Rabu, 18 Oktober 2017

GUS DUR, HTI, DAN KITA

Kamis, 20 Juli 2017
oleh : M. Nurkhoiron
Dibaca sebanyak 544 kali
Apa yang membedakan Gus Dur dengan generasi muda NU saat ini? Harus diakui banyaknya anak muda NU yang memiliki wawasan terbuka dan inklusif baik di bidang keagamaan dan kebangsaan tidak lain karena pengaruh yang sangat besar dari sang maha guru Gus Dur. Namun menurut saya tetap terbentang perbedaan yang sangat tajam antara pemikiran dan sikap Gus Dur dengan anak anak muda NU saat ini. Gus Dur lahir dan besar di lingkungan NU yang mengalami masa trauma paling kelam dalam menghadapi kelompok komunis. Puncaknya pada tahun 1965 NU dan komunis berhadapan secara diametral sehingga menimbulkan pertumpahan darah yang tidak sedikit.

Meskipun di kalangan NU juga terjadi korban nyawa dan harta, namun dibandingkankorban dari orang-orang komunis, jumlahnya tidak seberapa. Gus Durlah satu satunya orang yang berani menyatakan minta maaf dan meminta semua pihak melakukan rekonsiliasi untuk menatap bangsa ke depan menjadi lebih baik, dan perlunya mencatat sejarah kelam masa lalu sebagai kesalahan sejarah yang tidak perlu diulangi lagi. Istilah Gus Dur adalah wrong turn, suatu titik balik sejarah bangsa yang mengalami pembelokan. Menurut GD, pembelokan ini semakin dibiarkan belokannya akan semakin susah untuk diluruskan. Segeralah diperbaiki. Atas dasar itu juga, GD minta supaya TAP MPR XXV 1966 segera dicabut. 
 

Sayang, gagasan Gus Dur tidak diterima. Bukan saja oleh salah satu tokoh kiri yang sangat disegani, Pramodya Ananta Toer, tapi juga di kalangan NU dan saudara-saudara Gus Dur sendiri. lantaran keberanian Gus ini, beliau didemo oleh kelompok Islam dan khususnya oleh orang-orang NU . Bahkan akhirnya GD dilengserkan. 

Hari ini, sebagian besar murid murid Gus Dur, entah yang murid beneran atau yang mengaku ngaku ramai-ramai menyetujui Perpu No.2 Tahun 2017 yang di dalamnya menegaskan kembali ormas beraliran Komunisme/Leninisme dapat dibubarkan (pasal 59) bahkan dipidanakan secara sepihak oleh pemerintah. Meskipun Perpu ini didalihkan untuk membubarkan organisasi HTI, nyaris tidak ada bahasa khusus yang tujuan daripada pembentukan Perpu adalah untuk membubarkan organisasi semcam HTI. Bahkan merujuk kembali pada pasal 59 ayat 3, yang sebenarnya sudah ditampung juga di dalam UU No. 17 Tahun 2013 Tentang Ormas, Perpu menegaskan larangan ormas melakukan penistaan agama. Siapa saja yang akan menjadi korban korban Perpu yang kelak dianggap menistakan agama? tentu saja kelompok-kelompok minoritas agama/aliran kepercayaan. Kelompok inilah yang kerap mendapat perlindungan dan kerap mengadu ke Gus Dur. Fakta menunjukkan bahwa kelompok inilah yang selalu menjadi sasaran daripada penggunaan UU penodaan agama. 

Sayangnya, para murid Gus Dur bukannya ikut mengkritisi kebijakan ini, mereka malah mendukung kebijakan otoriter yang berpotensi melemahkan kebhinnekaan. Buktinya, setelah saat ini HTI dibubarkan, belum ada satupun kelompok yang mendukung Perpu karena bersetuju membubarkan HTI ikut angkat suara menyudahi Perpu. 

Jadi beda Gus Dur dan generasi NU saat ini adalah, Gus Dur melampaui zamannya dalam memikirkan visi keindonesiaan, keislaman yang lebih toleran, beradab sekaligus berpikiran kosmopolitan sementara murid murid nya (entar murid beneran atau mengaku ngaku) hendak membawa zaman kini kembali pada zaman Orde Baru: suatu era politik dimana Gus Dur sendiri tidak menyukainya dan ingin mengubahnya. 

 

Betulkah demikian?

Wallahu alam bissowab

 

 

 

M. Nurkhoiron

 

Komisioner Komnas HAM