Rabu, 20 Juni 2018

CARA GUS DUR MEMBACA AL QURAN DALAM KONTEKS REALITAS SOSIAL

Senin, 11 Juni 2018
oleh : Wildan Imaduddin Muhammad
Dibaca sebanyak 137 kali
Bagi umat Muslim di seluruh Dunia al-Quran adalah sumber pedoman paling otoritatif yang dijadikan sandaran argumentasi hampir di setiap lini kehidupan. Dari al-Quranlah peradaban Islam kemudian lahir, tumbuh dan berkembang menghasilkan beragam sumber ilmu pengetahuan. Berjuta-juta jilid karya para ulama telah diproduksi sebagai bagian dari upaya memahami al-Quran.

Jika Nasr Hamid Abu Zayd (1943-2010) mengatakan bahwa al-Quran adalah kitab sastra terbesar yang bisa dipahami dengan analisa linguistik, maka lain halnya dengan Farid Esack (1959) yang memosisikan al-Quran sebagai kitab pembebasan atas ketimpangan dan eksploitasi yang ada di Afrika Selatan.

Dari dua tokoh tersebut, dapat kita ketahui bahwa setiap orang mempunyai perspektif masing-masing dalam menghayati al-Quran sesuai dengan konteks dimana ia tinggal dan berkaitan pula dengan problem yang dihadapinya. Begitupun bagi Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Tulisan ini akan melihat bagaimana Gusdur sebagai seorang cendekiawan yang juga aktivis membaca al-Quran guna menjawab tantangan di masyarakat.

Kerangka Gusdur dalam Memahami Al-Quran

Di salah satu tulisan dalam buku Islam Kosmopolitan Gus Dur menulis satu artikel yang khusus membahas posisi al-Quran bagi realitas sosial masyarakat Muslim. Menurut Gus Dur, demi terciptanya masyarakat madani umat Islam harus memahami al-Quran dalam tiga kerangka besar:

Pertama, umat Islam harus mampu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap tataran kehidupan mereka dan memelihara asas kebebasan atas penyelenggaraan kehidupan tersebut serta membuka seluas-luasnya peluang bagi pengembangan kepribadian menurut cara yang dipilih masing-masing individu. Nilai kemanusiaan dan kebebasan berekspresi adalah dua hal penting yang terus diperjuangkan Gusdur dalam kehidupannya terlebih ketika menjabat sebagai Presiden. Hal ini dibuktikan dengan kebijakannya yang pro kebebasan di ruang publik dan anti kekerasan atas nama kemanusiaan.

Kedua, seluruh pranata keagamaan yang dikembangkan umat mesti ditujukan bagi penataan kembali demi menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kebebasan. Dalam prakteknya, Gus Dur melalui Forum Demokrasi (Fordem) hendak mengajarkan kepada kita bahwa pranata agama yang tidak mendorong pada toleransi, pluralisme dan demokratisasi sebagaimana direpresentasikan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) bentukan Orde Baru hanya akan dijadikan alat kepentingan pemerintah yang sifatnya semu dan tidak esensial.

Ketiga, sebagai sumber pengambilan pendapat formal, al-Quran harus dikaji dan ditinjau asumsi dasarnya dari kebutuhan dua poin di atas, pasca mempertimbangkan realitas sosial umat manusia secara keseluruhan. Pada poin terakhir ini kita dapat menghubungkannya dengan lima kebutuhan dasar umat manusia (dharuriyat al-khams) yang sering sekali ditegaskan Gusdur dalam beberapa tulisannya yakni hifdz al-din, hifdz al-nafs, hifdz al-mal, hifdz al-‘aql dan hifdz al-nasl.

Sampai disini penjelasan Gus Dur bisa dikatakan masih sebatas pra konsepsi tentang posisi al-Quran atas realitas sosial, lalu timbul pertanyaan, bagaimana contoh konkritnya dalam praktek penafsiran al-Quran misalnya? Sependek bacaan penulis, Gus Dur tidak berbicara lebih jauh mengenai aplikasi penafsiran atas al-Quran untuk menjawab tantangan sosial masyarakat Muslim. Namun demikian, apa yang diutarakan Gus Dur dapat dipaparkan lewat konsepsi Muhammad Abid al-Jabiri.

Praktik Penafsiran Ala Gus Dur Lewat Konsepsi Turats Abid al-Jabiri

Carool Kersten (2015) dalam tulisannya A Moroccan Philosopher in Indonesia: The Influence of Abid Al-Jabiri on Islamic Thinking in Indonesia menerangkan bahwa Abid Al-Jabiri adalah salah satu pemikir Islam yang cukup berpengaruh di Indonesia . Di akhir masa hidupnya, Abid al-Jabiri memfokuskan diri pada studi al-Quran dan Tafsir yang puncaknya melahirkan tiga jilid tafsir al-Quran yang berjudul Fahm al-Quran al-Hakim: Tafsir al-Quran Hasba Tartib al-Nuzul.

Pemikiran Abid al-Jabiri yang beririsan dengan apa yang diungkapkan Gus Dur terletak pada postulatnya menjadikan al-Quran kontekstual di masanya dan kontekstual di masa kini (Ja’l al-Quran Mu’asiran li Nafsih wa Mu’ashiran lana) atau dalam bahasa sederhananya adalah kontekstualisasi al-Quran. Metode yang digunakan untuk melakukan kontekstualisasi ini adalah dengan mengakomodir aspek kesejarahan dan rasionalitas. Dua hal ini juga selalu ditekankan oleh Gus Dur dalam setiap tulisannya tentang ayat al-Quran meski tidak dijelaskan secara eksplisit.

Praktek penafsiran al-Quran ala Gus Dur bisa ditemukan dalam bukunya yang berjudul Islamku Islam Anda Islam Kita. Gus Dur menulis dalam artikel “Berawal dari Pendangkalan” bahwa ia pernah satu panel dengan Yusril Ihza Mahendra di suatu diskusi bedah buku di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Pada acara tersebut, Gus Dur dikritik oleh Yusril karena dianggap terlalu dekat dengan Non-Muslim. Yusril melandaskan kritiknya itu dengan mengutip Q.S Al-Fath : 29 yang secara harfiah memerintahkan bertindak tegas kepada orang kafir.

Bagi Gus Dur, Yusril kurang tepat memahami ayat tersebut. Menurutnya, kafir dalam ayat tersebut bukan dialamatkan untuk seluruh non-Muslim. Akan tetapi sebab turunnya adalah dalam konteks pengusiran umat Muslim oleh orang-orang kafir Quraisy di Mekah. Gus Dur dengan terang-terangan mengkritisi pemikiran Yusril dengan landasan aspek kesejarahan al-Quran. Dilihat dari sisi rasionalitas penafsiran ayat tersebut perlu dipahami dalam bingkai konteks keadaan di Indonesia yang plural dan setara. Hal inilah yang selalu ditekankan oleh Gus Dur dalam bermasyarakat.

Dari penjelasan serba singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Gus Dur memosisikan al-Quran sebagai kitab suci yang dinamis dan mampu menjawab berbagai problematika di tengah-tengah masyarakat. Bukan sebaliknya, membelenggu masyarakat menjadi manusia yang statis dan jumud.  

Wildan Imaduddin Muhammad, penulis adalah penggerak aktif di Komunitas Gusdurian Ciputat.