Jumat, 15 November 2019

GUS DUR: TIAP ORANG BOLEH MENCARI KEBENARANNYA SENDIRI-SENDIRI.

Senin, 04 Maret 2019
oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Dibaca sebanyak 1195 kali
Peranan agama adalah memahami keadaan-keadaan sekarang dan mencarikan jawaban-jawaban atas permasalahan yang ada. Inilah yang harus kita renungkan. Sebuah keadaan dimana klaim-klaim diajukan tentang kebenaran. Klaim ini tidak berbeda jauh, tetapi cara memahaminya keliru.

Seperti misalnya tentang HAM. Alqur’an mengajuakan sebuah wawasan. “Hari ini telah Kusempurnakan nikmatKu untuk kamu. Kemudian telah Kurelakan bagimu Islam sebagai agamamu”. Itu Qur’an yang mengatakan. Di dalamnya sama sekali tidak ada anggapan merendahkan agama lain. Kan bicara tentang Islam.

Lalu, Islam ini menjadi bagian dari pengalaman kemanusiaan kita. Tetapi, itu tak jarang dipakai untuk menggempur kepercayaan atau keyakinan lain. Ini salahnya di situ. Salah memanfaatkannya. Bukan kata-katanya. Sebab, kalau yang mengerti betul kata-kata tadi, itu bahwa prinsip “Hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian” artinya agama kalian itu mempunyai prinsip-prinsip untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia. Karena itu maka “telah Kuberikan nikmat kepada kalian”. Dan, karena dapat nikmat seperti itu “Kurelakanlah Islam bagi agama kalian.” Sama sekali tidak ada penghinaan atau menganggap rendah agama lain. Dengan kata lain, tiap orang boleh mencari kebenarannya sendiri-sendiri. Qur’an sendiri yang mengakui demikian. Ini seringkali salah jalan.

Al-Qur’an itu ungkapan yang paling sederhana “Lakumdinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Itu kan sudah jelas. Ini kan pengakuan. Pengakuan bahwa tiap agama boleh hidup dan harus saling hormat-menghormati: harus sanggup hidup berdampingan secara damai: berunding mengenai apa yang menjadi masalah-masalah kita bersama. Kemudian, atas dasar itu kita mencoba untuk memperbaiki kehidupan yang kita tuntut selama ini.

KH. Abdurrahman Wahid, dalam buku “90 menit bersama Gus Dur: 2016”. Transkrip dialog bersama Gus Dur yang diikuti sekitar 300 tokoh berbagai kelompok lintas SARA yang ada di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Nantikan tulisan-tulisan selanjutnya tentang nilai dan pemikiran Gus Dur. (au).