Sabtu, 20 Oktober 2018

SIASAT DI TENGAH TARIAN PARA BISSU: SEBUAH CATATAN UNTUK GERAKAN LGBT DI INDONESIA

Senin, 21 Maret 2016
Dibaca sebanyak 3014 kali
Tahukah anda, siapa para Bissu itu ? Jika mengikuti pandangan Matthes, maka Ia adalah orang suci yang akar katanya dari ‘bessi’ (suci). Digelari demikian, karena mereka tidak haid dan dan tidak mengeluarkan darah kotor, meski jiwa dan tampilannya perempuan. Puang Matoa Saidi (almarhum) menegaskan identitas Bissu ini dengan mengatakan ”Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakunrai toi” (laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki juga bukan perempuan). Lazimnya para Bissu ini memang calabai atau waria, namun diantaranya juga ada perempuan. Itulah mengapa Identitas Bissu ini dianggap melampaui 5 identitas gender yang diakui masyarakat Bugis; Uroane (pria), Makkunrai (wanita), Calabai (waria), calalai (perempuan berjiwa dan berkarakter laki-laki) dan Bissu itu sendiri yang menghimpun identitas sebelumnya. Bissu juga di posisikan sebagai ahli spritual Kuno, yang mengerti bahasa langit dan paham dengan perbintangan (kutika).

 

 

 

Dengan demikian, dari uraian singkat di atas, teranglah bagi kita, bagaimana posisi calabai atau waria, demikian halnya calalai (perempuan berjiwa dan berkarakter lelaki) dalam masyarakat Bugis.  Mereka jelas adalah identitas-identitas gender yang diakui. Bahkan posisi mereka, utamanya Bissu-calabai amatlah penting dalam kebudayaan Bugis. Para Bissu-calabai-lah yang memegang peranan dalam berbagai ritual adewatang (ketuhanan) dan upacara adat di masyarakat maupun di kerajaan. Para Bissu-calabai ini pulalah yang mendapat tugas terhormat mendidik pangeran-pangeran istana agar paham tata kerajaan dan adat istiadat.  Dan sekadar untuk kita ketahui, belum ada yang tercatat dalam sejarah, para pangeran itu kehilangan karakter maskulinitasnya akibat bergaul rapat dan diasuh oleh para calabai ini.

Sungguhpun demikian, tidak berarti komunitas Bissu dan para calabai sama sekali tidak mendapatkan tekanan apa-apa dari masyarakat Bugis. Purifikasi agama dan modernisasi telah mengantar mereka pada babak baru kehidupan yang patetis.  Komunitas Bissu maupun calabai membangun berbagai strategi dan siasat untuk bertahan dalam sistuasi muram tersebut. Mereka memainkan tarian yang kadang luwes, namun sering pula tegas, baik dalam panggung pertunjukan maupun senyatanya kehidupan. Perlahan mereka diterima kembali oleh masyarakat dan menemukan kembali panggungnya.  

