Selasa, 25 Juni 2019

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Kebudayaan Sebagai “Semesta Anti-Distansi” (Tanggapan terhadap tulisan Hairus Salim dan Bisri Effendy mengenai Pemikiran Gus Dur tentang Kebudayaan)

Membaca karya-karya Gus Dur segera kita akan mendapati kesan yang menonjol betapa pentingnya tema kebudayaan dalam keseluruhan pemikirannya. Masalah kebudayaan selalu dibahas dalam kaitannya dengan masalah-masalah lain, misalnya di bidang agama, sosial, politik, ekonomi dan lainnya. Sulit ditemukan Gus Dur mengulas kebudayaan dalam satu kompartmen khusus, atau dalam sebuah kotak bernama “kebudayaan” yang terisolasi dari ranah bidang kehidupan yang lain.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Membaca Tubuh, Gerak, dan Pola Jejak Langkah dalam Bernegara Kita

oleh : RACHMI DIYAH LARASATI, 0 Komentar
Politik Mikro sebuah perkenalan: Dalam dua hari berturut media berita tv (8 desember dan 9 desember) memiliki headline kebrutalan kejadian tentang Papua. Berita tersebut dengan beberapa nada kegentingan dalam wacana headline-nya seperti judul: “Fresh unrest rocks Indonesia's Papua province dan Indonesia's Papua: Home to forgotten struggle.” tampaknya menarik perhatian banyak pengguna maskapai penerbangan dan airport dalam menunggu di ruang ruang pergantian pesawat internasional.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Pemikiran Gus Dur Mengenai Kebudayaan (1)

oleh : HAIRUS SALIM HS, 0 Komentar
Salah satu status yang disandang Gus Dur (GD) semasa hidup adalah ‘budayawan’. Ini adalah predikat yang khas Indonesia, dan sulit dicari padanannya dalam Bahasa Inggris. Umumnya predikat ini dilekatkan kepada seorang seniman (artist) terkemuka. Tampaknya gelar ‘budayawan’ di sini adalah produk dari pemaknaan secara sempit kata ‘budaya’ (culture), yaitu semata sebagai kesenian (art). ‘Budayawan’ di sini artinya seniman. GD jelaslah bukan seorang seniman, tetapi mengapa ia juga menyandang julukan ‘budayawan’? Benar bahwa ia senang membaca novel, suka menonton film, dan demen menyaksikan pertunjukan wayang, tapi tentu sangat lucu kalau hanya karena sangat menggemari dan menyenangi seni orang lalu mendapat julukan ‘budayawan’. Jika demikian akan ada banyak ‘budayawan’ karena ada banyak orang yang juga menggemari dan menyenangi kesenian.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

NU di Masa 65 (Bagian 1)

oleh : ROY MURTADHO, 0 Komentar
Buku “Benturan NU-PKI” (selanjutnya disebut dengan Buku Putih) yang baru diterbitkan oleh PBNU sebagai jawaban resmi atau sikap PBNU untuk membantah laporan Majalah Tempo edisi Oktober 2012 tentang keterlibatan TNI dan NU atas tragedi berdarah 1965 mendapat tanggapan yang berbeda dari berbagai kalangan. Di satu sisi Buku Putih dipuji-puji dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh beberapa kader NU sebagai pembelaan yang dianggap perlu untuk ditulis oleh NU atas keterlibatannya dalam tragedi berdarah 1965, yang tak mudah dihapuskan dari memori sejarah bangsa Indonesia. Disisi lain, buku ini juga menuai banyak kritik khususnya dari kalangan muda NU dan para aktivis pejuang HAM.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Memahami Kembali Peran NU pada Detik-Detik September-Oktober 1965

oleh : MUHAMMAD AL FAYYAD, 0 Komentar
Draft pendek ini dilatari oleh keingintahuan atas pertanyaan yang sekian lama mengganggu penulis: Bagaimana kronologi peristiwa yang terjadi pada akhir September dan awal Oktober, ketika NU (Nahdlatul Ulama) mengeluarkan pernyataan resmi yang menuntut pembubaran PKI dan organ-organnya dan menyerukan keterlibatan umat Islam untuk mendukung ABRI dalam aksi penumpasan PKI?
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Gus Dur Tentang Tradisi dan Modernitas

