Rabu, 20 November 2019

GUS DUR PENGGERAK ISLAM INDONESIA

Kamis, 04 Juli 2019
oleh : Abdullah Alawi
Dibaca sebanyak 238 kali
Di akhir tahun 1990, majalah Editor edisi No 15/THN IV/22 Desember, menobatkan KH Abdurrahman Wahid sebagai penggerak Islam Indonesia. Kulit muka majalah itu memuat potret kiai yang biasa disapa Gus Dur itu dengan kepala tulisan Tokoh 1990, Tahun Bergeraknya Islam Indonesia. Proses penobatan dijelaskan pada rubrik Dari Editor. Menurut sidang redaksi yang berjumlah 18 orang keputusan yang menempatkan Ketua Umum PBNU waktu itu sebagai Tokoh Editor setelah mendapat nilai terbanyak (136) dan menyisihkan 6 finalis lain.
 
Beberapa kriteria nominator diantaranya, orang yang jadi berita (news maker) sepanjang tahun. Tak hanya itu, orang tersebut mesti tampil secara positif dalam pemberitaan pers secara nasional. Maksudnya, gagasannya orisinal, inovatif , kreatif dan, kontroversial. Yang juga penting, mestilah tokoh yang tahan dan tak takut menghadapi kritik.
 
Di tahun 1990-an, terdapat kasus-kasus yang mendapat perhatian banyak kalangan, misalnya kasus angket tabloid Monitor dan bukunya Salman Rusdhi, The Satanic Verses.
 
Angket Monitor
Umat Islam Indonesia marah atas hasil angket tabloid Monitor. Berdasarkan angket tersebut, Nabi Muhammad SAW berada di nomor sebelas, lebih tinggi dari Soeharto. 
 
Terkait kasus itu, Gus Dur dalam menanggapinya melalui esai berjudul Kasus Gila dan Gila Kasus di Editor edisi No. 8/THN. IV/3 November 1990. Dalam esai sepanjang dua halaman itu, Gus Dur berpendapat sederhana saja: kesembronoan dan kepekaan berlebih.
 
Kesembronoan Monitor dalam menentukan cara penyelenggaraan angket. Juga sembrono pengungkapan angket itu. Karena angket itu bisa jadi Kusni Kasdut (residevis tahun 80-an) lebih populer dari Pak Harto atau Bung Karno. 
 
Masalahnya, kesembronoan itu bertemu dengan kepekaan berlebih umat Islam, ada perasaan kuat bahwa Islam terpojok. Pangkalnya, kurang rasa percaya diri. Kesembronoan bertemu dengan kepekaan berlebih. Kasus gila bertemu gila kasus. Bagaikan api ketemu mesiu, meledaklah segalanya. SIUPP Monitor dicabut. Asrwendo dipecat dalam segala macam jabatan bisnis jurnalistik, termasuk dari keanggotaan PWI. Dia pun ditahan Polda Metro Jaya.
 
“Semua seolah-olah berlomba menjadi pahlawan pembela Islam,” ungkap Gus Dur.
 
Gus Dur melanjutkan, hebat benar anak muda (Arswendo) itu sampai harus dihadapi tokoh-tokoh seperti Mensesneg Moerdiono, Ketua Umum MUI KH Hasan Basri dan Nurcholish Madjid.
 
Gus Dur mengingatkan, Nabi Muhammad SAW tidak akan turun derajatnya karena angket Monitor. 
 
Kasus Salman Rusdhie
Majalah Editor edisi No 28/THN. II/11 Maret 1989 memuat berita semacam pengadilan in absentia terhadap Salman Rusdhie atas karya Ayat-Ayat Setan yang menggemparkan.
 
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah waktu itu, Luqman Harun yang paling vokal dalam menanggapi kasus itu, sebagai jaksa penuntut umum. Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU, didaulat jadi pembela tanpa mandat. Sementara Quraish Shihab, ahli tafsir dan ketua MUI pusat, Syu’bah Asa dan Danarto, menjadi saksi. Majelis hakim berjumlah sepuluh orang, tim redaksi Editor.
 
Perdebatan berputar pada pertanyaan, perlukah Salman Rusdie dihukum mati? Perlukah bukunya dilarang, atau dibiarkan bebas beredar?
 
Menurut Editor yang termuat di kolom Berita Khusus, perdebatan berlangsung ketat, seru dan menarik. Apalagi antara Luqman Harun dan Gus Dur.
 
Menurut Luqman, buku itu jelas-jelas menghina umat Islam. Penggambaran tentang para istri Nabi yang dianggap pelacur sebagai kekurangajaran yang tak bisa ditolerir. Terlebih gambaran Aisyah. 
 
Menurut Editor, Gus Dur yang berkacamata lebih tebal daripada Luqman tenang-tenang saja. Menurutnya, Ayat-Ayat Setan merupakan novel indah dan orisinil. Mungkin novel terindah abad ini. Dari segi sastra, novel ini sangat bagus. Imajinasinya hebat.
 
Mendengar pendapatnya, kontan peserta sidang terperanjat. Sementara Gus Dur asik membolak-balik kopian novel itu.
 
“Mari kita lihat lebih lapang. Ini sebuah novel, karya sastra yang harus dipahami secara sendiri. Membaca novel tidak sama dengan membaca statement. Soal isinya yang menghina Nabi, saya sendiri juga tidak setuju,” ungkap Gus Dur sambil melirik Luqman di sebelahnya.
 
“Apa bedanya dengan Sidartha-nya Hella S. Hasse, Ernest Hemingway atau William Faulkner, yang juga berisi renungan. Plotnya sederhana. Namun kemudian ditarik melalui berbagai persoalan imigran yang lantas menjadi keruwetan tersendiri. Di situlah kemudian muncul imajinasi-imajinasi aneh yang melenceng dari fakta,” lanjut Gus Dur.
 
“Celakanya, keseluruhan novel itu jadi tidak fair terhadap Islam. Kelihatannya ia ingin memperlihatkan ketidakislamannya melalui novel itu,” tambahnya. 
 
Bagi Gus Dur, Salman diibaratkan orang gila yang melempar masjid. Apa orang macam itu harus dibunuh? Lebih baik diingatkan atau ditertawakan saja. Reaksi keras umat Islam disebabkan kondisi mereka labil hingga menjadikannya sensitif pada masalah-masalah.
 
Gus Dur mencontohkan, di Amerika Serikat pernah ada pengarang yang menulis Hagarisme, salah satu sekte Yahudi yang berdasar dari Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Dan orang Yahudi tidak ribut sebab mereka sudah mengonotasikan buku itu salah. Sama saja orang membaca buku Stalin tentang Tuhan. Orang hanya geli membacanya.
 
“Dengan cara itulah seharusnya kita melihat novel itu. Saya tidak percaya ada orang murtad karena membaca buku Satanic Verses.”
 
Pendapat Gus Dur yang demikian sebenarnya tidak aneh, karena ia memang menggandrungi novel. Tentu ia tahu bagaimana cara memahami dan memperlakukan karya sastra. Dalam liputan Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember, ada satu cita-cita Gus Dur yang belum kesampaian. 
 
“Saya Ingin mengarang novel tentang keluarga besar Jombang. Tentang orang-orangnya, dengan desa-desanya, keislamannya,” ungkapnya.
 
Di tahun-tahun itu Gus Dur memang paling berani dalam mengemukakan gagasan dan pemikirannya seperti konsep pribumisasi Islam, rukun sosial, etika bermazhab. Jauh sebelumnya, ia memperkenalkan kiai dan dunia pesantren dalam perbincangan ilmu sosial. Ia juga mendorong NU jadi ormas pertama yang menerima Pancasila sebagai dasar negara. Dan anehnya, sebagai orang berpikiran luas, ia tak mau bergabung dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
 
Dalam Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember, Gus Dur menjelaskan persoalannya. “Kenapa saya tidak hadir ke kongres ICMI di Malang? Lebih dikarenakan adanya pembatasan pada nama-nama yang diundang. Sepertinya hanya mereka yang 'Islam masjid' yang boleh masuk ICMI, sementara mereka yang disebut 'Islam alun-alun' sama sekali tidak diajak. Baik sebagai eksponen maupun pembawa makalah. Padahal siapa orang Islam di Indonesia yang sekarang bisa bicara tentang kebudayaan dengan meninggalkan Umar Kayam dan Mochtar Lubis?”
 
Gus Dur bersama sahabat-sahabatnya malah mendirikan Forum Demokrasi (Fordem).
 
Karena gagasan dan tindakan-tindakannya itu, Aswab Mahasin, Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember menulis Gus Dur, Pilihan untuk Sebuah Jembatan Budaya. Intinya Gus Dur menolak kekerasan terhadap siapa pun apalagi negara turut andil di dalamnya. Pilihannya yang demikian tentu saja risikonya tidak populer, dihujat banyak orang. Bahkan oleh kalangan NU sendiri. Suaranya yang bening, lenyap dalam riuh-rendah suara-suara lain yang lebih keras dan populer.