Minggu, 18 Agustus 2019

SUKARNOIS DAN GUSDURIAN

Jumat, 01 Maret 2019
oleh : Haris El-Mahdi
Dibaca sebanyak 904 kali
Seorang yang mengklaim sebagai Sukarnois, pengikut Sukarno, secara otomatis tidak langsung ia adalah juga Gusdurian. Sukarno, Presiden pertama Indonesia adalah orang yang mempunyai jasa besar menarasikan "nilai" dan "makna" keindonesiaan. Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 tentang Pancasila merupakan landasan filosofis mengenai alasan kita berindonesia.

Belakangan, pidato itu tidak saja fenomenal di Indonesia tetapi juga di dunia. Bung Karno mengulangi sari pati pidato 1 Juni itu di depan kongres AS dan di sidang umum PBB.

Pun, dunia mencatat bahwa pidato Bung Karno tentang Pancasila di sidang umum PBB adalah salah satu pidato terbaik pemimpin dunia di abad 20.

Pancasila merupakan ikhtiar Bung Karno untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang tegak untuk semua golongan. Pancasila menolak diskriminasi.

Pancasila adalah rumah semua golongan, semua agama, semua keyakinan, semua etnis. Pancasila mencengkeram erat sesanti suci "Bhineka Tunggal Ika ".

Bhineka merefleksikan adanya kesadaran bahwa Indonesia adalah mozaik multikulturalisme, bangsa yang terdiri dari begitu rupa keragaman dan perbedaan. Namun, Kebhinekaan itu tidak serta-merta membuat Indonesia harus saling berseteru. Bhineka itu harus mewujud dalam "tunggal Ika ", yakni bhineka yang membuka ruang untuk saling berdialog.

Dalam bahasa Bung Karno, Kebhinekaan itu harus mencerminkan internasionalisme, yakni kesadaran untuk saling berbagi dan bergotong-royong, peri-kemanusiaan.

Nah, cita ideal Bung Karno itu "lahir kembali " di tangan Gus Dur. Lebih dari 30 tahun,  gagasan Indonesia dan keindonesiaan direduksi sedemikian rupa oleh rezim Orde Baru. Orba membunuh habis Kebhinekaan, yang tersisa adalah "tunggal Ika ".

Gus Dur melawan itu. Gus Dur bekerja keras untuk mengembalikan natie Indonesia pada khittah-nya, yakni Indonesia untuk Indonesia,  semua buat semua.

Di titik ini, perjuangan Gus Dur sejatinya adalah kelanjutan dari perjuangan Sukarno. Atau dalam bahasa lain, Sukarno dan Gus Dur mempunyai visi yang sama tentang Indonesia dan Keindonesiaan. Nasionalisme...!!

Dengan cara itu, dapat digaris-bawahi bahwa Sukarnois sejati adalah juga Gusdurian sejati. Pun, sebaliknya, seorang Gusdurian sejatinya adalah juga Sukarnois.

Dan, uniknya, dalam sejarah Indonesia,  hanya Sukarno dan Gus Dur, Presiden yang mempunyai Gagasan-gagasa cerdas dan bernas tentang Indonesia dan keindonesiaan. Meskipun, secara praxis, keduanya berbeda metode, Sukarno lebih pada politik massa, sedangkan Gus Dur lebih pada Politik kemanusiaan.

Khususon ila ruhi Sukarno wa Abdurahman Wahid.. Alfatihah

Haris el Mahdi, penulis adalah penggerak GUSDURian Batu.