Rabu, 20 November 2019

ISLAM DAN REVOLUSI PLASTIK DI KENYA

Sabtu, 06 Juli 2019
oleh : Sarjoko Wahid
Dibaca sebanyak 153 kali
Sebuah email masuk dari panitia pertemuan pegiat keberagaman di Kenya. Isinya tentang peringatan agar tidak membawa masuk tas plastik ke negara ini. Panitia tersebut sekaligus menjelaskan situasi negara Kenya yang sangat keras terhadap penggunaan tas plastik. "Larangan tas plastik telah menjadi sebuah hukum di Kenya," ujar panitia tersebut. Karenanya, ketika berada di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta saya dan rombongan saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak membawa kantong plastik.

Ketika pesawat mendarat di Jomo Kenyatta International Airport, Nairobi hal yang ingin saya pertama kali buktikan adalah seberapa keras pengawasan penggunaan tas plastik di negara ini. Benarkah ada negara yang bisa melarang warganya menggunakan tas plastik? Di Indonesia hampir mustahil hal tersebut dilakukan. Apalagi dulu "larangan" menggunakan tas plastik hanya dalam bentuk pembelian terhadap kantong plastik yang hanya sekian ratus rupiah saja. Sementara, di Kenya denda penggunaan plastik bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan jika dirupiahkan. Denda paling tinggi bagi siapa saja yang memproduksi, menjual, atau hanya membawa plastik mencapai $40.000 atau sekitar Rp 600 juta!

Pertama kali saya merasakan "kesulitan" karena tidak boleh menggunakan kantong plastik adalah ketika membeli minuman kemasan di bandara. Penjual hanya memberi minuman tersebut tanpa dibungkus apa pun. Agak aneh sih, apalagi jika terbiasa menerima barang di kantong plastik selama di Indonesia. Bagaimana orang sini membungkus belanjaannya jika jumlahnya cukup banyak? Batin saya saat itu. Di Kota Mombasa, saat saya berbelanja, pertanyaan tersebut terjawab. Mereka menggunakan kantong berbahan kain yang sangat tipis. "Apakah di sini tidak ada plastik?" tanya saya pada penjual kain.

"Setahun yang lalu masih ada. Tetapi, sekarang plastik adalah larangan di negara kami," jawab sang penjual.

"Apakah kantong ini tidak mahal?"

"Tentu saja tidak. Harganya sama dengan kantong plastik," ujarnya lagi.

Saya merasakan bagaimana pemerintah Kenya begitu serius mengatasi permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh sampah plastik. Banyak pihak yang mengaku terbantu dengan kebijakan pemerintah ini. Pak sopir taksi yang mengantar kami pergi ke beberapa tempat bercerita tentang kondisi sudut kota sebelum dan sesudah peraturan itu diterapkan. "Dulunya di sini menumpuk sampah. Tetapi, lihat sekarang begitu bersih!"

Pernyataan sopir tersebut membuat saya teringat pada Syekh Muhammad Abduh, seorang pembaharu Islam asal Mesir. Ia pernah mengucapkan otokritik bagi umat muslim dengan kalimat, "Saya melihat muslim di Mesir, tapi saya tak melihat Islam di sini. Sementara di Eropa saya tidak melihat muslim, namun saya melihat Islam di sana." 

Ucapan Muhammad Abduh tersebut mempertegas bagaimana umat Islam begitu menjauh dari ajaran agamanya, terutama tentang menjaga lingkungan. Padahal, hanya agama Islam yang secara spesifik memiliki dalil untuk menjaga kebersihan. An-nadzafatu minal iman, kebersihan itu sebagian dari iman.

Andil dari pemerintah Kenya untuk menerapkan larangan penggunaan kantong plastik memang luar biasa. Tapi, kesuksesan program tersebut tak akan terjadi jika warganya tidak sadar bahwa plastik adalah sumber "malapetaka" bagi lingkungan. Di Indonesia, kini plastik bisa kembali didapatkan secara gratis di minimarket-minimarket yang dulu memberikan harga. Ya, di negara kita sebuah peraturan sangat mudah untuk dilupakan.

Secara geografis letak Indonesia dan Kenya memiliki beberapa persamaan, di antaranya sama-sama dilintasi Garis Khatulistiwa dan berbatasan dengan Samudera Hindia. Karenanya, saya tidak begitu kaget dengan iklim yang ada di sana. Mereka sama-sama mengalami dua musim (panas dan hujan), dan durasi siang-malam begitu seimbang seperti di Indonesia.

