Selasa, 17 Oktober 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Perda Intoleransi, Perda Radikalisme, dan nasib RUU Antiterorisme

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
GP ANSOR DKI Jakarta pernah menggulirkan wacana tentang perda intoleransi. Wacana ini tentu saja tak menyembul begitu saja atau mengada-ada. Masih terekam dalam ingatan kita, efek dari pilkada Jakarta yang bahkan sampai menembus sampai ke daerah-daerah. Sentimen-sentimen SARA yang nyaris mengoyak keguyuban sosial—yang anehnya, kontestasi politik setingkat provinsi, mampu membuat gaduh secara nasional. Apakah ini bagian dari permainan timses ataukah komodifikasi media? Atau, bagian dari grand design untuk menjadikan negara-bangsa ini berazaskan agama tertentu?
Kategori : Headline , Opini

Rekonsiliasi 1965, Belajar dari Gus Dur

Di sebuah pagi yang cerah, Gus Dur menghadiri undangan untuk meresmikan sebuah Yayasan Panti Jompo. Panti ini terletak di kawasan Kramat V, Jakarta Pusat, di gedung bekas kantor Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), pada 8 Februari 2004. Panti Jompo ini dikhususkan bagi perempuan-perempuan bekas tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol). Peresmian itu juga dihadiri SK Trimurti —wartawan tiga zaman— yang menjadi saksi sejarah keberpihakan Gus Dur pada perempuan-perempuan jompo yang menjadi korban Peristiwa 1965. Yayasan yang mengelola Panti Jompo itu digerakkan oleh keluarga mantan anggota PKI yang sering dicap negatif. Waluyo Sejati Abadi, nama panti jompo itu, menjadi saksi betapa luasnya bentang kemanusiaan Gus Dur. Di panti itu, perempuan-perempuan eks tapol yang direjam kesakitan pada masa Soeharto, menghabiskan usia dengan secercah cahaya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Terorisme dan Emansipasi Gender

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
Ada yang baru dari gaya dan strategi teror yang dilancarkan IS (Islamic State), khususnya di Indonesia. Semenjak, ditengarai, dipegang oleh Bahrun Naim atau Anggih Tamtomo. Jebolan jurusan IT di salah satu universitas di Solo ini, memiliki peran yang boleh dibilang penting beberapa tahun terakhir ini. Salah satu prestasi barunya adalah merekrut sekaligus memberdayakan perempuan untuk menjadi “pengantin” atau pelaku aksi bom bunuh diri.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Demokrasi, dan Paranoia Hantu PKI

oleh : MUHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Selamat datang di bulan September, bulan di mana kita telah memasuki salah satu musim di antara empat musim besar di Indonesia: musim hujan, musim kemarau, musim ribut mengucapkan Selamat Hari Natal, dan musim ribut isu kebangkitan PKI. Musim terakhir inilah yang kita rasakan sekarang. Saban tahun masyarakat (akar rumput) kita selalu mengalami “de javu paranoia” yang sama. Saya mengamati, setiap September datang, selalu saja ada kelompok yang kebakaran jenggot. Kemudian berbagai media menampilkan judul-judul yang naas untuk disimak: pelarangan diskusi, pembubaran seminar, pembubaran acara seni, dan segala jenis pembubaran tolol lainnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Betapa Bahayanya Jihadis Orak-Arik Campur

Siaran pesan instan menyebar di grup-grup Whatsapp dan media sosial. Pesan dalam poster yang menyebar, puluhan elemen keagamaan dan ormas Islam se-Jawa Tengah akan mengepung Borobudur, dilatarbelakangi kemarahan mereka terhadap kemanusiaan di Rohingya. Yang jadi masalah, menurut persatuan pedagang di area sekitar candi tersebut, yang berjumlah lebih dari 3000 orang itu, "Apa hubungannya genosida di Rohingnya Myanmar dengan luapan kemarahan yang ditujukan ke Borobudur?"
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam Saya Islam Cinta

Awal Agustus lalu, Selasa (1/08/2017), kejadian memilukan terjadi di Bekasi. Pria bernama MA (M Alzahra), yang diduga mencuri amplifier mushalla al-Hidayah, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Bekasi, dibakar hidup-hidup. Warga juga mengarak MA dari jembatan hingga pasar, sebelum dibakar secara biadab. Sungguh merupakan aksi yang menyedihkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Puisi – “Rindu Gus Dur”

oleh : SUDARMAN PUSI, 0 Komentar
Gus… Kami rindu Njenengan, Gus… Sepeninggal Njenengan semua urusan jadi repot Kian hari sikap keberagamaan kami kian peot Nilai dan pemahaman Islam kami tambah reot
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Visi Toleransi Merawat NKRI

Dalam buku “Mata Air Peradaban; Dua Millenium Wonosobo”, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberi sebuah pengantar yang menarik, ia mengulas secara singkat bagaimana sejarah pertemuan antara komunitas Hindu dan Budha di tanah Jawa. Pada abad ke-8 diceritakan orang-orang Sriwijaya yang beragama Budha datang ke pulau Jawa, di daerah pegunungan Dieng-Wonosobo kini, mereka menemukan kerajaan Kalingga Hindu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Memandang Cara Pandang Gus Dur

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
Tumbuh dengan tubuh yang tambun. Kadang bersongkok. Kadang tidak. Hingga rambutnya yang tersisir rapi kelihatan. Wajahnya, meski di saat marah pun, tak tampak menakutkan. Tak pernah, dan tak ada yang takut dengannya. Hanya, barangkali, rikuh. Sesekali tawacanya pecah, lepas tanpa beban. Adakalanya ia biarkan airmatanya berderai di tepi sebuah makam. Satu waktu, ia begitu tajam dan wijang dalam membedah Das Kapital. Di lain waktu, begitu “halus” dalam memaknai al-Hikam. Acap ia berbicara apa adanya, ceplas-ceplos. Tapi kerap pula ia memainkan jari telunjuknya: tenggelam dalam naungan keabadian (daim).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi