Kamis, 19 September 2019

PARRHESIAST: GUS DUR DAN FOUCAULT

Jumat, 01 Februari 2019
oleh : Tony Doludea
Dibaca sebanyak 761 kali
Di dalam hiruk-pikuk Pemilihan Umum Legeslatif dan Eksekutif Indonesia tahun 2019 ini, rupa-rupanya tidak sedikit rakyat Indonesia terbukti masih terlihat lemah dalam berrefleksi dan tidak mampu memilah ketika berbicara tentang politik maupun demokrasi. Dalam suasana seperti ini orang tidak jarang salah kaprah ketika berbicara tentang politik dan demokrasi. Claude Lefort pernah mengingatkan bahwa untuk dapat memahami baik hakikat politik maupun demokrasi penting bagi seseorang untuk terlebih dahulu membuat pemilahan antara politics (la politique) dan the political (le politique). Politics (la politique) adalah tindakan, strategi dan kebijakan politis tertentu dari perilaku dan lembaga politik. Sementara the political (le politique) adalah kerangka kerja pokok dan ruang sosiopolitis yang di dalamnya dan melaluinya politics (la politique) itu terjadi dan mewujudnyatakan makna dan fungsinya.

  

                                                                                                                                   

 

Pembicaraan tentang politik dan demokrasi akan menjadi kurus, kering dan miskin jika orang hanya membahas tentang politics (la politique) saja sebagaimana yang sedang terjadi saat ini. Karena realitas yang digambarkan dan dijelaskan itu terlepas dari kerangka kerja pokok, yaitu ruang hidup (form society) yang membingkai tindakan dan pentingnya makna manusia yang begitu rumit dan kaya ini. 

 

Politics(la politique) terjadi di dalam ruang masyarakat, yaitu suatu bentuk hubungan sosial yang merupakan produk dari tatanan simbolis tertentu, norma-norma, nilai-nilai, seperangkat praktik atau tindakan sosial dan lembaga-lembaga tertentu. Oleh sebab itu pembicaraan tentang politik dan demokrasi mensyaratkan analisa the political (le politique). Namun pada kenyataannya dalam sorak-sorai pesta demokrasi Indonesia tahun 2019 ini, pemahaman tentang politik dan demokrasi itu ternyata masih terputus dan jauh terlepas hubungannya dengan the political (le politique).

 

Dalam tradisi Yunani Kuno, istilah demokrasi pada awalnya digunakan sebagai suatu bentuk ejekan kepada kerumunan atau gerombolan orang banyak yang merasa berhak untuk berkuasa dan memerintah atas suatu negara. Sebaliknya, hal ini sama saja artinya dengan celaan kepada orang yang percaya bahwa kekuasaan itu merupakan hak yang diwariskan dan sudah ditakdirkan dari sejak kelahiran mereka berdasarkan wahyu ilahi. 

 

Pada saat itu istilah demokrasi ditujukan kepada orang yang tidak memahami dan tidak terbiasa melakukan Yang Baik, namun haus dan lapar kekuasaan. Saat ini, kata demokrasi itu telah mengalami perubahan makna tidak sebagai suatu ejekan dan celaan lagi. Namun telah menjadi suatu pujian dan cita-cita luhur manusia rasional zaman modern atau bahkan masyarakat postmodern ini. Istilah demokrasi ini tidak dapat dipungkiri lagi sering digunakan orang untuk mengelabui demi tercapainya cita-cita kekuasaannya. 

 

Demokrasi dimaknai sebagai kekuasaan yang didasarkan pada penghargaan kepada hak azasi manusia, cinta kepada alam dan tumbuhan serta binatang yang hidup di dalamnya. Saat ini, secara formal demokrasi itu masih lebih sering dipahami sebagai suatu bentuk tertentu dari pemerintahan, di mana di dalamnya kekuasaan politis itu diselenggarakan oleh rakyat melalui keikutsertaannya secara langsung dalam pemilihan umum dan kemudian dilaksanakan oleh perwakilannya dalam pengambil keputusan kolektif serta dalam proses penerapan kebijakan politis tersebut. 

