Minggu, 21 April 2019

GUS DUR DAN “WA’TASHIMU BI HABLILLAHI JAMI`AN WALA TAFARROQU”

Selasa, 29 Januari 2019
Dibaca sebanyak 1986 kali
Gus Dur menyebutkan bahwa: “Kitab suci kita menyatakan: “Berpeganglah kalian kepada tali Allah secara menyeluruh, Dan janganlah terpecah-belah/saling bertentangan (wa’ tashimû bi hablillâh jamî’an walâ tafarraqû)” (QS Ali Imran [3]:103). Islamku Islam Anda Islam Kita, hlm. 29 Ayat ini mengandung penafsiran-penafsiran tentang kata Hablullah, seperti disebutkan dalam Ad-Durrul Mantsur (III: 710), demikian: Al-Qur’an/Kitabullah, Ahlu Bait, al-Jama`ah (taat dan al-Jama`ah), dan al-Islam. Sedangkan berhubungan dengan perintah “berpegang teguh” (wa’tashimu), maknanya adalah: “Taat kepadanya” (Imam al-Hasan), berpegang dengan janji Alloh dan perintah-Nya (Qotadah); ikhlas lillahi ta'ala wahdah (Abul Aliyah). Dan menafsirkan “wala tafarroqu”: “Al-ikhlas wakunu `alaihi ikhwanan”, supaya dalam menjalani Islam itu dengan dasar ikhlas dan menjadikan orang lain sebagai saudara dan senang dengan persaudaraan.

 

 

Beberapa di antaranya, saya kutip di sini:

1. Ibnu Masud menjelaskan “Hablulloh itu Al-Qur’an” (Thabrani-9032 dan berbagai riwayat lain); dan “Hablullah itu al-Jama’ah” (Thabrani-9033, Ibnu Jarir-V: 644, Said bin Manshur- V: 644, dan berbagai riwayat lain yang mengacu pada khutbah Ibnu Mas`ud); taat dan jamaah, karena keduanya adalah Hablullah yang diperintahkan-Nya (HR. Ibnu Jarir-V: 648 dan Ibni Abi Hatim-3916).

2. Dari Abu Said al-Khudri berkata, Rasululloh bersabda: “Kitabullah adalah Hablullah al-mamdud minas sama’ ilal ardhi” (HR. Ibnu Abi Syaibah-X: 506 , Ibnu Jarir-V: 646, dan Shohih al-Jami-4349).

3. Dari Zaid bin Arqom Rasulullah bersabda: “Saya meninggalkan kepada kalian semua, Kitabullah, dia itu Hablullah, barangsiapa yang mengikutinya berada dalam petunjuk, dan barangsiapa yang meningalkannya dia berada dalam kesesatan” (HR. Ibnu Abi Syaibah-X: 5050 dan Thabrani-4980-4982).

4. Zaid bir Arqom juga meriwayatkan Rosululloh bersabda soal ats-tsaqolain (dua pusaka), Rosullah bersabda: “Al-Akbar Kitabullah… wal ashghar Ithroti…” (HR. Thabrani-2681); dan Abu Said al-Khudhri juga meriwayatkan dari Nabi soal pusaka yang ditinggalkannya adalah “Kitabullah” dan “Ithrotu ahlibati” (HR. Ahmad-11104 dan Thabrani-2678, 4969, dan 4971).

5. Ibnu Zaid menafsirkan, ayat ini dengan “al-Islam” (HR. Ibnu Jarir-V: 646).

Gus Dur menafsirkan ayat di atas, dalam konteks menjelaskan terjadinya banyak perbedaan pandangan di kalangan umat Islam, karena memiliki peluang yang mendasar dari sumber-sumber naqli sendiri. Gus Dur menyebutkan begini: 

“Di lihat dari berbagai pengertian, seperti diterangkan di atas, jelaslah bahwa ribuan sumber tertulis (dalil naqli), baik berupa ayat-ayat kitab suci Al-Quran maupun ucapan Nabi Muhammad Saw, akan memiliki peluang-peluang yang sama bagi pendapat-pendapat yang saling berbeda, antara universalitas sebuah pandangan atau partikularitasnya di antara kaum muslimin sendiri. Dengan demikian, menjadi jelaslah bagi kita bahwa perbedaan pendapat justru sangat dihargai oleh Islam, karena yang tidak diperbolehkan bukannya perbedaan pandangan, melainkan pertentangan dan perpecahan” (Islamku, hlm. 28).

Pada tataran ideal, Gus Dur mengingkan bahwa perbedaan pandangan di kalangan muslim itu merupakan kenyataan yang dihasilkan dari pemahaman terhadap sumber-sumber naqli sendiri, seperti terhadap ayat-ayat Al-Qur’an ( disamping tentu ada faktor-faktor lain). Pada kahirnya menjadi jelas, dari sudut ayat-ayat Al-Qur’an sendiri sebagai Hablullah, masih mengandung kemungkinan ditafsirkan di dalam hal-hal yang diperselisihkan oleh kelompok-kelompok di dalam Islam sendiri. Terlebih lagi kalau Hablullah itu merujuk pada Ithrotu Ahli Baiti, yang sebagai manusia mereka adalah tidak ma’shum (kecuali pandangan di kalangan Syiah tentang imam-imam mereka), dan memiliki tendensi-tendensi basyariyah dan kelemahan-kelemahan sebagai manusia.

Terlebih lagi kalau Hablullah itu merujuk pada kelompok terbesar al-Jama’ah (sebagus apa pun prinsip-prinsipnya, apalagi pada kelompok yang terkecil dan sempalan yang lebih kecil), mereka tetap terkena arus deras perubahan sistem sosial dan kepentingan kelompok. Hal ini membawa pengertian bahwa tentu lebih jelas lagi untuk bisa melihat kenyataan demikian dengan optic kearifan, dan kelirunya memilih jalan hidup menang sendiri dengan memaksakan kehendak, serta tidak menghargai ksepakatan-kesepakatan di dalam sistem sosial.

Dari sudut menjadikan ayat “wa’tashimu” di atas sebagai prinsip hidup seorang muslim dan komunitas-komunitas Islam, maka yang diperlukan adalah kemauan lapang dada, saling mau mendengar, dan mau hidup berdampingan, dan mau hidup dalam ketidaksepakatan pendapat. Dari sudut ini, orang harus menghargai perbedaan pandangan, dan perbedaan pandangan itu penting dalam sebuah komunitas. Apalagi mengingat sejumlah ayat dan teladan Nabi agar umat Islam saling menghormati, tidak saling merendahkan, dan tidak saling menghina, tajassus, dan menjalankan ukhuwwah dalam kehidupan mereka.

Lebih dari itu, yang lebih jelas, adalah kenyataan bahwa hidup berdampingan itu menghendaki masing-masing kelompok itu, mau mengedepankan musyawarah di dalam urusan bersama, seperti negara, dan antaramasyarakat, dan mencari konsensus. Dengan musyawarah mencapai konsensus dalam berbagai maslaah yang diperlukan, akan mendatangkan, legalitas dukungan hidup bersama itu menjadi kuat dan kokoh. Pada saat yang sama, setiap kelompok harus mau menghargai konsensus-konsensus yang telah ada yang telah mereka buat, dan karenanya kebebasan indvidual mereka atau kelompok, terbatasi oleh konsensus bersama dalam lalu lintas antarmasyarakat dan antara masyarakat dengan negara.

Pada sudut praktis, Gus Dur mengingatkan, adanya larangan “tafarroqu” pertentangan-keterpecahbelahan, yang disebutnya sebagai malapetaka. Di antara sumber dari tafarroqu yang mengarah pada pertentangan-keterpecahan adalah, melakukan adu domba, meremehkan orang lain, mencaci maki, dan sejenisnya. Karenanya, dari sudut ini Gus Dur menyebutkan: “Perbedaan, yang menjadi inti sikap dan pandangan perorangan harus dibedakan dari pertentangan dan keterpecah-belahan dari sebuah totalitas masyarakat,” dimana yang terakhir ini tidak diperbolehkan.

Upaya menghilangkan keterpecahan-pertentangan itu, juga menghendaki dihilangkannya upaya pemaksaan-pemaksaan untuk menerapkan satu pandangan kepada masyarakat, melalui jalan kekerasan, combatan, dan bom bunuh diri, selain dari apa yang telah disepakati dalam konsensus. Dalam sebuah negara, hal ini mewujud dalam konstitusi, UU, dan dasar Negara yang disepakati. Upaya-upaya pemaksaan dan mau menangnya sendiri harus dicegah, ditindak melalui legalitas hukum dan kekuatan aparat yang menjalankan, untuk dikembalikan kepada ketundukan pada konsensus bersama. Sebab bila tidak demikian, akan ada tasalsul, tidak berkesudahan, mereka yang ingin mempertahankan konsensus akan berupaya dengan cara mereka sendiri, dan mereka yang tidak mau tunduk pada konsensus dengan melakukan konfrontasi terus menerus.

Di antara bentuk yang lain, dari larangan tafarroqu, adalah menyempal dari ketaatan kepada Ulil Amri dan mengorganisir bughot, tidak berhenti hanya pada amar ma’ruf bilma’ruf dan nahyul munkar bilma’ruf. Dalam keadaan seperti ini, harus diupayakan perdamaian membawa kepada ketaatan kepada al-Jama`ah. Dalam kasus DI/TI, Gus Dur sering menyebut upaya para ulama yang diutus pemerintah untuk membujuk mereka kembali ke pangkuan Republik. Dalam buku Holk H Dangel berjudul Kartosoewirjo juga disebutkan upaya-upaya para ulama telah dilakukan, di antaranya dilakukan oleh KH. Muslih dari Jawa Tengah. Ketika upaya-upaya ini tidak didengarkan dan tidak membuahkan hasil, maka pintu mudharat perlu ditutup, dan kaum bughot ditundukkan melalukan kekuatan senjata dan kekuatan pemikiran.

Dari hal demikian, “wa’tashimu bihablillah” itu menghendaki masyarakat Islam untuk menyadari bahwa mereka hidup bersama banyak orang, banyak kelompok lain, dan komunitas, yang memiliki aspirasi-aspirasi. Maka dari sudut ini, diperintahkan setia pada konsensus dan memperbaiki terus menerus kekurangannya sebagai ketataan kepada Ulil Amri. Hal ini mengharuskan kepada mereka untuk: ketat kepada dirinya sendiri, tetapi memperlonggar ketika berinteraksi kepada orang lain, bukan sebaliknya; menghendaki melihat kelompok-kelompok lain, dalam batas minimal seorang muslim, yaitu syahadat dan rukun Islam yang lima, sementara aspek-aspek lain yang berdimensi publik adalah urusan kolektif dan banyak kelompok yang memerlukan musyawarah, sehingga mereka perlu menjadi bagian terpenting dari itu, bukan malah memencil.

Dari sudut itu, akan menjadi jelas, bahwa masyarakat muslim yang kuat, pada akhirnya harus mengerti hukum sosial kerja-kerja kelompok, dimana mereka yang memiliki kekuataan dalam sistem sosial, juga akan banyak berkiprah di masyarakat dan bermanfaat. Dan kekuatan yang demikian, diwujudkan bukan melalui banyaknya mobilisasi umat untuk hal-hal politik simbol, tetapi sejauh mana, umat Islam dan masyarakat Islam, mampu menjadi kekuatan nyata ekonomi, kekuatan nyata sains, kekuatan nyata ilmu-ilmu bangunan, kekuatan nyata sastra-seni kebudayaan, kekuatan nyata akhlak dan kearifannya, juga pandangan-pandangan filosofinya; kekuatan nyata pendidikan dan pilar-pilarnya; kekuatan mempengaruhi proses musyawarah di parlemen, melalui suara. Dan, yang lebih penting, adalah kekuatan sesungguhnya yang diwujudkan melalui kekuatan mampu menahan gejolak nafsu mau menangnya sendiri.

Maka “wa’tashimu bihablillah jami`an wala tafarroqu” itu, pada akhirnya berpulang kepada masyarakat muslim sendiri, dengan berpijak pada dalail Al-Qur’an itu: apakah hanya senang menjadi buih yang terombang-ambing, meski jumlahnya besar, tetapi kekuatannya kecil, ditundukkan oleh gelombang ke sana ke mari; lebih tertarik dengan narasi-narasi hoaks yang saling meruntuhkan satu sama lain; dan tidak mau menghargai kelompok-kelompok yang lebih besar di tengah masyarakat; ataukah mereka akan segera menyadari betapa pentingnya kekuatan yang sesungguhnya, di bidang-bidang yang disebutkan di atas. Wallohu