Sabtu, 16 November 2019

GORONTALO BERHIJRAH: “LEGITIMASI” HIJRAH YANG SALAH KAPRAH

Selasa, 05 November 2019
oleh : Man Muhammad
Dibaca sebanyak 292 kali
Setelah terdengar kabar Nabi Saw telah sampai di Madinah, kaum muslimin yang berada dalam perlindungan Raja Negus di Habasyah –Ethiopia saat ini— langsung hijrah besar-besaran menyusul Rasulullah dari Habasyah menuju Madinah yang jaraknya sekitar 320 km.

Itulah mengapa, selain dikenal sebagai bulan kelahiran Rasulullah Saw, Rabiul Awwal juga terkenal dengan peristiwa hijrahnya Nabi Saw dari Makkah ke Madinah yang kemudian disusul oleh kaum muslimin yang mencari perlindungan di Habasyah menjadi awal mula langkah perubahan sejarah panjang dan perkembangan agama Islam. Peristiwa itu pula yang menginisiasi Umar bin Khattab saat menjadi khalifah kedua untuk memutuskan tahun “Hijriah” sebagai penanggalan yang digunakan dalam Islam dengan bersandar atas peristiwa tersebut.

Seiring berkembangnya waktu, sejarah juga pernah mencatat penggunaan kata ‘hijrah’ ini pernah dikembangkan sebagai konsep oleh golongan Khawarij saat terjadi fitnah besar yang menimpa umat Islam pasca terbunuhnya Utsman dan perseteruan yang berakhir dengan peristiwa tahkim atau arbitrase antara pasukan yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawwiyah bin Abi Sufyan.

Konsep ‘hijrah’ yang digunakan oleh Khawarij, bahwa setiap muslim harus ‘berhijrah,’ yaitu berpindah dan bergabung dengan golongan mereka. Jika ada yang menolak, maka mereka wajib diperangi sesuai dengan hukum yang berlaku terhadap mereka yang hidup dalam Daar el Harb (wilayah perang), sebab hanya golongan mereka –Khawarij— yang hidup dalam Daar el Islam (wilayah Islam).

Alhasil, pandangan tentang ‘hijrah’ yang dirumuskan oleh golongan Khawarij ini yang kemudian membuat mereka dengan gampangnya mengkafirkan sesama muslim, dan yang kafir berarti telah melakukan dosa besar dengan artian harus dilenyapkan.

Dewasa ini, pengertian hijrah sendiri sudah beragam. Jika merujuk ke KBBI ada tiga pengertian hijrah. Pertama, perpindahan nabi Muhammad Saw bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy. Kedua, berpindah atau menyingkirnya untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat yang lain yang lebih baik dengan alasan tertentu, keselamatan dan kebaikan, misalnya.

Ketiga, perubahan sikap atau tingkah laku ke arah yang lebih baik. Dalam artian lebih lanjut, sebagai proses perbaikan diri baik dari cara berpikir, cara berbicara, juga cara bersikap kepada sesama. Tetapi, di luar dari pengertian hijrah secara bahasa dan istilah yang ditetapkan oleh KBBI, ada beberapa pengertian hijrah yang menurut hemat saya merupakan pengertian ‘hijrah kebablasan’ seperti bablasnya konsep ‘hijrah’ yang pernah dirumuskan oleh golongan Khawarij di masa-masa terakhir kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib untuk menentang orang-orang yang berada di luar golongan mereka.

Berdasar beberapa pengertian di atas, juga dengan melihat maraknya penggunaan kata ‘hijrah’ hari ini, membuat hijrah menjadi sebuah ‘fenomena sosio-religius’ baru dalam entitas masyarakat yang kemudian diimprovisasi menjadi way of life dalam tindak-tanduk laku kehidupan sehari-hari.

Tidak ada yang salah memang. Tetapi, fenomena hijrah seakan berubah jadi suatu ritus keragaman dalam keberagamaan di Indonesia. Dan yang terpenting, diterima atau tidak, hijrah hari ini semacam bentuk lain dari tuntutan modernitas.