 

Pada suatu hari di tahun 399 SM, Sokrates kala itu berumur 70 tahun, berdiri di hadapan majelis pengadilan. Ia menghadapi tuduhan “tidak mau mengakui Allah yang ditetapkan negara dengan memperkenalkan illah lain yang baru” dan “merusak pikiran para pemuda”. Tuduhan itu diajukan oleh Anytus, Meletus dan Lycon. 

 

Anytus adalah seorang politikus berpengaruh di Athena yang berasal dari keluarga penyamak kulit. Sebelum menjadi politisi ia adalah seorang jenderal

dalam Perang Peloponnesia. Namun kalah dari pasukan Sparta dengan kehilangan  kota  Pylos dan  menghadapi  tuduhan  pengkhianatan, tetapi 

 

 

bebas karena menyogok pengadilan perang. Pada tahun 403 SM Anytus memperoleh kekuasaan karena memimpin pemberontakan menggulingkan the Thirty Tyrants, penguasa Athena waktu itu. 

 

Motivasi Anytus menuduh Sokrates karena Sokrates mengritik lembaga pemerintahan demokrasi di Athena. Yang terpenting adalah salah seorang murid Sokrates yang paling dikasihinya adalah anak lelaki Anytus sendiri. Anytus juga pernah dihina oleh Alcibiades, seorang negarawan, jenderal dan orator ulung Athena, juga murid Sokrates.

 

Lycon adalah seorang orator, atau tepatnya seorang demagogue, penghasut. Lycon menganggap Sokrates adalah sebuah ancaman besar bagi keberlangsungan demokrasi, yang membutuhkan keahliannya sebagai penghasut. Tetapi ia juga menyalahkan Sokrates karena memiliki hubungan yang khusus dengan Autolycus, anak laki-lakinya. Sementara Meletus adalah boneka Anytus, yang hanya ingin menjajal kemampuan dialognya dengan Sokrates. 

 

Dari 500 orang anggota majelis pengadilan Athena itu, 220 suara menyatakan Sokrtaes tidak bersalah, namun 280 suara menyatakannya bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Tanpa gemetar sedikitpun, tidak juga berubah air mukanya, Sokrates meminum habis racun hemlockdari mangkuk yang telah disiapkan untuknya. Apollodorus terisak sambil mengeringkan air matanya. Crito tidak dapat menahan lagi tangisnya. 

 

Setelah merasa kakinya berat, Sokrates berbaring dan meraba kaki yang tidak dapat dirasa lagi. Sokrates menghijabi wajahnya dan berkata: “'Crito, kita berhutang seekor ayam jago pada Asclepius. Bayarlah. Jangan lupa.” Mempersembahkan seekor ayam jago kepada Asclepius adalah bentuk ucapan syukur kepada dewa ini, bagi kesembuhan yang diberikannya kepada seseorang. Sokrates merasa dirinya telah disembuhkan dari penyakit wacana, pendapat yang keliru, yaitu mendengarkan suara orang banyak (kerumunan)/demokrasi. 

 

Michel Foucault lahir di Poitiers, 15 Oktober 1926. Tahun 1946 ia belajar Filsafat dan Psikologi di École Normale Supérieure di bawah bimbingan Georges Canguilhem, Jean Hyppolite, Maurice Merleau-Ponty dan Louis Althusser. Selama di situ, Foucault mengalami depresi berat dan berusaha mengakhiri hidupnya karena kesulitan untuk mengungkapkan kecenderungan homoseksualitas dan sadomasokismenya. Tahun 1950 dia bergabung dengan Partai Komunis Perancis atas pengaruh Althusser, namun ia tidak pernah aktif dan atas persetujuan Althusser juga ia meninggalkan partai itu di tahun 1952.

Pada suatu kesempatan melancong di San Fransisco, Foucault pelesir ke sebuah bar kaum gay, ia sedikit terpapar virus di situ, hingga akhirnya pada 25 Juni 1984, ia dinyatakan meninggal dunia karena AIDS. 

 

 

Pada Oktober-November 1983 di Universitas California di Berkeley, Michel Foucault membahas persoalan tentang parrhesia di dalam sebuah seminar yang bertema “Discourse and Truth: The Problematization of the Parrhesia”. Foucault meletakkan dan melihat parrhesia (kebebasan untuk berbicara benar) sebagai suatu permasalahan dalam konteks perkembangan dan dinamika demokrasi Athena. Parrhesia merupakan hal yang mendasar dan menjadi ciri khas utama demokrasi Athena, di mana setiap warga menikmati demokrasi itu. 

 

Demokrasi Yunani ini dibentuk oleh semua warga (politeia) berdasarkan jaminan (1) atas hak yang sama di hadapan hukum (isonomia), yaitu memiliki hak yang sama dalam pemerintahan dan pelaksanaan kekuasaan (kratein); dan (2) hak yang sama untuk berbicara (isogoria). Isonomia dan Isogoria diakui secara formal oleh konstitusi. Namun parrhesia tidak memiliki dasar institusional maupun konstitusional dalam demokrasi. 

 

Seorang orator terkenal saat itu, Isokrates (436-338 SM) mengingatkan bahwa pada kenyataannya, orang-orang Athena lebih memilih hanya mau mendengarkan para orator yang tidak laku dan tidak ingin mendengar para parrhesiast, karena para orator (pembual) itu cenderung mengkhotbahkan apa yang ingin mereka dengar. 

 

Para demagog adalah pemimpin/penghasut dalam sebuah demokrasi ini mendapatkan dukungan dengan mengeksploitasi prasangka buruk, kebencian, kefanatikan dan kebodohan dari antara orang banyak. Sebaliknya, para orator yang baik dan terhormat, sanggup dan berani manantang masyarakat. Mereka mampu mengritik, mendidik dan mengubah kehendak masyarakat menjadi kepentingan bersama. Parrhesia berada pada pertentangan antara keinginan warga dan kepentingan bersama. 

 

Kata parrhesia (παρρησία) berasal dari kata Yunani pan (πᾶν) artinya semua dan rhesis (ῥῆσις) artinya ucapan. Secara harafiah parrhesia adalah mengatakan semuanya atau mengatakan dengan bebas atau mengatakan dengan berani. Foucault menjelaskan bahwa parrhesia itu adalah tindakan berbicara bebas tentang kebenaran dengan polos dan jujur, melakukan kritik terhadap diri sendiri dan orang lain, untuk menolong dan mengambangkan diri sendiri dan orang lain, meskipun mengandung bahaya atas dirinya. Seorang parrhesiast adalah pribadi yang memiliki kualitas kebajikan moral yang sangat penting dan dibutuhkan bagi kehidupan politis dalam sebuah negara

 

Foucault menunjuk Sokrates sebagai contoh seorang parrhesiast. Sokrates berkata jujur dan benar sebagai bentuk dari care for the self dan care for the others,  memperhatikan  serta  merawat diri  sendiri  dan  orang lain.  Parrhesia 

 

terwujud dalam bentuk mengajar, berkhotbah, dialog atau diskusi provokatif dan teladan hidup, yang menghantar orang untuk mengubah hidupnya sendiri. 

 

Pada akhirnya, Foucault menegaskan bahwa parrhesia adalah proses penguasaan diri yang menuntut usaha dan pengurbanan. Karena untuk menjadi parrhesiast, orang akan menghadapi banyak rintangan dan kesulitan. Seorang parrhesiast adalah individu yang merupakan bagian dari suatu masyarakat dan yang melaksanakan perannya secara tepat di dalamnya. 

 

Pada 23 Juli 2001 MPR menggelar Sidang Istimewa yang secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri. Sidang tersebut merupakan bentuk perlwanan atas tindakan Gus Dur yang mengumumkan pemberlakuan dekrit yang berisi, (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar. 

