Minggu, 19 Agustus 2018

KAJIAN

Artikel dan ulasan mendalam mengenai suatu isu dengan berbasis pada penelitian dan penelusuran pustaka, terutama tentang isu dan wacana yang pernah dipikirkan dan dikembangkan oleh Gus Dur.

Gus Dur, Erdogan, dan Israel

oleh : AHMAD RIZKY MARDHATILLAH UMAR, 0 Komentar
“Foolish is the person who misses his chance and afterwards reaproaches fate” -Slavoj Zizek- I Ufuk Ulutaş adalah salah seorang intelektual Turki yang 'dirumahkan' di SETA. Latar belakangnya cukup mentereng: lulusan terbaik Hubungan Internasional dari Universitas Bilkent, Ankara, kemudian melanjutkan studi Doktoral di Ohio State University, Amerika Serikat. Sempat mengajar sejarah di Ohio selama beberapa tahun. Ketika di Amerika Serikat, ia 'dipasang' sebagai analis di SETA Cabang Washington. Sebagai seorang pemikir di lembaga think tank yang disebut-sebut dekat dengan pemerintahan AKP, mungkin biasa saja jika Ufuk dekat dengan pemegang otoritas luar negeri di sekitar Erdogan. Tapi yang membuatnya menjadi 'tidak biasa' adalah bidang keahliannya. Ufuk Ulataş adalah pakar Yahudi. Dia lama mempelajari Israel.
Kategori : Kajian , Pilihan Redaksi

Philosufi: Eksistensi Filsafat-Tasawuf di Era Post Syariat, Sebuah Pembebasan manusia di Arasy Metafisika

oleh : T. MUHAMMAD JAFAR SULAIMAN, 0 Komentar
A. Pendahuluan Tidak ada yang dapat menyangkal jika dikatakan bahwa dalam 150 sampai 200 tahun terakhir, sejarah umat manusia mengalami perubahan yang luar biasa dalam mengatur serta memperbaiki kualitas kehidupannya. Perubahan itu terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tatanan sosial-politik dan sosial-ekonomi, hukum, tata kota, lingkungan hidup dan seterusnya. Perubahan dahsyat tersebut, menurut Abdullah Saeed, antara lain terkait dengan globalisasi, migrasi penduduk, kemajuan sains dan teknologi, eksplorasi ruang angkasa, penemuan-penemuan arkeologis, evolusi dan genetika, pendidikan umum dan tingkat literasi. Namun di atas semua itu, yang paling penting adalah bertambahnya pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya harkat dan martabat manusia (human dignity), perjumpaan yang lebih dekat antar umat beragama (greater inter-faith interaction), munculnya konsep negara-bangsa yang berdampak pada kesetaraan dan perlakuan yang sama kepada semua warga negara (equal citizenship), juga kesetaraan gender dan seterusnya. Perubahan sosial yang dahsyat tersebut berdampak luar biasa dan mengubah pola berpikir dan pandangan keagamaan (religious worldview) baik di lingkungan umat Islam maupun umat beragama yang lain.[i]
Kategori : Kajian

Konseptualisasi Ekonomi Kerakyatan: Membaca Sekelumit Penggalan Cerita [tentang] dan [dari] Gus Dur

oleh : M. ARIF RUBA’I, 0 Komentar
Dua fenomena saling bertolak belakang berkaitan dengan pemahaman masyarakat atas apa yang sebenarnya telah dan tengah berlangsung dalam dinamika perekonomian Indonesia paling tidak satu dekade terakhir ini. Pertama, saat ini istilah dan berita tentang besaran ekonomi dapat ditemukan dihampir di semua media massa, media cetak maupun media elektronik, harian ataupun berkala. Berita, ulasan ataupun perkiraan mengenai kondisi perekonomian, yang dahulu hanya dikenal mereka yang berkecimpung dalam wacana ilmu ekonomi, sekarang sudah akrab didengar olah orang kebanyakan, seperti: inflasi, subsidi, laju pertumbuhan ekonomi, postur anggaran negara, fluktuasi nilai tukar rupiah, cadangan devisa, dan sebagainya. Masyarakat kebanyakan akhirnya menjadi terbiasa disodori berita dan wacana mengenai hal-hal tersebut.
Kategori : Kajian

Rembulan di atas Sungai Mekong; Bisnis, Hak Asasi Manusia dan Pelajaran dari Kamboja

oleh : MERAH JOHANSYAH ISMAIL, 0 Komentar
Apa itu Indocina? Tergantung mau melihatnya berdasarkan sudut pandang siapa. Jika mengekor pada ahli kebudayaan, maka Indocina adalah negara-negara yang mewakili titik-temu peradaban India dan Cina, seperti Vietnam, Laos, Myanmar, Thailand dan Kamboja. Di mana persisnya titik temu Indocina? Menurut ahli Geologi, Kamboja adalah titiknya, mengapa? musababnya adalah keajaiban tonle sap dan sungai Mekong, tonle sap adalah danau air tawar terbesar di Asia Tenggara dan Mekong adalah sungai terpanjang dunia nomor 10 setelah sungai-sungai di Benua Amerika yang diwakili Missisipi dan Amazon hingga Afrika dan Timur Tengah yang diwakili Sungai Nil.
Kategori : Kajian

Menimbang Gagasan Pribumisasi Islam: Upaya Menuju Masyarakat Islam Indonesia yang Harmonis, Toleran dan Pluralis*

oleh : HADI, 0 Komentar
A. Pengantar Satu persoalan penting yang banyak melanda masyarakat modern adalah apa yang disebut Anderson[1] sebagai existential vacuum- kekosongan eksistensi, yang ditandai dengan kebosanan dan pengkaburan tujuan hidup. Masyarakat dunia modern (notabene: industrial), kini tengah mengalami pendegradasian atas nilai-nilai kemanusiawiannya. Dalam berbagai aktifitas yang serba materialistis, mereka mengalami kejenuhan. Rakhmat[2] menyebutkan, modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized).
Kategori : Kajian

Gus Dur dan Humanisme Islam

oleh : SAIFUL ARIF, 0 Komentar
“Universalisme Islam menampakkan kepedulian yang sangat besar pada kemanusiaan” (A. Wahid, 1988) Sudah tiga tahun sejak 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita. Banyak jasa, peninggalan tetapi juga kontroversi yang ia wariskan. Salah satu peninggalan itu adalah pemikiran Islamnya yang ternyata berpijak dari suatu humanisme Islam. Sayang, banyak yang tak memahami hal ini sehingga pemikirannya sering disalahtafsirkan. Humanisme Islam adalah dasar normatif dan muara etis dari segenap pemikiran Gus Dur. Sejak pribumisasi Islam, Islam sebagai etika sosial, negara kesejahteraan Islam hingga pluralisme agama. Dengan demikian, humanisme Gus Dur bukan antroposentrisme yang meniadakan agama dan Tuhan. Sebaliknya, ia berangkat dari pemuliaan Islam atas manusia, di mana manusia menjadi subjek sekaligus objek humanisasi kehidupan, karena Allah telah menitahkannya.
Kategori : Kajian