Senin, 23 April 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Yang Selalu Absen Saat Ramadlan

Saat Ramadlan baru berjalan kurang dari 10 hari, media massa telah dipenuhi oleh berbagai aksi mengejutkan yang mengusik nalar dan nurani publik. Adalah Ibu Saeni yang menangis terbalut kalut saat segerombolan Satpol PP Serang Banten menyita kasar makanan yang ia jual siang hari. Sementara itu ancaman razia warung dan restoran juga dilontarkan oleh Kepala Satpol PP Banjarmasin. Disana sweeping bahkan dilakukan terhadap warung-warung yang menjual makanan bagi non-muslim (babi), yang bahkan konsumennya sangat mungkin bukan muslim.
Kategori : Headline , Opini

Bu Sinta, Gus Dur, Al-Azhar dan Para Penghina itu

Sudah hampir 20 tahun terakhir Bu Sinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid, menggelar sahur dan buka bersama dengan kalangan masyarakat bawah, yang dilaksanakan dengan kalangan non-muslim. Beliau, seperti sang suami, ingin menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menyapa kalangan bawah dan mereka yang dianggap berbeda. Bu Sinta datang ke daerah-daerah terpencil dan ke tempat-tempat yang kalangan agama mungkin banyak mengabaikan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Shinta Nuriyah dan Para Pembenci

oleh : ALAMSYAH M DJAKFAR, 0 Komentar
Jika bukan karena komentar dan pernyataan kurang patut dan terkesan melecehkan pribadi atau keterbatasan fisik Bu Shinta Nuriyah di dinding-dinding facebook dan pagar-pagar twitter sejumlah akun, mungkin saya tak akan tergesa-gesa menulis sepagi ini. Soal penolakan FPI atas acara bukber yang digagas beliau bukanlah perkara serius. Mereka tak setuju hal biasa. Saya kira publik sudah mengerti ini. Tapi, soal pelecehan dan kebencian, itu perkara serius dan “tidak biasa”. Orang mungkin bakal menilai pandangan saya ini subyektif. Saya kan “orang” Wahid Foundation, organisasi yang didirikan almarhum Gus Dur. Wajar dong ingin membela pimpinan atau keluarga pendiri organisasi tempat bekerja. Tapi di sinilah masalahnya
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Benturan Antar-Wahabisme di Indonesia

oleh : AHMAD SUAEDY, 0 Komentar
Banyak orang tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada Wahabisme a la Indonesia yang dalam sejarah, setidaknya sejak tahun belasan abad ke-20 telah lahir, dan berbenturan dengan Wahabisme yang lahir di Arab Saudi. Wahabisme Indonesia dinisbatkan kepada KH. Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama-sama dengan KH. Hasyim Asy’ari. Bisa jadi disebabkan karena kelemahan dalam tradisi intelektual di kalangan santri dan pesantren sendiri bahwa mereka tidak tercatat secara tertulis dalam sejarah sebagai perintis ide nasionalisme di awal-awal abad ke-20. Namun, jika menengok naskah Deklarasi atau Piagam Nahdlatul Wathon kalangan santri yang bertitel 1916 (Munim DZ, 2014) maka kalangan santri telah mendeklarasikan cinta tanah air berhadapan dengan penjajah Belanda untuk menuju kemerdekaan ketika itu. Piagam tersebut tidak lain merupakan reformulasi dan ringkasan dari syair ciptaan KH. Wahab Chasbullah jauh sebelumnya yang berjudul “Ya Lal Wathon”, yang artinya ”Wahai Bangsa (Indonesia).”
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Merah Putih dan Reruntuhan

oleh : NURUDDIN HIDAYAT, 0 Komentar
Tak sengaja saya membuka lemari lama di belakang. Ku temukan sebuah kaset lama dari seorang penyanyi balada Frangki S yang menyanyikan lirik lagu Emha Ainun Najib yang sangat menyentuh. Aku pun teringat tragedi itu, di dekade 90 an, di mana ketika aku masih menjadi mahasiswa yang melakukan pendampingan kepada korban penggusuran Waduk Kedung Ombo, sebuah tragedi kemanusiaan yang mengatasnamakan pembangunan. Nilai-nilai kemanusiaan ditiadakan. Ketika itu masih ada lebih kurang 660-an keluarga yang menolak ganti rugi, yang mana ketika proyek itu dicanangkan pada tahun 1985 dengan dana USD 156,2 juta, bantuan dari bank dunia, bank Exim Jepang USD 25,2 juta dan APBN th 1985 hingga 1989. Waduk tersebut menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten. Permasalahannya bukan kita menolak pembangunan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jalan Budaya ketika Langit tak Lagi Sama

oleh : ARSWENDO ATMOWILOTO, 0 Komentar
Kebenaran, juga kebebasan,disampaikan melalui sapa,juga melalui media sosial. Juga kalau ingin menyangkalnya. Begitulah peristiwa berlangsung secara terus menerus, tanpa ada libur atau cuti, di saat kita tidur atau terjaga. Kebenaran dirumuskan, disampaikan, didesakkan, sebagai bagian dari tanggung jawab sebagai manusia untuk kesetaraan dan keadilan. Dan sesungguhnya kemerdekaan menjadi syarat untuk terjadinya komunikasi ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus-Dur dan Kepiawaian Menulisnya

oleh : M. HAROMAIN, 0 Komentar
Beberapa lama setelah berada di kampung halamannya, Tebuireng, Jombang di tahun-tahun 1972-1974, selain mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai menekuni kembali bakat menulisnya dan menjadi kolomnis di berbagi media massa nasional. Pada kurun ini tulisannya kerap bermunculan di berbagai media massa mulai dari majalah nasional umum seperti Tempo hingga majalah islami seperti Panji Masyarakat yang didirikan oleh Buya Hamka.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Le Petit Prince

oleh : ABRAHAM ZAKKY ZULHAZM, 0 Komentar
Salah satu karya sastra besar yang pernah lahir di muka bumi adalah Le Petit Prince (diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Pangeran Cilik). Novel tipis itu dibuka dengan pembukaan yang apik dan menggelitik. Tokoh ‘aku’ pada umur enam tahun terpukau dengan sebuah gambar yang ia lihat di buku tentang alam rimba: gambar seekor sanca menelan seekor hewan buas.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Agama bagi Burung

oleh : M.S. ARIFIN, 0 Komentar
Bukan satu/dua kali, di Mesir ini, saya ditanya perihal agama. “Enta Muslim?” pernah suatu ketika seorang penjual thagin (makanan khas Mesir) menanyakan itu. Saya tak tahu apa dampak dari pertanyaan itu baginya, juga bagi saya. Mungkin, baginya, jika saya muslim, berarti (kalau memang ia juga muslim) ia merasa bangga dengan kemuslimannya karena tak hanya orang dari Arab saja yang beragama Islam. Bagi saya, entah, saya cuma berharap saat itu dapat gratisan makan dua porsi thagin dan dua bungkus krupuk Iesh. Tapi saat itu saya tetap bayar, lengkap tanpa diskon. Si penjual yang bertanya tadi, tersenyum saat saya membayar dan kemudian tak terjadi apa-apa lagi. Apakah pertanyaan perihal agama di sini adalah basa-basi?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam Baper atawa Akidah Puber

Dua hari yang lalu, saya menemukan sebuah kalimat yang menarik, tergores pada sebuah kaos oblong. Kalimat itu bertuliskan: “Islam baper, Akidah Puber”. Kutipan kaos itu menurut saya menggelitik.Marketable bagi emak-emak yang hobi jualan di olshop. Kemudian saya berfikir keras. Apa maksud dari tulisan itu? Pikir saya, Islam kok baper, Akidah kok puber. Mungkin sebagian pembaca masih ada yang miss dengan kata ‘baper’ yang ngehit dewasa ini. Menurut khasanah Kamus Bahasa Anak Muda Indonesia (KBAMI), baper berarti “bawa perasaan”. Suka teriak-teriak dan melow tidak jelas, mempunyai rasa ketakutan yang akut (baca: fobia).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi