Kamis, 19 September 2019

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Fashlun, ay, Hadza Fashlun fi Suluk Tilawah Jawi

Lidah saya lebih lincah untuk membilang tilawah langgam Jawa sebagai tilawah jawi. Sedangkan tilawah langgam arab saya sebut tilawah arabi. Selain untuk menyingkat spasi dalam tulisan, pembilangan tersebut juga bernalar paradigmatik sebagaimana nanti akan saya gelar lapak perbincangannya di bawah ini. Tak ada yang lebih utama di antara dua model tilawah itu. Keduanya merupakan karya kultural anak-anak manusia. Siapa saja boleh memainkannya sesuka daya. Saya harap Anda kalis dari kecendrungan penghakiman, buruk sangka, dan intensi klaim kebenaran.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Penguasaan Negara atas Sumber Daya Alam Menurut Islam

oleh : HARUN ROSYID, 1 Komentar
Indonesia itu dikenal dengan Negara mega Bio Diversity juga dikenal sebagai Negara mega cultural diversity. Indonesia memiliki hutan tropis terlus ketiga di dunia akan tetapi Indonesia memiliki keragaman hayati (Kandungan alam) yang terbesar dan terbanyak di dunia. Selain itu Negara Indonesia juga memiliki kekayaan kultur yang beragam. Dalam sejarah pengelolaan sumber daya alam di Indonesia, nilai-nilai keragaman kultural yang dimiliki menjadi fondasi kehidupan dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, jika ala mini rusak maka kehidupan dan kebudayaan kita juga akan rusak.
Kategori : Headline , Kajian , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kasus Rembang dalam Perspektif Hukum Islam

Secara faktual, pada kenyataannya tidak ada operasi pertambangan yang tidak menimbulkan dampak negatif dan merusak terhadap alam dan lingkungan hidup. Dinyatakan dengan jelas bahwa “di seluruh Indonesia, operasi pertambangan menciptakan kehancuran dan pencemaran lingkungan”. Penemuan teknik-teknik dan teknologi baru hanyalah meminimalisir dampak kerusakan yang ditimbulkan, tetapi kenyataannya tidak dapat menghilangkan sama sekali dampaknya terhadap alam dan lingkungan. Terlebih di Jawa, yang kondisi alamnya sangat padat dihuni atau berdekatan dengan populasi penduduk, industri ekstraktif berbasis pertambangan jelas memiliki dampak, langsung maupun tidak langsung, cepat atau lambat, terhadap masyarakat di sekitarnya dan kondisi alam setempat.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Masalah Pemurnian Aswaja NU Garis Lurus

Diskursus wacana publik belakangan di kalangan NU merambah ke fenomena menyengat. Banyak orang NU dibuat terpana munculnya arus garis purifikasi Aswaja dari kalangan Nahdliyin, seperti munculnya fenomena Gus Najih Maimun yang mengkampanyekan Daulah Islamiyah dalam tulisan-tulisannya, Gus Luthfi Bashori yang mengklaim memperjuangkan NU Garis Lurus, Kyai Idrus Ramli yang sudah berani menyesatkan KH. Abdurrahman Wahid dan Bu Hj. Shinta Nuriyah dalam video yang diunggah web NU Garis Lurus; dan munculnya web anonim NU Garis Lurus di luar web Gus Luthfi Bashori yang juga membawa jargon NU Garis Lurus.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Benarkah Batu di Rembang “tidak memiliki sumber air?”

oleh : BOSMAN BATUBARA, 0 Komentar
Persidangan terhadap kasus Izin Lingkungan PT Semen Indonesia (SI) Tbk. di Rembang berujung pada digeruduknya kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) oleh massa petani Rembang. UGM menjadi sasasaran karena dua orang akademianya, Eko Haryono (EH), dosen Fakultas Geografi, dan Heru Hendrayana (HH), dosen Teknik Geologi tampil sebagai saksi ahli pihak PT SI dalam persidangan.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Masa Lalu-Masa Kini-Masa Depan: Kiai Abdurrahman Wahid tentang Sejarah

Beberapa waktu lalu, halaman situs gusdurian.net memuat esai penulis tentang sejarah spekulatif Kiai Abdurrahman Wahid Allahuyarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja). Secara umum esai itu membaca pemikiran Gus Dur mengenai trayek sejarah (historicaltrajectory)peradaban Islam baru yang sifatnya eklektik dan kosmopolitan di masa mendatang versi tokoh kita ini. Secara ringkas telah disinggung pula tujuan “manusia akademikus” mempelajari sejarah, yang memungkinkan kita meletakkan pemikiran Gus Dur dalam cakrawala diskursus yang diterima secara umum, tanpa melupakan kekhasannya sendiri.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

“Razón Vital“ dalam Sepakbola: Gus Dur dan Falsafah Sepak Bola Kehidupan

Tulisan ini adalah “review essay” dari sebuah buku kumpulan kolom Kiai Abdurrahman Wahid berjudul Gus Dur dan Sepak Bola, yang terbit September 2014 lalu. Tekanan besar yang diberikan oleh esai ini adalah mengkaji sisi filsafat (hidup) penulisnya yang dilukiskan melalui metafora olahraga pertandingan sepakbola. Metafora, seperti kita ketahui bersama, adalah ekspresi bahasa puitis, roman atau bahasa sehari-hari yang disusun sedemikiran rupa untuk mengundang atau mengajarkan kepada para penyimaknya agar mengambil konsep-konsep atau mentransfer pemikiran secara lintas bidang. Si pengguna biasanya sengaja memanfaatkan bahasa metafor sebagai alat diskursif untuk konseptualisasi kehidupan nyata yang butuh suatu argumenyang kompleks. Dengan itu, ia sebetulnya ingin membangun satu pijakan bersama (a common ground) yang dapat disepakati dengan publik masyarakat luas. Ulasan Gus Dur mengenai pertandingan sepak bola, misalnya, dimaksudkan untuk tujuan itu. Publik diharapkan membandingkannya dengan kehidupan politik nyata, dan mengambil kesimpulan yang relevan berdasarkan persamaan atau perbandingannya. “Sepakbola merupakan bagian kehidupan atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola” (GDS, 104)
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

ABDURRAHMAN WAHID TENTANG MANUSIA DAN MORALITAS

Tulisan ini akan mengemukakan kembali secara sistematik pokok-pokok pandangan Kiai Abdurrahman Wahid, atau yang kerap disapa Gus Dur, Allahu yarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja) tentang “manusia” dan “moralitas”. Bagaimana kedua pokok ini dapat dijelaskan dan apa konsekuensi praktis dari hubungan antar keduanya dalam tata kehidupan nyata di dunia, akan dijawab secara kurang-lebih memadai dalam uraian ini.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

FILSAFAT SEJARAH SPEKULATIF ABDURRAHMAN WAHID (Bagian 2)

Ada dua strategi yang digunakan Gus Dur dalam membangun filsafat sejarah spekulatifnya.Pertama, membaca dan merenungkan karya-karya sejarah peradaban yang ditulis para ahli sejarah dunia, lalu menemukan pola-pola didalamnya dan penyimpangannya. Kerangka penafsiran yang dihasilkan dari proses ini lalu diproyeksikan pada kemungkinan-kemungkinan sejarah masa depan. Kedua, menyusun narasi-narasi sejarah yang baru, baik yang sifatnya umum maupun partikular berdasarkan penyelidikan atas data-data sejarah yang dapat dimengerti (intelligible). Narasi baru tersebuttidak dimaksudkan untuk menggantikan narasi sejarah yang ada secara keseluruhan, melainkan hanya pada bagian-bagian yang “missing” (absen) atau terdapat “blankspots” (ruang kosong, tak ditemukan bukti yang entah karena memang fakta hilang/tidak ada atau tak diterima dalam kerangka asumsi sejarawan) yang memungkinkan suatupenafsiran. Dengan demikian, bila ada sejarawan tidak menyetujui narasi sejarah baru versi Gur Dur, maka sejarah baru ini seyogyanya diperlakukan dan diterima sebagai konterfaktual(counterfactualhistory) terhadap sejarah versi lama/resmi.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Al-Quran dan Nabi Muhammad Merespon Blasphemy

Persoalan tentang hal-hal yang dianggap menghujat simbol-simbol sakral agama (blasphemy) tidaklah baru dalam sejarah Islam. Dalam tiga dekade mutakhir, umat Islam sudah beberapa kali mengalaminya. Di antara hal itu yang kemudian menjadi isu global, misalnya, kasus Salman Rushdie dengan Satanic Verses-nya, kartun Danish di surat kabar Denmark Jyllands-Posten, film Innocence of Muslims, gerakan pembakaran al-Quran di Amerika, hingga yang terakhir satir-satir di majalah Perancis, Charlie Hebdo.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi