Kamis, 12 Desember 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur, Manusia Biasa yang Langka

oleh : AHMAD QOMARUDDIN, 0 Komentar
Kalau ada edaran angket tentang siapakah manusia unik, lucu, jenius, dan juga kontroversi di Indonesia, kayaknya akan banyak yang menulis nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Karena predikat itulah, mantan presiden Indonesia keempat ini memang layak mendapat beberapa sebutan seperti cendikiawan, negarawan, kiai, guru bangsa, bapak pluralisme, budayawan, dan beberapa lainnya yang layak disematkan kepada beliau. Mungkin juga satu-satunya tokoh yang layak disebut komedian.
Kategori : Headline , Opini

Rahasia Gus Dur

oleh : KH. HUSAIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Desember adalah bulan Gus Dur. Di Turki bulan Maulana Rumi. Tahun lalu aku sudah menulis. Antara lain ini : Gus Dur, adalah nama yang menyimpan kekayaan pengetahuan humaniora dan spritual yang seakan tak pernah habis dikaji. Meski telah pulang, ia masih terus disebut dan kata-katanya terus dikutip dan diurai oleh banyak orang. "Ini menarik sekali. Apakah rahasianya", tanya seorang teman.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Islam Kultural ala Gus Dur Melawan Politik Islamisasi ala Soeharto

oleh : MUHAMMAD IQBAL, 0 Komentar
Momen penting dalam hubungan Rezim Orde Baru dan muslim Indonesia terjadi pada 1983-4. Pertama-tama, Pancasila ditegaskan kembali sebagai dasar negara. Orde Baru melangkah lebih jauh, tatkala–berbeda dengan tahun-tahun awal kemerdekaan dan masa politik aliran 1950-an–Pancasila dinyatakan sebagai asas tunggal untuk semua pelaku sosial-politik.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Proyek Arkeologi Kebudayaan

oleh : MUHAMMAD AS HIKAM, 0 Komentar
“Kang, kemarin saya mampir ke makam Mbah Kerto.” “Mbah Kerto yang mana, Gus?” “Lho, masak sampean ndak tahu. Itu makam yang di Bandungrejo, deket rumah sampean di Plumpang, Tuban.” “Wah, saya malah nggak tahu Gus ada makam Mbah Kerto. Lagi pula, beliau itu siapa, Gus?” “Walaah, sampean ini gimana… Mbah Kertowijoyo itu salah satu Waliyullah yang ada di Tuban. Saya dan Mbah Kyai Faqih Langitan sering ke sana. Yang jaga makam kan Mbah Noko, dulu santrinya Almaghfurlah ayah sampean, KH. Abd. Fatah…”
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

AGAMAMU APA?

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Saat pertama kali istilah ini muncul di media sosial beberapa tahun lalu, jagad netizen Indonesia menertawakannya karena menganggap ini adalah pertanyaan yang absurd. Ia muncul terutama pada pembicaraan mengenai ucapan selamat Natal atau tentang pemimpin seagama dalam kontes pemilihan kepala daerah, atau pembicaraan tentang hal-hal lain dalam kehidupan bermasyarakat. Mak bedunduk, pertanyaan “maaf, agamamu apa?” mengimbuhi percakapan. Dan publik tertawa.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perihal hari Minggu

oleh : MUHAMMAD ISBAH HABIBI , 0 Komentar
"Jangan sebut Minggu, Minggu itu berasal dari Dominggo, Dominggo artinya hari menyembah Tuhan Allah Yesus Kristus." Bunyi potongan video Ustaz Abdul Somad melarang jamaahnya menggunakan kata Minggu.
Kategori : Headline , Opini

Gus Dur, Guru Politik Kemanusiaan: Refleksi Hari Guru dan Menjelang Pilkada

oleh : TAUFIK BILFAQIH, 0 Komentar
Ada beberapa peristiwa tersohor terkait sikap KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dalam menghadapi problem politik. Diantaranya, pembelaan terhadap calon Gubernur Bangka Belitung dari kaum minoritas seperti Basuki Tjahya Purnama (Ahok), Tionghoa. Sikap lainnya, ketika ia "dilengserkan" dari jabatannya sebagai presiden. Ribuan orang siap berjihad untuk mendukung Gus Dur, namun bapak bangsa ini justru meminta para pendemo untuk pulang dan tidak melanjutkan aksi turun lapangan. Demikian pula pembelaannya terhadap kelompok-kelompok aliran kepercayaan yang berbeda dengan maenstream baik Syiah dan Ahmadiyah.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sikap Gus Dur terhadap Orang yang Memusuhinya

oleh : MUHAMMAD AS HIKAM , 0 Komentar
Pelajaran yang termasuk paling sulit dari Gus Dur kepada saya (mungkin juga bagi seluruh warga NU dan sebagian terbesar bangsa Indonesia) adalah: berteman dengan pihak yang tak sependapat dengan – atau malah memusuhi- kita. Tampaknya hal ini sederhana saja, apalagi kalau cuma diomongkan, diseminarkan, dikhotbahkan, dan ditulis. Yang sulit adalah ketika dipraktikkan. Secara konsisten lagi. Bukan saja mempraktikkan kata “cintailah musuhmu” adalah kerja keras pribadi, tetapi juga punya dampak kepada yang lain.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Privilese

Masalah privilese itu nyata, bukan fiksi. Gus Dur mungkin satu dari banyak tokoh yang tumbuh karena adanya privilese. Dan ia mengakui adanya privilese tersebut. Kita tahu, ia adalah anak (mantan) menteri, cucu pendiri NU dan Pesantren Tebu Ireng. Ia adalah seorang yang berdarah biru.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menelisik Akar Ekstrimisme dalam Agama

oleh : MUH. ERSAD MAMONTO, 0 Komentar
Qarin (samaran) adalah nama ponakan saya yang masih duduk di bangku SD. Dia pada dasarnya adalah anak yang ceria, cerewet dan sangat suka menjahili orang di sekitarnya. Sampai kira-kira sebulan yang lalu, ada pernyataan darinya yang cukup membuat saya tersentak.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi