Rabu, 20 Juni 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Mengapa Mereka Marah?

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Seorang kawan menanyakan, mengapa banyak pemuka masyarakat Islam marah kalau mendengar sebutan “kaum fundamentalis”, atau tersinggung kalau ada orang membicarakan “issue negara Islam”.
Kategori : Headline , Opini

Cara Gus Dur Membaca Al Quran dalam Konteks Realitas Sosial

oleh : WILDAN IMADUDDIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Bagi umat Muslim di seluruh Dunia al-Quran adalah sumber pedoman paling otoritatif yang dijadikan sandaran argumentasi hampir di setiap lini kehidupan. Dari al-Quranlah peradaban Islam kemudian lahir, tumbuh dan berkembang menghasilkan beragam sumber ilmu pengetahuan. Berjuta-juta jilid karya para ulama telah diproduksi sebagai bagian dari upaya memahami al-Quran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mudik Atau Tetap Mabuk Kuda Lumping

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pekerjaan rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang genap 73 tahun merdeka masih banyak. Suara sekaligus gerak positif sebagaimana dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah nama lain yang berani mudik (pulang) terhadap ajaran Islam, amanat negara dan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada mabuk (hilang kesadaran) seperti pemain kuda lumping. 70 persen dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia ialah followers Rasulullah SAW, menganut agama Islam, agama perdamaian. Produksi masif ujaran kebencian hingga fitnah yang telah ditegaskan dosanya lebih besar dari membunuh dalam QS Al Baqarah ayat 217, dewasa ini sungguh mencabik hakikat perdamaian. Tidakkah itu memberi kesan, jika ternyata kita telah jauh meninggalkan Islam?
Kategori : Headline , Opini

Negara Islam dalam Pengembaraan Gus Dur

oleh : ZAIM AHYA, 0 Komentar
Gus Dur pernah melakukan pengembaraan, mencari arti negara Islam. Baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Hal itu wajar, karena sebagai seorang muslim. Namun mengapa kemudian beliau menolak dari adanya konsep negara Islam? Bagi umat Islam yang meyakini mendirikan Negara Islam adalah sebuah keharusan, terus berusaha mewuwudkannya merupakan konsekuensi logis dari keyakinannya itu. Tidak mendirikan negara Islam adalah berdosa bagi mereka. Mungkin kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah contoh yang terdekat dalam masalah ini. Walaupun sudah dibubarkan dan gugatannya ditolak karena terbukti berkeinginan mendirikan Khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (kompas.com-07/05/2018), namun masih terasa gemanya dari trending topik twitter pada 07/05/2018 kemarin.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kartun Tempo dan Respon Gus Dur

oleh : HAMIDULLOHIBDA , 0 Komentar
Hebohnya kartun Majalah Tempo, edisi 26 Februari 2018 yang mengakibatkan Front Pembela Islam (FPI) demo besar-besaran harus menjadi pembelajaran. Kejadian itu membuktikan masyarakat masih “miskin literasi seni” dalam media massa. Literasi seni di sini meliputi membaca, mengapresiasi, menafsir, bahkan mengritik kartun sebagai produk seni, budaya, dan produk pers.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kartini Sebagai Foto Model

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Dalam tulisannya tentang desain dokumen yang menganalisis hubungan antara teks dan gambar, Aliisa Makynen (2012) memulai tulisannya dengan sebuah pepatah lama yang banyak dikenal orang: “Sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata”. Di sini hendak dinyatakan bahwa sebuah gambar bisa lebih menjelaskan gagasan daripada deretan kalimat dalam sebuah tulisan. Pepatah ini mengandung kebenaran yang nyaris tak terbantahkan. Rambu-rambu lalu lintas hingga buku resep masakan telah membuktikan kebenaran ini. Sekalipun demikian, saya ingin mengawali tulisan tentang Kartini ini justru dari pertanyaan: Mungkinkah sebuah gambar justru menghilangkan makna kata-kata?
Kategori : Headline , Opini

Kelakar Madura Buat Gus Dur

oleh : ARIF GUMANTIA, 0 Komentar
Buku ini diterbitkan kembali dengan momen yang tepat, ketika ruang publik kita dibanjiri oleh narasi-narasi yang serius dan penuh kepalsuan ( kemunafikan ). Ruang publik baik di dunia nyata maupun dunia maya riuh rendah dengan narasi-narasi yang tidak mempunyai relevansi dengan esensi kehidupan. Buku yang pernah terbit tahun 2001 ini tidak hanya relevan untuk dibaca saat ini, tetapi juga signifikan. Buku karya ki Dalang H. Sujiwo Tejo ( penulisnya menyebut dirinya dalang, karena menurutnya seorang dalang dalam proses kreatifnya mesti menguasai sastra, musik, seni rupa, teater, dan sebagainya ) ini membuat pembaca seolah dibawa ke masa ketika Gus Dur masih hidup, ketika ruang publik kita banyak diwarnai dengan joke dan anekdot yang segar, ruang publik yang membuat kita tertawa lepas dan merayakan hidup dengan menertawakan diri sendiri.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Itikad Kata-kata

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
”Bu, apakah kita sama sekali tidak boleh menyebut kata banci? Bagaimana kalau kita sedang harus berdiskusi tentang itu? Masak tidak boleh disebut sama sekali?” Demikian tanya anak saya yang berusia 10 tahun.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kepada Sayyidina Umar, Rindu Berat Ini Kami Alamatkan

oleh : SURAJI, 0 Komentar
Sebulan yang lalu kami menghadiri konferensi pers untuk meminta Presiden memberikan grasi kepada Kyai Nur Aziz, seorang Kyai kampung yang sedang menjalani vonis delapan tahun penjara, akibat memperjuangkan para petani Surokonto Wetan, Kendal Jawa Tengah. Mereka sudah lebih 25 tahun menggarap lahan Perhutani yang terlantar, dan harus melepas tanah tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur: Sebuah Buku yang Terbuka

oleh : ARIF GUMANTIA, 0 Komentar
K.H. Abdurrahman Wahid atau sering dipanggil Gus Dur adalah sebuah buku yang terbuka. Yang senantiasa siap kita baca, kita tafsirkan, kita diskusikan, dan barangkali juga siap untuk dicaci maki oleh lawannya. Meskipun Gus Dur tidak pernah memposisikan mereka yang berbeda ide dan pemikiran sebagai seorang “lawan”, melainkan lebih sebagai sahabat berdiskusi dan beradu argumentasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi