Rabu, 28 Juni 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

GUS DUR: JEJAK GURU PERDAMAIAN

Seorang teolog katholik yang bernama Hans Kung pernah mengungkapkan demikian, tidak ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama, tidak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama. Ucapan Hans Kung mengingatkan kita bahwa agama memiliki peran dan tanggung jawab yang besar di dalam membangun peradaban dunia. Agama mejadi mati dan ‘mandul’, apabila hidup dalam sekat-sekat primodialisme. Dia (baca : agama) menjadi kering, tanpa ruh, tanpa nafas, kaku, apabila tidak bersinggungan dengan dunia. Agama bisa menjadi cahaya lampu yang redup, atau bisa saja lenyap dan pelan-pelan tenggelam. Sejatinya, Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan pekat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Aceh

oleh : TEUKU KEMAL FASYA, 0 Komentar
17 September 1999, di halaman depan Mesjid Bayt ar-Rahman Banda Aceh, ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dipapah oleh pemuda Aceh, Azmi dan Afdal Yasin, membuka selubung yang menutupi sebuah papan. Isinya dukungan untuk referendum di Aceh. Gus Dur pun menangis tersedu. Tak jelas kenapa, tapi ada yang mengatakan ia merasa sedih karena ditipu. Afdal Yasin ialah anak tokoh Nahdlatul Ulama Aceh Selatan dan deklarator PKB di Aceh. Adapun Azmi tokoh pemuda Aceh yang terkenal karena tinjunya kepada mantan gubernur Aceh, Ibrahim Hasan. Ibrahim Hasan dianggap bersalah karena menyetujui proposal Daerah Operasi Militer (1989-1998).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Membaca Pemikiran Gus Dur Tentang Kebudayaan

Melalui sejumlah tulisan dan diskusi lisan, pada dasawarsa 80-an hingga awal 90-an, Gus Dur (selanjutnya disebut GD), melontarkan perdebatan baru tentang kebudayaan sebagai pertarungan antar kekuatan soaial dan kultural di tengah berlangsungnya kehidupan konkret-historis, bukan sebagai onggokan nilai, norma, adat istiadat, atau benda-benda artefak sebagaimana yang dipandang masyarakat umum dan diperdebatkan budayawan dan akademisi ilmu social kala itu, dan bukan pula sebagai persoalan “barat atau timur” atau modern-tradisional seperti yang diramaikan Takdir-Pane dan pengikutnya masing-masing tempo dulu. Bukan hanya berbeda, lontaran GD itu mendahului dimulainya kajian budaya kontemporer di Indonesia yang digulirkan sejumlah peneliti seperti Greg Acciaioli, J. Pamberton, L.J. Sears, M. Zurbuchen J. Lindsay, P. Yampolsky, dan Amrih Widodo. Karya-karya mereka yang berhasil memetakan bagaimana pertarungan antar kekuatan memperebutkan kesenian dan ritual baru dipublikasi pada 1995.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Selamat Natal, Perdebatan Berisik Tiap Akhir Tahun, dan Kerisauan Gus Dur

oleh : ROY MURTADHO, 0 Komentar
Setiap akhir tahun, menjelang natal di bulan Desember, yang menghiasi ruang publik tak hanya warna warni persiapan natal yang jamak kita jumpai di tempat-tempat perbelanjaan.Seperti pohon natal, dan topi ala Santa Claus. Tapi juga perdebatan musiman mengenai boleh tidaknya kaum muslimmengucapkan natal bagi kaum kristiani. Perdebatan mengucapkan selamat natal bahkan telah menjurus pada pengkafiran bagi seorang muslim yang mengucapkannya pada kerabat dan koleganya meski hanya sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan bagi kaum kristiani yang sedang merayakannya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Natal dan Spirit Gus Dur

oleh : AAN ANSHORI, 0 Komentar
Setiap natal menjelang, suka cita pasti datang. Bagi umat Kristiani, berita kelahiran Yesus (Isa) merupakan anugerah tersendiri. Mereka mengimani kehadiranNya di muka bumi sebagai Sang Juru Selamat, menebus dosa asal manusia. Sudah jamak diketahui bahwa dalam masyarakat Indonesia yang beragam, selebrasi hari raya kerap dilakukan dengan cara saling mengirim ucapan, termasuk pada saat natal. Tidak sedikit orang Islam mengirim pesan natal pada kolega, teman maupun saudaranya yang Kristen. Bagi sebagian umat Islam lainnya, suka cita natal ini dianggap kedukaan tersendiri. Natal dipersepsi laksana pintu gerbang pembawa umat Islam menuju kesesatan. Mereka berhipotesis ucapan natal dianggap telah mencampuradukkan akidah. Narasi besar yang terus digelorakan adalah; mengucapkannya berarti mengakui dan mengimani. Mengakui berarti telah keluar dari Islam (murtad). Jika logika ini diteruskan, kemurtadan akan berujung pada pengenaan pidana berat; bunuh.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Papua dalam Cengkeraman Militer

oleh : BADRUL ARIFIN, 0 Komentar
Hari ini tepat H-2 menuju hari HAM internasional, peristiwa pelanggaran HAM kembali terjadi di tanah papua, 7 warga sipil tewas tertembak senapan aparat. Menurut pemberitaan salah satu media online menyebutkan peristiwa tragis ini terjadi dikarenakan adu mulut antar aparat dan warga sipil, hingga kemudian senapanlah yang berbicara. Empat di antaranya masih sangat muda mereka berumur 17-18 tahun. Mereka bahkan lebih muda dari usia rata-rata mahasiswa tiga di antaranya anak SMA. 7 warga sipil yang tak bersenjata tewas itu tak berdaya menghadapi rongrongan senapan aparat. Ada sejumlah versi yang muncul tentang mengapa peristiwa ini terjadi. Pertama, penembakan terjadi ketika warga Paniai tengah melakukan protes pada polisi. Pasalnya, pada hari Minggu malam, 7 Desember 2014, seorang anak laki-laki dipukul polisi dengan popor senjata setelah ia menegur patroli polisi yang tak menyalakan lampu. Versi ini merupakan versi yang beredar luas. Kedua, TNI menyatakan cerita itu mengada-ada. Menurut TNI, protes merupakan efek dari masalah pemilukada setempat. Sejauh yang dapat penulis temui, belum ada versi yang secara khusus mengaitkan masalah ini dengan OPM. Terlepas dari versi yang beredar,kita tahu: merampas masa depan anak-anak SMA dengan peluru tajam adalah perbuatan yang sama sekali tak bisa dibenarkan. Sangat disayangkan peristiwa yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah harus diakhiri dengan penyelesaian khas orba nan fasis itu.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Senyap Itu Harus Dihentikan!

oleh : WORO WAHYUNINGTYAS, 0 Komentar
Aduh..aduh..aduh…aduh..duh…mana tahan… Kalimat itu adalah sebuah penggalan lagu, lagu yang selalu didendangkan oleh ayah Adi Rukun dan alm. Ramli. Dalam kondisi umur yang sudah tua_menurut KTP lebih dari 100th_, tidak mampu berjalan, menghabiskan harinya di atas tempat tidur. Pendengaran dan penglihatan bapak ini sudah sangat berkurang, sulit untuk diajak komunikasi. Ternyata, melihat film Senyap untuk kedua kalinya masih membuat perasaanku bergolak. Dan dengan menulis ini, ada harapan untuk semakin menenangkan perasaanku atas apa yang pernah terjadi di keluarga kami 49 tahun yang lalu.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Wawancara dengan Hilmar Farid

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Sejarah adalah representasi masa lalu, ia diceritakan dan disusun berdasar pada informasi tertentu. Dalam hal ini, sejarah sangat bersifat politis. apa yang boleh dan tidak boleh diceritakan adalah praktik politis. Indonesia punya sejarah kelam di tahun 1965 yang sampai sekarang terus memicu kontroversi, termasuk di dalamnya adalah kekacauan berpikir dalam melihat peristiwa itu. Kacau pikir itu berimbas pada proses panjang diskriminasi sekaligus menandai ketidakmampuan bangsa ini menjernihkan masa lalu. Lalu bagaimana kita mesti meletakkan sejarah sekaligus menatap masa depan. Redaksi Kampung Gusdurian berkesempatan mewawancarai Hilmar Farid, sejarawan dan pengkaji kebudayaan, salah satu pendiri Institut Sejarah Sosial dan ketua Perkumpulan Praxis. Selamat menyimak.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam Indonesia : Dialog Agama dan Budaya

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Akhir-akhir ini ummat Islam harus kembali menjadi bulan-bulanan dunia internasional oleh karena tindakan sekelompok orang yang mendeklarasikan diri sebagai jihadis Islamic State in Irak and Syuriah (ISIS) yang belakangan berkonversi menjadi Islamic State (IS), melakukan serangkaian aksi-aksi penyerangan dan pembunuhan kepada yang mereka klaim sebagai “penyembah taghut”, kafir, musyrik, dan klaim-klaim sepihak lain yang menjadi legitimasi tindak kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan, juga beberapa waktu yang lalu bencana kemanusiaan juga menimpa kaum muslim di Palestina, akibat serangan brutal Israel yang tak mampu berdamai secara politik dengan kelompok militan Hamas.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menggenapi Muktamar NU 33

oleh : AAN ANSHORI, 0 Komentar
Jika tidak ada aral melintang, Jombang akan terpilih sebagai tempat Muktamar NU ke-33 tahun depan. Sebelumnya, kabupaten ini bersaing ketat dengan Nusa Tenggara Barat dan Medan. Sinyal positif ini mengemuka kuat pada saat Musyawarah Nasional-Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2014 di Gedung PBNU beberapa waktu lalu. Kenapa Jombang? Saya meyakini ada beberapa faktor penting bisa disebut. Pertama, secara historis, Jombang telah mencatatkan diri sebagai milestone penting gerakan NU, terutama pada periode awal. NU dan Jombang ibarat dua sisi mata uang. Trio Kiai Hasyim Asy’ari-Kiai Wahab Chasbulloh-Kiai Bisri Syansuri merupakan konsolidator utama organisasi ini. Tidak hanya itu, ketiganya juga mempunyai pesantren besar di Jombang. Dalam jagad NU, memiliki pesantren merupakan basis legitimasi sosial-politik-keagamaan yang kuat. Kedua, pilihan tersebut sekaligus menjadi “kado” penghormatan dinobatkannya KH. Wahab Chasbulloh sebagai pahlawan nasional baru-baru ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi