Rabu, 20 November 2019

BOLEHKAH PEREMPUAN MENCARI NAFKAH?

Kamis, 19 September 2019
oleh : Agri Satrio
Dibaca sebanyak 215 kali
Di dalam keluarga, penulis tidak pernah diajarkan secara implisit mengenai kesetaraan gender. Namun oleh orang tua ditunjukkan langsung mengenai tidak adanya subordinasi antara bapak sebagai laki-laki dan ibu sebagai perempuan dalam pembagian tugas rumah tangga. Keduanya sama-sama bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Bahkan sewaktu penulis sekolah menengah, saat bapak saya menderita penyakit kronis yang menyebabkannya tidak mampu bekerja seperti sebelumnya, beliau melakukan pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh perempuan seperti mencuci baju dan menyapu halaman. Ibu juga bercerita ketika mereka menikah bapak lah yang mengajari beliau memasak.

Berdasarkan pengamatan penulis, hal-hal yang dipraktikkan dalam keluarga tersebut tidak didasarkan pada pemahaman kedua orang tua terkait kesetaraan gender. Mereka hanya bertindak seperti hal tersebut merupakan hal yang biasa saja. Tanpa embel-embel apapun. Itulah yang menurut penulis menarik dan akan penulis bahas.

Perempuan dan Karir

Banyak kisah mengenai perempuan yang sukses di bidangnya secara mandiri. Tentu kita sudah tidak lagi asing dengan nama Susi Pudjiastuti. Seorang pengusaha pemilik PT ASI Pudjiastuti Marine Product yang bergerak di bidang eksportir hasil-hasil perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang bergerak di bidang penerbangan dengan maskapai Susi Air. Pada pemerintahan Presiden Joko Widodo ia diberi mandat menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

Berdasarkan kisah yang penulis baca, ia memulai bisnis sendiri setelah sebelumnya dikeluarkan dari sekolahnya saat SMA. Dengan modal yang tidak seberapa beliau memulai bisnisnya sendiri. Bisnisnya berkembang hingga pada tahun 2012, perusahaan penerbangannya menerima pendapatan Rp300 miliar. Ketika menjabat sebagai menteripun beliau meraih berbagai prestasi atas kebijakan-kebijakan dan capaiannya. Kebijakan yang paling terkenal adalah terkait ketegasannya terhadap penangkapan illegal. Kebijakan tersebut menurut jurnal Nature telah mengurangi upaya tangkap hingga 25% dan berpotensi menambah jumlah tangkapan sebanyak 14%.

Selain Susi terdapat juga ada Sri Mulyani, Menteri Keuangan di pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia, wanita sekaligus orang Indonesia pertama yang menduduki posisi tersebut mulai tahun 2010 hingga dipanggil untuk mengabdi sebagai menteri pada tahun 2016. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Bapennas, Menteri Keuangan dan Menko Bidang Perekonomian di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Masih banyak lagi contoh tokoh-tokoh perempuan di Indonesia yang berprestasi di bidangnya masing-masing. Hal yang menunjukkan bahwa sesungguhnya perempuan memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki di bidang apapun yang ditekuni.

Memperjuangkan Hak, Bukan Minder

Pergerakan perempuan yang terus berjuang dalam menuntut hak-haknya menurut penulis terkadang terlalu berlebihan. Bukannya penulis menentang pergerakan ini bahkan pasti mendukung asalkan masih dalam proporsinya, namun dalam arah geraknya kadang salah arah. Mereka menuntut hak-hak yang mutlak antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebetulnya ketika hak-hak dasar sudah terpenuhi, perempuan dapat menunjukkan kemampuannya dalam bersaing dengan laki-laki.

Seharusnya selain mengupayakan hak-hak perempuan dengan menuntut negara untuk menjaminnya, gerakan perempuan juga mengedukasi perempuan-perempuan dan masyarakat Indonesia secara umum bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama. Apalagi sudah terdapat bukti-bukti nyata bahwa tanpa pembatasan-pembatasan dari lingkungan terdekatnya telah ada perempuan yang menunjukkan kapasitasnya.

Menunjukkan Kapasitas Diri

Penulis mempercayai bahwa setiap manusia yang dilahirkan memiliki kesempatan yang sama dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan yang berbeda adalah porsi usaha yang harus dilakukan. Struktur sosial lah yang memberikan batasan kepada golongan-golongan tertentu dengan membatasi akses atas sesuatu.

Di era yang semakin terbuka seperti sekarang, apalagi di perkotaan, batas-batas antar laki-laki dan perempuan hampir tidak ada lagi. Perempuan telah memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses terhadap pendidikan, pelayanan publik, hak suara, dan masih banyak lagi. Namun seringkali batasan-batasan justru tercipta di pikiran sendiri. Dengan menuntut pemerintah terus-terusan menunjukkan keminderan dari gerakan ini, sedangkan usaha untuk menunjukkan diri menurut penulis adalah cara yang lebih konkret dalam perjuangan perempuan saat ini.

Perlu digarisbawahi bahwa penulis akan mendukung perjuangan atas kesetaraan hak-hak dasar perempuan, apabila hal tersebut belum didapatkan, seperti penulis mendukung hak-hak setiap suku ataupun ras dalam memperoleh akses yang sama. Seperti Tionghoa dalam memiliki hak milik tanah.

Agri Satrio, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Yogyakarta 2018.