Kamis, 14 November 2019

MAYORITAS, MINORITAS, DAN KEMASLAHATAN SOSIAL

Senin, 23 September 2019
oleh : Endrika Widdia Putri
Dibaca sebanyak 214 kali
Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari beragam suku bangsa, agama, dan kebudayaan. Kemajemukan Indonesia di satu sisi adalah sebuah kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT. Di sisi lain, merupakan pemecah umat. Dianggap kelebihan yang diberikan oleh Allah SWT. karena dengan perbedaan atau kemajemukan yang ada bisa melahirkan sikap saling menghargai, tolong-menolong, dan toleransi serta bijaksana dalam menerima segala perbedaan yang ada dengan tetap teguh pada keyakinan masing-masing. Di sisi lain, dianggap pemecah umat, karena ada masyarakat yang kadang belum dewasa dan kurang bijak dalam melihat perbedaan sehingga menimbulkan konflik di dalam perbedaan tersebut.

Sebenarnya bisa saja Allah menciptakan manusia satu kesatuan. Namun, Allah tak lakukan itu, karena Allah ingin lihat siapa hamba-Nya yang mampu menerima segala perbedaan yang ada dan bisa menjadikan perbedaan itu sebagai pemersatu. Indonesia adalah negara yang mayoritas dihuni oleh penganut Islam, sebagai seorang mayoritas haruslah mampu mengayomi yang minoritas. Jangan sampai yang mayoritaslah yang memulai perpecahan. Maka, ini sama saja artinya dengan merusak citra Islam itu sendiri. Sebagai seorang penganut Islam berprilakulah layaknya sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Lalu, bagaimana jika yang memulai perpecahan adalah yang minoritas. Maka di sini sikap seorang mayoritas haruslah bijaksana dalam menganalisis permasalahan yang muncul. Jangan main hakim sendiri, dan berlagak sombong dan meremehkan yang minoritas, dan yang minioritaspun harus bisa menghargai yang mayoritas dan jangan merasa tidak diprioritaskan dalam negara.

Hidup di dunia ini memang penuh lika-likunya. Ada begitu banyak ujian dan cobaan menghampiri, baik ujian kesusahan maupun kesenangan. Tak kan mudah menjalani kehidupan ini, jika manusia banyak mengeluh, dan tak mampu sabar. Dalam sebuah pertemanan atau persahabatan, antara ibu dan anak, antara suami dan istri, dan segala hubungan manusia di dunia ini dengan sesama manusia. Jika tidak saling memahami serta bijaksana dalam menghadapi permasalahan maka yang terjadi hanyalah pertengkaran semata, ketidaksukaan, dan saling memendam amarah. Hal  Itu terjadi karena lebih mendahulukan ego masing-masing dibandingkan mendengarkan orang lain. Manusia cenderung lebih suka meyakini dirinya yang paling benar, dan yang lain salah.

 Manusia lebih suka meluapkan amarah daripada menahan amarah. Padahal Rasululullah mengatakan:”orang yang paling kuat bukanlah orang hebat bergulat, namun orang yang mampu menahan amarah”. Rasulullah menjuluki  manusia orang yang kuat jika mampu menahan amarah. Namun sayang, manusia sering menolak julukan itu, dan lebih suka memamerkan amarahnya. Rasanya tidak mengapa jika manusia memamerkan kebaikannya agar orang lain menirunya, dan ini bukan kebaikan yang dipamerkan melainkan keburukan, dan merasa bangga lagi, merasa hebat karena berani meluapkan amarah. Ini bukanlah sebuah keberaniaan, namun itu adalah nafsu setan belaka. Selain itu, tidakkah  malu jika dipandang sebagai manusia pemarah. Itu bukanlah Islam, Islam itu penuh dengan kelembutan dalam suasana apapun, baik tegang, senang, susah, dan menderita yang ditampilkan hanyalah kelembutan dan kebijaksanaan.

Manusia suka menegur orang lain, namun tidak suka ditegur. Manusia suka mengkritik tapi marah saat dikritik. Manusia suka meminta tapi tak suka memberi. Bukankah manusia itu sendiri yang membuat dirinya  berada dalam kesusahan. Bukankah pilihan manusia itu sendiri yang membuat dirinya berada dalam kegelisahan. Dalam bermusyawarah manusia suka mengatasnamakan kemaslahatan sosial, pendapat yang banyak atau yang mayoritas menjadi titik acuan manusia, dan itu yang dianggap paling benar. Namun sayang, manusia lupa dan mengabaikan alasan yang minoritas karena berpatokan atas pendapat yang mayoritas. Padahal ada alasan yang jelas kenapa yang minoritas tak bisa menerima pendapat mayoritas, dan kadang manusia tidak peduli dengan itu.

Bagi manusia kemaslahatan adalah pendapat yang mayoritas. Apakah benar itu yang dinamakan kemaslahatan. Jika itu memang kemaslahatan, begitu mudah dan enteng sekali menciptakan sebuah kemaslahatan, hanya melihat pendapat yang mayoritas saja, dan melupakan serta mengabaikan pendapat yang minoritas. Jika boleh berpendapat kemaslahatan dalam bermusyawarah itu adalah mencarikan solusi yang terbaik untuk setiap anggota yang ikut dalam musyawarah itu. Dengan demikian, tidak akan ada yang merasa tersakiti. Meskipun dalam bermusyawarah itu memang ditemukan pendapat yang mayoritas dan itu menjadi acuan, manusia harus ingat juga akan yang minoritas dan mencarikan win-win solution untuk kemaslahatannya. Jika demikian, hidup ini akan terasa indah karena semuanya saling bijaksana, memahami, menghargai, dan menghormati.

Pikirkan dan renungkanlah jika manusia yang selama ini suka menegur, tapi tak suka ditegur, suka mengkritik tapi tak suka dikritik, suka meminta tapi tak suka memberi. Maka cepat-cepatlah istighfar, muhasabah dan sentillah diri sendiri, dan mohon kepada Allah agar membuka hati kita  menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan berputus asa pada rahmat Tuhan, karena seburuk-buruk apapun pribadi manusia,  jika di dalam hatinya masih tersimpan sedikit rasa untuk menjadi lebih baik lagi. Maka tidak akan mustahil Allah SWT. akan terima taubatnya dan ia akan menjadi makhluk kesayangan Allah SWT. Mulai sekarang belajarlah untuk mendengarkan orang lain, menerima krtikan maupun teguran dan belajarlah untuk saling memahami serta bijaksana dalam menerima segala perbedaan.  Maka akan terciptalah lingkungan yang rahmatan lil ‘alamin dan kemaslahatan sosial.

Endrika Widdia Putri, penulis adalah alumni Sekolah Menulis Kreatif Jogja 2018.