Kamis, 27 Juni 2019

GUS DUR DAN SIMPONI KE-9

Kamis, 04 April 2019
oleh : M Muhammad Putra
Dibaca sebanyak 2303 kali
Kematian adalah tragedi kehidupan yang memilukan bagi manusia. Sebisa mungkin manusia menghindarinya. Namun, kematian adalah keniscayaan bagi makhluk yang bernyawa. Tak pandang bulu; tua-muda, kaya-miskin, kuasa-lemah, pandai-bodoh, tak luput dari yang namanya kematian.

Akan tetapi, bagaimana jadinya jika tuhan memberikan isyarat bahwa kematian telah begitu dekat dengan kita; dalam hitungan jam, menit, atau detik. Bila demikian, apa yang akan kita lakukan menjelang akhir kehidupan ini? Mungkin, kita akan menghabiskan waktu untuk berdoa agar diampuni segala dosa oleh Tuhan, meminta dikelilingi oleh orang-orang terkasih, atau mungkin kita panik tak tahu apa yang bisa diperbuat. Namun, ada kejadian menarik ihwal kematian seorang manusia. Kejadian itu terjadi pada diri Gus Dur.

Menjelang wafat, Gus Dur sempat mengalami masa kritis, dan di saat inilah kejadian menarik, unik, sekaligus misterius pun terjadi. Pasalnya, sebagaimana kesaksian Bambang Susanto, wakil bendahara umum PKB yang pada saat itu ikut menemani Gus Dur di RSCM. Saat Gus Dur kritis dan dirawat di RSCM, dia meminta didengarkan musik klasik karya Ludwig Van Beethoven, tepatnya simponi ke-9.

Saat itu, kerabat dan sanak keluarga hanya dapat memantau Gus Dur dari TV yang dipasang diluar ruangan. TV itu menampilkan kondisi terkini Gus Dur. Semua orang terlihat cemas menunggu kabar dari tim dokter. Sore hari, salah seorang dokter keluar ruangan, dan meyampaikan permintaan Gus Dur pada keluarga. Gus Dur meminta kaset CD musik klasik, Ludwig Van Beethoven miliknya diputar.

Tak berselang lama, salah seorang kerabat membawa kaset CD Beethoven, simponi ke-9. Kaset ini langsung diputar dan didengarkan oleh Gus Dur. Dari layar TV seluruh kerabat yang menemani Gus Dur dapat melihat dirinya sedang mendengarkan musik dengan headset dikupingnya. Banyak yang mengira bahwa permintaan Gus Dur mendengarkan musik adalah isyarat baik, bahwa ia telah melewati masa kritis.

Namun, dugaan ini meleset, sekitar pukul 18.45 WIB, kurang empat jam dari Gus Dur mendengarkan musik tersebut, dirinya meninggal dunia. Lagu simponi ke-9 karya komposer termashur Ludwig Van Beethoven adalah musik yang menemani Gus Dur di akhir hidupnya. Tentu permintaan Gus Dur tersebut mengundang tanda tanya besar, mengapa seorang Kiai pemimpin organisasi islam terbesar di Indonesia meminta mendengarkan musik klasik karya Beethoven menjelang akhir hayatnya?

Gus Dur dan Musik Klasik

Semenjak sekolah dasar, Gus Dur telah jatuh hati pada musik klasik, khususnya karya-karya Beethoven. Bahkan, sejak hari pertama ia mendengarnya untuk pertama kali. Orang yang pertama kali memeperkenalkan Gus Dur dengan musik klasik adalah Williem Iskandar Bueller, seorang Jerman, temannya saat tinggal di Jakarta (Greg Barton: 2017).

Sejak saat itu, Gus Dur terpesona oleh perpaduan irama, melodi, dan harmoni yang dihasilkan musik klasik, terutama simponi ke-9 karya Ludwig Van Beethoven. Bagi Gus Dur, simponi ke-9 merupakan penggambaran kehidupan Beethoven yang penuh dengan perubahan-perubahan dan perjuangan keras. Ia menggapai kegembiraan dengan mengarungi badai kesulitan. Para pendengarnya menyebut simponi ini sebagai “the inhuman voice”. Kalimat itu sering Gus Dur sampaikan untuk menceritakan mengapa dirinya begitu menyukai simponi ke-9 Beethoven. Sekiranya, itulah kesaksian Abdul Wahid Maryanto orang dekat Gus Dur.

Kecintaan Gus Dur pada musik klasik dapat kita lihat saat dirinya mengundang Ananda Sukarlan, seorang komposer International, asal Indonesia. Ananda Sukarlan diundang khusus untuk memainkan komposisi-komposisi klasik karya Betthoven di Istana Negara. Dan Ia menjadi musisi pertama yang kembali pentas di Istana Negara setelah sebelumnya, di masa orde baru tak pernah lagi musisi manggung di istana negara.

Selain itu, pementasan musik klasik di istana digunakan sebagai sarana diplomasi ke negara-negara lain, terutama negara Eropa. Karena Gus Dur tahu betul, bahwa musik klasik adalah tradisi yang mengakar pada kebudayaan masyarakat Eropa sejak abad ke-9 sampai abad ke-21. Meskipun sebenarnya, musik klasik begitu besar pengaruhnya hingga keluar Eropa, khususnya simponi ke-9.

Pada perjalanannya, simponi ke-9 dimaknai sebagai musik pembebasan dengan spirit humanisme di dalamnya. Berbagai momentum bersejarah, simponi ke-9 ikut mengiringi perjuangan. Sebagaimana para demonstran di Chile menyanyikan lagu ini ketika menentang pemimpin diktator Pinochet; di lapangan merah, Tianamen manakala ribuan mahasiswa melakukan demonstrasi lagu ini pun dinyanyikan; Leonard Bernstein menggelar konser tatkala memperingati runtuhnya tembok berlin; di Jepang lagu ini diputar saat memperingati Tsunami besar yang menerjang negeri matahari terbit itu; dan Uni Eropa menggunakan lagu ini sebagai anthem organisasi yang menaungi negara-negara Eropa.

Musik simponi ke-9 benar-benar memberikan dampak magis bagi yang mendengarnya. Bahkan, ketika simponi ke-9 ini pertama kali didengarkan di Wina, tepatnya di Gedung Teater Karntnertor pada 7 Mei 1824. Ratusan orang yang menyesaki ruangan tersebut terkesima sembari dibarengi dengan gemuruh tepuk tangan dan isak haru. Seorang komposer tuli benar-benar memukau semua orang, bukan hanya di gedung Teater Karntnertor ataupun di Wina, tapi selanjutnya diseluruh dunia.

Alunan melodi simponi ke-9 mencitrakan musik yang penuh gairah, energik, dan memberontak. Para penikmat musik klasik bahkan mengartikulasikan melodi simponi ke-9 sebagai wujud rasa cinta pada alam serta penolakan terhadap norma-norma klasik abad ke-18. Seorang filsuf psikoanalitik Slovenia, Slavoj Zizek bahkan menilai, bahwa melodi indah yang diciptakan oleh Beethoven, terutama dalam bagian “ode to joy” yang diartikan sebagai “ode” “kemanusiaan”, seperti persaudaraan dan kebebasan bagi semua manusia, begitu mengejutkan. Karena melodi dalam lagu ini memiliki kemampuan adaptasi universal yang luar biasa.

Lagu ini dapat digunakan untuk gerakan politik yang sebenarnya sama sekali bertentangan. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nazi dalam acara besarnya yang selalu memutarkan lagu ini; Di Uni Soviet lagu ini menjadi semacam lagu populer bagi negara komunis; selama revolusi kebudayaan di China, yang hampir seluruh lagu barat dilarang untuk didengarkan, namun simponi ke-9 diperbolehkan; pada ekstrem kanan, di Rhodenesia Selatan, sebelum menjadi Zimbabwe, menggunakan “ode to joy” sebagai lagu kebangsaanya, tentu dengan mengganti liriknya terlebih dahulu.

Abimael Guzman, pemimpin dari “Sendero Luminoso” seorang gerilyawan ekstrem kiri di Peru pernah ditanya wartawan “apa yang menjadi musik favoritnya?” lagi-lagi Beethoven sebagai jawaban, tentu dengan simponi ke-9 “ode to joy”; saat Jerman masih terbelah, antara jerman barat dan timur ke dua tim olahraga mereka bertemu di Olimpiade dan salah satu Jerman memenangkan medali emas, lagi-lagi simponi ke-9 “ode to joy” yang dikumandangkan dari pada salah satu lagu kebangsaan Jerman Barat atau Timur yang didengarkan.

Dari seluruh penggunaan lagu simponi ke-9 “ode to joy” persaudaraan universal yang mengerikan dapat kita lihat, ungkap Zizek dengan sinis, “dimana Osama bin Laden dapat merangkul Presiden Bush, Saddam Husein merangkul Fidel Castro, kulit putih memeluk Mao Tse Tsung dan mereka menyanyikan ‘ode to joy’ bersama-sama”. Inilah sebenarnya yang terjadi pada setiap ideologi, yang terbuka pada setiap kemungkinan. Zizek menganalogikan bahwa ideologi bekerja seperti perut kita atau kontainer kosong yang merasakan hal yang sama, ketika kita mengalami kesedihan dan mengatakan “ya Tuhan, aku merasa tergerak, ada sesuatu yang begitu dalam” tapi kita tidak pernah tahu apa yang “dalam” itu. Sebagaimana analisis zizek, bahwa yang dalam itu adalah kekosongan.

Nampaknya, memang sulit untuk mencari tahu sebab yang “sebenarnya”, mengapa Gus Dur menginginkan mendengar lagu simponi ke-9 menjelang akhir hidupnya. Tetapi sebagaimana yang dikatakan seorang sufi, Inayat Khan “ketika kata-kata dan puisi tak lagi berdaya, satu-satunya jalan yang paling puncak adalah musik, karena musik menyampaikan pesan dari jiwa ke jiwa”. Dan Ada baiknya, misteri tetap menjadi misteri.

*Penulis adalah mahasiswa fakultas Syari’ah UIN Raden Intan Lampung. Penyuka kajian Filsafat dan Humaniora yang sejak kecil tidak bisa lepas dari musik Dangdut dalam kesehariannya.

Sumber: Pojokklasika.com