 

Peristiwa itu bermula dari kegaduhan politik sejak awal 2001, menyusul merebaknya kasus Dana Yanatera Bulog dan Bantuan Sultan Brunei, serta pernyataan dan kebijakan Presiden yang kerap menimbulkan kontroversi. Namun, sejumlah kalangan menilai kegaduhan itu sesungguhnya hanya bagian dari ketidakpuasan lawan politik pemerintah Gus Dur. 

 

Sebagai Presiden di era pasca-reformasi, Gus Dur dikenal dengan sosok yang berani melawan arus melalui pernyataan dan kebijakannya. Namun, hal itu justru membuat sejumlah elite politik kala itu tak nyaman. Lengsernya Gus Dur merupakan konspirasi dari elite politik yang terganggu dengan cara berpikir dan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh cucu pendiri Nahdhatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari tersebut. 

 

Menurut Akbar Tandjung, Ketua DPR dan Ketua Golkar saat itu, konflik antara DPR dan Gus Dur bermula dari langkah Gus Dur memecat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Jusuf Kalla dan Menteri Negara BUMN, Laksamana Sukardi. Pemecatan terhadap Jusuf Kalla yang merupakan kader Partai Golkar serta Laksamana yang diketahui politisi PDIP membuat Gus Dur harus berhadapan dengan dua kekuatan politik besar di DPR. Pada bulan Maret 2001, Gus Dur mencopot Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dan Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail, juga karena menuntut Gus Dur mundur. Gus Dur meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001. 

 

Taufik Kiemas (PDIP), Akbar Tandjung (Golkar) dan Hamzah Haz (PPP) sempat menawarkan suatu kesepakatan agar Gus Dur tetap berkuasa asalkan beberapa kursi kabinet diberikan kepada ketiga partai besar itu. Tapi ternyata dengan tegas Gus Dur memilih untuk diturunkan sebagai Presiden,   daripada 

melakukan tindakan-tindakan yang melanggar Pancasila dan azas pluralisme. Bagi Gus Dur, kebhinekaan adalah sunatullah (dari Tuhan/kehendak Tuhan) dan siapapun juga tidak memiliki hak untuk mengubahnya. Keberagaman adalah berkah yang mutlak diperlukan untuk mewujudkan keharmonisan bangsa ini. 

 

Gus Dur dengan lantang menyatakan bahwa Pancasila dan pluralisme di Indonesia hanya bisa ditegakkan melalui pengakuan kesetaraan derajat pada semua manusia, sistem demokrasi yang dijalankan dengan baik dan kedaulatan hukum. Penegakkan hukum dalam kebhinekaan sangat penting agar demokrasi tidak berjalan liar. Sementara secara budaya, pluralisme adalah usaha untuk menghilangkan sikap kebencian antara agama satu dengan lainnya, sebab kebencian dapat menimbulkan permusuhan, yang berujung pada kekerasan dan perpecahan bangsa. Timbulnya permusuhan bertolak belakang dengan misi suci agama yang menyerukan perdamaian. Pluralisme mensyaratkan adanya keterbukaan, sikap toleran dan saling menghargai kepada manusia secara keseluruhan. Pluralisme ini merupakan dasar penting dalam kehidupan dan kemanusiaan. 

 

Menurut Mahfud MD, secara yuridis penjatuhan Gus Dur itu tidak sah. Karena Gus Dur tidak pernah diberi memorandum 1 dan 2 untuk kasus yang sama. Memorandum 1 yang dilayangkan DPR pada 1 Februari 2001 untuk kasus Brunei, sementara memorandum 2 untuk kasus Bulog. Selain itu, jika mengikuti prosedur, setelah memorandum 1 dan memorandum 2 dilayangkan DPR. Sidang Istimewa MPR seharusnya dijadwalkan pada 1 Agustus 2001. 

