Jumat, 16 November 2018

LANGKAH STRATEGIS PASCA-TUNAS GUSDURIAN 2018

Rabu, 15 Agustus 2018
oleh : M. Mujibuddin
Dibaca sebanyak 331 kali
Pertemuan Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian yang diadakan pada tanggal 10-12 Agustus di Asrama Haji Yogyakarta telah selesai dilaksanakan. Tercatat ada sekitar 106 komunitas Gusdurian di seluruh Indonesia yang menghadiri Tunas. Setiap anggota komunitas yang hadir berkisar antara dua hingga 10 orang, sehingga total peserta Tunas dari komunitas Gusdurian kurang lebih 400 orang. Jumlah ini belum termasuk tamu undangan dan rombongan liar.

Membludaknya jumlah komunitas yang ikut serta dalam acara Tunas memang tidak bisa dilepaskan dari sosok Gus Dur. Meskipun Gus Dur sudah meninggal sembilan tahun yang lalu, akan tetapi teladan yang diberikan olehnya masih relevan untuk didiskusikan lebih lanjut. Di tengah euforia perpolitikan bangsa yang telah menyita perhatian khalayak umum, politik yang diajarkan oleh Gus Dur nampaknya semakin relevan untuk diaktualisasikan di masa sekarang.

Semboyan “yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan” bukan hanya isapan jempol semata. Dikala orang-orang birokrat sedang membanggakan new developmentalism untuk kemajuan bangsa justru membuat krisis multidimensi. Hal ini berdampak pada hilangnya identitas sosial masyarakat lokal dan bangsa Indonesia akibat pembangunan yang dikerjakan oleh pemerintah.

Dari kerisauan inilah banyak dari komunitas yang hadir dalam acara Tunas untuk mempelajari lebih lagi apa yang dimaksud oleh Gus Dur tentang kemanusiaan lebih penting ketimbang politik. Pada saat Tunas berlangsung, dua pasangan calon Presiden mengumumkan siapa yang akan mendampinginya. Di tengah hiruk pikuk itu, Alissa Wahid mengingatkan terus menerus kalau kemanusiaan lebih penting ketimbang politik. Hal ini juga untuk mengingatkan para anggota komunitas untuk lebih hati-hati. Politik tidak hanya berbicara mengenai menang kalah, akan tetapi dengan berpolitik seharusnya dijadikan sebagai jalan atau alat untuk kepentingan kemanusiaan.

Pesan inilah kemudian dikemas dalam beberapa Forum Group Discussion (FGD) pada hari sabtu tanggal 11 Agustus. Mereka dibagi menjadi delapan komisi untuk mendiskusikan isu-isu aktual yang terjadi hari ini. Adapun komisi-komisi dalam FGD itu di antaranya adalah; komisi Pengembangan Komunitas, Komisi Media dan Publikasi, Komisi Kewargaan, Komisi Ekonomi, Komisi Toleransi, Komisi Demokrasi, Komisi Pribumisasi Islam, dan Komisi Konflik Agraria. Di samping ada FGD, panitia juga menyiapkan kelas belajar untuk para peserta di hari Minggu pagi tanggal 12 Agustus. Adapun kelas belajar ini adalah; Manajemen Komunitas, Critical Thinking, Financial Planning for Social Worker, Keadilan Gender dalam Perspektif Islam, Analisis Sosial, Advokasi dan Kebijakan, Creative Writing, dan Sejarah Gus Dur.

Dengan modal materi yang telah disampaikan dalam forum, langkah strategis yang harus diambil oleh para penggerak Gusdurian selanjutnya adalah mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan di kota/kabupaten masing-masing. Jalan politik yang diambil bukan melalui politik praktis. Akan tetapi jalan yang diambil atas nama kemanusiaan.

Melakukan advokasi dan, atau, menjadi partisipan merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan oleh penggerak Gusdurian. Apabila terjadi ketidakadilan di kota tertentu, baik itu berupa diskriminiasi antar umat beragama atau ekonomi, Gusdurian harus ikut terlibat aktif untuk memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Meskipun mereka tidak bisa menjadi inisiator setidaknya mereka terlibat menjadi partisipan untuk mengawal, membantu, dan melawan adanya ketidakadilan baik yang disebabkan oleh agama, sosial-politik, dan ekonomi.

Akan tetapi, sikap seperti itu harus didasari atas kajian analisis sosial  untuk melihat fenomena apa yang sedang terjadi di masyarakat sebelum menentukan sikap. Identifikasi masalah ini dibutuhkan untuk melihat secara jernih dan objektif tentang sebuah problem. Setelah klarifikasi itu sudah selesai dilakukan, baru menentukan sikap dan arah tindakan supaya tindakan atau sikap yang diambil sudah melalui kajian.

Hal inilah yang perlu dilakukan setelah acara Tunas 2018. Para penggerak Gusdurian diharapkan mampu menjadi inisator atau paritispan untuk mengadvokasi adanya diskriminasi atau ketidakadilan lainnya yang diawali dengan bersikap tabayun atau klarifikasi. Sikap tabayun ini untuk menghindari tindakan sembrono atau semena-mena.

M. Mujibuddin, penulis adalah pegiat aktif di Komunitas Santrigusdur Yogyakarta.