Sabtu, 22 September 2018

DENTING ISLAM DAN PERADABAN NUSANTARA TENTANG LINGKUNGAN HIDUP

Senin, 25 Juni 2018
oleh : Gatot Arifianto
Dibaca sebanyak 215 kali
Nusantara adalah peradaban luhur. Kedekatan dengan alam dan sang pencipta selalu dimanifestasikan dalam karya seperti sastra, pitutur luhur, hingga pusaka semisal keris. Tanpa peradaban luhur, masuknya agama-agama ke Nusantara berikut penerimaannya tentu berlangsung dengan paksaan dan kekerasan. Dalam sejumlah literasi, agama Budha, Hindu, Kristen dan Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia melalui jalan damai, jalan niaga, yang dihasilkan oleh peran alam (pertanian, perkebunan hingga perikanan) yang berorientasi pada kehidupan manusia.

 

 

 

Inspirasi dan sektor ekonomi yang dikenal sebagai Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) dan melandasi berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) selain Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) dan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran). Berbicara Indonesia hari ini yang masih konon sakit dan kehilangan kemandirian. Tentu ada penyebab. Namun juga, tentu ada solusi. Islam telah mengajarkan beragam penyelesaian, termaktub dalam sejumlah ayat dalam Al Quran. Menggunakannya optimal menjawab tantangan zaman semestinya keharusan mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dianugerahi kekayaan alam, hutan hingga lautan.

 

Peradaban Nusantara dan Semangat Islam

Dalam Islam, adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut adab sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, akhlak. Adapun peradaban berhubungan dengan kemajuan, kecerdasan, kebudayaan lahir batin suatu bangsa.

 

Kearifan lokal (local wisdom) suku bangsa di Indonesia sebagai bagian peradaban telah mengajarkan banyak hal berkaitan dengan lingkungan hidup dan alam semesta.

 

Masyarakat Nusantara, dari Jawa, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi, Kalimantan, Bengkulu, hingga Nusa Tenggara mengenal keris.

 

Berbicara tentang keris, pusaka tegak lurus seperti huruf Alif, tentu tak terlepas dari lima pamor, yakni air, angin, api, cahaya, api, tanah. Unsur-unsur alam yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

 

Dalam literasi, sastra, pitutur, peradaban Nusantara juga mengajarkan kebijakan. Masyarakat Lampung mengenal istilah “Kepak ya mulan hapa, titanomko juga ya, kepak mak ngambuah, bulungni sejakh jadi pangkhenggom.”

 

Kearifan lokal Bumi Ruwai Jurai yang dalam Bahasa Indonesia berarti, walau bibit (biji) tidak bernas, tanamkan juga, meskipun tidak berbuah, daunnya berguna jadi perindang.

 

Satu contoh pandangan peradaban Nusantara yang mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tetumbuhan kemudian burung, manusia, dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya,” (HR Bukhari).

 

Pikukuh (larangan) masyarakat Badui, Banten yang berlandas ajaran Nusantara, Sunda Wiwitan mengingatkan gugung teu meunang dilebur (gunung tak boleh dihancur), lebak teu meunang diruksak (lembah tak boleh dirusak).

 

Demikian pula masyarakat Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Peradaban mereka mengajarkan jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga. Peliharalah dunia beserta isinya, demikian pula langit, manusia dan hutan.

 

Selain masalah kebangsaan dibuat mengemuka dewasa ini, Indonesia juga mengalami problematika ekologis. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 2017 menyebut 2.175 kejadian bencana di Indonesia. Dari data itu, 99,08 persen merupakan bencana ekologis.

 

QS Ar Ruum ayat 41 menegaskan: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
 

Menjadi pertanyaan, di mana 70 persen penduduk muslim dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia? Kemana peradaban luhur Nusantara yang sejalan dengan nafas dan semangat Islam?

 

Gerakan Sebagai Solusi

Mantan Ketua MPR Amien Rais pada Konvensi Kampus III dan Temu Ilmiah Forum Rektor Indonesia bertajuk "Refleksi Kritis Nasib bangsa Pasca Amandemen UUD", di Balai Senat kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Selasa (11/7/2006 menilai kondisi negara Indonesia benar-benar sakit.

Sehingga, ujar Amin seperti dilansir detik.com dijuluki,  'the sick man of Asia'. Intinya, Indonesia sakit dan kehilangan kemandirian akibat kekayaan laut hingga pertambangan dipersembahkan untuk luar negeri.

 

Sesudah 12 tahun, adakah perbaikan? Terlepas dari kekurangan. Tentu ada perbaikan dengan adanya gerakan. Gerakan yang didasarkan adanya potensi sebagai solusi atas permasalahan.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti sebagaimana dilansir LKBN Antara, Minggu (22/10/2017) menyebut perkembangan sektor perikanan di Indonesia semakin baik dan saat ini nomor satu di Asia tenggara.

 

Pada 2012, Pendapatan Domestic Bruto (PDB) perikanan Indonesia adalah Rp 184,25 triliun dan berkontribusi sebesar 2,14 persen terhadap PDB nasional. Hingga 2016, PDB sektor perikanan mencapai Rp317,09 triliun rupiah dengan kontribusi sebesar 2,56 persen.

 

Menteri asal Pangandaran, Jawa Barat itu juga menyebut jika stok ikan Indonesia juga naik dari 6,5 juta ton menjadi 12,6 juta ton serta Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang menjadi salah satu indikator kesejahteraan naik dari 104 menjadi 110. Tapi selain kebanggaan atas prestasi tersebut. Kita tidak bisa  menutup mata dan wajah atas tudingan, Indonesia sebagai penyumbang sampah ke laut nomor dua setelah China.

 

Tantangan krisis air bersih mendatang juga akan meningkat seiring pertumbuhan populasi manusia dan ketidakmampuan mengelola dan memilah sampah semisal popok bekas.Tapi yakinkan, malu itu bisa ditutupi dengan gerakan untuk perubahan lebih baik. Sangat ilusi berteriak-teriak perubahan tanpa tindakan yang mengarah pada perbaikan. QS Ar Rad 11 tegas menjelaskan: Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.

 

Persoalan di republik ini tidak akan selesai hanya dengan produksi celoteh, hastag (tanda pagar) politik, caci maki hingga fitnah. Persoalan Indonesia akan jauh berkurang dengan gerakan positif dilakukan bersama. Persoalan Indonesia secara bertahap akan mengalami purna dengan tanggungjawab yang berani diambil dan dilakukan.

 

Lingkungan hidup sebagai satu bagian penting masa depan manusia harus dikelola dengan baik. Seruan dan tindakan berkaitan dengan ekonomi dan lingkungan hidup juga pernah dilakukan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jauh sebelum menjadi orang nomor satu di Indonesia, Gus Dur berani mengkritisi rezim Orde Baru yang salah dalam pengelolaan sumber daya alam. Cucu KH Hasyim Asyari itu mendorong terwujudnya amanat UUD 1945 pasal 33: Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

 

Menjabat Presiden RI ke V, Gus Dur tidak saja membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mengelola sumberdaya perikanan dan kelautan. Tapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan gerakan menanam pohon di sejumlah pesantren. Selain itu, Gus Dur juga menggagas penebangan pohon di hutan dilakukan 10 tahun sekali untuk mengurangi eksplorasi dan memberi kesempatan tumbuhnya pohon-pohon baru (pengganti).

 

PBNU hari ini berbangga hati memiliki Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU). Satu dari 18 lembaga milik NU tersebut berkomitmen mendukung program Indonesia Bebas Sampah 2020. LPBI NU juga melakukan ijtihad (upaya sungguh-sungguh) mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai jual melalui Bank Sampah Nusantara. Ekonomi kreatif tanpa merusak sumber daya alam ala LPBI NU tersebut  pada April 2016 meraup keuntungan Rp206 juta setelah berjalan delapan bulan.

 

Suatu prestasi yang berhasil mewujudkan keputusan Muktamar NU ke-29, di Cipasung Tasikmalaya, 1994: Pencemaran lingkungan, baik udara, air maupun tanah, apabila menimbulkan dlarar (kerusakan), maka hukumnya haram dan termasuk perbuatan kriminal (jinayat).Prestasi yang layak dikampanyekan kontinu dan ditiru internal warga NU dan eksternal atau masyarakat secara luas.

 

Termasuk ayat-ayat Al Quran berkaitan dengan lingkungan hidup hingga ekonomi seperti QS Al-Jumu’ah ayat 10:  Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung, juga perlu disampaikan secara masif agar menjadi iklan positif baik dipengajian atau di media sosial. Bukankah lahirnya radikalisme akibat iklan ayat-ayat perang (ayat al-qital) yang disampaikan sepenggal sehingga publik gagal memahami secara utuh?

 

Umat muslim Indonesia harus optimistis. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, seperti termaktub dalam QS  Al-Insyirah ayat 5-6. Adapun setiap warga negara, sama-sama memiliki tanggung jawab untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Cita-cita kemerdekaan yang diikat oleh Pancasila dan UUD 1945 yang didirikan oleh pendiri negara dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam serta dukungan peradaban luhur yang ada, semestinya bisa menjawab beragam problematika, termasuk lingkungan hidup. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Cerahkan masa depan Indonesia dan dunia dengan kelestarian alam sebagai warisan peradaban sekaligus penopang ekonomi yang sejalan dengan Islam.

 

Islam Rahmatan Lil’Alamin dan peradaban Nusantara mengenai lingkungan hidup sepatutnya tidak hanya menjadi denting, namun juga gaung sebagaimana bunyi dan gerak politik. Sekali lagi, lingkungan hidup ialah masa depan. Tanpa ditopang lingkungan hidup yang baik, mustahil tercapai hidup, kehidupan dan peradaban yang baik. Indonesia membutuhkan gerakan positif untuk mengatasi permasalahan ketimbang produksi celoteh di setiap sudut media sosial.

 

Penulis: Nahdliyin. Koordinator Perkumpulan Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia wilayah Lampung.