 

Pada 30 April, DPR menjatuhkan memorandum kedua kepada Presiden Gus Dur karena tidak puas dengan jawaban Presiden atas memorandum pertama. DPR juga mengusulkan sidang istimewa pada 1 Agustus 2001. Dalam voting terbuka itu, dari 457 anggota Dewan yang hadir, 363 setuju, 52 menolak dan 42 abstain. Namun pada kenyataannya, Gus Dur dilengserkan pada 23 Juli 2001 itu dengan alasan karena memecat Jenderal Bimantoro sebagai Kapolri dan menggantikannya dengan Jenderal Chairudin Ismail tanpa persetujuan DPR. Dan pada saat penjatuhan Gus Dur itu tidak hadir seluruhnya. Karena PKB dan PDKB tidak hadir. Jadi secara yuridis tidak terpenuhi semua.

 

Pada malam itu pukul 20.50 WIB, Gus Dur keluar menuju beranda Istana Merdeka dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Berjalan tertatih-tatih, melambaikan tangan dan meminta para pendukungnya yang sudah siap  mati  untuknya  segera  pulang. Tidak  ada  orasi perlawanan, tidak  ada 

 

narasi sebagai pihak yang dizalimi, juga tidak ada glorifikasi jabatan melalui penggunaan jargon-jargon agama. Para pendukungnya, yang datang dari berbagai daerah, menangis.  Bukan  karena melihat  Gus Dur  sebagai  pihak  yang dizalimi, tapi tangis haru melihat upaya keras pemimpinnya untuk menghindari bentrok sesama anak negeri. Gus Dur memandang bahwa tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian. Dunia Yunani Kuno memiliki seorang parrhesiat, yaitu Sokrates dengan semangkok hemlock-nya. Negeri ini, pernah menyaksikan Gus Dur dengan kaos dan celana pendek-nya, melambaikan tangan, sebagai the truth-teller. Karena hidup manusia adalah aletheia, ketersingkapan dan truth-telling

 

 

Penulis adalah Peneliti ahli pada Abdurrahman Wahid Centre for Peace and Humanities Universitas Indonesia

 

 

 

Kepustakaan 

 

Baudrillard, J. The Consumer Society. Myths and Structures.Sage Publications, London, 1998. 

 

Beoang, Konrad Kebung. Michel Foucault: Parrhesia dan Persoalan Mengenai Etika.Penerbit Obor, Jakarta, 1997. 

 

Bocock, R. Consumption.The Dryden Press, New York, 2001. 

 

Bourdieu, P. The Logic of Practice.Polity, Oxford, 1990. 

 

Gabardi, Wayne. Negotiating Postmodernism.University of Minnesota Press, Minneapolis, 2001. 

 

Hoppe, Hans-Hermann. Democracy The God That Failed. The Economics and Politics of Monarchy, Democracy, and Natural Order.Transaction Publisher, New Jersey, 2007. 

 

Lefort, Claude. Democracy and Political Theory.University of Minnesota Press, Minneapolis, 1988. 

 

Zolo, Danilo. Democracy and Complexity: A Realist Approach.Pennsylvania State University Press, Pennsylvania, 1992.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Internet 

 

https://foucault.info/system/files/pdf/DiscourseAndTruth_MichelFoucault_1983_0.pdf

 

http://www.upm.ro/jrls/JRLS-07/Rls%2007%2056.pdf

 

file:///C:/Users/asus%20intel/Downloads/187-1-361-1-10-20160420%20.pdf

 

http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.426.9672&rep=rep1&type=pdf

 

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/11/29/22056/sejarah-mencatat-bagaimana-gus-dur-dilengserkan-rakyat-indonesia/;#sthash.xrwOUqeo.dpbs

 

https://www.merdeka.com/politik/kisah-gus-dur-ketawa-ketawa-saat-dilengserkan-dari-kursi-kepresidenan.html

 

https://id.quora.com/Mengapa-presiden-Abdurrahman-Wahid-lengser-dari-jabatannya

 

http://wartakota.tribunnews.com/2014/01/23/mahfud-md-beberkan-rahasia-di-balik-kejatuhan-gus-dur

 

http://redaksiindonesia.com/read/tak-ada-jabatan-di-dunia-ini-yang-perlu-dibela-mati-matian.html