Jumat, 22 September 2017

PUISI – “RINDU GUS DUR”

Kamis, 31 Agustus 2017
oleh : Sudarman Pusi
Dibaca sebanyak 96 kali
Gus… Kami rindu Njenengan, Gus… Sepeninggal Njenengan semua urusan jadi repot Kian hari sikap keberagamaan kami kian peot Nilai dan pemahaman Islam kami tambah reot

 

Di negeri ini trend mendadak ulama lagi booming
Ada yang baru kemarin sore mendaku ulama berani menyesatkan para kiai ahli kitab kuning
Ada pakar tafsir dibilang kafir oleh bocah-bocah yang bahkan belum becus urus air kencing
Ada yang merasa jumawa sebagai ahli agama dengan kapasitas ilmu yang dobel
Padahal ngajinya cuma copy paste dari group sebelah riwayat ‘mbah google

Gus…
Di negeri ini sekarang
Kebangkitan islam dikerdilkan oleh gempita munculnya politik identitas sebagai jalan pintas
Dengan ikon gerakan berjilid-jilid, angka-angka cantik dan klaim besarnya kuantitas
Yang katanya aksi damai tapi sarat ujaran kebencian yang tidak pantas
Sementara aneka persoalan besar bangsa; korupsi, kemiskinan, pengangguran, human trafficking,
anarkisme, disintegrasi, narkoba, tak pernah serius diurus tuntas

Gus…
Alienasi nilai kemanusiaan sudah tahap stadium kritis
Stok kesantunan dan welas asih kian menipis

Nilai-nilai toleransi dan cinta kasih yang susah payah njenengan ukir
Koyak tercabik oleh amuk amarah teriakan sesat, munafik, kafir…!
Ironisnya sambil diiringi yel-yel beringas pekik takbir…

Gus…
Wajah islam yang njnengan bumikan sebagai rahmah yang ramah
Berubah rupa menjadi murka dan amuk amarah
Klimaksnya… Seorang anak negeri dibakar hidup-hidup atas nama nahi munkar yang salah kaprah

Gus…
Kami rindu Njenengan, Gus…
Setelah njenengan tiada… Komitmen kebangsaan kami makin aus tergerus
Kebanggaan atas nilai-nilai orisinalitas negeri ini kian kumuh tak terurus
Diamuk utopia mengganti ideologi negara secara asal
Dengan sistem impor yang konon kabarnya sebuah konsep yang sakral
Yang dipaksakan secara sepihak, doktrinal, dan radikal
Padahal di negeri asalnya sudah lama usang, kumal, dan gagal

Gus…
Di negeri ini fitnah dan hoax diobral sebagai bahan komoditas
Laris di pasaran disebu antrian pelanggan yang nihil rasionalitas
Dunia maya menjelma medan perang kurusetra yang membara
Hingga bangunan kebangsaan di ambang amuk prahara

Gus…
Kami rindu Njenengan, Gus…
Kami juga sangat takut
Kami takut… hancurnya negeri ini tinggal menghitung detik
Karena agama kini telah dirujak campur aduk dengan kepentingan politik
Semoga ketakutan kami tidak menjadi nyata, ya Gus…?
Semoga Gusti Allah tetap menjaga Indonesia kami yang indah ini
Amin…

=========
Gorontalo, 26 Agustus 2017
Dibacakan pada Kelas Pemikiran Gusdur (KPG) Gorontalo Angkatan I
Sudarman Pusi(Pembina GUSDURian Gorontalo)