Rabu, 20 November 2019

MAKNA PUASA DALAM PRAKTIK AKUNTANSI

Rabu, 10 Juli 2019
oleh : Muhammad Aras Prabowo
Dibaca sebanyak 313 kali
Puasa bukan untuk puasa atau bulan Ramadhan bukan untuk bulan Ramadhan saja, akan tetapi keduanya harus termaknai hingga sebelas bulan yang akan datang. Seperti diketahui bahwa puasa merupakan rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan shalat, setelah puasa yaitu zakat dan berhaji jika mampu. Perintah terkait kewajiban berpuasa tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat ke-183 yang berbunyi “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.

 

Selanjutnya, siapa sajakah yang diwajibkan berpuasa oleh Allah SWT?. Yaitu orang Islam yang cukup berumur, berakal, mampu berpuasa, serta-bila perempuan-darah haid dan darah nifasnya sudah berhenti. Puasa tidak diwajibkan bagi anak-anak, orang sakit, orang tua dan lemah, serta muslim yang sedang dalam perjalanan (musafir).

Syarat sah pausa adalah beragama Islam, berniat, berakal, mampu membedakan baik dan buruk (tamyiz), serta suci dari haid dan nifas. Sedangkan rukun puasa terdiri dari dua yaitu berniat dengan memiliki ketetapan hati untuk berpuasa karena Allah SWT. Dan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenangnya matahari. Serta terdapat Sunnah puasa yakni menyegerakan berbuka puasa pada waktunya, shalat tarwih dan mengakhirkan makan sahur.

Tentu rangkaian puasa di atas telah dijalankan sebaik mungkin selama bulan Ramadhan yang baru berakhir beberapa hari yang lalu, dengan harapan segala amalan di bulan puasa diterima di sisi Allah SWT. Serta bertansformasi hingga meningkatkan derajat taqwa kita kepada Tuhan yang Maha Esa. Artinya bahwa puasa adalah salah satu peribadahan wajib dalam hubungan vertikal manusia dengan Tuhan yang Maha Esa yang tidak bisa diwakilkan apalagi ditinggalkan kecuali alasan tertentu dan harus diganti dalam waktu yang lain.

Selain hubungan vertikal, puasa juga dapat dimaknai dalam meningkatkan kepekaan terhadap hubungan horizontal yaitu hubungan manusia dengan manusia yang lain. Sebuah keniscayaan dalam kehidupan tanpa interkasi sosial dengan lingkungan, setidak-tidaknya dalam lingkungan keluarga dan tetangga sekitar. Namun kali ini pembahasan lebih spesifik yaitu hubungannya dengan praktik akuntansi dalam kehidupan sosial dan entitas.

Puasa dan Akuntansi Kehidupan

Hampir keseluruhan dari literasi ilmu akuntansi tidak ada yang membahas secara spesifik terkait dengan akuntansi dengan kehidupan sehari-hari, yang kita temui adalah akuntansi dengan entitas. Seakan-akan ada jarak antara akuntansi dan kehidupan sehari-hari atau karena tidak menarik untuk membahas kedua topik tersebut. Padahal menurut hemat penulis bahwa benih-benih kelahiran ilmu akuntansi sangat dipengaruhi oleh aktifitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Artinya bahwa berbicara akuntansi tentu tidak bisa dipisahkan dengan aspek sosiologi, antropologi hingga interaksi sosial yang kemudian disebut oleh penulis sebagai akuntansi kehidupan. Istilah akuntansi kehidupan bukanlah hal yang baru, di dalam berbagai diskusi penulis dengan para akademisi akuntansi juga disebutkan demikian seperti Dr. Mukhtar Adam dosen akuntansi publik dari Universitas Khairun (Unkhair) dari Ternate bahwa akuntansi adalah manifestasi kehidupan manusia dan Dr. Mursalim juga menyebutnya demikian dalam berbagian postingannya di Media Sosial (Medsos) bahkan dikemasnya dalam bentuk siraman rohani (dakwah), beliau adalah Kepala Program Studi (Kaprodi) Magister Akuntansi Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Kembali pada topik pembahasan bahwa puasa dalam akuntansi kehidupan adalah sebuah proses untuk membangun kesadaran manusia dalam menjaga keseimbangan kehidupan sesama manusia. Kenapa demikian?. Karena tidak semua manusia berada dalam kesetaraan perekonomian yang sama, artinya ada ketidak balans atau ketidak keseimbangan di mana hal tersebut membutuhkan uluran tangan manusia yang lainnya (memiliki kecukupan ekonomi) dalam  menjaga keseimbangan kehidupan.

Hal tersebut termanifestasi dalam praktik puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenangnya matahari. Puasa ibarat sinyalemen bagi manusia (memiliki kecukupan ekonomi) untuk mengambil peran dalam menjaga keseimbangan kehidupan terhadap manusia (memiliki keterbatasan ekonomi), hingga terjadi transaksi spiritual atau biaya spiritual yang tersalurkan lewat zakat, infaq dan sedekah. Dahsyatnya biaya tersebut dapat menembus hingga alam akhirat melampaui alam materi. Dalam kehidupan fana dapat mengeluarkan manusia (memiliki keterbatasan ekonomi) menjadi manusia (memiliki kecukupan ekonomi) atau keluar dari daftar penerima zakat hingga membangun kemandirian ekonomi sehingga tercipta keseimbangan kehidupan.

Puasa dan Akuntansi Komersil

Selain dalam praktik akuntansi kehidupan, makna puasa juga diharapkan dapat membangun kesadaran bagi para pihak-pihak yang berkepentingan dalam sebuah entitas. Kenapa demikian?. Bahwa dalam menjalankan roda entitas seringkali pemilik mengedepankan ego kapitalis, yaitu menuntut untuk mendapatkan laba setinggi-tingginya tanpa memikirkan hak dan kesejahteraan para karyawan. Di dalam literasi akuntansi hal tersebut adalah wajar, karena prinsip akuntansi adalah bagaimana meminimumkan beban untuk meraih pendapatan setingi-tingginya. Artinya bahwa kesejahteraan pemiliki adalah hal yang paling utama.

Kehadiran puasa untuk mengikis ego kapitalis  pemilik kemudian mengkonstruksinya agar terjadi balans antara kesejahteraan keryawan dan pemilik. Pemaknaan puasa akan membangun kesadaran bagi pemilik entitas untuk melihat lebih luas terhadap realitas kehidupan para karyawan, tidak melulu antara pimpinan dan bawahan, akan tetapi antara hubungan sesama manusia yaitu hablum minannas.

Keberhasilan dalam memaknai puasa bukan hanya meningkatkan derajat taqwa antara hamba kepada Allah SWT (hablum minallah), akan tetapi menciptakan balans dalam kehidupan sesama manusia (hablum minannas). Bahkan dalam praktik akuntansi akan mendorong pada perilaku akuntansi yang berperikemanusiaan hingga mengikis dominasi kapitalisme dalam ilmu akuntansi.

Muhammad Aras Prabowo, S.E,. M.Ak

Dosen Universitas Nahdatul Ulama Indonesia (UNUSIA)

Kader Gusdurian Makassar