Gerakan DI/TII & Operasi Mappatoba; Mendung di Tengah Para Bissu dan Calabai

Pada tanggal 7 Agustus 1953 , Kahar Muzakkar memproklamirkan daerah sulawesi-selatan  sebagai bagian dari DI/TII. Mulai tahun itulah, sampai sekitar tahun 1965, DI/TII Kahar Muzakkar melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah.  Rentang tahun itu, pemberontakan berjalan bersisian dengan purifikasi Islam. Negara Islam yang dibayangkan oleh DI/TII cenderung anti terhadap segala yang berbau kebudayaan dan tradisi masyarakat. Bissu dan calabai adalah salah satu korban dari proses purifikasi itu. Mereka diburu dan ditangkapi. Para calabai pilihannya dua, menjadi lelaki kembali atau dibunuh. Para Bissu yang kebanyakan calabai mengalami tekanan yang lebih dahsyat lagi. Sebagai calabai mereka dianggap telah menyalahi kodrat sekaligus ajaran agama.  Sementara di saat yang sama para Bissu ini dianggap sebagai penyembah berhala, penjaga ritual kuno dan dan perawat tradisi feodalisme. Dua hal itulah yang menjadikan Bissu sebagai salah satu target yang paling dicari oleh gerombolan DI/TII. Mereka diburu sampi ke hutan-hutan. Bissu Saeke, salah satu Bissu yang lolos dari DI/TII, seperti dituturkan Puang Matoa Saidi, harus lari meninggalkan kampung halamannya. Menyingkir ke kampung lain yang dianggap aman. Para Bissu diburu, dikejar dan ditangkapi lantas dipaksa menjadi lelaki maskulin kembali. Beberapa di antaranya dipaksa bekerja di sawah  dengan maksud para calabai itu menjadi lelaki sejati nan maskulin. Para Bissu sebagai penjaga tradisi dan pemimpin dalam berbagai ritual kuno dipaksa menghentikan segala kegiatannya. Berbagai Upacara ritual dilenyapkan, arajang (benda pusaka) dihancurkan dan pertunjukan mabissu beserta segenap musik yang mengiringinya  disenyapkan.         

Tahun 1966 mendung kembali bergayut di tengah komunitas Calabai dan Bissu. Pada titimangsa ini mereka kembali mendapatkan tekanan yang tidak kalah pahitnya dengan masa-masa DI/TII. Sejarah mendedahkan pada kita, masa itu adalah tahun dimana opereasi penumpasan PKI mencuat kepermukaan. Di Sulsel yang dikenal khalayak diantaranya operasi Tumbu Tallua, Operasi Malilu Sipakainge dan Operasi Mappatoba atau operasi toba. Para Bissu dan calabai menjadi sasaran langsung dalam aksi yang disebut dengan Mappatoba.   Dalam operasi toba ini aparat keamanan berkolaborasi dengan beberapa organisasi pemuda menyasar kalangan Bissu.

Dua peristiwa ini setidaknya bisa kita katakan sebagai proses genocide. Pembasmian pada para Bissu dan calabai dengan cara-cara kekerasan. Sejarah memang tidak mendedahkan data yang terang mengenai angka  pasti korban dari peristiwa itu, namun di sinyalir sangat banyak kelompok calabai dan Bissu yang hilang dan jadi objek pembantaian.  Para Bissu dan calabai, pada dua peristiwa tadi betul-betul berada pada titimangsa yang mencengkau. Mereka menjalani masa kelam-kelabu, tanpa gairah.  Beberapa yang selamat dari peristiwa ini adalah mereka yang menyingkir jauh atau diam-diam disembunyikan oleh masyarakat yang mendukung tradisi  mabissu. Yang selamat dari operasi itulah, demikian yang diwedarkan Halilintar Latief, budayawan Bugis,  yang kemudian dikenal dengan Bissu Patapuloe (Bissu 40; sesuai dengan jumlahnya yang tersisa).

Setelah peristiwa itu, para Bissu dan calabai yang tersisa nyaris kehilangan gairah. Mereka berhenti menjalankan berbagai acara adat. Masyarakat pendukungpun tak berani menggelar ritual. Mappalili (upacara turun ke sawah) tidak digelar. Namun beberapa masyarakat petani yang mendapatkan hasil panennya tidak memuaskan merasa bahwa hal itu terjadi karena mereka kehilangan gairah melakukan ritual adat, khususnya mappalili (Halilintar, 2009). Perlahan upacara mappalilipun di gelar, ritual adat kembali diusung, gendang kembali ditabuh dan Bissu serta calabai kembali mendapatkan panggungnya.

