Sabtu, 20 Oktober 2018

PRESIDEN DAN SASTRA(WAN), DENGAN PRAM DI ANTARANYA

Rabu, 08 Juni 2016
Dibaca sebanyak 2201 kali
Apa pentingnya sastra(wan) bagi seorang presiden? Saya ingin menyegarkan kembali kenangan, bahwa dalam periodenya yang singkat sebagai presiden, Gus Dur sempat ‘mengunjungi’ tiga orang sastrawan terkemuka Indonesia. Sekali lagi ‘mengunjungi’ dan menemui ketiga sastrawan itu di rumah atau kediaman mereka. Gus Dur tentu bisa saja mengundang mereka ke istana negara dan mungkin mereka bersedia. Tapi ia lebih memilih untuk repot dengan mendatangi mereka secara langsung. Ketiga sastrawan yang ia sambangi itu adalah A. A. Navis, Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer.

 

 

Jika mengingat situasi sosial-politik saat itu, apa yang dilakukan Gus Dur ini dalam banyak hal dan mungkin dari banyak sudut, sungguh ajaib, menakjubkan, tapi serentak dengan itu juga menggelikan, naif, buang waktu, nekat, tidak sensitif, dan entah apa lagi. Waktu itu kosa ‘tebar pesona’ atau ‘pencitraan’ belum lagi muncul.

Pertama, Gus Dur adalah baru saja naik sebagai presiden dan merupakan presiden perdana produk reformasi. Reformasi yang tak tuntas, masih menyisakan banyak barisan politisi lama, baik sipil maupun militer, yang tidak terima dan marah dengan pemakzulan Soeharto dan penenggelaman Orde Baru. Kebijakan Gus Dur menghapuskan dwifungsi ABRI dan membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, untuk menyebut sebagian kebijakannya yang krusial, jelas meninggalkan sakit hati dan dendam pada hati para pemain lama ini. Karena itu dengan berbagai cara, mereka mengganggu stabilitas dengan “cara lempar batu sembunyi tangan.” Sementara itu, pada saat yang sama para ‘pemain baru’ dalam politik berdesakan untuk tampil ke tengah gelanggang.  Di luar itu semua, tuntutan reformasi total terus disuarakan. Situasi politik, dengan demikian, sangatlah labil.

Kedua, krisis ekonomi, yang di antaranya dan pada kenyataannya menjadi faktor penting pemakzulan Soeharto, sama sekali belum pulih. Dunia bisnis dalam negeri masih lesu, dan kepercayaan luar negeri masih sangat rendah. Rakyat masih gelisah karena harga sembako masih sangat tinggi. Sementara dana pemerintah sangat tipis.

Ketiga, reformasi memberi ruang bagi banyak orang yang di masa lalu mengalami penindasan untuk menyuarakan hak dan tuntutannya. Kenyataan ini menimbulkan pembelahan dan pertentangan yang luar biasa di antara kelompok-kelompok masyarakat. 

Tugas utama Gus Dur sebagai presiden, jelas di depan mata. Dan Gus Dur amat sadar dengan hal ini. Dengan berbagai cara dan dengan caranya yang khas dan tegas pula, ia mencoba untuk membenahinya.        

Nah apakah menyambangi sastrawan bisa disebut bagian dari ikhtiar tersebut? Sulit menerakan jawaban. Sebab, jangankan di masa krisis, bahkan di masa yang stabil pun mungkin tak akan pernah ada presiden –setidaknya hingga sekarang-- yang sudi mendatangi (para) sastrawan. Siapa yang ingat sastra(wan) tatkala krisis ekonomi? Dalam masa krisis, ‘kebudayaan’, termasuk sastra di dalamnya, telah menjadi nomor kesekian. Orang butuh sembako, bukan novel atau puisi.

Jadi mengunjungi sastrawan pada saat itu bisa dikatakan sama sekali tidak memberi dampak positif apapun pada pemerintahan Gus Dur. Alih-alih, Gus Dur malah menuai kritik dan serangan karena salah seorang yang ia kunjungi dan temui adalah Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan kelas dunia, yang dianggap sebagai pemuka kaum komunis.  Padahal Gus Dur butuh dukungan politik yang kuat dari berbagai kalangan, bukan serangan.  Tentu saja ia menyadari resiko politik ini, tapi kenyataannya ia tegak dan lurus dengan prinsip yang dipeganginya. 

Jadi apa pentingnya sastra(wan) buat seorang presiden Gus Dur? Lebih-lebih si sastrawan itu seorang komunis yang dianggap najis secara politik, sosial, dan keagamaan?

Kalau kita telisik, tampak hasrat dan minat Gus Dur mengunjungi dan menemui sastrawan sama tingginya dengan hasrat dan minatnya mengunjungi para kiai dan menziarahi makam para wali. Yang terakhir ini bisa dikembalikan kepada pandangan dunianya sebagai seorang santri par excellence, yang memandang sosok kiai dan makam keramat para wali adalah lentera yang memancarkan cahaya rohani. Lalu bagaimana dengan sosok sastra(wan)?

Hal yang utama perlu diketahui adalah bahwa Gus Dur telah membaca karya(-karya) ketiga sastrawan ini. Dengan demikian, bisa dikatakan, jauh sebelum mengunjungi dan menemui ketiga sastrawan ini, ia telah “mengunjungi” ketiganya. Ia telah “berdialog” dengan mereka secara spiritual. Ketika menjadi presiden ia tetaplah seorang “Gus Dur.”

 

Mochtar Lubis

Gus Dur mengunjungi dan menemui Mochtar Lubis di kediamannya di Jalan Bonang, Jakarta Pusat awal April 2000. Jika mengingat pengangkatannya sebagai Presiden pada Oktober 1999, maka kunjungan ke kediaman Mochtar Lubis ini ia lakukan pada bulan ke-7 masa kepresidenannya. Jadi masih terhitung sangat awal sekali.

Mochtar Lubis adalah seorang novelis dan cerpenis. Karya-karyanya telah memperoleh banyak penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, ia adalah seorang jurnalis yang pemberani dan tak kenal takut mengritik bengkoknya kekuasaan. Baik semasa Sukarno maupun semasa Soeharto, koran yang didirikannya dibreidel karena kritiknya yang sengit dan tajam pada kekuasaan.

Mochtar Lubis adalah salah seorang yang penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Taklah aneh jika Gus Dur menghormatinya. "Saya menganggap novelnya Pak Mochtar Lubis berjudul Jalan Tak Ada Ujung sebagai satu dari dua novel terbaik dalam bahasa Indonesia...Yang satunya lagi Bumi Manusia dari Pak Pram," ungkap Gus Dur kepada media ketika berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer sebulan kemudian.

Kekaguman Gus Dur terhadap novel Jalan Tak Ada Ujung sudah lama ia kumandangkan. Bahkan pujian ini seringkali ia ulang-ulang dalam tulisan, wawancara maupun ceramah seminar. Tampak sekali bahwa novel ini sangat mengesankannya.

Jalan Tak Ada Ujung adalah novel tipis yang berlatar belakang perang kemerdekaan. Tokoh utamanya adalah Guru Isa, seorang guru SD, yang harus terlibat dalam revolusi fisik. Tetapi ia sangat penakut dan bimbang. Sedemikian takutnya ia dengan tekanan kekuasaan, ia sampai mengalami impotensi. Ketika istrinya raib dirampas sahabatnya, ia tambah kehilangan kepercayaan diri. Namun pada akhirnya ia berhasil mengalahkan ketakutan di dalam dirinya. Ia berhasil sembuh dari impotensi dan berani melakukan perlawanan. 

Gus Dur sangat menyukai karya Lubis ini karena dengan narasinya yang subtil dan halus, berhasil menampilkan problematika-problamatika psikologis yang dialami individu-individu ketika revolusi sedang berlangsung.    