Tujuan saya ke Kenya adalah untuk menghadiri forum dialog antara pegiat keberagaman dari beberapa negara seperti India, Pakistan, Kenya, Indonesia, dan Belanda. Di sana kami saling bertukar pengalaman mengenai keadaan negara masing-masing, terutama mengenai kehidupan beragamanya. Peserta dari negara lain rata-rata tak menyangka ketika mendengar Indonesia memiliki belasan ribu pulau, ratusan etnis, ratusan bahasa, dan bentuk keragaman lainnya. Hal ini berbeda dengan peserta dari Pakistan, India, atau Belanda yang tingkat keberagamannya tidak begitu kompleks. Apalagi peserta dari Kenya, di mana negaranya hanya memiliki beberapa etnis saja.

Di sebuah forum bersama pemuda lintas iman, peserta dari Indonesia mendapat pertanyaan, "Bagaimana kalian bisa hidup berdampingan?" Dengan bentang wilayah negara yang luas, beragamnya suku, agama, dan bahasa, bagaimana negara ini bisa bertahan? Pertama-tama, kami jelaskan bahwa Indonesia memiliki sebuah "kalimat sakti" berbunyi Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetap satu juga. Indonesia sejak awal memang didirikan oleh berbagai suku bangsa yang kemudian melebur menjadi sebuah bangsa yang satu. Islam sebagai agama mayoritas tidak "menang-menangan" untuk memaksa kehendaknya menjadikan Indonesia sebagai negara berideologi agama. Sebab, Indonesia ada karena keberagaman.

Tapi, keberagaman di Indonesia tidak seindah apa yang menjadi cerita-cerita karena nyatanya beberapa pihak mulai mengusik keharmonisan yang ada di negara ini. Meskipun jumlah mereka sedikit, tetapi dampaknya begitu terasa seperti sampah plastik yang bisa merusak banyak hal, mulai saluran air, polusi udara, pencemaran laut, dan lain sebagainya. Inilah mengapa tugas para pegiat keberagaman di Indonesia begitu berat karena "sampah plastik" ini semakin bertambah setiap waktunya. Jika tidak dibersihkan, lambat laun akan terjadi bencana yang akan merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Ada banyak orang mendadak suci yang muncul di permukaan, yang menafsirkan kebenaran agama sebagaimana pendapat pribadinya. Itulah mengapa Tuhan di Indonesia terkesan begitu menakutkan karena jika seseorang dianggap keliru, maka bisa diperlakukan sekenanya. Penutupan tempat ibadah, persekusi, diskriminasi, dan banyak kasus lain yang mengancam kehidupan multikultural terjadi di Indonesia. Aktornya bisa berasal dari mana saja karena penganut semua agama di Indonesia ada yang toleran dan intoleran. Sayangnya, intoleransi semakin menjadi-jadi. Bahkan lembaga pendidikan tingkat dasar menjadi lahan pembiakan ideologi-ideologi intoleran.

Lalu, bagaimana solusinya? Sepertinya sulit untuk memberantas ideologi yang mengancam eksistensi kita sebagai sebuah bangsa di saat kebebasan berpendapat dijadikan alat untuk membungkam kelompok yang dianggap berbeda. Apalagi melihat kondisi masyarakat kita yang cenderung bersikap santai selama korban bukanlah bagian dari kelompoknya. Padahal, sikap intoleran, sekecil apa pun, ibarat sampah plastik yang jika dibiarkan akan mengancam kehidupan pada masa mendatang. Intoleransi adalah sifat tercela yang jauh dari nilai-nilai agama terutama agama Islam yang begitu universal, rahmatan lil 'alamin.

Ketika melakukan perjalanan ke pusat Kota Nairobi, saya didampingi oleh seorang dosen dari Kenyatta International University bernama Abdullah. Ia adalah rekan dari guru saya saat SMA di sebuah kota di Jawa Tengah. Di sepanjang jalan, Pak Abdullah menceritakan bagaimana Nairobi kini begitu sedap dipandang. "Ini terjadi kurang dari setahun," kata Abdullah. Di sela-sela itu saya bertanya bagaimana kehidupan keberagaman di Nairobi. Apakah ia sebagai minoritas mendapat perlakuan diskriminatif? Abdullah menjawab bahwa tidak ada masalah terkait keberagaman di negaranya. Semua orang saling menghormati satu sama lain.

Kenya bagi saya telah menunjukkan keberhasilan dua revolusi sampah, yang pertama sampah plastik dan yang kedua sampah ideologi. Dua hal tersebut masih menjadi tantangan berat di Indonesia. Apakah Indonesia bisa mengalami situasi serupa?

Sarjoko Wahid mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UGM, pegiat keberagaman dan aktif di Jaringan GUSDURian Indonesia