Siasat  para Bissu dan Calabai

Karena kini panggung Bissu kembali digelar, maka tekanan dan penyingkiran terhadap merekapun muncul kembali. Kini penyingkiran itu muncul dalam wajah yang berbeda. Negara tak lagi menggunakan cara-cara kekerasan, tapi melalui pola-pola pembelahan.  Modus ini meminjam Michel Foucault disebut sebagai dividing practic (praktik pembelahan). Satu kelompok masyarakat dianggap normal, mengikuti sunnatullah dan sesuai dengan ajaran agama, sementara belahan yang lainnya dianggap sebagai masyarakat abnormal, tidak mengikuti kodrat ilahi dan menyalahi ajaran agama. Kelompok pertama adalah mereka yang identitas gendernya orowane (laki-laki) dan makkunrai (perempuan) dengan orientasi heterosexual, sementara kelompok terakhir adalah para calabai, calalai dan Bissu dan mereka yang memiliki orientasi sexual homo.  Penentuan kelompok yang normal dan abnormal dilakukan melalui mekanisme normalizing judgment, salah satu instrumen yang oleh Foucault (1984) dianggap penting dalam mendisiplinkan masyarakat.

Institusi yang paling efektif melakukan normalizing judgment ini tak lain adalah agama dan institusi pengetahuan. Melalui agama; calabai, calalai dan Bissu di definisikan sebagai kelompok pelanggar agama.  Mereka disepadankan dengan kaum Nabi Luth para pendosa dengan sexualitas menyimpang. Hadist-hadits nabi yang menyudutkan mereka  didendangkan berulang-ulang. Bahkan beredar cerita di masyarakat yang dianggap bersumber dari kitab-kitab otoritatif; bertemu apalagi bergaul   dengan kelompok Bissu, Calabai dan calalai ,  membuat ibadah kita tidak diterima selama 40 hari. Aktifitas kebudayaan mereka, khususnya Bissu di tempatkan dalam jurang kemusyrikan.

Di saat yang sama ilmu medis dan psykologi menyebarkan pengetahuan bahwa kelompok semacam itu adalah penyakit fisik dan kejiwaan. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini harus di obati, ditampung dan dikarantina. Mereka dipandang menjijikkan dan penuh kengerian. Pola ini persis dengan cara-cara eropa abad pertengahan (sekitar abad ke-12) memperlakukan orang berpenyakit lepra. Demikian halnya perlakukan terhadap orang-orang miskin abad 15 dan abad 16 di tempat yang sama. Mereka, sebagaimana calabai dan Bissu, juga dipandang penyakit, menjijikkan dan mengalami anathematisasi.  Foucault dengan terang benderang telah mengagak-agihkan ini, salah satunya dalam bukunya yang monumental Madness and civilisation (1967).

Dalam sistuasi demikian, lantas bagaimana kelompok ini, khususnya Bissu menempatkan dirinya?. Kali ini mereka tidak lagi berlari menghindar. Namun yang membuat saya kagum, alih-alih melawan frontal, mereka malah tidak memilih untuk mengambil posisi berseberangan dengan kelompok yang menyingkirkan tersebut. Bissu tidak melakukan perlawanan vis a vis dengan para kelompok yang mendiskriditkan , tetapi mereka masuk dalam irama discources yang dicuatkan agamawan dan ilmuwan tersebut. Memang tentu saja, sekali waktu, irama itu mereka sela dengan gendang yang mereka tabuh sendiri.

Di tengah kuatnya upaya memusyrikkan aktivitas mereka misalnya, beberapa Bissu malah naik haji. Sebutlah sebagi misal; Haji Solehah, Haji Saeke, keduanya dari Soppeng serta Dg Tawero dari Bone .  Bahkan Haji Saeke dan Haji dg Tawero keduanya adalah  Puang Matoa,  pemimpin kalangan Bissu dari Soppeng dan Bone.  Upacara ritual dibentangkan dengan simbol-simbol yang Islami. Jika sebelumnya dalam pertunjukan tari ritual mereka mengenakan pakaian ala putri-putri kerajaan bugis kuno, tahun-tahun itu dan sesudahnya mereka mulai mengenakan pakaian yang bercirikan Islam.

Dalam satu ritual melepas nazar yang dilakukan oleh Haji Nawir, yang tanggalnya dicatat dengan baik oleh Halilintar (2009)  , yaitu pada 1-3 September 1999, para Bissu tampil dengan busana putih-putih. Serban putih melilit dikepala menggantikan mahkota ala putri kerajaan, pakaian juga demikian di ganti dengan pakaian putih-putih.   Tarian maggirik yang dipentaskan waktu itu diselubungi dengan nuansa putih yang memancarkan magis Islami.  

Mereka menepis tuduhan musyrik dan penyembah berhala dengan menunjukkan bahwa mereka adalah penganut Islam yang baik, sangat baik  malah, karena telah menyempurnakan rukun Islamnya. Upacara-upacara dan ritual adat mereka maknai sebagai bagian dari rasa syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa. Di dalam upacara dan ritual itu para Bissu bersanding dan bukan bertanding dengan para Imam Kampung. Jika para Bissu mengatur tata cara ritual serta berdoa dengan bahasa bugis kuno maka Imam Kampung akan melantungkan doa-doa dalam bahasa Arab, doa yang lazim dan karib ditelinga kaum muslim.  Ritual Mappeca-sura (perayaan Asyura) yang kental nuansa Islamnya mentas berbarengan dengan masonggka-bala (upacara tolak bala). Dalam upacara itu lagi-lagi Bissu memilih bergandengan tangan dengan kalangan agamawan.

Adapun prihal penyingkiran terhadap mereka karena karakter dan tingkah laku mereka yang keperempuanan serta orientasi sexualitasnya yang homo, disikapi Bissu dengan bijak. Tak sekalipun, demi untuk memperjuangkan sisi gender dan orientasi sexualitasnya yang berbeda, membuat mereka tampil propogandais apalagi melakukan penetrasi terhadap budaya heterosexual.

Para Bissu yang memiliki Tu Boto (seorang pendamping pria) tak pernah meminta kepada masyarakat agar mereka disahkan sebagai pasangan. Di dalam masyarakat, para Bissu lebih banyak menampilkan To Boto ini sebagai pembantu Bissu untuk mengerjakan pekerjaan berat yang biasanya dikerjakan laki-laki dibanding sebagai pasangan. Meski demikian, sebenarnya juga masyarakat sadar sepenuhnya, bahwa To Boto bukan sekadar pembantu, namun punya fungsi lain sebagai pasangan. Tapi masyarakat senyap dan mendiamkan itu.

Uniknya, entah demikianlah aturannya dari dulu, entah masa-masa itu (tahun 70-80-an) baru mereka munculkan, To Boto yang menjadi pasangan, akan dikawinkan dengan perempuan setelah mendampingi Bissu dalam jangka waktu tertentu.  Segala biaya pernikahan akan ditanggung oleh para Bissu ini.  Saya menyaksikan sendiri seorang To Boto yang selama ini mendampingi Puang Matowa Saidi telah dikawinkan dengan seorang gadis pilihannya. To boto tersebut hidup bahagia dengan seorang perempuan dan dua orang anaknya. To Boto ini menceritakan, bahwa dia tidak mungkin bisa kawin jika tidak dibiayai sepenuhnya oleh Bissu Saidi.

Cerita tentang To Boto para Bissu ini, memperlihatkan , bagaimana para Bissu memenuhi dan dipenuhi haknya oleh masyarakat sebagai manusia yang berorientasi sexualitas berbeda. Di saat yang sama, menunjukkan pula, bahwa para Bissu ini bisa menghargai dan menempatkan diri dalam budaya masyarakat Bugis yang heterosexual tanpa harus kehilangan haknya sebagai manusia dengan orientasi sexualitas berbeda.

Ketika calabai ditempatkan dalam posisi sebagai pendosa, ingkar terhadap agama dan menyalahi kodrat, para Bissu tidak bersitegang urat leher dengan berupaya mengusung dalil-dalil agama yang bisa membenarkannya. Tak pernah pula mereka meminta agamawan yang simpatik terhadap mereka agar memberi tafsir ulang terhadap kisah Nabi Luth dan menggelar hadist-hadist tandingan terhadap hadist yang menyudutkan mereka. Sepenuhnya mereka sadar, melawan dengan menggelar dalil-dalil normatif semacam itu, tidak akan menyelesaikan persoalan. Hanya debat panjang tak berkesudahan yang terjadi. Musuhpun bisa bertambah. 

