Senin, 21 Agustus 2017

TERORISME DI SEKELILING KITA

Minggu, 11 Juni 2017
oleh : Donny WS
Dibaca sebanyak 295 kali
Sekali lagi, teror bom kembali mengguncang Indonesia. Kali ini bom meledak di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017). Lima orang tewas dari serangan ini termasuk pelaku. Sebelumnya, serangkaian aksi teror juga baru terjadi di kota Manchester dan Marawi. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan mengancam akan ada lebih banyak serangan susulan. Jika kita melihat serangkaian aksi teror yang mengatasnamakan Islam, banyak sekali pertanyaan yang akan muncul. Apakah betul Islam mengajarkan kekerasan? Apakah Islam mengajarkan kebencian? Mengapa aksi terorisme masih terus terjadi? Sepemahaman penulis, Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawakan amanat perasaudaraan dalam kehidupan (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin). Oleh karena itu, segala bentuk tindak kekerasan dan terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

 

 Akar Terorisme

Dari semakin maraknya aksi kekerasan dan terorisme yang terjadi belakangan ini, tidak mengherankan bila penelitian yang dilakukan Institute for Economics and Peace (2016), terkait masalah Global Peace Index (GPI), dan Terrorism Index (TI), menunjukan bahwa tingkat perdamaian paling rendah dan tingginya tingkat terorisme justru berada di negara yang berpenduduk mayoritas Islam. Dalam masalah GPI misalnya, enam peringkat terbawah dalam hal negara paling tidak damai (the least peaceful country) ditempati oleh Yaman (158), Somalia (159), Afghanistan (160), Irak (161), Sudan (162), dan Suriah (163). Adapun, negara paling damai (the very peaceful country) masih ditempati oleh Islandia. Perlu diketahui, semakin kecil peringkat suatu negara, berarti tingkat perdamaian di negara tersebut semakin baik, begitu juga sebaliknya. Dalam masalah terorisme, Terrorism Index (TI) mengukur semakin tinggi peringkat suatu negara, berarti tingkat terorisme di negara tersebut semakin tinggi. Berdasarkan data TI (2016), tingkat aksi terorisme tertinggi ditempati oleh Irak (1), Afghanistan (2), Nigeria (3), Pakistan (4), dan Suriah (5).  

Berdasarakan data di atas, menarik jika kita mengajukan sebuah pertanyaan: Mengapa kekerasan dan terorisme identik dengan negara-negara yang berpenduduk mayoritas Islam? Bagi penulis, tidak lain tidak bukan adalah perilaku dari sebagian umat Islam di negara tersebut. Cobalah tengok konflik, kekerasan, dan terorisme di timur tengah yang tak kunjung usai hingga hari ini. Kita juga bisa melihat apa yang sudah dilakukan ISIS sejauh ini.

 Sudah barang tentu berbicara tentang terorisme sangatlah kompleks. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi suburnya aksi terorisme seperti faktor ekonomi, ketidakadilan, psikologi, ideologi, dan lainnya. Akan tetapi, faktor ideologi bisa menjadi motivasi utama seseorang untuk melakukan aksi kekerasan dan terorisme. Mengapa demikian? Karena, sebuah doktrin atau pemahaman keagamaan yang skripturalis dan literalis akan berpotensi besar melahirkan kekerasan dan terorisme.

Paham ini sangat mengabaikan substansialisasi dan kontekstualisasi keagamaan, sehingga terpenjara oleh teks, dogma, dan simbolisme keagamaan. Dalam pandangan al-Jabiri, pemikir Islam kontemporer dari Maroko, pandangan semacam ini tergolong ke dalam nalar bayani, sebuah episteme (meminjam istilah Arkoun) yang sangat tekstual, dimana teks menjadi rujukan paling ideal. Menurutnya, konsekuensi dari pemahaman yang bercorak tekstual seperti ini akan membawa para pengikutnya menjadi individu yang eksklusif dan mudah mengkafirkan yang lain, sehingga tidak mempunyai kemampuan untuk menerima yang lain (the other), dan segala hal yang baru (al-far). Pendangkalan agama semacan inilah yang menjadi akar dari terorisme

Sebagai contoh, ayat-ayat seperti QS 2:190-193, QS 2: 216-217, QS 8:39, QS 9:5, QS 9:14, QS 9:73, QS 9:123 jika dipahami secara skripturalis akan sangat berbahaya dan menjadi sumber masalah. Ayat-ayat ini biasanya menjadi justifikasi bagi kelompok teroris serta kelompok-kelompok Islam garis keras lainnya untuk melakukan serangkaian aksi kekerasan dan terorisme atas nama agama. Padahal, jika kita telaah melalui konteks kesejarahan (asbab al-nuzul), ayat-ayat perang tersebut hadir untuk merespon konflik politik dan sosial yang terjadi pada masa Rasulullah SAW, dan bukan berasal dari masalah agama. Namun, sekarang seolah-olah ayat-ayat perang tersebut telah dijadikan legitimasi dan bahan bakar untuk melakukan kekerasan, kebencian, dan permusuhan. Selain itu, doktrin keselamatan, janji surga, dan mendapatkan bidadari juga menjadi sumber militansi dalam beragama. Mereka yang terbuai oleh iming-iming tersebut akan dengan mudah menjadi ‘pengantin’ untuk melakukan aksi teror.

Melawan Terorisme

Atas dasar penjelasan di atas, terorisme adalah sebuah fenomena yang tidak muncul secara tiba-tiba. Terorisme berawal dari rasa benci. Jika kita ingin memberantasnya kita harus bisa menghilangkan penyebab awal dari rasa benci itu: ideologi kekerasan. Memberantas terorisme sama halnya seperti kita mematikan sebuah pohon, jika kita hanya memotong batang dan mencabut daun-daunnya saja, tanpa kita fokus mematikan akarnya, pohon akan tumbuh kembali baik batang, daun, dan bahkan buahnya. Apalagi, jika didukung oleh lingkungan yang baik, tanah yang subur, dan pupuk yang bagus. Pohon pasti akan berdaun lebat dam berbuah banyak.

Begitu halnya dengan terorisme. Jika kita hanya melakukan sosialisasi terkait bahayanya terorisme, deradikalisasi, penggrebekan teroris, dan memperkuat tim densus antiteror, hal ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah karena ini tidak menyentuh substansi persoalan. Ringkasnya: tidak menyentuh akar-akar yang menopangnya. Padahal, secara tidak sadar kita seringkali menjumpai akar-akar atau cikal bakal dari terorisme di sekeliling kita.

Misalnya, penulis banyak sekali mendengar ceramah-ceramah ustadz di televisi, youtube, pengajian, radio, ataupun khatib Jumat yang mengobarkan kebencian satu sama lain. Hanya berbekal satu dua ayat mereka mudah sekali mencap orang lain pasti masuk neraka, sesat, kafir, dan halal darahnya. Mirisnya, pemahaman seperti ini juga sudah meracuni anak-anak. Sebagai contoh, dalam sebuah video pawai obor jelang Ramadhan (24/5/2017), anak-anak dengan riang dan gembira menyanyikan lagu pembunuhan untuk Ahok. Bukankah hal ini merupakan cikal bakal terorisme?

Selain itu, kelompok-kelompok Islam garis keras juga masih dibiarkan untuk menjalankan aktivitasnya, dan tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. Peluang kebebasan inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok Islam garis keras untuk menyebarluaskan keyakinannya. Dalam hal ini, seolah-olah pemerintah memfasilitasi dan membiarkan berkembangnya intoleransi, radikalisme, dan paham kebencian yang semakin merajalela.

Sebenarnya, teror bom Kampung Melayu ini bisa dijadikan momentum pemerintah untuk betul-betul membuat langkah strategis dalam memberantas dan mengikis habis terorisme sampai ke akar-akarnya. Pemerintah tidak boleh lagi absen terhadap kasus-kasus intoleransi, radikalisme, dan segala bentuk paham kebencian. Pemerintah harus merangkul masyarakat, ulama, organisasi keagamaan, kementerian, serta lemba negara terkait untuk bersinergi  memerangi dan bertindak tegas terhadap intoleransi dan radikalisme sejak mulai terlihat benih-benihnya. Karena, puncak dari segala aksi tersebut adalah terorisme.

Oleh karena itu, penulis mendukung Presiden Jokowi yang meminta masyarakat turut berperan aktif dalam memerangi terorisme. Karena, memberantas terorisme bukan hanya tugas pemerintah dan aparat kepolisian saja.

 Masyarakat juga perlu mengutuk dan memerangi akar-akar dari terorisme atas nama agama. Karena, bisa jadi teman, sahabat, saudara, atau kita yang akan menjadi korban berikutnya. Ada banyak cara yang bisa kita tempuh diantaranya mengikuti saran dari Gus Dur. Dalam buku Islamku, Islam Anda, Islam Kita, Gus Dur menyatakan perlu adanya penafsiran baru (reinterpretasi) terhadap ayat-ayat Quran. Hal ini perlu dilakukan agar Al Quran tidak dijadikan justifikasi untuk melakukan kekerasan dan terorisme. Oleh karena itu, kita memerlukan sebuah penafsiran yang humanistik dan inklusif, yang mengedepankan nilai-nilai universal dalam Quran seperti kemanusiaan, toleransi, kesetaraan, persaudaraan, cinta kasih dan perdamaian.

Selain itu, dialog, sikap saling menghormati, kerjasama sama antar semua pihak tanpa membedakan SARA, dan kampanye pesan-pesan perdamaian harus terus kita lakukan. Bagi Gus Dur, hanya melalui jalan inilah kaum muslimin bisa melakukan koreksi atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, dan memberikan responsi terhadap tantangan-tantangan zaman. Menurutnya, dengan demikian Islam akan menjadi agama kedamaian bukan agama kekerasan, sembari kita harus tetap waspada karena terorisme sudah di sekeliling kita!

 

Wallahu a’lam bishawab.