oleh : NUR KHALIK RIDWAN, 0 Komentar
Berbicara tentang tradisi dan modernitas dalam pandangan Gus Dur, mesti dimulai dengan pengertian tentang kebudayaan atau budaya. Menurut Gus Dur kebudayaan adalah "seni hidup yang mengatur kelangsungan hidup dan menjadi pilar-pilar untuk menjaga tatanan sosial. Dengan kata lain kebudayaan adalah suatu yang luas mencakup inti hidup dari kehidupan suatu masyarakat"; atau "penemuan suatu masyarakat dalam arti buah yang hidup dari interaksi sosial antara manusia dan manusia, kelompok dan kelompok, dan kebudayaan hanya menjadi kebudayaan kalau ia hidup dan mengacu pada kehidupan." Pengertian ini adalah pengertian budaya secara luas.
Kategori : Headline , Kajian , Pilihan Redaksi

Politik Emansipasi Warga Nahdliyyin

oleh : MUHAMMAD AL-FAYYADL, 0 Komentar
WARGA Nahdliyyin, basis sosial masyarakat yang memiliki afiliasi ideologis dan kultural dengan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, menduduki posisi yang sering kali ambivalen dalam hubungannya dengan gerakan kiri progresif di Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya kesenjangan pemahaman terhadap watak perjuangan yang dilakukan oleh kedua pihak, yang melahirkan perbedaan konsepsi dalam strategi, pendekatan, dan imajinasi politik yang dibangun.
Kategori : Kajian , Pilihan Redaksi

Cina Ampyang Gula Jawa

oleh : AGHNIA RAHMI, 0 Komentar
Mengeja keberagaman sesederhana menerima perbedaan pasangan. Itulah yang terlukis dalam sorot mata pasangan pernikahan antaretnik Cina dan Jawa di Lasem. Bagi mereka, garis batas etnik telah kabur. Namun rupanya, apa yang mereka yakini tidak sejalan dengan arus utama. Di tengah desakan lingkungan sosial, mereka tetap gigih memperjuangkan komitmen berbalut romansa. Ikhtiar mereka berhasil. Dengan tetap berpijak pada akarnya, mereka bertransfromasi menjadi manusia hibrid, manusia Indonesia.
Kategori : Kajian

Belajar dari Kooperasi SAGUAPAC dan Revolusi air Chocabamba, Bolivia; Tata Kelola Air Global

oleh : BOSMAN BATUBARA, 0 Komentar
Air adalah sumber kehidupan. Pada 2010 melalui Resolusi 64/292 , Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memasukkan air dalam poin Hak Asasi Manusia (HAM). ”,…equitable access to safe and clean drinking water and sanitation as an integral component of the realization of all human rights [akses yang setara terhadap air minum bersih dan sanitasi adalah bagian tak terpisahkan dari realisasi HAM],” demikian PBB (2010). Lebih mendasar, antara 55-78% tubuh manusia terdiri dari air, tergantung ukuran badan. Agar dapat berfungsi dengan baik, tubuh manusia membutuhkan antara satu sampai tujuh liter air setiap hari untuk menghindari dehidrasi. Jumlah ini dinamis. Tergantung pada, antara lain, tingkat aktivitas, suhu, dan kelembaban.
Kategori : Kajian , Pilihan Redaksi

Fiqh Sosial Kiyai Sahal

oleh : K.H HUSSEIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Kiyai Haji Muhammad Ahmad Sahal Mahfuzh (1937-2014) adalah satu di antara sosok ulama (alim) terkemuka Indonesia zaman ini yang memberikan apresiasi tinggi dan respon positif terhadap gagasan fiqh kontekstual. Bahkan boleh jadi beliau adalah pelopor, di samping Gus Dur, untuk hal ini. Kiyai Sahal seperti sangat gelisah jika fiqh harus mengalami kondisi stagnan atau tidak mampu mengatasi suatu masalah social, kebangsaan dan kemanusiaan. Sebab ini akan berarti bahwa agama menjadi tidak berfungsi solutif atas problematika hidup dan kehidupan manusia
Kategori : Kajian , Pilihan Redaksi