Kamis, 23 Januari 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Haul dan Kerinduan

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Wafat di penghujung tahun 2009, almarhum Gus Dur masih terus menggerakkan perubahan dalam masyarakat, sebagaimana dijalaninya sepanjang kehidupan. Penggal-penggal perjuangannya meninggalkan jejak perubahan yang signifikan dalam perjalanan bangsa. Jejak gerakan Gus Dur pada dekade 1970an di ranah pesantren dan Nahdlatul Ulama berpuncak di tahun 1984 saat terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dibarengi penerimaan terhadap Pancasila sebagai ideologi organisasi. Dasawarsa 1980an, ia semakin kuat menjejak gerakan kebudayaan dan gerakan masyarakat sipil. Gus Dur, bersama Romo Mangunwijaya, Th.Sumartana dan ibu Gedong Oka mendorong peran agama dan organisasi agama sebagai kekuatan pembebasan masyarakat dari ketidakadilan sosial.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menelusuri Jejak Gus Dur di Tegalrejo (1957-1959)

oleh : NUR KHALIK RIDWAN , 0 Komentar
Gus Dur pindah dari Yogyakarta ke Magelang, tepatnya di Pesantren Tegalrejo pada 1957. Di pesantren ini Gus Dur nyantri selama sekira dua tahun lebih sedikit, di bawah asuhan KH. Chudlori. Greg Barton menyebut demikian, “Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan KH. Chudlori selama dua tahun di Tegalrejo.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Bedanya Gus Dur dan GUSDURian

oleh : SUAIB PRAWONO, 0 Komentar
Pasca kepergian KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, sekolompok anak muda mendirikan komunitas bernama Jaringan GUSDURian. Komunitas yang dikomandoi oleh putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid ini, bertujuan untuk melanjutkan cita-cita perjuangan Gus Dur yang dianggap belum selesai. Salah satunya adalah bagaimana merawat perbedaan, mengkampanyekan toleransi dan memperjuangkan kesetaraan umat manusia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

KEKUATAN CINTA

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Sepuluh tahun yang lalu, dalam penerbangan dari Yogyakarta ke Jakarta, sekitar pukul 18.30 WIB lebih, saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. Saat itu saya tengah membaca Surah ar-Ra’du, memohon diberikan keteguhan dan keikhlasan hati untuk menerima yang terbaik bagi Bapak. Saya tertegun dalam rasa damai yang melimpah ruah di rongga dada menyebar ke sekujur tubuh serasa Lailatul Qadar. Tidak ada setitikpun emosi negatif. Semacam pengalaman trance, sisi psikolog saya berkata.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kiai Zawawi dan Nasi Bungkusnya

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Pagi itu penyair dari Madura yang biasa disebut Sang Celurit Emas, Kiai Zawawi Imron bercerita sarapan paginya. Dia sedang berjalan ke Desa Nyabakan, Sumenep, sekitar 4 km ke arah timur dari desanya. Di sana Kiai Zawawi mampir ke sebuah warung kecil untuk membeli sarapan. Tak disangka, sarapan cukup dengan uang seribu rupiah, sudah dapat nasi dibungkus daun jati dan lauk ala kadarnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Natal, dan Kerinduan Pada Islam Ramah

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Sembilan tahun lalu, tepatnya 6 Januari 2011, seorang Indonesianis dari Belanda, Martin van Bruinessen, menerbitkan artikelnya berjudul “What Happened to the Smiling Face of Indonesian Islam?”. Di samping isinya, yang menarik dari artikel ini adalah bagian persembahannya. Tepat di bawah judul, penulis menuliskan persembahannya: “Dedicated to the memories of Abdurrahman Wahid” (Dipersembahkan kepada Abdurrahman Wahid).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi