Sabtu, 16 November 2019

BENARKAH KEMANUSIAAN ITU LEBIH PENTING?

Kamis, 24 Oktober 2019
oleh : Rika Iffati Farihah
Dibaca sebanyak 672 kali
Kutipan terkenal dari Gus Dur “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan,” termasuk kutipan favorit saya. Mungkin kutipan favorit Anda juga. Kemanusiaan adalah nilai moral yang dijunjung banyak orang.

Karena sifatnya yang intuitif, setidaknya menurut Haidt dan beberapa ahli psikologi lain, tak banyak orang  menyadari mengapa suatu hal itu baik atau buruk secara moral. Perasaan moral muncul begitu saja. Alasan-alasan  yang disampaikan untuk menjelaskan suatu nilai moral biasanya bersifat post-hoc, setelah kita menetapkan sesuatu itu baik atau buruk. Kerangkanya sering kali diambil dari doktrin keagamaan atau ideologis, bukan praktis pragmatis.

Namun sebenarnya bukan berarti tidak ada alasan pragmatis dari suatu nilai moral. Dalam tulisan ini, saya mencoba memaparkan salah satu alasan  pragmatis yang membuat kemanusiaan sangat layak dijadikan nilai moral semua orang.

Salah satu masalah terpelik yang dihadapi umat manusia akhir-akhir ini adalah masalah lingkungan. Perubahan iklim yang antara lain dipicu aktivitas manusia mengancam keberlangsungan satu-satunya planet yang (sejauh ini diketahui) bisa dihuni manusia.  Gerakan matikan listrik, tanam pohon, membawa tas sendiri untuk berbelanja adalah manifestasi dari kesadaran banyak orang mengenai masalah ini.

Namun meski gerakan di level personal semacam itu penting dan baik untuk dilakukan, ini saja tidak cukup. Persoalan lingkungan jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Bila ingin benar-benar mengatasi masalah lingkungan lngkungan, kita musti pula mendukung gerakan feminisme, gerakan pro-demokrasi, gerakan penguatan masyarakat sipil, gerakan anti radikalisme, dan sebagainya. Penjelasan untuk ini lumayan panjang, jadi mungkin harus disimpan untuk lain kesempatan. Untuk saat ini, satu hal perlu digarisbawahi: guna mengatasi masalah lingkungan, kita harus berjuang agar semakin banyak orang terbiasa memandang orang lain, apapun warna kulit, ideologi, suku, atau jenis kelaminnya sebagai sesama manusia yang sama harkat dan martabatnya sebagaimana diri kita sendiri.

Sewaktu sejarawan Yuval Harari berdiskusi dengan ahli psikologi Dan Ariely mengenai tantangan-tantangan masa depan, Harari mengatakan bahwa salah satu penghambat kita mengatasi masalah lingkungan adalah nasionalisme.

Pada taraf tertentu nasionalisme merupakan hal yang baik dan bermanfaat. Manusia belajar mengatasi kepentingan-kepentingan kelompok yang lebih kecil seperti kepentingan suku atau agama untuk bekerja sama dalam skala yang lebih besar: negara bangsa. Namun masalah lingkungan memerlukan kerja sama antar manusia dalam skala yang lebih besar lagi: planet bumi. Rasa nasionalisme yang terlalu besar bisa menjadi masalah karena segala sekat pemisah antar manusia termasuk sekat kenegaraan atau kebangsaan kerap kali menghalangi kerja sama murni antar manusia.

Masalah lingkungan tidak akan bisa diatasi oleh satu dua negara saja. Yang sebaliknya malah sangat mungkin terjadi: satu atau dua negara menghancurkan atau menghambat segala upaya perbaikan yang dibuat oleh negara-negara lain. Ini karena hakikat permasalahan lingkungan memang unik, paling baik dirangkum dengan istilah: “the tragedy of the commons.” Isu-isu lingkungan terkait dengan berbagai sumber daya bersama di planet ini yang musti dijaga bersama oleh semua penghuninya seperti atmosfer dan air. Meskipun suatu negara sudah mati-matian menekan produksi CO2, kalau negara tetangga tetap memproduksi atau malah meningkatkan produksi CO2 demi mengejar pertumbuhan ekonomi misalnya, maka kondisi planet ini, termasuk negara yang sudah ramah lingkungan tadi, tetap sama seperti semula. Satu negara mengalami kebakaran hutan, negara lain ikut terkena asapnya. Di sini ini tragedinya.

Mengingat skala dan kerumitan masalah lingkungan, sangatlah penting memastikan sebanyak mungkin orang bisa ikut berkontribusi menjaga sumber daya bersama secara ikhlas dan setara. Namun ini bukan tugas yang mudah, karena banyak sekali hal bisa mengancam kelangsungan kerja sama ini, seperti ketamakan, iri dengki, juga naluri kekelompokan alamiah manusia. Hal-hal ini membuat kita entah sadar atau tidak untuk berlaku tidak adil pada manusia yang tidak sekelompok dengan kita atau mendukung kebijakan-kebijakan diskriminatif atau melanggengkan persekusi pada kelompok manusia tertentu.

Apakah mungkin mereka yang kerap diperlakukan tidak adil, tidak setara, yang dituduh macam-macam, yang sering dipandang dengan penuh prasangka, apalagi dipersekusi dan didiskriminasi, akan bersedia suka rela ikut membantu kepentingan yang lain? Kemungkinan besar tidak. Menindas dan memaksa mereka untuk mau berkontribusi juga bukan solusi. Sejarah sudah mengatakan, hal-hal ini malah kontraproduktif. Penindasan hanya menimbulkan perlawanan, entah itu secara diam-diam atau terang-terangan.

Di sinilah nilai kemanusiaan bisa membantu kita. Dengan nilai ini, akan lebih mudah mengembangkan kesadaran bahwa kita membutuhkan semua manusia yang lain sebagaimana mereka membutuhkan kita. Kita akan terdorong untuk belajar merangkul yang berbeda. Kita akan terus dilatih untuk melawan kecenderungan intuitif kita sendiri yang hobi mengelompok. Ketika nilai ini sudah dianut kuat oleh banyak orang, kita akan lebih siap untuk bekerja sama sebagai satu kesatuan penghuni bumi, bukan hanya sebagai kelompok-kelompok lebih kecil, termasuk ras atau negara.

Demikianlah, demi melestarikan bumi, kemanusiaan merupakan salah satu nilai moral yang penting untuk diupayakan dan dikampanyekan. Kita perlu terus-menerus berupaya memandang manusia lain sebagai kawan dan bukan lawan, sebagai mitra dan bukan ancaman. Agar bumi tetap bisa menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi anak cucu kita, kita perlu untuk selalu belajar memandang semua orang  sebagai sesama manusia seutuh-utuhnya.

 

Rika Iffati Farihah, penulis bisa disapa melalui akun twitter @rikaiffati.