Selain substansi hijrah yang berkisar tentang keresahan seseorang yang ingin berubah menjadi lebih baik atas dasar agama, tetapi fenomena hijrah juga berbicara tentang orientasi keberagamaan yang ingin menunjukkan eksistensinya. Keinginan menunjukkan eksitensi inilah yang kemudian mengubah substansi makna hijrah yang sebenarnya.

Disadari atau tidak, hari ini saya acap kali menemukan para pelaku hijrah yang setelah berhijrah atas dasar ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, akan tetapi mengawali langkahnya dengan lebih memfokuskan diri ke arah orientasi eksistensi. Tak ayal, kefokusan terhadap eksistensi ini pula yang akhirnya menimbulkan kerenggangan sosial antar sesama.

Yang kemudian –hijrah yang lebih berorienstasi kepada eksistensi ini— melahirkan masalah dengan lebih suka bersikap truth claim (klaim kebenaran). Pergeseran substansi dari makna hijrah yang sebenarnya inilah yang saya katakan di atas merupakan suatu bentuk ‘hijrah kebablasan’ sama halnya konsep hijrah yang pernah dirumuskan oleh golongan Khawarij.

Alhasil, hijrah bukan lagi hanya sebatas fenomena sosial-religius, tapi juga berubah menjadi trend yang sangat digandrungi. Tidak masalah jika hijrah adalah sebenar-benarnya hijrah sesuai substansi dari makna hijrah itu sendiri.

Akan tetapi, semakin ke sini kita malah menemukan hijrah menjadi suatu bentuk legitimasi bahwa seseorang yang telah berhijrah itu lebih baik dari yang belum berhijrah. Lalu, dengan sendirinya tiba-tiba atas dasar hijrah meruahnya industri-industri yang memanfaatkan fenomena yang jadi trend ini sebagai lahan untuk berbisnis. Mencari simpati dan popularitas, atau menjadi lumbung suara bagi para politisi.

Akhirnya, –kesimpulan liar saya— hijrah hari ini semacam konteks perlombaan menuju siapa yang paling eksis. Festival atas nama hijrah yang diadakan di mana-mana sebagai ajang unjuk popularitas. Urusan penampilan pun menjadi tolok ukur dan alasan paling utama sebagai pembeda bahwa dia telah berhijrah. Dan menjadi lebih baik tidak lebih berarti sebelum penampilan terlihat menarik.

Gorontalo pun tak lepas dari fenomena yang lagi trend dan digandrungi ini. Sebagai daerah yang terkenal dengan sebutan Serambi Madinah dengan falsafah adat dan agama yang selalu bersanding seiring seirama pun terkena sindrom hijrah. Tersiar kabar bahwa baru saja ada festival ‘Gorontalo Berhijrah’ yang direstui oleh Pemerintah Kota Gorontalo –dalam hal ini diwakili oleh Wakil Walikota Gorontalo— dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gorontalo.

Dengan demikian, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemerintah dan MUI Gorontalo, saya hanya penasaran, ada apa dengan Gorontalo hingga harus berhijrah? Apakah dengan diadakannya Festival Gorontalo Berhijrah ini sebagai bentuk hijrah seperti halnya makna dan substansi hijrah yang pernah dilakukan oleh Nabi Saw dan para sahabat?

Jika begitu adanya, berarti Gorontalo dalam keadaan tidak baik-baik saja? Dan falfsah kita yang berlandas atas Al-Qur’an dan Sunnah hanya tinggal cerita? Atau, jika tidak begitu adanya, berarti Festival Gorontalo Berhijrah hanyalah konsep ‘hijrah kebablasan’ yang jadi lumbung pundi-pundi rupiah, memikat simpati dan mencari popularitas? Dalam artian, Gorontalo Berhijrah hanyalah sebatas ‘legitimasi’ hijrah yang salah kaprah.

 

Man Muhammad, Penulis adalah Gusdurian Gorontalo.