Senin, 19 Agustus 2019

DAKWAH BERWATAK GUS DUR

Kamis, 18 Juli 2019
oleh : Sholihun Kasim
Dibaca sebanyak 283 kali
Idealnya, dakwah dilakukan dengan lemah-lembut, nir-kekerasan dan juga dengan ilmu mumpuni, bukan seakan-akan mumpuni. Dengan begitu, dunia dakwah, termasuk dakwah digital tidak akan diselewengkan dan akan kembali pada ruhnya.

Ruh dakwah yang bagaimana? Ruh dakwah yang berpedoman pada al-Qur’an, surat an-Nahl: 125, “Ajaklah olehmu, ke jalan Tuhanmu dengan [1] hikmah dan [2] mau’idhah hasanah dan [3] berdiskusilah [dengan mereka] dengan menggunakan cara yang lebih baik. Sungguh Tuhanmu lebih mengetahui mereka yang sesat dari jalanNya dan Dia lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk”. [KH Achmad Siddiq, Khitthah Nahdliyyah, 2005].

Jika dalam berdakwah, tiga indikator tersebut tidak terpenuhi, maka yang terjadi seperti kondisi sekarang ini, dakwah telah keluar dari esensinya. Esensi dakwah amar ma’ruf nahi munkar menjadi bias. Berdakwah bukan hanya jago berpidato. Pidatonya mengajak ke jalan kebaikan, tapi pada saat yang sama, mengingkari kebaikan. Memuji pemimpinnya, tapi juga menyerang pemimpin yang tidak disukai. Perilaku itu tidak pantas dilakukan oleh dai. Sekali lagi, dakwah itu berusaha mengajak, hidayah berada dalam kuasa Allah SWT.

Watak Gus Dur Sumber Inspirasi

Dalam berdakwah, setidaknya kita bisa meneladani cara dakwahnya Gus Dur. Apakah selama hidupnya Gus Dur melakukan dakwah? Ya. Dakwahnya terutama dengan tindakan atau perbuatan, dan dengan baiknya kepribadian. Terkadang, dakwahnya diselingi dengan humor. Humor tidak sekedar humor, tapi jika dirasakan akan mengusik dan diresapi hati. Dengan humor, Gus Dur ingin merangkul bukan memukul. Mengayomi bukan mencederai. Dengan cara ini, banyak kalangan menerimanya.

Mengapa tindakan-tindakan Gus Dur fenomenal? Karena Gus Dur mempunyai watak atau kepribadian yang jarang dimiliki orang kebanyakan. Hal ini diakui oleh Ketua PW ISNU Jatim, M Mas’ud Said. “Gus Dur itu memperjuangkan yang lemah, mau menerima resiko, memiliki integritas, konsisten, anti mementingkan dirinya sendiri, kerjanya tidak hanya untuk golongan nahdliyyin, sudah menerabas batas golongan, suku dan agama. Berjuang untuk rahmatan lil alamin”, ujarnya.

Watak Gus Dur ini idealnya menjadi sumber inspirasi, terutama dalam dakwah digital. Misalnya watak Gus Dur yang sulit tertandingi adalah mau menghadapi resiko. Ungkapan gitu aja kok repot adalah aktualisasi diri menertawakan resiko. Bergerak ada resikonya, diam juga beresiko. Lebih baik bergerak daripada diam. Resiko pikir mburi. Tahan diejek dan dijelekkan orang hal biasa dalam berdakwah.

Dalam dakwah digital, siapa yang dominan membuat konten bagus dan menarik akan disenangi. Tapi, dalam hal pemikiran, konten menarik saja tidak cukup. Harus diimbangi dengan keberanian dan nakal tapi ada dasar hukumnya. Itulah yang dulu dilakukan Gus Dur, sehingga dikenal dengan tokoh kontroversial. 

Di samping itu, Gus Dur juga memiliki integritas dan konsisten dalam memperjuangkan hak-hak hidup warga masyarakat. Konsisten dalam menolak ketidakadilan, meski harus nyawa taruhannya. Sikap ini dilakukan Gus Dur sebagai bentuk perjuangan yang berpihak pada rahmatan lil alamin.

Sikap konsisten dalam dakwah digital tercermin dalam banyak hal. Misalnya, membuat laman digital atau website. Membuatnya sangat mudah, tapi konsisten tidak mudah. Terasa sulit  merawatnya. Oleh karena itu, perlu sinergi antara intelektual, ahli IT dan donatur. Intelektual rutin mengisi tulisan, ahli IT yang mendisain, dan dana dibutuhkan untuk memberi semangat bagi penulis. Tanpa sinergi, konsistensi kurang berarti.

Jika ditelusuri secara mendalam, watak Gus Dur ini adalah watak NU, yaitu tawassuth, i’tidal dan tawazun. Dalam buku Khitthah Nahdliyyah, Kiai Achmad Siddiq mengurai dalil tiga karakter NU ini. Tawassuth adalah elaborasi surat al-Baqarah:143, i’tidal berpijak pada al-Maidah: 9 dan tawazun dalam al-Hadid: 25. Jiwa Qur’ani menjalar dalam watak dan tindakan Gus Dur.

Bisakah meniru watak Gus Dur? Secara sederhana dijawab bisa. Tapi, dalam dakwah digital, ditemui beberapa masalah yang harus dicarikan solusi. Misalnya, dalam berdakwah kelemahan banyak orang adalah dalam komunikasi lisan. Sudah saatnya diperbanyak workshop atau pelatihan public speaking. Banyak orang berilmu mumpuni tapi sulit menyampaikan. Bahkan terkadang mbulet dan membingungkan.  Sementara diseberang sana, ilmu sedikit pandai berkomunikasi. Pesan tersampaikan. Inilah PR bagi para dai digital.

Sholihun Kasim, penulis adalah alumni Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah Gresik dan Dosen Universitas Pawyatan Dhaha Kediri.

Sumber: alif.id