Senin, 27 Mei 2019

TENTANG 1965 DAN JALAN TERJAL REKONSILIASI

Minggu, 16 September 2018
oleh : Haris el mahdi
Dibaca sebanyak 348 kali
Minggu kedua Agustus di tahun 1945, dua bom berhulu nuklir menghantam dua kota strategis yang menjadi lumbung logistik pasukan Dai Nippon, Hiroshima dan Nagasaki. Inilah untuk pertama kali dan satu-satunya, setidaknya sampai saat ini, senjata nuklir digunakan dalam sebuah perang. Hancurnya Hiroshima dan Nagasaki mereduksi sangat drastis kekuatan Dai Nippon dan menjadi tanda awal berakhirnya Perang Dunia ke-2. Perang ini dimenangkan secara gemilang oleh pihak sekutu yang dipimpin aliansi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di daratan Eropa, pasukan NAZI juga mengalami kekalahan besar dan terjepit. Di Penghujung cerita, Hitler dan Istrinya, Eva mati bunuh diri, meski jasadnya hilang misterius. Perang Dunia ke-2 berakhir anti-klimaks. Namun, bukan berarti dunia menemukan kedamaian. Paska PD Ke-2, dunia dibagi dalam dua kubu besar, yang merefleksikan pemenang PD ke-2. Bagi-bagi rampasan perang. Dua kubu itu adalah kubu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Bernard Russel menyebutnya sebagai Blok Declaration of Independence dan Blok Manifesto Communist.
 
Persaingan dua kubu ini sangat intens dalam meneguhkan pengaruhnya, terutama di paruh kedua abad 20. Novel James Bond karya Ian Flemming lahir sebagai gambaran fiksi atas Perseteruan itu,  yang dikenal sebagai "perang dingin". 
 
Imbas dari perang dingin ini, banyak bangsa dipaksa memilih salah satu kubu atau bangsa itu terpecah belah.  Jerman,  Korea,  Sudan dan Yaman adalah beberapa contoh bangsa yang terpaksa terpecah belah. Bahkan,  Korea masih terpecah sampai sekarang,  Korea Utara dan Korea selatan. Vietnam pun sempat terpecah sebelum akhirnya Paman Ho berhasil menyatukannya.
 
Indonesia, di awal berdiri menegaskan untuk menjadi bangsa netral, tidak memihak Blok Barat atau Timur. "Mengayuh di antara dua karang"  dalam bahasa Bung Hatta,  yang menghasilkan kredo politik luar negeri "bebas aktif".  Indonesia, di tangan Bung Karno,  aktif menginisiasi gerakan Non Blok,  sebuah jalan tengah untuk mewujudkan perdamaian dunia. Pun,  Bung Karno menari-nari di antara dua Blok itu, berkunjung ke Amerika Serikat tetapi di lain waktu juga berkunjung ke Uni Soviet.
 
Namun,  di dalam negeri, elemen-elemen anak bangsa terpecah dalam dua kubu.  TNI AD yang berafiliasi dengan PSI dan Masyumi lebih condong memihak Blok Barat, Blok Amerika Serikat. Sementara itu,  PKI dengan 3 juta simpatisannya condong pada Blok Timur. Bung Karno, sebagai Presiden berusaha berada di tengah, menjaga keseimbangan kedua ideologi itu agar tidak sampai terjadi perang saudara.
 
Pandangan Bung Karno terhadap Barat berubah ketika AS memberi bantuan Indonesia dengan berbagai syarat yang berat. Bung Karno berujar ;"Go to hell with your aids". Lebih lagi,  AS terbukti ikut terlibat pemberontakan PRRI/PERMESTA. Bung Karno marah besar, merasa ditusuk dari belakang sebagaimana ia tuturkan pada Cindy Adams. Pun,  belakangan tarian Bung Karno lebih condong ke Blok Timur, yang oleh Bung Karno disebut lebih jujur, tidak hipokrit. Ada kesan,  Bung Karno lebih dekat pada PKI ketimbang TNI AD, setidaknya menurut Nasution dan para jenderal AD.
 
Terjadilah malam paling kelam dalam sejarah Indonesia,  Gerakan satu Oktober 1965,  Gestok 1965. Beberapa Jenderal diculik, dibunuh dan dibuang ke lubang buaya. Soeharto, dengan tanpa melalui penyelidikan serius,  secara terburu-buru menuduh PKI sebagai dalang kudeta gagal itu. 
 
Gestok 1965 menjadi dalih untuk dua hal :
 
Pertama,  dalih untuk menggulingkan Bung Karno dari kursi Presiden. Pidato Nawaksara ditolak dalam sidang istimewa MPRS. 
 
Dibangunlah propaganda dan stigma negatif terhadap Bung Karno. Bung Karno dituduh terlibat dan mendapat keuntungan dari Gestok 1965. Sebuah tuduhan konyol dan tak masuk akal. Hanya presiden idiot yang melakukan kudeta atas pemerintahannya sendiri.
 
Pun, Bung Karno diperlakukan secara buruk, paska dilengserkan. Ia ditempatkan di dalam sebuah rumah,  Wisma Yoso, diperlakukan layaknya bandit dalam rumah itu. Semua hak Bung Karno sebagai warga negara dicabut, tidak lagi boleh berinteraksi dengan orang lain. Bung Karno diisolasi sedemikian rupa. Bapak bangsa itu, salah-satu pendiri republik ini, sama sekali tidak dimanusiawikan. Bung Karno disetarakan dengan binatang. Dokter yang merawat Bung Karno adalah seorang dokter hewan. Pun,  istri-istri dan anak turun Bung Karno juga diintimidasi sedemikian rupa.
 
Negara ini,  republik Indonesia, seharusnya mengakui kesalahan telah memperlakukan Pendiri Bangsa,  Bung Karno,  dengan buruk dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Negara ini, republik Indonesia, seharusnya merehabilitasi nama Bung Karno (dan keluarga)  dari stigma negatif Orde Baru dan mendudukkan kembali posisinya sebagai bapak bangsa dan pahlawan nasional. Tanpa itu,  Indonesia menjadi negara kerdil.
 
Kedua,  Gestok 1965 menjadi dalih untuk membunuh (lebih tepatnya membantai)  mereka yang dituduh sebagai antek PKI TANPA melalui proses pengadilan yang fair. Pada puncak pembantaian itu,  Sungai Berantas laksana lautan darah, kepala dan tubuh manusia "kintir"  di sungai Berantas adalah pemandangan lumrah. 
 
Ada ribuan manusia dibunuh tanpa tahu apa kesalahannya. Bahkan, tak jarang, mereka justru buta politik. Dan, pembunuhan itu dilakukan secara sistematis dan terorganisir oleh aparat negara. Inilah pembunuhan massal paling mengerikan di abad 20 setelah Holocaust yang dilakukan NAZI.
 
Negara ini, republik Indonesia, seharusnya sudi mengungkap kebenaran atas pembunuhan massal itu, merehabilitasi para korban dan meminta maaf kepada para korban. Negara ini,  republik Indonesia, seharusnya berani jujur dalam membaca sejarah, menuju rekonsiliasi permanen. Tanpa rekonstruksi sejarah, tak ada rekonsiliasi. 
 
Ikhtiar ini bukan untuk membangkitkan kembali PKI di Indonesia, "komunisme gaya baru" kata mereka yang sinis. Bukan, bukan untuk itu. Ikhtiar ini adalah untuk membaca dengan adil paska Gestok 1965 dan memulihkan luka serta dendam. Cukup Ken Arok menjadi pelajaran bahwa dendam yang tidak diputus dengan maaf dan rekonsiliasi hanya akan menjadi balas dendam tak berujung.
 
Akhirnya,  saya bermimpi suatu saat anak seorang algojo 1965 bisa duduk bercengkerama di meja makan dengan anak korban 1965,  tanpa ada yang disembunyikan. Saya bermimpi suatu saat Indonesia menjadi bangsa yang melihat Gestok 1965 dengan jujur, tanpa ada yang disembunyikan, sebuah rekonsiliasi permanen. 
 
Namun,  jalan ke arah itu masih terjal.