Minggu, 21 Oktober 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Apakah-Tradisi Sedekah Laut itu 'Syirik' ?

oleh : VINANDA FEBRIANI, 0 Komentar
Bantul, Yogyakarta adalah kota budaya. Kota dengan sederet peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Kini salah satu adat budayanya dirusak, dikecam oleh mereka yang mabuk agama. Jangan biarkan, tindak, dan jangan takut. Jangan kalah oleh kelompok kecil yang akan merusak damai bangsa ini. Menurutnya, kejadian ini merupakan awal atas tindakan radikal kelompok tersebut, jika tak dilawan maka akan terus dan akan semakin menjadi. Tidak ada kekerasan dalam Agama. Kita sudah lama hidup dalam gandeng mesra budaya nenek moyang dan agama yang kita anut, dan tak masalah. Jika saat ini mereka berani congak, ini adalah salah kita semua, yang diam atas ulah mereka selama ini. Mereka ada di mana-mana dan kita membiarkannya. Lawan! Indonesia bukan tempat bagi pemeluk konservatism agama, 'Sing waras ojo ngalah'.
Kategori : Headline , Opini

Kaum Muslimin dan Cita-Cita

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Soal cita-cita kaum Muslimin, tentu saja harus dipresentasikan dengan mendalam. Ini sesuai dengan kenyataan, bahwa kaum Muslimin terbagi dalam dua kelompok besar. Ada kaum Muslimin yang menjadi gerakan Islam, ada pula yang hanya ingin menjadi warga negara tempat mereka hidup, tanpa menjadi warga gerakan apapun di dalamnya. Dalam hal ini sudah tentu harus diperkecualikan gerakan yang menyangkut seluruh warga negara, seperti gerakan Pramuka yang mengantikan gerakan kepanduan di masa lampau dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengecualian ini dilakukan dengan kesadaraan penuh karena ia menyangkut kehidupan keseluruhan warga bangsa, dan dengan demikian tidak memiliki “warna ideologis apapun.”
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gusdurian Sebagai Gerakan Nilai

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Ada tiga varian gerakan keagamaan yang mempunyai model berbeda dalam menjawab tantangan jaman. Ketiga varian gerakan keagamaan itu adalah :Lutherian, Webberian, dan Gusdurian. Lutherian adalah varian gerakan keagamaan yang diinisiasi oleh Martin Luther dengan tiga kredo utama, Sola Gratia, Sola Fide, dan Sola Scriptura.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Anatomi Sebuah Pendapat

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Masyarakat sering beranggapan salah tentang sebuah keputusan hukum Islam (fiqh). Kesalahan itu dapat dilihat baik dalam hal kedudukannya dalam pandangan seorang muslim, maupun dalam hal-hal lain. Hal ini ternyata dari kasus mayat-mayat yang bergelimpangan setelah musibah gempa bumi dan gelombang Tsunami, yang terjadi di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), 26 Desember 2004 yang lalu. Kedua bencana alam tersebut, telah mengakibatkan korban jiwa lebih dari seratus ribu, dan banyak lagi yang dibawa ombak laut dan kemudian mayat mereka terapung-apung di lautan. Bahkan ditakutkan, mayat-mayat terapung itu ‘masuk' ke Selat Malaka dan lebih ditakutkan lagi terbawa gelombang air hingga ke laut Jawa, untuk kemudian terdampar di pantai utara pulau tersebut. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, karena akibat-akibat psikologis yang ditimbulkannya. Kalau meminjam istilah, yang secara lisan digunakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib dalam sebuah siaran radio niaga, itu akan mengakibatkan sebuah rumor, sas-sus dan mistik, dan trauma yang diakibatkannya akan menjadi sangat dahsyat.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Demokrasi, Peran Media dan Tantangan Intoleransi di Indonesia

oleh : PURKON HIDAYAT, 0 Komentar
Reformasi tahun 1998 berhasil menjatuhkan rezim Orde baru, sekaligus menandai babak baru arah kompas politik Indonesia. Meskipun terjadi berbagai masalah seperti krisis moneter, tapi perubahan ini secara umum menghembuskan angin segar optimisme bagi berbagai kalangan. Salah satunya yang menjadi perhatian adalah proses demokratisasi di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia tersebut.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Maaf, GUSDURian Tidak Berpolitik Praktis

oleh : M. BAKHRU THOHIR, 0 Komentar
“Ini berasal dari spektrum gerakan Gus Dur yang sangat luas. Gus Dur itu kan membela petani di pegunungan kendeng dari industri yang ingin menghancurkan kehidupan mereka tapi juga mendampingi TKI yang sedang mengalami tuntutan hukuman mati, jadi banyak. Karena itu, kemudian ketika Gus Dur wafat, kita kebingungan bagaimana caranya merawat pemikiran Gus Dur, akhirnya kita pisahkan antara Gus Dur sebagai politisi dan Gus Dur sebagai pejuang demokrasi dan rakyat. Nah, Gus Dur sebagai pejuang rakyat dijaga oleh Jaringan GUSDURian oleh para GUSDURian, Gus Dur sebagai politisi ini diikuti oleh para kader politik Gus Dur. Yang hari ini membuat pernyataan adalah konsorsium kader politik Gus Dur yang ada di berbagai kelompok. Sementara Jaringan GUSDURian tetap pada jalur politik kebangsaan, tidak akan masuk pada isu-isu politik praktis/politik elektoral, tapi fokus pada nilai-nilai” kurang lebih seperti itu kalimat yang diucapkan Alissa Wahid saat diwawancarai oleh Metro TV dalam merespon deklarasi dukungan Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur) dalam menghadapi pemilihan presiden 2019 sekaligus menjelaskan posisi GUSDURian di kancah perpolitikan Indonesia saat ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menegaskan Netralitas: Menyanggah Framing Media Terhadap Sikap Politik GUSDURian

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Beberapa hari ini masyarakat dibuat gemuruh oleh berbagai pewartaan oleh media mainstream, silahkan di googling dengan kata kunci GUSDURian, maka akan muncul pemberitaan yang sangat tendensius. Seperti "GUSDURian mendukung Jokowi" atau "GUSDURian memberi restu kepada Abah Kyai Ma'ruf." Dan, barang tentu bak jamur di musim hujan, berita-berita serupa bermunculan dengan judul yang beragam, namun masih dalam substansi yang sama. Yakni, GUSDURian secara aklamatif mendukung Jokowi dan Kyai Ma'ruf. Bahkan terakhir di beranda google jika kita memakai kata kunci GUSDURian, maka akan direlasikan dengan klaim Prabowo bahwa GUSDURian akan mendukung mereka.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Keadilan dan Rekonsiliasi

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Minggu lalu, di bilangan Kramat V, Jakarta penulis meresmikan sebuah panti jompo milik sebuah yayasan yang dipimpin orang-orang eks tapol dan napol, kasarnya orang-orang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang sudah dibubarkan. Mereka mendirikan sebuah panti jompo di gedung bekas kantor Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), yang dianggap sebagai perempuan PKI. Peresmian yang diminta mereka secara apa adanya pada pagi yang cerah itu, disaksikan antara lain oleh SK Trimurti, salah seorang pejuang kemerdekaan kita. Ini penulis lakukan karena solidaritas terhadap nasib mereka, yang sampai sekarangpun masih mengalami tekanan-tekanan dan kehilangan segala-galanya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Politik Gusdurian

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Sore ini muncul berita yang dinanti-nantikan sebagian orang: konferensi pers mengenai arah politik keluarga Gus Dur. Mbak Yenni Wahid, seusai meminta masukan kepada para sesepuh dan berdiskusi dengan berbagai pihak kemudian menyatakan mendukung Jokowi-Yai Ma’ruf untuk pemilihan presiden 17 April 2019 mendatang. Sebagian senang. Sebagian biasa saja. Sebagian kecewa.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam, Ideologi dan Etos Kerja di Indonesia

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Dalam Muktamar Nadhlatul Ulama (NU) tahun 1935 di Banjarmasin, forum menyampaikan permintaan fatwa, bagaimana status negara Hindia Belanda dilihat dari pandangan agama Islam, karena ia diperintah oleh pemerintah yang bukan Islam dan orang-orang yang tidak beragama Islam? Dari sudut pandang agama Islam, wajibkah ia dipertahankan bila ada serangan luar?
Kategori : Headline , Opini