Selasa, 22 Oktober 2019

GUS DUR DAN WACANA BERPIKIR KRITIS BAGI KALANGAN PESANTREN DI INDONESIA

Jumat, 27 September 2019
oleh : Fuad Faizin
Dibaca sebanyak 291 kali
Perkembangan intelektualisme muslim Indonesia mulai berkembang sejak abad XVII/XVIII dengan ditandai munculnya tulisan-tulisan tentang Islam dari ulama’ Nusantara misalnya Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, Samsuddin As Sumatrani di Sumatera Syekh Yusuf al Makasari di Sulawesi, Syekh Arsyad Al Banjari di Kalimantan serta Syekh Mahfudz At Tarmasi, Syekh Nawawi Al Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan di Jawa dan masih banyak lainnya. Perjuangan mereka kemudian diteruskan oleh murid-muridnya dengan mendirikan banyak pesantren yang bertahan hingga sekarang. Mayoritas pesantren yang didirikan oleh murid-murid mereka mempunyai kemiripan dalam kurikulum maupun sistem pendidikannya yaitu menggunakan kitab-kitab ulama’ klasik yang beraliran Ahlussunnah wal Jamaah dan mayoritas bermazhab Syafii dengan metode pengajaran

Ketahanan kurikulum dan sistem pendidikan pesantren mulai mendapatkan “saingan” dari sistem pendidikan Belanda sekitar awal abad XX dan berlanjut setelahnya. Kemunculan sekolah-sekolah yang dibangun Belanda untuk kaum pribumi merupakan dampak dari politik praktis Belanda. Beberapa dari pesantren mulai sadar terhadap “ancaman” tersebut Belanda yang mengutamakan ilmu-ilmu umum dan meminggirkan ilmu-ilmu agama yang mengancam ketahanan sistem pendidikan di pesantren yang hanya mengutamakan pengajaran pendidikan agama saja.

Beberapa pesantren yang mulai mengadopsi pendidikan modern sebagai respons terhadap keadaan tersebut antara lain Pesantren Tebuireng Jombang yang atas saran KH. Wahid Hasyim memasukkan Bahasa Belanda dan Ilmu Hitung dimasukkan dalam pengajarannya juga dibuatnya sistem kelas klasikal yang merupakan hal baru di dunia pesantren pada masanya selain itu juga ada Pondok Modern Gontor Ponorogo yang secara menyeluruh mengadopsi sistem kelas klasikal dan pelajaran yang diajarkan imbang antara ilmu agama dan ilmu umum. Namun banyak juga pesantren yang mempertahankan sistem lamanya tanpa mengadopsi sistem modern tersebut salah alasannya adalah menjaga keaslian tradisi keilmuan yang diajarkan, pesantren yang tetap mempertahankan sistem salafnya tersebut antara lain Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Langitan Tuban dan Pesantren Sarang Rembang serta masih banyak pesantren lainnya.   

Perkembangan intelektual Muslim juga mencuat semenjak dibangunnya sekolah ala Belanda yang mengadopsi pendidikan modern tersebut mayoritas datang dari Islam yang menganut konsep pemurnian atau pembaharuan dalam Islam-Islam kanan. Kelompok Islam kanan ini terus berkembang terutama ketika orde baru lebih condong kepadanya dan kurang berpihak kepada kaum pesantren-Islam tengah. Namun dengan keadaan seperti itu kaum intelektual pesantren mayoritas tidak menyadarinya atau jika sadar enggan meresponsnya karena dalih menjaga keaslian tradisi keilmuan. Sampai akhirnya Gus Dur-yang mewakili kelompok pesantren-muncul dengan tulisan-tulisan pembaharuannya.

Pada awalnya banyak yang menolak dan itu justru datang dari kalangan yang dibela dan diangkat dengan tulisannya oleh Gus Dur. Gus Dur dalam tulisan-tulisannya mengenai pesantren memberikan wacana kebebasan dalam berpikir dengan tidak terbelenggu keilmuan yang sempit misalnya hanya kitab-kitab itu saja yang dijadikan bahan rujukan. Meskipun begitu Gus Dur juga menganjurkan tetap mempertahankan pelajaran-pelajaran terhadap kitab-kitab tersebut namun dengan cara menafsirkan ulang sesuai dengan fenomena yang terjadi dalam masyarakat pada masanya, jika pemaknaan terhadap Islam pada masa sekarang disamakan dengan 100 tahun yang lalu tentu tidak relevan. Karena menurut beliau Islam adalah agama yang dinamis dan relevan dalam setiap masanya.

Gagasan-gagasan segar yang dibangun oleh Gus Dur ini dengan segera disambut oleh kaum intelektual muda pesantren-sekaligus intelektual muda NU. Meskipun juga banyak yang menolaknya terutama datang dari Islam kanan yang menuntut penafsiran harus tekstual sesuai dengan Al Quran dan Hadis. Sebenarnya jika kita cermati bersama, tulisan-tulisan Gus Dur banyak yang mencoba menatap masa depan umat Islam di Indonesia, jika tidak mengikuti perkembangan masanya maka akan ketinggalan.

Wacana yang dibangun Gus Dur mengenai kebebasan selama ini hanya kita pahami hanya dalam aspek sosial saja padahal nilai kebebasan yang beliau ajarkan juga mencakup kebebasan dalam berpikir namun harus dibarengi dengan kematangan keilmuan karena jika kebebasan tidak dibarengi dengan kematangan keilmuan hanya akan menghasilkan pandangan buta dan tidak terarah. Selain itu Gus Dur juga membangun kekritisan dalam menyikapi sebuah peristiwa sehingga dapat dicari solusinya dengan bijak dan proporsional. Dan pada akhirnya wacana yang telah dibangun Gus Dur mengenai kebebasan dalam berpikir yang mempunyai visi ke depan dan mengaktualisasikan Islam tersebut, apakah harus diterapkan untuk intelektual pesantren di Indonesia?

 

Fuad Faizin, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Jogja 2018.