Saat semacam itu,  mereka justru  membentangkan bagaimana calabai dalam sejarah dan tradisi Bugis.  Bahwa calabai dalam tradisi Bugis di bagi tiga; Ada calabai tungkena lino atau ”sala dewi”, mereka menjadi calabai karena kodrat dan iradat yang Maha Kuasa. Calabai kategori ini muncul tanpa dibuat-buat, pun tak ada kuasa untuk merubahnya. Orientasi sexualitas berbeda dangan yang hetero, namun mereka menjalani orientasi sex berbeda itu secara sehat. Tak umbar kecenderungan sexualitas mereka di mana-mana. Bissu adalah diantara calabai kategori ini. Kategori kedua; mereka sebut Paccalabai.  Calabai pada kategori ini adalah mereka yang berpenampilan perempuan, namun memiliki hasrat terhadap lelaki dan juga perempuan. Ibarat pisau silet, dua sisinya sama tajamnya. Halilintar Latif menggambarkan hal ini sesuai istilah dikalangan remaja Sigeri, Pangkep; maju kena-mundur kena atau AC DC (Halilintar, 2004). Kategori ketiga adalah calabai kedo-kedonami  yaitu laki-laki yang meniru-niru perempuan. Mereka bergaya calabai sekedar gaya, padahal hasrat sexualnya pada perempuan.

Bagi para Bissu dan Calabai Sejati tidak menampik bahwa dua kategori calabai yang disebut terakhir (paccalabai dan calabai kedo-kedonami )  tercela.  Mereka juga bahkan mengkritik keras calabai dengan model-model tersebut. Mereka inilah yang menurut para calabai tungkena lino itu yang mengumbar praktik sexualitas yang tidak beradab. Yang mencari mangsa di Karebosi (lapangan di Makassar) dan ditempat-tempat lainnya. Mengenakan pakaian kurang senonoh untuk dipandang. Serta berbagai praktik dan tingkah laku menyimpang dari kebudayaan masyarakat.

Dengan membentangkan kategori-ketegori calabai itu, Bissu tidak menutupi adanya calabai yang berprilaku buruk. Bahkan seakan seirama dengan bahasa agama; para Bissu dan Calabai Sejati seakan berkata; Mereka itulah (paccalabai dan calabai kedo-kedonami) para muhannis (menyerupai perempuan padahal lelaki), yang sesungguhnya terlarang  dalam bahasa agama. Adapun kami , bagaimana mungkin agama mencelanya, toh....kami tak pernah ingin seperti ini dan sejak terlahir kami seperti inilah adanya.

Saya tak mau terlalu jauh masuk dalam soal fiqih, bahwa agama memang mengakui adanya khuntsa, manusia berkelamin ganda dan apakah kemudian calabai sejati atau tungkena lino itu ada dikategori ini. Yang ingin saya katakan, dan menurutku inilah point pentingnya, adalah, bagaimana para Bissu dan calabai sejati itu masuk dalam diskursus agama dengan tarian yang begitu luwes. Di dalam dan melalui wacana agama yang katakanlah ”menyisihkan” mereka , justru para Bissu berupaya menemukan dan diakui sebagai manusia yang juga punya hak. Apa yang beberapa kali saya saksikan, menunjukkan keberhasilan dari strategi itu. Mereka diterima berdialog di pesantren. Ulama-ulama yang ditemui dan berdiskusi, tak pernah ada  yang menistakan atau membrondong mereka dengan dalil-dalil pelaknatan. Seorang ulama terkenal di Sulsel bahkan menyatakan; jika ada yang mengganggu mereka termasuk acara-acara ritualnya itu maka jaminannya adalah sang Ulama tersebut.     

