multikultur. Alih-alih memaknai identitas sebagai suatu hal yang tunggal (bagian etnik tertentu), mereka justru memaknainya dalam bingkai lebih luas, yakni konteks kebangsaan, sebagai bangsa Indonesia. Seakan membenarkan celotehan Pak Yon, Cina Lasem memang seperti ampyang gula Jawa, sudah tidak dapat dibedakan lagi identitas fisik dan kulturalnya, yang membaur melalui pernikahan antaretnik.

 

[i] Ampyang adalah jajanan tradisional khas dari Jawa, berwarna coklat, yang terbuat dari gula Jawa dan kacang tanah.

[ii] Peter Carey, Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi Tentang Cina 1755-18252008, Komunitas Bambu, Jakarta. Hlm. 6-7.

[iii] M. Akrom Unjiya, Lasem Negeri Dampoawang: Sejarah yang TerlupakanEja Publisher dan FOKMAS, Yogyakarta. Hlm. 38.

[iv] Cin Hapsari Tomoidjojo, Jawa-Islam-Cina: Politik Jati diri dalam Jawa Safar Cina Sajadah, 2012, Penerbit Wedatama Widya Sastra, Jakarta. 199-200.

[v] Chang-Yau Hoon, Identitas Tionghoa Pasca-Soeharto: Budaya, Politik dan Media2012, Yayasan Nabil dan LP3ES, Jakarta. 15

[vi] Ling Chen, “Communication in Intercultural Relationship”, dalam Handbook of International and Intercultural CommunicationWilliam Gudykunst dan Bella Mody, 2002, Sage Publication, London. 251.