Jumat, 22 September 2017

TELADAN KEBANGSAAN GUS DUR

Senin, 14 Agustus 2017
Dibaca sebanyak 89 kali
Tiga hari setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sowan ke kiai sepuh di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Meski mendapat fasilitas pengawalan ketat, dengan barisan Pasukan Pengamanan Presiden dan aparat keamanan yang rapi, Gus Dur memilih menanggalkan kawalan. Ia berjalan sendirian, masuk ke rumah kiai sepuh itu dari pintu belakang.

 

Ya, Gus Dur sowan ke sepuh itu melewati pekarangan belakang rumah Kiai Sahal Mahfudh, tempat jemuran pakaian santri, dan gang-gang sempit di antara kamar-kamar pesantren. Gus Dur memilih senyap untuk menemui kiai sepuh itu, di tengah deru publikasi tentang politik kepresidenan.

Gus Dur ndeprok, duduk lesehan, di hadapan kiai sepuh itu. Mengucap salam, lalu mencium tangan lembut kiai sepuh itu. Siapa kiai sepuh itu? Yang wajahnya bersinar, senyumnya menjernihkan, dan tausyiahnya menyejukkan? Kiai waskita itu sering disapa Mbah Dullah. Kiai Abdullah Zen bin Salam, hafidz al-Qur’an, dan kiai yang memilih sunyi.

Mbah Dullah merupakan “kiai langit” yang menjadi jujugan Gus Dur, untuk memberi petuah tentang hal-hal yang prinsip, atau memberi ketenangan di tengah pilihan-pilihan sulit.

Di ndalem Mbah Dullah, Gus Dur melepas baju kepresidenan, menanggalkan simbol-simbol penguasa. Gus Dur datang sebagai santri, sebagai keluarga pesantren yang mencari berkah, memburu doa-doa indah. Mbah Dullah memang bukan tipikal ustadz yang gila gemerlap, beliau kiai begawan yang sangat hati-hati dengan penyakit hati, menghindari publikasi dan cenderung untuk “diam”. Hanya bicara bila perlu, dan ketika memberi petuah terasa tepat sasaran.Justru dengan menjaga jarak publikasi, beliau menjadi demikian dikenang di hati santri-santrinya, menjadi demikian masyhur sebagai kiai waskita. Bahkan, Gus Dur yang menjadi presiden dan rujukan pemikiran tokoh-tokoh internasional, hanya duduk tersimpuh untuk memburu tausyiahnya. Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) menyebut Mbah Dullah merupakan “sosok yang kuat luar dan gagah luar-dalam. Kekuatan beliau ditopang oleh kekayaan lahir dan terutama batin”.

Sebagai presiden, Gus Dur melepaskan simbol-simbol yang membuatnya megah; justru beliau mencari kesederhanaan dengan silaturahmi ruhani yang paling sepi. Ada banyak kisah tentang jalan sunyi Gus Dur, peristiwa-peristiwa yang tidak tertangkap kamera jurnalis. Kisah-kisah yang disimpan oleh segelintir orang, dan kemudian mengalir menjadi hikmah yang dituturkan lewat halaqah-halaqah kecil para pemburu sepi.

Kisah-kisah di lingkaran kepresidenan pada masa Gus Dur banyak sekali terekam memori orang-orang dekatnya. Dan, tiap orang memiliki kesan masing-masing, pengalaman spiritual yang berbeda, perjalanan ruhani yang tak sama.

Setiap presiden memiliki ruang sunyinya masing-masing. Seperti dikisahkan Candra Malik tentang the king maker negeri ini, melalui kolom Fiksi Politik, Mitos Kekuasaan, dan Pak Tua.  Di panggung riuh kekuasaan, seorang presiden, gubernur, wali kota, bupati, ataupun pemimpin-pemimpin di jabatan strategis lainnya, membutuhkan ruang sepi untuk merenung, berpikir, berdzikir atau sekadar mengusir bosan dari sorot kamera. Setiap orang butuh tetirah, menjernihkan pikiran dari sengkarut segala urusan.

Teladan Kebangsaan

Hari ini, Jum’at, 4 Agustus, kita mengingat hari lahir Gus Dur. Tujuh puluh tujuh tahun lalu, Gus Dur lahir dari rahim ibundanya, Nyai Sholichah Wahid. Meski sudah hampir delapan tahun wafat, nama Gus Dur masih sering terlintas dalam perbincangan, pemberitaan, publikasi riset maupun narasi buku-buku. Nama Gus Dur melintasi wacana, ia tercatat dalam banyak momentum, dalam nafas panjang sejarah. Catatan-catatan tentang Gus Dur terus lahir dari ingatan para penulis, menguar dalam diskusi-diskusi lintas gagasan.

Pada momentum ini, setidaknya kita bisa menjadikan harlah Gus Dur untuk mengenang pesan kebangsaannya. Ada tiga pesan penting yang kontekstual pada situasi kebangsaan sekarang ini, baik pada ranah nasional maupun internasional.

Pertama, persaudaraan lintas etnis dan agama. Semasa menjadi aktifis maupun sebagai presiden, Gus Dur konsisten dalam persaudaraan lintas etnis dan merawat pertemanan dengan tokoh-tokoh lintas agama. Gus Dur memberi ruang bagi orang-orang Tionghoa untuk bernafas lega, dengan kebijakan mencabut Inpres Nomor 14/1967 produk Orde Baru, yang mendiskriminasi minoritas Tionghoa. Kemudian, menindaklanjuti dengan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tanggal 9 April 2001, yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif.

Selebihnya, Gus Dur menjadi pahlawan orang Papua. Pada 2000, Gus Dur mengizinkan masyarakat Papua menggelar kongres, serta mendukung ide dengan memberi bantuan agar Kongres Rakyat Papua II terselenggara sukses. Pertemuan yang diikuti lebih dari 5.000 peserta dari berbagai kawasan di Papua, menjadi sejarah penting yang membahas aspirasi warga, berbagai kasus HAM, serta pengabaian hak-hak dasar warga Papua.

“Saya ingin ke Papua untuk melihat matahari terbit dari timur,” begitu pesan Gus Dur menjelang tahun baru 2001. Gus Dur memberi teladan bagi persaudaraan lintas etnis dan agama, sesuatu yang sekarang ini menjadi krisis serta tantangan bagi para pemimpin bangsa.

Kedua, membangun jembatan agama dan nasionalisme. Bagi Gus Dur, (agama) Islam dan nasionalisme tidak dapat berdiri sendiri-sendiri di tanah air Indonesia. Keduanya menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan. “Berbagai keputusan final untuk mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah dibuat oleh banyak kelompok, termasuk organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama. Jadi, kita tidak perlu lagi mempertentangkan Islam dan nasionalisme,” ungkap Gus Dur.

Di tengah pertentangan terhadap nasionalisme kebangsan dan diskusi tentang Pancasila dan agama, Gus Dur telah menyumbangkan gagasan dan teladan. Kiprah Gus Dur dalam menjaga bangsa, dengan segenap gagasan dan peristiwa kebangsaan yang ditorehkannya, menjadi catatan bagi kita semua untuk mengais pelajaran berharga.

Ketiga, manuver politik dalam isu Palestina-Israel. Di tengah isu hangat konflik Israel-Palestina, langkah-langkah Gus Dur dapat dikaji kembali. Ketika agresi militer Israel, khususnya di kawasan Jalur Gaza pada 2009, Gus Dur dengan tegas menyatakan agresi militer itu sebagai tindakan yang tidak dilandasi rasa keadilan.

“Beberapa waktu lalu, saya katakan kepada ribuan warga Yahudi Amerika di Los Angeles, jika pemerintah Israel ingin diakui sebagai warga yang berdaulat, mestinya Israel juga harus mengakui Palestina sebagai negara yang merdeka,” ungkap Gus Dur (5 Januari 2009).

Gus Dur juga dekat dengan para pemimpin Palestina dan Israel. Ia menjalin hubungan persahabatan dengan beberapa intelektual dan politisi Israel, di antaranya dengan mantan Presiden Shimon Peres. Keduanya saling memuji, berdiskusi laiknya sahabat. Gus Dur juga tercatat sebagai pengurus Yayasan Shimon Peres. Ia juga menjalin persahabatan dengan PM Israel Yitzhak Rabin.

Manuver Gus Dur yang bersahabat dengan pemimpin dan pengusaha Israel ini sering disalahpahami, tanpa melihat konteks dan tujuan panjangnya. Padahal, Gus Dur mengusahakan perdamaian antara Israel-Palestina, yang sudah diupayakan dengan berbagai media lobi sejak tahun 1980-an. Presiden Jokowi maupun pemimpin bangsa Indonesia selanjutnya, perlu meneladani langkah politik dan manuver Gus Dur untuk membangun jembatan diplomasi yang lebih kontekstual.

Sederet teladan Gus Dur telah beliau torehkan dalam sejarah. Spektrum pemikiran dan daya jangkau tindakan Gus Dur sangat luas, yang tidak semua orang sanggup merengkuhnya. Sebagai manusia, tentu saja Gus Dur memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas kita adalah mengambil gagasan dan pelajaran berharga dari berbagai letupan pemikiran sekaligus teladan kiprahnya untuk bangsa ini.

Hari ini di hari lahirnya, kita menziarahi teladan kebangsaan Gus Dur. Lahu al-faatihah.