“...religiositas bisa dicari pada hal-hal yang kelihatan bukan agama, misalnya Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis itu. Itu jelas bukan novel agama, itu novel psikologis. Kisah guru Isa yang impoten, dan menemukan kejantanannya lagi setelah hilang ketakutannya. Ini menurut saya tidak kurang religiusitasnya dengan karya Hamka yang berjudul Di bawah Lindungan Ka’bah,” demikian ungkap Gus Dur dalam wawancaranya dengan Majalah Horison, September 1984.

 

A.A. Navis

Sekitar bulan Juni 2000, A. A. Navis, salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia, dengan sejumlah penghargaan, dan tokoh masyarakat Minang yang kala itu berusia 76 tahun, terbaring sakit di RS Harapan Kita, Jakarta. Di sela kesibukannya sebagai presiden, Gus Dur pun menyempatkan untuk membesuknya. Sungguh ini merupakan suatu perhatian besar pada sosok Navis secara pribadi maupun sebagai seorang sastrawan.

Sama seperti karya Mochtar Lubis, Gus Dur sudah lama mengenal dan menyukai karya-karya A. A. Navis, terutama yang sering disebutnya adalah cerpen “Robohnya Surau Kami”.

Dalam sebuah esai di Kompas, 19 November 1973, berjudul  “Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia”, Gus Dur mengeluhkan absennya karya-karya kesusasteraan dari dan tentang pesantren. Kalau pun ada, tulis Gus Dur di tahun 1973 itu –yang mungkin telah berbeda situasinya dengan sekarang ini—“belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.” Artinya, karya-karya kalangan pesantren maupun mengenai pesantren yang ada saat itu di mata Gus Dur terlalu datar dan kurang mendorong suatu perenungan.

“Yang ironis,” menurut Gus Dur, ”justru sebuah karya pendek yang berhasil menampilkan permasalahan kejiwaan pesantren. Karya itu adalah cerpen Robohnya Surau Kami, oleh A.A. Navis. Permasalahan cerpen ini, yaitu fatalisme yang melanda kehidupan beragama, adalah  permasalahan tipikal pesantren. Walaupun latar belakang sosial yang disoroti adalah kehidupan kampung yang “biasa”, tetapi jelas sekali cerpen ini dipengaruhi corak kehidupan surau/pesantren di Sumatera Barat.” 

Cerpen ini telah menjadi salah satu cerpen klasik dan legendaris dalam jagat sastra Indonesia. Di dalam beberapa kesempatan, Gus Dur beberapa kali mengutip cerpen ini, terutama di dalam keberanian cerpen ini mengritik secara satiris kehidupan keagamaan (keislaman) yang fatalistik dan formalistik. Cerpen itu telah menjadi sumbangan besar bagi kehidupan kesusasteraan Indonesia khususnya dan kehidupan keagamaan umumnya. Barangkali ini salah satu alasan mengapa Gus Dur merasa penting membezuk pengarangnya.

Dua bulan sesudah itu, Navis meluncurkan kumpulan puisi Dermaga Lima Sekoci sekaligus mensyukuri usianya yang ke-76. Salah satu puisinya di dalam antologi itu berjudul “Ketemu Gus Dur”:

 

Baru saja aku dipindahkan dari brankar ke ranjang

di ruang gawat darurat RS Harapan Kita Jakarta

Presiden tiba sambil mengacungkan salam

Yang tak aku lepas sampai berpisah

Sambil bersalam kataku kepadanya

"Gus Dur,

bangsa kita hanya kenal pada presiden

seperti maharaja

seperti kaisar

seperti diktator dengan atribut di bahu dan dada

biar kelihatan angker dan perkasa."

 

Puisi di atas menunjukkan kesan mendalam Navis kepada Gus Dur. “Yang tak aku lepas sampai berpisah”, tulisnya. Dan ia memuji Gus Dur yang telah mencairkan keangkeran tahta dan kedudukan seorang presiden.

Kunjungan Gus Dur kepada Lubis, Navis (dan Pram), telah menunjukkan sisi Gus Dur sebagai seorang penggemar dan pembaca karya sastra. Baginya, karya sastra merupakan sumber rohani, bukan saja bagi pribadi-pribadi, tapi juga bagi masyarakat dan bangsa. Itulah sebab ia meletakkan sastra di tengah krisis ekonomi tetap sebagai bagian dari kehidupan yang utama. Kunjungannya kepada ketiga sastrawan tersebut, bukan semata suatu rekomendasi spesial untuk membaca karya-karya mereka, tetapi juga suatu himbauan untuk memperhatikan dan memuliakan sastra(wan) kapan dan di manapun. Bahkan di saat krisis ekonomi sekalipun.

 

Pramoedaya Ananta Toer

Seperti Lubis dan Navis, Pram di mata Gus Dur pertama-tama adalah seorang sastrawan, sosok yang turut memancarkan cahaya rohani bagi masyarakat. Selain Bumi Manusia, Gus Dur juga pernah menyatakan sangat menyukai, Keluarga Gerilya, novel Pram yang lain. Namun penjelasan kunjungan Gus Dur kepada Pram tampaknya tidak bisa ditelisik dari sudut kedudukan sastra saja. Urusannya telah melampaui sastra.

Gus dur berkunjung dan menemui Pram di rumahnya di Jalan Multikarya I nomor 26 Utan Kayu, Jakarta Timur pada 2 Mei 2000. Sebelumnya, Gus Dur juga pernah mengundang dan bersua dengan Pram di istana negara pada 27 Oktober 1999. Bulan pertama pengangkatannya sebagai pemuka negeri ini.

Sebagai seorang sastrawan eks tapol dengan nama yang menjulang di dunia internasional, suara Pram sangat didengar. Media telah mendaulatnya secara tidak langsung sebagai “wakil” dan “juru bicara” para eks-tapol khususnya dan barisan rakyat yang tertindas pada era Orde Baru umumnya. Pram adalah simbol ketertindasan yang dilakukan Orde Baru.

Peristiwa G30S 1965 adalah luka sejarah yang tak mudah disembuhkan dan jembatan patah yang tak mudah disambung. Bekerja secara kultural, Gus Dur mengundang Pram ke istana negara sebagai salah seorang tamu. Orang yang dituduh sebagai komunis dan dihukum tanpa pengadilan itu menjadi tamu terhormat sang presiden di istana negara. Sebagai sastrawan kaliber dunia, Pram pantas untuk diundang ke istana. Ini bukan tindakan politik yang mudah dan murah ongkos politiknya, tapi membangun rekonsiliasi telah menjadi tekad Gus Dur sejak awal pemerintahannya, apapun resikonya. Upaya ini berlanjut dengan permintaan maafnya kepada keluarga PKI yang menjadi korban dan kemudian mengunjungi kediaman Pram.   

Yang menarik, kunjungan ini dilakukan Gus Dur justru tak lama setelah Pram mengkritik permintaan maafnya kepada keluarga PKI yang menjadi korban tindakan semena-mena pemerintahan Orde Baru. Pram menilai, betapa mudahnya Gus Dur meminta maaf. Baginya, permintaan maaf itu bersifat pribadi yang tidak disertai oleh lembaga MPR atau DPR.

Kita bisa memaklumi mengapa reaksi Pram demikian keras. Penderitaan yang ia, dan kalangan keluarga tapol alami, memang perih dan tak tertanggungkan. Namun penting juga diingat betapa tak mudah dan tak murahnya inisiatif yang masih tahap awal dan baru dirintis secara kultural-informal ini. Jangankan ke luar, ke dalam lingkungan pesantren dan NU pun, inisiatif Gus Dur ini, masih banyak ditentang. Dan sejujurnya, mengingat lagi hari-hari itu, beberapa kalangan yang semula mendukung inisiatif Gus Dur ini jadi berbalik arah ketika membaca tanggapan Pram. Saya tak tahu apakah dengan tanggapan yang lebih tenang dan dingin, kemungkinan inisiatif itu akan bisa berjalan lebih lanjut. Mungkin juga tidak. Entahlah! Hari-hari ini memperlihatkan dengan vulgar betapa tidak mudahnya ikhtiar ini.

Yang jelas saat itu Gus Dur memandang Pram sebagai sosok yang penting dan strategis di dalam usaha rekonsiliasi peristiwa G30S 1965. Demi kepentingan rekonsiliasi itu pulalah ia dengan rendah hati, mengunjungi Pram, yang telah menampik permintaan maafnya.

Yang kedua, Pram bagi Gus Dur juga menarik karena idenya tentang pentingnya sektor kelautan bagi negara-bangsa Indonesia. Selain dari sejumlah wawancaranya, ide Pram tentang pentingnya kelautan ini termuat dalam novelnya Arus Balik. Ide dasarnya, kekalahan Nusantara sejak abad ke-16 berawal dari hilangnya kekuasaan dan penguasaan terhadap kelautan.  Sebagai negeri dengan kawasan laut dan kepulauan, sudah semestinyalah Indonesia memperhatikan lagi kelautan jika ingin menjadi bangsa yang besar.  Laut bukan memisahkan antarpulau, tetapi justru menghubungkan dan menyatukannya. “…Tanah ini, Jawa ini, kecil, lautnya besar. Barang siapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barang siapa kehilangan laut dia kehilangan darat,” demikian tulis Pram.

Gus Dur mengatakan dalam pertemuan intern dengan Pram itu ia juga mendiskusikan kelautan. Barangkali terinspirasi atau terdorong di antaranya dari karya Pram ini, Gus Dur kemudian mendirikan Kementerian Kelautan dan bahkan mengangkat seorang laksamana AL untuk menjadi Panglima TNI, yang dasawarsa-dasawarsa sebelumnya selalu dipegang jenderal AD.

Pertemuan Gus Dur dan Pram adalah pertemuan ide. Betapapun ide itu tak mudah untuk direalisasikan. Kunjungan Gus Dur ke Pram adalah bagian dari ikhitiarnya merumuskan dan menjalankan eksperimentasi-eksperimentasi politik dak kebudayaannya: rekonsiliasi bangsa. Bagi Gus Dur, Pram adalah orang besar.

Teringat pada awal Agustus 1997, bersama beberapa teman kami pergi ke Jakarta untuk menghadiri senior yang melangsungkan pernikahan. Waktu itu peristiwa 27 Juli belum hitungan pekan berlalu. Di sana sini masih tampak sisa-sisa mobil, sepeda motor, dan pertokoan yang hangus terbakar. Jakarta masih dilanda ketakutan dan sepi.

Setelah upacara perkawinan itu, malamnya kami bertandang ke tempat Gus Dur. Lalu esoknya, diantar seorang teman, kami berkunjung ke rumah Pram. Ketika kami datang, ia sedang sibuk membersihkan dan membakar sampah. Kami menyapanya dan mengatakan ingin menemuinya. Ia sempat terheran karena sejak peristiwa 27 Juli, menurutnya, belum ada seorang pun yang berani berkunjung ke rumahnya.

Lalu ia tanya dari mana kami datang? Kami menceritakan bahwa baru saja berkunjung dari rumah Gus Dur. Pram pun mengemukakan kesannya tentang Gus Dur dan terus memujinya sebagai seorang yang hebat dan besar. Pertemuan Pram dan Gus Dur adalah pertemuan dua orang besar Indonesia.    

‘Menemui’ para sastrawan ini adalah momen-momen yang ajaib dari masa pemerintahan Gus Dur. Barangkali peristiwa seperti ini tak akan pernah terulang lagi. Betapa sastra(wan) demikian penting bagi seorang presiden, bagi masyarakat.

 

Esei ini sebelumnya diunggah di http://kalatida.com/presiden-dan-sastra/