Kamis, 19 September 2019

SUDAHKAH KITA MENJADI MANUSIA?

Jumat, 06 September 2019
oleh : Ahmad Solkan
Dibaca sebanyak 154 kali
Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti menistakan penciptanya. Sebuah kata-kata mutiara yang mungkin tak asing baik di telinga atau mata kita.

Kata-kata Gus Dur tersebut mungkin masih relevan dengan realita sosial saat ini. Di mana banyak orang yang berdalih membela Tuhan justru merendahkan sesama manusia. Misal seperti peristiwa bom bunuh diri di berbgai tempat di Indonesia. Atau malahan kasus pembakaran tempat ibadah di Medan beberapa waktu yang lalau. Bila kurang cukup contohnya, penulis tambahi kasus perusakan dan pembubaran ritual sedekah bumi  beberapa hari yang lalu di Bantul, Yogyakarta.

Mereka berbuat kerusakan tidak hanya merugikan diri sendiri namun juga merugikan orang lain dan menganggap itu sebagai jalan untuk jihad. Cara untuk berdakwah atau meluhurkan agama Allah. Atau dalam istilah Gus Dur membela Tuhan.

Untuk itu, mari kita mulai dengan soal perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan. Karena jelas, al-Qur’an sendiri menyebut bila manusia diciptakan berbeda-beda. Kalau kemudian melahirkan pikiran-pikiran atau pendapat-pendapat yang berbeda termasuk suatu fitrah kehidupan. Gus Dur juga menjelaskan dengan mendasarkan pendapatnya dalam Al-Qur’an, bila perbedaan pendapat itu wajar. Yang tidak boleh perbedaan kemudian melahirkan pertentangan atau perpecahan.

Karena pertentangan atau perpecahan itulah awal dari sebuah konflik. Belum lagi kalau konflik tersebut menimbulkan korban jiwa. Tentu hal demikian hanya akan mencederai kemanusiaan. Apakah pernah misalnya Nabi Muhammad mengajarkan berdakwah dengan mencaci-maki orang? Apakah pernah Nabi Muhammad berdakwah dengan membunuh orang? Atau Nabi pernah mengajarkan berbuat kekerasan?

Mungkin hal-hal tersebut dapat menjadi refleksi bagi kita semua, bila Nabi ternyata adalah tipe orang yang amat humanis. Kalau menurut Gus Mus, Nabi ialah seorang manusia, yang paling mengerti manusia, dan paling memanusiakan manusia. Sekalipun terhadap orang yang memusuhinya atau orang yang belum memeluk Islam. Berbeda dengan orang-orang saat ini, merasa sudah paling islami dan paling seperti Nabi justu berperangai bertolak belakang dengan apa yang dicontohkan dan diajarkan Nabi.

Pemahaman orang-orang tadi biasanya tekstual. Sempit dalam memandang agama. Islam sudah final dalam artian tak harus dinamis dengan konteks saat ini. Semisal, saja mereka dalam memaknai jihad biasanya dangkal. Membunuh orang kafir itu diperbolehkan dan itu termasuk jihad. Mereka juga menolak beragama dalam budaya. Menurut mereka musyrik hukumnya mencampuradukkan agama dan budaya. Bahkan mereka tak segan melakukan kekerasan. Karena itu dalam rangka untuk memurnikan Islam.

Meskipun jumlah mereka tidak banyak di negeri ini, suara-suara mereka sangat vokal. Mereka mempunyai daya untuk mewarnai sudut-sudut kehidupan ini. Katakanlah, mereka-meraka ini punya media-media yang berfungsi untuk menyebarkan gagasan dan paham-paham yang mereka anut.

Tentu ini sangat berbahaya. Ruang publik kita tidak boleh dicemari dengan isu-isu tersebut. Mungkin bagi kalangan masyarakat yang beragama secara moderat isu-isu tersebut dianggap lalu saja. Bagaimana dengan masyarakat mengambang kita yang jumlahnya tidak sedikit? Mereka adalah masyarakat yang belum punya pemahaman agama moderat yang cukup bahkan tidak sama sekali. Lalu bagaimana sikap kita seharusnya?

Nah, penulis sebenarnya sangat tertarik dengan Sekolah Menulis Kreatif (SMK) yang diadakan oleh Jaringan Gusdurian Jogja. Acara yang berlangsung pada hari Sabtu sampai Minggu (20-21 Oktober 2018) nampaknya menjadi oase di padang pasir. Betapa tidak? Acara semacam ini ini sangat jarang kita temukan di Indonesia. Karena Sekolah Menulis Kreatif (SMK) ini kita tidak hanya kemudian dilatih belajar menulis, namun juga diarahkan untuk menulis yang berasaskan nilai-nilai Gus Dur. Harapannya nanti dalam workshop ini melahirkan penulis-penulis yang mengisi ruang publik utamanya media mainstream dengan isu-isu humanis, toleran, ramah, welcome terhadap keragaman dan nilai-nilai luhur lainnya. Baik dari perspektif Islam, Gus Dur dan kebangsaan. Ini ditujukan untuk meng-counter isu-isu intoleransi, radiakalisme dan terorisme.

Oke, mari kita balik pada ajaran-ajaran Islam yang santun, ramah dan humanis. Bukankah dalam Al-Qur’an sendiri Allah menjelaskan bila Dia sangat memuliakan manusia (walaqod karromna banii aadam….. Al-Isra ayat: 70). Bahkan Nabi juga pernah berkhotbah pada saat haji wada’, bila tidak ada yang lebih mulia dari orang-orang Arab maupun non Arab kecuali taqwanya. Allah juga menjelaskan dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yang intinya yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.

Marilah merenung, bila dihadapkan hambanya kita adalah hambaNya. Agar kita selamat dan berbahagia dalam kehidupan ini dan akhirat kelak, marilah kita saling mengingatkan dan berwasiat dalam kebaikan. Bukan justru mencela, mencaci-maki, saling merendahkan, menghakimi atau malah menindas.

Ahmad Solkan, penulis adalah peserta Sekolah Menulis Kreatif Jogja 2018.