Dengan siasat semacam ini, Bissu dan para Calabai Sejati itu menemukan kembali panggung kehidupannya. Mereka tidak dipandang lagi sebelah mata. Tidak dianggap sebagai penyakit yang harus dihindari apalagi dianggap sebagai sumber dari pelaknatan. Perlahan mereka malah menjadi primadona. Mereka diundang dalam berbagai acara, mentas di dalam dan di luar negeri. Atas keberhasilan perjuangan para Bissu dan Calabai Sejati yang gemilang itu, semua waria di Pangkep, Bone, Soppeng dan bahkan tempat-tempat lainnya di Sulsel kena imbas positifnya. Para waria itu tidak lagi dipandang hina. Masyarakat kembali menerima. Mereka dipercaya dalam berbagai hajatan, baik yang tradisional maupun modern. Posisinya sebagai indo botting (perias pengantin) semakin mendapatkan tempat.  

***

Hari-hari terakhir ini, ketika issu LGBT mencuat kepermukaan, Saya sempat terkaget-kaget ketika mendengar bahwa kini LGBT dalam kampanyenya sudah mempropogandakan homosexualitas sekaligus melakukan penetrasi terhadap kebudayaan heterosexual.  Bagi saya, jika itu benar terjadi, maka perjuangan LGBT tidak hanya semakin terbentur karang yang kokoh, tapi juga musuh bisa semakin bertambah. Cara itu saya yakin keliru dan tidak efektif. Untungnya dalam beberapa kali diskusi dengan kawan LGBT saya dengarkan bahwa mereka tidak melakukan gerakan seperti itu. Sampai di sini saya jadi teringat dengan kissah perjuangan Bissu, seperti yang telah di dedahkan sebelumnya; Jangan-jangan sekarang juga bermunculan LGBT kedo-kedonami, ikut-ikutan atau nyaru jadi LGBT karena kepentingan kekuasaan, uang, proyek dan program. Jika itu yang terjadi, tidak heran jika saat ini ada yang mengatas namakan LGBT tapi perjuangannya tidak hanya mencederai nilai luhur kebudayaan di masyarakat tapi juga perjuangan LGBT yang Sejati (tungkena lino).  Jika ada kasus seperti ini teman-teman LGBT harus bisa mencegahnya.  

Tanpa mengurangi respek saya terhadap apa yang telah dilakukan dan diperjuangkan LGBT selama ini, cerita tentang bagaimana Bissu menyintas mungkin bisa dijadikan inspirasi. Jelas  medan yang dihadapi saat ini oleh kaum LGBT tidak persis sama dengan para Bissu dan calabai pada masa-masa cerita di atas berlangsung.    Untuk itulah, strategi dan siasat memang harus terus berkembang, namun satu hal yang perlu kita resapi, para Bissu dalam cerita kita ini, meraih haknya tanpa “menyerang”.

Terakhir ingin saya katakan : “Pejuang yang hebat bukanlah yang berhasil membunuh atau menghancurkan lawan-lawannya, namun pejuang hebat adalah yang berhasil menang tanpa menghancurkan, meraih haknya   tanpa menyakiti”.

Selamat berjuang

 

Sumber Bacaan :

Diskusi dan belajar intensif pada komunitas Bissu –tahun-tahun 2001-2009

Halilintar Latief, Bissu Pergulatan dan Peranannya di masyarakat Bugis. Jakarta : Desantara, 2004

Halilintar Latief, Paradoks Bissu Bugis: Mencari Identitas sekaligus Kehilangan Identitas. halilintarlatief.blogspot 2009

Michel Foucault, Madness and Civilisation. London: Tavistock, 1967

Michel Foucault, The History of Sexualitas: The Use of Pleasure. London: Penguin, 1986



[1] Penulis adalah Gusdurian Datuk ri Paggentungan Gowa, Belajar Meneliti di Litbang Agama Makassar dan LAPAR Sulsel