Minggu, 29 Maret 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Mereka Kehilangan Gus Dur (Desember Kelabu)

oleh : KH. HUSAIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Di tempat lain, di kompleks pesantren Tebuireng, Jombang, ketika matahari merekah cerah, dan tetes-tetes embun di atas daun satu-satu menghilang, tampak para bikhu (bhiksu) dan bhikuni dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menunduk dan menggumamkan do’a-do’a dan puja-puji kudus. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan pemandangan indah dan mengharukan seperti ini di manapun di negeri ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Ulama Perempuan Pluralis: Bu Sinta Layak Diberi Gelar Doktor

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Bu Sinta, begitu anak bangsa memanggil Ibu Negara Nyai Hj. Dra. Sinta Nuriyah, M.Hum. Istri mendiang Presiden RI keempat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini lahir di Jombang pada 08 Maret 1948. Ia dikenal sebagai ulama perempuan pluralis yang peduli pada isu-isu anti korupsi, kemiskinan, dan pembelaan hak-hak konstitusional kelompok minoritas. Bu Sinta diapresiasi sebagai Srikandi Pemberdayaan Perempuan Indonesia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Perjalanan Gus Dur Sebagai Sosok Ulama

oleh : MUHAMMAD AUTAD AN NASHER , 0 Komentar
Bagi generasi yang lahir di tahun 90 an, sangat jarang yang mengikuti secara langsung kiprah Presiden RI ke-4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kebanyakan mereka mengenal Gus Dur dari slentingan cerita melalui forum diskusi, seminar, obrolan warung kopi, serta jejak media.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Islam Kultural ala Gus Dur Melawan Politik Islamisasi ala Soeharto

oleh : MUHAMMAD IQBAL, 0 Komentar
Momen penting dalam hubungan Rezim Orde Baru dan muslim Indonesia terjadi pada 1983-4. Pertama-tama, Pancasila ditegaskan kembali sebagai dasar negara. Orde Baru melangkah lebih jauh, tatkala–berbeda dengan tahun-tahun awal kemerdekaan dan masa politik aliran 1950-an–Pancasila dinyatakan sebagai asas tunggal untuk semua pelaku sosial-politik.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Manusia Biasa yang Langka

oleh : AHMAD QOMARUDDIN, 0 Komentar
Kalau ada edaran angket tentang siapakah manusia unik, lucu, jenius, dan juga kontroversi di Indonesia, kayaknya akan banyak yang menulis nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Karena predikat itulah, mantan presiden Indonesia keempat ini memang layak mendapat beberapa sebutan seperti cendikiawan, negarawan, kiai, guru bangsa, bapak pluralisme, budayawan, dan beberapa lainnya yang layak disematkan kepada beliau. Mungkin juga satu-satunya tokoh yang layak disebut komedian.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Rahasia Gus Dur

oleh : KH. HUSAIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Desember adalah bulan Gus Dur. Di Turki bulan Maulana Rumi. Tahun lalu aku sudah menulis. Antara lain ini : Gus Dur, adalah nama yang menyimpan kekayaan pengetahuan humaniora dan spritual yang seakan tak pernah habis dikaji. Meski telah pulang, ia masih terus disebut dan kata-katanya terus dikutip dan diurai oleh banyak orang. "Ini menarik sekali. Apakah rahasianya", tanya seorang teman.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Proyek Arkeologi Kebudayaan

oleh : MUHAMMAD AS HIKAM, 0 Komentar
“Kang, kemarin saya mampir ke makam Mbah Kerto.” “Mbah Kerto yang mana, Gus?” “Lho, masak sampean ndak tahu. Itu makam yang di Bandungrejo, deket rumah sampean di Plumpang, Tuban.” “Wah, saya malah nggak tahu Gus ada makam Mbah Kerto. Lagi pula, beliau itu siapa, Gus?” “Walaah, sampean ini gimana… Mbah Kertowijoyo itu salah satu Waliyullah yang ada di Tuban. Saya dan Mbah Kyai Faqih Langitan sering ke sana. Yang jaga makam kan Mbah Noko, dulu santrinya Almaghfurlah ayah sampean, KH. Abd. Fatah…”
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

AGAMAMU APA?

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Saat pertama kali istilah ini muncul di media sosial beberapa tahun lalu, jagad netizen Indonesia menertawakannya karena menganggap ini adalah pertanyaan yang absurd. Ia muncul terutama pada pembicaraan mengenai ucapan selamat Natal atau tentang pemimpin seagama dalam kontes pemilihan kepala daerah, atau pembicaraan tentang hal-hal lain dalam kehidupan bermasyarakat. Mak bedunduk, pertanyaan “maaf, agamamu apa?” mengimbuhi percakapan. Dan publik tertawa.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi