Rabu, 18 Juli 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur di Tambakberas (1959-1963)

oleh : NUR KHOLIK RIDWAN, 0 Komentar
Pada tahun 1959 Gus Dur pindah ke Jombang dari Magelang, yaitu di Tambakberas. Greg Barton menyebut: “Ia belajar di sini hingga tahun 1963, dan selama kurun itu ia selalu berhubungan dengan Kyai Bishri Syansuri secara teratur. Selama tahun pertamanya, ia mendapat dorongan untuk mulai mengajar. Ia kemudian mengajar di Madrasah Moderen yang didirikan dalam kompleks dan juga menjadi kepala sekolahnya. Selama masa ini, ia tetap berkunjung ke Krapyak secara teratur. Di sini ia tinggal di rumah KH. Ali Maksum (Greg Barton, 2003: 50). Di Tambakberas, Gus Dur menempati Bilik Pangeran Diponegoro, dibawah asuhan KH. Abdul Fattah Hasyim. Kyai Fattah ini memiliki salah satu wirid rutin setelah sholat shubuh dengan ngaji Shohîh al-Bukhôrî dan Ihyâ’ `Ulûmuddîn (Tambakberas, 2017: 215).
Kategori : Headline , Opini

CATENACCIO HANYALAH ALAT BERAT

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
SINDHUNATA telah menguraikan pendapatnya mengenai jalannya pemerintahan dalam harian ini, beberapa hari yang lalu. Inti pendapatnya, sistem bertahan (catenaccio) saja di dalam persepakbolaan Italia sulit untuk dikembangkan di Indonesia dalam perkembangan terakhir ini. Ia mengemukakan, pemerintah dengan sadar haruslah menegakkan demokrasi secara menyeluruh, dan untuk itu sistem bertahan saja tidaklah cukup. Haruslah digunakan sistem menyerang dalam persepakbolaan walaupun tidak jelas strategi mana yang digunakan. Total football-kah atau yang lain?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dawam Raharjo dan Gus Dur, Dua Outlier dari Latar Berbeda

oleh : AL MUIZ LIDDINILLAH , 0 Komentar
Malcom Gladwell dalam bukunya, Outliers (2018), menjelaskan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh faktor perjuangan dan motivasi saja. Akan tetapi, kesuksesan itu juga dipengaruhi oleh kapan kita lahir, siapa orang tua kita, kondisi kebudayaan dan seberapa jauh lingkungan kita memberikan kita kesempatan untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan kita. Outlier juga didefinisikan sebagai orang yang tidak sesuai dengan pemahaman pencapaian orang normal.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Denting Islam dan Peradaban Nusantara Tentang Lingkungan Hidup

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Nusantara adalah peradaban luhur. Kedekatan dengan alam dan sang pencipta selalu dimanifestasikan dalam karya seperti sastra, pitutur luhur, hingga pusaka semisal keris. Tanpa peradaban luhur, masuknya agama-agama ke Nusantara berikut penerimaannya tentu berlangsung dengan paksaan dan kekerasan. Dalam sejumlah literasi, agama Budha, Hindu, Kristen dan Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia melalui jalan damai, jalan niaga, yang dihasilkan oleh peran alam (pertanian, perkebunan hingga perikanan) yang berorientasi pada kehidupan manusia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Mereka Marah?

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Seorang kawan menanyakan, mengapa banyak pemuka masyarakat Islam marah kalau mendengar sebutan “kaum fundamentalis”, atau tersinggung kalau ada orang membicarakan “issue negara Islam”.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Cara Gus Dur Membaca Al Quran dalam Konteks Realitas Sosial

oleh : WILDAN IMADUDDIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Bagi umat Muslim di seluruh Dunia al-Quran adalah sumber pedoman paling otoritatif yang dijadikan sandaran argumentasi hampir di setiap lini kehidupan. Dari al-Quranlah peradaban Islam kemudian lahir, tumbuh dan berkembang menghasilkan beragam sumber ilmu pengetahuan. Berjuta-juta jilid karya para ulama telah diproduksi sebagai bagian dari upaya memahami al-Quran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mudik Atau Tetap Mabuk Kuda Lumping

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pekerjaan rumah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjelang genap 73 tahun merdeka masih banyak. Suara sekaligus gerak positif sebagaimana dilakukan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah nama lain yang berani mudik (pulang) terhadap ajaran Islam, amanat negara dan kemanusiaan lebih dibutuhkan daripada mabuk (hilang kesadaran) seperti pemain kuda lumping. 70 persen dari sekitar 250 juta jiwa total jumlah penduduk Indonesia ialah followers Rasulullah SAW, menganut agama Islam, agama perdamaian. Produksi masif ujaran kebencian hingga fitnah yang telah ditegaskan dosanya lebih besar dari membunuh dalam QS Al Baqarah ayat 217, dewasa ini sungguh mencabik hakikat perdamaian. Tidakkah itu memberi kesan, jika ternyata kita telah jauh meninggalkan Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Negara Islam dalam Pengembaraan Gus Dur

oleh : ZAIM AHYA, 0 Komentar
Gus Dur pernah melakukan pengembaraan, mencari arti negara Islam. Baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Hal itu wajar, karena sebagai seorang muslim. Namun mengapa kemudian beliau menolak dari adanya konsep negara Islam? Bagi umat Islam yang meyakini mendirikan Negara Islam adalah sebuah keharusan, terus berusaha mewuwudkannya merupakan konsekuensi logis dari keyakinannya itu. Tidak mendirikan negara Islam adalah berdosa bagi mereka. Mungkin kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah contoh yang terdekat dalam masalah ini. Walaupun sudah dibubarkan dan gugatannya ditolak karena terbukti berkeinginan mendirikan Khilafah di Negara Kesatuan Republik Indonesia (kompas.com-07/05/2018), namun masih terasa gemanya dari trending topik twitter pada 07/05/2018 kemarin.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kartun Tempo dan Respon Gus Dur

oleh : HAMIDULLOHIBDA , 0 Komentar
Hebohnya kartun Majalah Tempo, edisi 26 Februari 2018 yang mengakibatkan Front Pembela Islam (FPI) demo besar-besaran harus menjadi pembelajaran. Kejadian itu membuktikan masyarakat masih “miskin literasi seni” dalam media massa. Literasi seni di sini meliputi membaca, mengapresiasi, menafsir, bahkan mengritik kartun sebagai produk seni, budaya, dan produk pers.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kartini Sebagai Foto Model

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Dalam tulisannya tentang desain dokumen yang menganalisis hubungan antara teks dan gambar, Aliisa Makynen (2012) memulai tulisannya dengan sebuah pepatah lama yang banyak dikenal orang: “Sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata”. Di sini hendak dinyatakan bahwa sebuah gambar bisa lebih menjelaskan gagasan daripada deretan kalimat dalam sebuah tulisan. Pepatah ini mengandung kebenaran yang nyaris tak terbantahkan. Rambu-rambu lalu lintas hingga buku resep masakan telah membuktikan kebenaran ini. Sekalipun demikian, saya ingin mengawali tulisan tentang Kartini ini justru dari pertanyaan: Mungkinkah sebuah gambar justru menghilangkan makna kata-kata?
Kategori : Headline , Opini