Kamis, 14 November 2019

BANTENG DAN SPIRIT NASIONALISME

Sabtu, 19 Oktober 2019
oleh : Haris El Mahdi
Dibaca sebanyak 373 kali
- untuk Bantengan Nuswantara.

Adalah HOS Tjokroaminoto orang pertama yang menjadikan Banteng sebagai simbol dari spirit kebangsaan. Dalam lambang Syarikat Islam, Seekor Banteng Ketaton berada tepat di bawah lambang bulan sabit dan bintang.

Simbol yang sama muncul  dalam majalah Bendera Islam, sebuah majalah yang didirikan oleh HOS Tjokroaminoto. Dalam majalah ini, simbol Banteng berada di sebelah kanan dan simbol Bulan Sabit dan bintang ada di sebelah kiri.

Patut dicatat, tagline dari majalah Bendera Islam adalah "Soeara pergerakan Pan Islam dan Nasional-indonesia. Simbol Bulan Sabit dan bintang merupakan representasi dari Pan Islamisme dan simbol Banteng adalah representasi dari nasionalisme Indonesia. Artinya, Tjokroaminoto berusaha meletakkan pan Islamisme dalam konteks spirit nasionalisme keindonesiaan, bukan pan Islamisme yang membunuh kebangsaan, bukan kosmopolitanisme.

Jika ditelusuri lebih jauh, simbol Banteng sebagai representasi nasionalisme keindonesiaan dapat dilacak dalam koran "Java Government Gazette " yang terbit tahun 1813.

Dalam koran berbahasa Inggris itu terdapat sebuah reportase tentang pertunjukan pertarungan antara Banteng dengan Harimau Jawa dalam sebuah arena berbentuk bulat. Dalam pertarungan itu, Benteng sanggup mengalahkan si raja hutan, Harimau Jawa. Pada umumnya, pertarungan antara Harimau dengan Banteng selalu dimenangkan oleh Banteng.
Dalam tradisi folklore masyarakat Jawa tempo dulu, Banteng merupakan representasi dari orang Jawa dan Harimau adalah representasi dari orang Eropa.

Dalam The History of Java, Raffles juga menarasikan satu bab perihal adu tanding antara Banteng dan Harimau ini.

Belakangan, simbol Banteng ini dipakai oleh Bung Karno sebagai simbol dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Bung Karno meminta izin kepada HOS Tjokroaminoto untuk mengambil simbol (kepala) Banteng untuk dijadikan simbol gerakan nasionalisme yang ia kabarkan. Dan, Tjokroaminoto mengizinkan. Pun, sampai sekarang, simbol Banteng masih dipakai oleh PDIP.

Di luar itu, kepala Banteng juga dipakai sebagai simbol sila keempat, sila musyawarah. Banteng adalah binatang yang lebih suka hidup berkelompok ketimbang hidup individual. Kepala Banteng menggambarkan spirit kebersamaan dalam menyelesaikan masalah, melalui musyawarah.

Penyelesaian masalah dengan mekanisme musyawarah jauh lebih baik daripada menyelesaikan masalah sendirian. Manusia berjiwa benteng yang bermusyawarah niscaya akan menghasilkan keputusan yang bermutu.

Di titik ini, simbol Banteng tidak hanya menarasikan spirit nasionalisme khas Indonesia tetapi juga spirit demokrasi khas Indonesia, yaitu musyawarah.

Dalam pentas kesenian, Banteng juga kerap dipentaskan dalam teater "Bantengan ", yang tentu saja sebagai simbolisasi bahwa masyarakat Indonesia harus pula meresapi kekuatan Banteng dalam melawan penindasan. Bantengan adalah wujud dari seni perlawanan.

Sayangnya, filosofi Banteng dan Bantengan ini belum benar-benar diresapi. Akibatnya, Bantengan baru berupa kesenian yang mengundang keramaian tapi nihil makna. Perlu ada rekonstruksi pertunjukan Bantengan di Indonesia.

 

Haris El Mahdi, penulis adalah Penggerak Gusdurian Batu.