Minggu, 25 Februari 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Islam Baper atawa Akidah Puber

Dua hari yang lalu, saya menemukan sebuah kalimat yang menarik, tergores pada sebuah kaos oblong. Kalimat itu bertuliskan: “Islam baper, Akidah Puber”. Kutipan kaos itu menurut saya menggelitik.Marketable bagi emak-emak yang hobi jualan di olshop. Kemudian saya berfikir keras. Apa maksud dari tulisan itu? Pikir saya, Islam kok baper, Akidah kok puber. Mungkin sebagian pembaca masih ada yang miss dengan kata ‘baper’ yang ngehit dewasa ini. Menurut khasanah Kamus Bahasa Anak Muda Indonesia (KBAMI), baper berarti “bawa perasaan”. Suka teriak-teriak dan melow tidak jelas, mempunyai rasa ketakutan yang akut (baca: fobia).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Agama dan Negosiasi Kebudayaan

Suatu ketika dalam sebuah kegiatan dialog "Relasi Agama dan Budaya" dimana penulis hadir sebagai pemantik, seorang peserta bertanya kepada penulis. Apakah budaya yang mengikuti agama, atau agama yang mengikuti budaya? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan lain berkenaan dengan hal tersebut, juga telah lama mengusik pikiran penulis atau juga mungkin pembaca. Namun justru dengan begitu pelan-pelan kita akan berusaha menemukan jawabannya, jawaban yang tentu tak akan pernah final, melainkan hanya sebagai kesimpulan sementara, sambil tetap membiarkan nurani dan nalar kita bekerja, mengiringi perubahan yang telah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan kita.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Islam, dan Republik

oleh : SYAIFUL ARIF, 0 Komentar
Beruntung kita memiliki tokoh seperti almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebab di tengah kegamangan umat Islam meletakkan hubungan agama dan negara, ia menghadirkan perspektif baru dalam konteks Islam, politik dan republik. Perspektif baru yang dimaksud merupakan alternatif dari kritiknya atas tiga pendekatan dalam politik Islam. Pertama, pendekatan klasik. Dalam Beberapa Aspek Teoritis dari Pemikiran Politik dan Negara Islam, Gus Dur mengritik pemikiran Islam klasik (Sunni) yang terlalu negara-sentris dan sarwa hukum. Bagi pendekatan ini, hal terpenting dari politik adalah negara, dan inti darinya ialah hukum Islam. Maka pendekatan ini langsung mengabaikan pemikiranpolitik di dalam pemikiran kenegaraannya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur tentang Kesetaraan dalam Perbedaan

oleh : MUJIBURRAHMAN, 0 Komentar
K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil 'Gus Dur' adalah tokoh Muslim santri sekaligus politisi yang terpilih menjadi presiden keempat Indonesia. Gus Dur, adalah seorang ulama dan pemimpin organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU). Karena itu, pemikiran Gus Dur, termasuk mengenai kesetaraan dalam perbedaan, tidak terlepas dari pemahaman dan penafsirannya terhadap ajaran-ajaran Islam. Pada 1994, Gus Dur datang ke Banjarmasin untuk kegiatan NU. Dia juga diundang PMII Cabang Banjarmasin untuk mengisi seminar tentang 'Pembaruan Pemikiran Islam', bertempat di auditorium IAIN Antasari. Saya ketika itu baru saja selesai skripsi, dan masih aktif di PMII.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Tionghoa, dan Kepemimpinan

Ada banyak kisah tentang Gus Dur dalam Imlek tahun ini. Beliau tidak hanya menjadi panutan warga pesantren, namun juga diingat sebagai pejuang bagi warga Tionghoa.Momentum Imlek tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi orang Tionghoa, namun telah menjadi bagian dari peristiwa lintas etnis. Tahun Baru Imlek 2567 ini menjadi momentum refleksi kebangsaan, di tengah kontestasi politik, konspirasi antar elit. Imlek menjadi media komunikasi antar etnis, budaya dan agama. Di Indonesia, Imlek tidak hanya dirayakan orang Tionghoa dalam tradisi Konghucu semata, namun menjadi bagian dari tradisi komunal yang mempertemukan ragam budaya. Dari sana pula, kita bisa kita saksikan narasi panjang historiografi Nusantara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sumpah GUSDURian vs Syahadat Heteronormativitas

Soal keberadaan LGBT, setiap orang punya hak untuk bersepakat atau tidak. Namun, yang tidak bisa saya pahami, sebagai seorang GUSDURian, adalah ketika ketidaksepakatan tersebut digunakan untuk menghalangi hak-hak dasar kelompok LGBT. Analogi simplenya kira2 begini. Saya tidak bisa menghalangi pemakan babi mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai manusia, hanya karena saya merasa jijik memakannya. Saya -misalnya lagi- tidak sependapat dengan keyakinan yang menyatakan Isa adalah Anak Tuhan. Namun apakah dengan pendirian seperti itu saya boleh mendzalimi mereka? Atau membiarkan hak mereka disewenang-wenangi karena keyakinannya?atau, malah justru ikutan-ikutan bertindak koplak mendesak negara memberangus mereka? Jika kalian menjawab “YA” untuk ketiga pertanyaan di atas saat saya jadi fasilitator Kelas Pemikiran Gus Dur, saya akan menyarankan kalian mengulang KPG lagi.
Kategori : Headline , Opini

Terorisme, Media Sosial, dan Kita

oleh : WISNU PRASETYA UTOMO , 0 Komentar
Di era media sosial, ketakutan sama mudah menyebarnya seperti keberanian. Dalam tulisannya yang berjudul Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda(2008), Manuel Soriano dengan mengutip Marshall McLuhan bilang bahwa “without communication terrorism would not exist". Inti argumennya sederhana: perkembangan teknologi media telah membuat para kerja para teroris untuk menyampaikan pesan-pesan teror menjadi lebih luas, ringkas, dan menjangkau orang secara lebih luas dan efektif
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Natal 2015 dan Ulah Gus Dur

Kemarin, sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke WA saya. dari profil fotonya saya segera mengenali kalau itu milik Gus Z, pengasuh salah satu pesantren besar di Jombang. Saya biasa memanggilnya "Mas". "Apakah ini benar perkataan Gus Dur" katanya sembari menyertakan meme ucapan natal yang ada foto Gus Dur duduk. Saya cermati sekilas, ada penanda akun twitter resmi Jaringan GUSDURian, pimpinan ibu Alissa Wahid, @Gusdurians
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Menasehati Umat Kontroversi Ucapan Natal

oleh : M. RIKZA CHAMAMI , 0 Komentar
Hari ini, 25 Desember 2015 umat Kristiani merayakan Natal. Tentunya hari yang sangat spesial dan bermakna bagi umat Nasrani. Sebagian kecil umat Islam masih mempersoalkan boleh dan tidaknya ucapan Natal. Wajar saja karena cara memahami dan memaknai sebuah ucapan itu dengan perspektif dan metode yang tidak sama juga. Sama halnya ketika mengucapkan "durian ini nikmat dan harum". Bagi penggemar durian kalimat itu benar. Namun bagi bukan penggemar durian, ungkapan itu dianggap tidak tepat karena ia tidak bisa menikmati durian dan tidak merasa harum. Padahal durian jelas-jelas nikmat dan harum (bagi penggemarnya).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Takut Mengucapkan Selamat Natal?

Tidak ada habisnya tenaga dan pikiran orang Indonesia setiap tahun untuk selalu berdebat mengenai ucapan Selamat Natal. Perdebatan saat ini pun terlihat lebih masif bila dibandingkan zaman dahulu ketika belum ada internet dan android. Sewaktu lagi bomingnya fesbuk tentu kita bisa melihat banyak dari para netizen yang ramai membincangkan status hukum mengucapkan Selamat Natal. Akan tetapi saat ini jauh lebih gaduh dibandingkan dengan era dahulu. Karena sudah ada aplikasi canggih seperti Whatsapp dan BBM yang bisa mengirimkan pesan (broadcast) ke siapapun yang dikehendaki. Terlebih obrolan di group-group. Di satu sisi saya bersyukur bahwa bangsa kita berani mengeluarkan opininya, hak berdaulat atas pendapatnya terpenuhi. Tidak seperti era orde baru yang lebih banyak bungkam dan sendiko dawuh terhadap kekuatan politik saat itu. Termasuk soal keagamaan. Namun di sisi lain saya justru mengaggap kalau perdebatan lewat media sosial sekarang ini jauh lebih berisik dan mengganggu pandangan mata saya ketika membaca notifikasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi