Sabtu, 20 Oktober 2018

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Benarkah Batu di Rembang “tidak memiliki sumber air?”

oleh : BOSMAN BATUBARA, 0 Komentar
Persidangan terhadap kasus Izin Lingkungan PT Semen Indonesia (SI) Tbk. di Rembang berujung pada digeruduknya kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) oleh massa petani Rembang. UGM menjadi sasasaran karena dua orang akademianya, Eko Haryono (EH), dosen Fakultas Geografi, dan Heru Hendrayana (HH), dosen Teknik Geologi tampil sebagai saksi ahli pihak PT SI dalam persidangan.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Masa Lalu-Masa Kini-Masa Depan: Kiai Abdurrahman Wahid tentang Sejarah

Beberapa waktu lalu, halaman situs gusdurian.net memuat esai penulis tentang sejarah spekulatif Kiai Abdurrahman Wahid Allahuyarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja). Secara umum esai itu membaca pemikiran Gus Dur mengenai trayek sejarah (historicaltrajectory)peradaban Islam baru yang sifatnya eklektik dan kosmopolitan di masa mendatang versi tokoh kita ini. Secara ringkas telah disinggung pula tujuan “manusia akademikus” mempelajari sejarah, yang memungkinkan kita meletakkan pemikiran Gus Dur dalam cakrawala diskursus yang diterima secara umum, tanpa melupakan kekhasannya sendiri.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

“Razón Vital“ dalam Sepakbola: Gus Dur dan Falsafah Sepak Bola Kehidupan

Tulisan ini adalah “review essay” dari sebuah buku kumpulan kolom Kiai Abdurrahman Wahid berjudul Gus Dur dan Sepak Bola, yang terbit September 2014 lalu. Tekanan besar yang diberikan oleh esai ini adalah mengkaji sisi filsafat (hidup) penulisnya yang dilukiskan melalui metafora olahraga pertandingan sepakbola. Metafora, seperti kita ketahui bersama, adalah ekspresi bahasa puitis, roman atau bahasa sehari-hari yang disusun sedemikiran rupa untuk mengundang atau mengajarkan kepada para penyimaknya agar mengambil konsep-konsep atau mentransfer pemikiran secara lintas bidang. Si pengguna biasanya sengaja memanfaatkan bahasa metafor sebagai alat diskursif untuk konseptualisasi kehidupan nyata yang butuh suatu argumenyang kompleks. Dengan itu, ia sebetulnya ingin membangun satu pijakan bersama (a common ground) yang dapat disepakati dengan publik masyarakat luas. Ulasan Gus Dur mengenai pertandingan sepak bola, misalnya, dimaksudkan untuk tujuan itu. Publik diharapkan membandingkannya dengan kehidupan politik nyata, dan mengambil kesimpulan yang relevan berdasarkan persamaan atau perbandingannya. “Sepakbola merupakan bagian kehidupan atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola” (GDS, 104)
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

ABDURRAHMAN WAHID TENTANG MANUSIA DAN MORALITAS

Tulisan ini akan mengemukakan kembali secara sistematik pokok-pokok pandangan Kiai Abdurrahman Wahid, atau yang kerap disapa Gus Dur, Allahu yarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja) tentang “manusia” dan “moralitas”. Bagaimana kedua pokok ini dapat dijelaskan dan apa konsekuensi praktis dari hubungan antar keduanya dalam tata kehidupan nyata di dunia, akan dijawab secara kurang-lebih memadai dalam uraian ini.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

FILSAFAT SEJARAH SPEKULATIF ABDURRAHMAN WAHID (Bagian 2)

Ada dua strategi yang digunakan Gus Dur dalam membangun filsafat sejarah spekulatifnya.Pertama, membaca dan merenungkan karya-karya sejarah peradaban yang ditulis para ahli sejarah dunia, lalu menemukan pola-pola didalamnya dan penyimpangannya. Kerangka penafsiran yang dihasilkan dari proses ini lalu diproyeksikan pada kemungkinan-kemungkinan sejarah masa depan. Kedua, menyusun narasi-narasi sejarah yang baru, baik yang sifatnya umum maupun partikular berdasarkan penyelidikan atas data-data sejarah yang dapat dimengerti (intelligible). Narasi baru tersebuttidak dimaksudkan untuk menggantikan narasi sejarah yang ada secara keseluruhan, melainkan hanya pada bagian-bagian yang “missing” (absen) atau terdapat “blankspots” (ruang kosong, tak ditemukan bukti yang entah karena memang fakta hilang/tidak ada atau tak diterima dalam kerangka asumsi sejarawan) yang memungkinkan suatupenafsiran. Dengan demikian, bila ada sejarawan tidak menyetujui narasi sejarah baru versi Gur Dur, maka sejarah baru ini seyogyanya diperlakukan dan diterima sebagai konterfaktual(counterfactualhistory) terhadap sejarah versi lama/resmi.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Al-Quran dan Nabi Muhammad Merespon Blasphemy

Persoalan tentang hal-hal yang dianggap menghujat simbol-simbol sakral agama (blasphemy) tidaklah baru dalam sejarah Islam. Dalam tiga dekade mutakhir, umat Islam sudah beberapa kali mengalaminya. Di antara hal itu yang kemudian menjadi isu global, misalnya, kasus Salman Rushdie dengan Satanic Verses-nya, kartun Danish di surat kabar Denmark Jyllands-Posten, film Innocence of Muslims, gerakan pembakaran al-Quran di Amerika, hingga yang terakhir satir-satir di majalah Perancis, Charlie Hebdo.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Kewalian dan Gusdurian

Inikah yang disebut impian menjadi kenyataan? Di masa hidupnya, Gus Dur sudah disebut wali oleh sementara kalangan kaum nahdliyin. Tapi yang disebut “sementara” ini jumlahnya berjuta-juta orang dan yang berjuta-juta ini pengaruh sosialpolitiknya tidak kecil. Kita tahu media nasional sangat terpengaruh. Ini boleh jadi karena mereka percaya Gus Dur memang wali sehingga media menyiarkannya bukan sekadar di kalangan kaum nahdliyin, melainkan di seluruh Indonesia. Media nasional “menyanyikan” lagu kewalian Gus Dur.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Kebudayaan Sebagai “Semesta Anti-Distansi” (Tanggapan terhadap tulisan Hairus Salim dan Bisri Effendy mengenai Pemikiran Gus Dur tentang Kebudayaan)

Membaca karya-karya Gus Dur segera kita akan mendapati kesan yang menonjol betapa pentingnya tema kebudayaan dalam keseluruhan pemikirannya. Masalah kebudayaan selalu dibahas dalam kaitannya dengan masalah-masalah lain, misalnya di bidang agama, sosial, politik, ekonomi dan lainnya. Sulit ditemukan Gus Dur mengulas kebudayaan dalam satu kompartmen khusus, atau dalam sebuah kotak bernama “kebudayaan” yang terisolasi dari ranah bidang kehidupan yang lain.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Membaca Tubuh, Gerak, dan Pola Jejak Langkah dalam Bernegara Kita

oleh : RACHMI DIYAH LARASATI, 0 Komentar
Politik Mikro sebuah perkenalan: Dalam dua hari berturut media berita tv (8 desember dan 9 desember) memiliki headline kebrutalan kejadian tentang Papua. Berita tersebut dengan beberapa nada kegentingan dalam wacana headline-nya seperti judul: “Fresh unrest rocks Indonesia's Papua province dan Indonesia's Papua: Home to forgotten struggle.” tampaknya menarik perhatian banyak pengguna maskapai penerbangan dan airport dalam menunggu di ruang ruang pergantian pesawat internasional.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Pemikiran Gus Dur Mengenai Kebudayaan (1)

oleh : HAIRUS SALIM HS, 0 Komentar
Salah satu status yang disandang Gus Dur (GD) semasa hidup adalah ‘budayawan’. Ini adalah predikat yang khas Indonesia, dan sulit dicari padanannya dalam Bahasa Inggris. Umumnya predikat ini dilekatkan kepada seorang seniman (artist) terkemuka. Tampaknya gelar ‘budayawan’ di sini adalah produk dari pemaknaan secara sempit kata ‘budaya’ (culture), yaitu semata sebagai kesenian (art). ‘Budayawan’ di sini artinya seniman. GD jelaslah bukan seorang seniman, tetapi mengapa ia juga menyandang julukan ‘budayawan’? Benar bahwa ia senang membaca novel, suka menonton film, dan demen menyaksikan pertunjukan wayang, tapi tentu sangat lucu kalau hanya karena sangat menggemari dan menyenangi seni orang lalu mendapat julukan ‘budayawan’. Jika demikian akan ada banyak ‘budayawan’ karena ada banyak orang yang juga menggemari dan menyenangi kesenian.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi