Sabtu, 15 Desember 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Multikulturalisme; Corak Keberagaman Bangsa

oleh : FATHULLAH SYAHRUL, 0 Komentar
Sebagai negara majemuk Indonesia dihuni oleh beberapa suku, agama, ras dan budaya. Tolok ukur Indonesia sebagai negara yang majemuk terletak pada keberagaman. Keberagaman, itu dikukuhkan dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam aspek agama misalnya, Indonesia salah satu negara yang cukup beragama, agama dan kepercayaan (pluralisme). Karena itu, agama sebagai penopang hidup atau bingkai bernegara dan bermasyarakat harus diarahkan untuk menerima dan merawat perbedaan sebagai bagian dari kekuatan bernegara (Bhineka Tunggal Ika).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menelusuri Islam di Kenya (2): Assalamu'alaikum, Mombasa

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
"Are you a moslem?" tanya seorang chief di restoran tempat saya menginap, ketika saya meminta telor ceplok sebagai menu sarapan. Saat itu saya mengenakan sarung dan kemeja lengan panjang yang masih saya kenakan sejak menunaikan salat subuh. Sontak saya langsung mengangguk dan bertanya balik, bagaimana dia bisa menebak demikian? Ternyata sarung inilah yang membuatnya yakin bahwa saya seorang muslim. Kami terlibat dalam percakapan singkat mengenai sarung yang konon banyak ditemukan di Mombasa city. "Ya, di sana banyak orang muslim," jelas chief tersebut.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Perempuan, Pelecehan Seksual, dan Perkosaan

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
"Saya pernah mengalami pelecehan seksual. Ini baru pertama kali saya ceritakan. Kejadian di asrama dinas tempat keluarga saya tinggal. Pelaku adalah ayah dari sahabat saya, ia meremas payudara saya......." Cerita berhenti, perempuan itu histeris, menangis cukup lama. Memorinya terbuang ke masa itu, saat pelecehan seksual menimpa dirinya. Trauma yang ia pendam lama tak cukup kuat untuk diucap dalam kata-kata yang lugas. Kemudian, setelah forum berhenti sejenak, perempuan lain bercerita tentang pengalamannya dilecehkan secara seksual oleh laki-laki.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Menelusuri Islam di Kenya (1): Membincangkan Keberagaman

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Beberapa hari lalu saya menghadiri sebuah pertemuan di county (setingkat kabupaten) Kwale, bagian dari regional Coast, Kenya. Kenya merupakan sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk lebih dari 40 juta jiwa. Dari segi keberagamaan, 80% penduduk Kenya menganut Kristiani. Sekitar 10% memeluk Islam, dan lainnya adalah pemeluk agama Hindu dan agama lokal.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Perlukah Perda Syariah untuk Mengatur Kehidupan Islami?

oleh : FATIKHATUL FAIZAH, 0 Komentar
Tahun politik kali memang tak henti memberikan kejutan-kejutan bagi bangsa Indonesia. Kali ini kejutan hadir dari pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie. Pernyataannya membuka kembali kontroversi tentang Perda (Peraturan Daerah) Syariah. Grace menyatakan menolak atau bahasa halusnya tak sependapat dengan adanya Perda syariah. Sebenarnya ketidaksetujuannya tidak hanya pada Perda syariah, tapi lebih kepada perda-perda berdasarkan kepentingan kelompok tertentu karena rawan diskriminasi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Memaknai Kembali Hari Toleransi Internasional

oleh : ILMI NAJIB, 0 Komentar
Di setiap peringatan atau hari besar, kita diiingatkan dengan keberadaan momentum tersebut. Seperti pada momentum Hari Toleransi Internasional 16 November 2018 kemarin, kita diingatkan kembali untuk menjadi manusia yang lebih terbuka; baik dalam berfikir maupun bersikap. Apalagi melihat kondisi saat ini, di mana antar anak bangsa terlihat sering memanas dan bersitegang. Di tambah dengan berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial yang dapat mencederai keberagaman bangsa Indonesia yang majemuk.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Kita Diciptakan Berbeda?

oleh : SYAHRUL BAHRONI, 0 Komentar
Sepertinya kita sering bicara pluralitas, toleransi, dan keragaman. Namun realitanya kita tidak pernah mengaplikasikan pemahaman itu. Kemajemukan atau perbedaan dalam islam yang kita pahami sebagai suatu keniscayaan atau istilah arabnya mutlak dan tidak bisa terhindarkan lagi, seharusnya itu menjadi suatu yang harus kita terima. Apalagi kita hidup di negara yang begitu kaya akan keragaman dan perbedaan agama, suku, ras, dan budaya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Hitam Putih Budaya Versus Agama

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Beberapa tahun lalu, saya terkejut atas pernyataan seorang wali kota. Di dalam sebuah diskusi panel, ia berkata, ”Semua tradisi yang tidak sesuai dengan kitab suci harus kita ubah”, saat membahas tentang jejak perempuan daerahnya yang menari di ruang publik. Jika hanya dibaca dari sepotong kalimat itu, pandangan sang wali kota tampak berangkat dari niat baik dan mulia walau mungkin juga hanya jargon populis untuk memenangi pemilihan kepala daerah. Namun, pernyataan itu juga menunjukkan betapa hitam-putihnya sang wali kota memandang budaya, lebih tepatnya ritual tradisi budaya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Nasihat Gus Dur Ini Sesuai dengan Kaidah Fikih

oleh : AMIN NUR HAKIM , 0 Komentar
Ada sebuah kaidah fikih yang berbunyi, al-îtsâru bil qurabi makrûhun, mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah hukumnya makruh. Kaidah ini masuk ke dalam kaidah ‘aglabiyyah’ dalam kumpulan kaidah fikih. Sebagaimana masyhurnya, kaidah fikih terbagi kepada tiga golongan, Kulliyyah, Aghlabiyyah, dan Mukhtalaf. Kata itsâr, sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Yasin al-Faddani, adalah mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, dan kata qurab adalah jamak dari qurbah, yaitu segala sesuatu berupa kewajiban dan kesunnahan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Ada sebagian ulama yang berpendapat, makna qurab adalah ibadah secara umum. (Syaikh Yasin al-Faddani, al-Fawâid al-Janiyyah Hasyiyah al-Mawâhib as-Saniyyah, Dar el-Rasyid, juz 2, halaman 95)
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Keberagaman yang Indah di Kupang

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Beberapa waktu terakhir saya terlibat dalam kampanye narasi keislaman-keindonesiaan. Narasi ini terus disosialisasikan agar masyarakat terutama para pemuda tidak melepaskan identitasnya sebagai warga negara. Mula-mula pertanyaan yang saya munculkan adalah: kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, atau orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan cara pandang kita dalam memahami agama dan negara. Pertanyaan ini saya lontarkan pula di hadapan aktivis lintas iman di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Semuanya menjawab bahwa mereka adalah orang Indonesia yang memeluk agama tertentu. Kebetulan yang hadir dalam workshop memiliki latar belakang agama beragam. Semuanya sepakat bahwa identitas keindonesiaan diletakkan paling awal. Karena negara adalah entitas yang mampu menjaga keberagaman dan menjaminnya agar tetap berdampingan secara harmonis.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi