Jumat, 16 November 2018

CATATAN DARI ORASI ALISSA WAHID DI TUNAS GUSDURIAN 2018: MENJAGA INDONESIA, MENAPAKTILASI GUS DUR

Jumat, 14 September 2018
oleh : Kiai Marzuki Kurdi
Dibaca sebanyak 419 kali
Dari sisi teori tata panggung, penampilan Alissa di acara Tunas Gusdurian 2018 lalu tidak tampak sebagai seorang Orator. Di panggung yang cukup luas yang penuh dengan dekorasi wayang dia memilih berdiri di tepi ujung paling depan. Memakai pakaian sederhana, seperti biasanya, tanpa asessoris dan dengan gerak-bahasa tubuh, ekpresi-mimik yang jugabiasa,juga tidak ada diksi atau kalimat bombastis yang keluar dari mulutnya---demi efek penampilan. Semua itu seperti mempertegas, sebagaimana diakuinya sendiri, dirinya tidak berbakat menjadi seorang Orator. Alissa tampil seperti sehari-hari saja. Kekuatan penampilannya yang berbicara sekitar 45 menit siang itu, justru terlihat pada watak yang tergambar dari emosi batinnya saat mengemukakan sesuatu yang terjadi dan melanda bangsa Indonesia terkait kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya dan agama( poleksosbud-gam). Ia, waktu itu, dengan daya kritisnya, merasa perlu mengemukakan cara pandang dirinya, dengan tetap mengambil jarak dengan beberapa kelompok beserta kepentinganya masing-masing sembari menghindari rasa romantisme seorang aktivis. Yakni kesaksian tentang ketidakadilan, pelanggaran HAM, radikalisme, intoleransi, makin mengguritanya korupsi, perampasan hak warga oleh kekuatan tertentu, penguasaan sumberdaya alam oleh asing dan beragam macam bentuk perilaku buruk yang menciderai harkat dan martabat kemanusiaan.

 

 

 

Pada 15 menit pertama,melalui mata visual(bashar)-nya, Alissa mencoba membaca, menimbang-bangding mengapa semua hal itu bisa terjadi? Bukankah Indnesia sebagai sebuah negara  yang di dalamnya ada eksekutif, legeslatif, yudikathf, telah memiliki konstitusi yang rumusannya jelas-jelas mengamanatkan terwujudnya keadilan,kesejahteraan, persamaan hak dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan? Selain itu, Indonesia sebagai NKRI dijaga oleh mayoritas  muslim (NU dan Muhammadiyah)  juga telah memiliki  mabda'i'timadiy,  berupa maqoshhdussyariat, Qonun Asasi, Asasul Khamsah yang secara kultural menjadi pegangan  cara pikir dan bertindak (al mu'asyaroh ijtima'hyah at ta'arutfiyah wal muhawalah traqofiyah al basyariyah) demi menjunjung timggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Dua bandul konstitusi ini yang harusnya berjalan bersinergi dan seimbang demi tegaknya NKRI yang sejati, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

 

Dalam 15 menit berikutnya, Alissa berusaha memahami fakta tersebut sebagai realitas, maka ia membacanya dengan cara pandang mata hati(barhiroh)nya, bahwa di balik idealitas dua rumusan(mabda siyasiy-i"timadiy) dengan fakta yang terjadi memang berbeda. Hal tersebut pasti ada yang salah pada tataran penafsiran dan pelaksanan pesan-pesan idealnya oleh para aktor di tingkat negara, para elit politik, pimpinan masyarakat, dan seterusnya. Karena itu, dalam waktu 15 terakhir pembicaraan, Alissa memandang melalui mata rasa(dzauq)-nya , bahwa hal tersebut tdak boleh dibiarkan terus terjadi. Perasaan Alissa mulai terganggu oleh fakta dan realitas tersebut dan merasa ikut menanggung beban serta kemauan untuk tahu dan masuk dalam pusaran persoalan itu guna mencari akar masalah dan rumusan solusinya?

 

Dalam keadaan demikian, Alissa terlihat menahan emosi yang tampak dari keringat di keningnya. Ia mulai mereka-reka siapa dan kelompok mana saja yang layak  diajak dilibatkan dalam mengurai pesolaan kemanusiaan yang  rumit itu. Alissa mulai teringat  masa-masa lalu dan problem-problem serupa,  siapa aktor yang responsif dan tampil di tengahnya. Ia teringat salah satu tokoh utama yang selalu tampil paling depan  di setiap terjadi perilaku yang melanggar kemanusiaan, dan itu adalah bapaknya sendiri, Gus Dur. Alissa waktu itu terlihat bersijingkat mau berjalan, gagap, dan seolah meggapai-gapai sosok ayahnya. Alissa memanggil, dan terus memanggil sosok yang pling dirindukan itu  guna mengadu dan merayu  secercah harapan. Ketika si Bapak itu dengar suara anakya, seperti biasa, bapaknya menanggapi persoalan serumit apapun dengan "begitu aja kok repot." Mata pandang rasa Alissa semakin gundah-gulana lantaran juga tersodok oleh daya kritis Parikesit, putra pertamanya yang memperingatkannya untuk tidak melawan arus besar perjuangan yang secara hitungan nalar akan berujung pada  kekalahan.

 

Di antara himpitan si anak yang mulai peduli dan sosok agung Sang Bapak, Alissa sekali lagi berusaha memanggil bapaknya dan terus memanggil. Semakin keras memanggil, nada suaranya seperti memanggil-manggil dirinya sendiri. Dalam keadaan agak lunglai dan suara agak melemah, sorot matanya masih terlihat memancarkan sedikit cahaya. Kemudian bagai Perempuan Badai dalam Novel MUstofa el Hasyimy, ia menutup pembicaraannya  dalam hitungan 2 sampai 3 detik di tengah  daya hidupnya yang  "menolak keterbatasan  dan keputusasaan" ALissa tetap tegar mengajak maju, berbuat, menjaga masa depan Indonesia dengan menapaktilasi apa yang pernah dicontohkan bapaknya, KH Abdurrahman Wahid yang  selama hidup menyatu dengan masyarakat.

 

Cara pikir dan jarak pandang Alissa sebenarnya tidak jauh beda dengan wacana kita pada umumnya yang juga cermat membaca Indonesia dari waktu ke waktu, bahwa dalam pembangunan Indonesia selama ini terdapat komunitas-komunitas tertentu---perkotaan maupun pedesaan--- yang makin terdesak dan terpinggirkan dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Apalagi kebijakan pembangunan yang berjalan selama ini dikendalikan oleh sistem pasar bebas.

 

Partisipasi komunitas-komunitas itu masih mimimal. Bahkan ada gelagat bahwa keikutsertaan mereka sesungguhnya merupakan hasil dari mobilisasi, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung  (manipulasi, bujukan, dan lain-lain). Mobilisasi tersebut menyebabkan erosi kesadaran, baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkunganya. Harapan yang berupa mimpi, keinginan yang mengada-ada, spekulasi, kebingungan, protes terpendam, menunggu datangmya ratu adil, dan lain-lain adalah bentuk-bentuk ekpresi yang kemudian menjadi lazim. Mereka mengalami kekacauan dalam hal nilai-nilai dan norma-norma, sementara nilai tradisional yang mereka miliki sudah tergusur lantaran  tidak lagi mampu menjawab kenyataan yang ada, sementara nilai baru yang belum sepenuhnya mereka pahami ternyata juga malah merugikan.

 

Mereka masih merupakan masyarakat yang terpecah belah dalam begitu banyak jumlah dan ragam tradisionalitas dan tidak memiliki bargaining power untuk menghadapi sistem makro. Merka juga lemah dalam berhubungan dengan kaum elit yang punya komitmen terhadap nasib mereka sekalipun. Lebih tragis lagi sebagian dari mereka bahkan ikut memarginalkan  kaum senasibnya yang justru mliki kesadaran dan pandangan kritis atas situasi dan kondisi yang  sedang melandanya.

 

Berdasar  peta peroalan di atas, maka perlu ikhtiar untuk membaca dan menyandingkan antara soal normatif idealistis empiris pragmatis dan mempetakan kelompok-kelompok strategis. Sejauh yang penulis amati, Jaringan Gusdurian yang sejak awal terbenuk dan kini telah menyebar di 100 lebih kabupaten/kota di Indonesia, tampaknya telah menjelma menjadi jaringan yang lebih pas dan strategis, sereta relevan menempatkan diri di tengah arus silang sengkarutnya persoalan  kemanusiaan di Indonesia. Pertama, Jaringan Gusdurian adalah forum kaum terdidik yang memiliki kepedulian sosial  sebagaimana hal tersebut sudah terbiasa mereka lakukan dikampung halaman masing-masing,  jauh sebelum mereka bertemu dan berkumpul serta bersinergi dalam berbagai aktivitas intelektual dan sosial secra berkelompok. Kedua, mereka memiliki latar belakang pendidikan pesantren dengan tingkat pemahaman teks-teks agama di atas rata-rata dan penganut kultur  NU/aswaja, sebagaimana yamg ditumbuhkembangkan,  dipersembahkan, dan diperjuangkan Gus Dur selama hdupnya. Ketiga, mereka memiliki jaringan kuat di berbagai level komunitas dan sub-komunitas serta memiliki pengetahuan umum secara memadai. Tinggal pada ruang mana gusdurian bisa menempatkan diri secara lebih pas sesua dengan kebutuhan dan ciri lokalitas di mana mereka berada…