Senin, 21 Agustus 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Islam dan Radikalisme dalam Tinjauan Sosiologi Agama

oleh : MOH AFFAN, 0 Komentar
Tema ini tidak pernah usang dibicarakan, dan didiskusikan, karena tema ini adalah sesuatu yang tidak akan lepas dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat beragama. Sejarah mencatat munculnya sebutan islam radikal dan islam phobia, mulai dari kisah kelam penyerangan menara kembar di Amerika pada 11 September 2001, yang diduga pelakunya adalah orang yang beragama islam dan belum tentu mereka ber-islam secara struktur (identitas) dan kultur (jiwa). Atau pelaku yang dikatakan orang yang beragama islam hanya beragama secara struktur saja (identitas).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menjiplak Tulisan Orang Lain, Halalkah?

oleh : ADITYA PRAHARA, 0 Komentar
Pagi tadi saya membaca buku dari seorang sastrawan yang sangat saya kagumi, Pramoedya Ananta Toer. Judulnya “Midah: Simanis Bergigi Emas”. Ini untuk kali kedua saya membaca novel tipis ini. Entah mengapa novel yang satu ini begitu menarik hati saya sehingga saya mau membacanya kembali.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kiai Google dan Situs Radikal

Sejak teknologi internet dalam genggaman, perubahan pola mencari informasi terjadi secara massif. Orang tidak lagi berhenti dan bertanya pada orang di pinggir jalan untuk mencari tahu jalan, melainkan cukup membuka aplikasi peta di smartphone. Pencarian informasi jenis apapun disediakan dengan cepat oleh mesin pencari terutama google.com. Tak ayal, banyak orang kini berseloroh ‘tanya Profesor Google’ atau ‘Kiai Google’ tergantung isu yang dicari dan google akan dengan mudah berganti gelar. Persoalannya, tidak semua informasi di google bermutu bagus atau memenuhi standard akademik dan jurnalisme yang mumpuni. Ini membuat banyak informasi yang berkualitas buruk dan bahkan tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebar. Bagi netizen yang tidak memahami ini, seluruh informasi sama bermutunya sehingga tidak dapat memilah dan mudah terjebak dalam propaganda, rumor, fitnah, dan berbagai dampak buruk lainnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menelisik Nowruz, Tahun Baru Persia

Jam berdentang, tepat pukul dua dini hari. Langit Teheran yang seharian diguyur hujan, kini bertaburan kembang api dan petasan. Dari balik jendela kamar, terlihat lampu-lampu apartemen di seberang jalan menyala terang. Saya membayangkan, keluarga Iran yang sedang duduk mengelilingi meja berhias aneka kue, menyambut datangnya nowruz atau tahun baru Persia. Beberapa tahun lalu, saya pernah diundang menghadiri perayaan nowruz. Waktu itu, pergantian tahun terjadi pada sore hari. Pergantian tahun baru Iran dinamis. Tahun lalu, sekitar jam 8 malam dan tahun ini semakin bergeser hingga dini hari.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Budaya Maritim

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Banyak orang meyakini bahwa Indonesia adalah negari maritim yang kaya-raya. Indonesia mempunyai lautan yang sangat luas, Indonesia terdiri dari ribuan pulau dan semuanya tentu punya pesisir pantai. Namun selama ini pembangunan di Indonesia selama puluhan tahun (atau bahkan mungkin atusan tahun) lebih berorientasi ke darat. Potensi maritim yang begitu kaya terbengkalai begitu saja. Abdurahman Wahid adalah orang yang ketika menjabat sebagai presiden dikenang sebagai presiden yang mempunyai visi membangun budaya maritim. Di masa kepresidennya, ia mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 161 tahun 1999 yang membentuk Dewan Maritim dengan tujuan keterpaduan perumusan kebijakan kelautan. Pada tanggal 6 sampai 10 Desember 2005 silam, Gus Dur menyampaikan Orasi Kebudayaan. Salah satu topik yang diangkat adalah mengenai budaya maritim. Berikut ini petikannya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Jalan "Tasawuf Kebangsaan" Gus Dur

oleh : PURKON HIDAYAT, 0 Komentar
Tanpa verstehen (pemahaman, pengertian), tidak bisa meraih penilaian yang benar. Nasehat Wilhelm Dilthey (1833-1911) ini separuh faktanya terbukti. Barangkali, Gus Dur termasuk orang yang seringkali disalahpahami oleh kalangan yang mungkin tidak mendengarkan suara lirih filsuf Jerman itu. Pertama, penilaian sejumlah pihak terhadap Gus Dur acapkali bertumpu pada “teks baku” pernyataannya saja, dan melepaskan konteks serta aspek kesejarahannya. Padahal, dinamika penilaian melibatkan penafsiran individu yang bersifat historis. Menurut Dilthey, kesadaran sejarah seseorang dan kesadaran manusia secara keseluruhan menjadi prasyarat dalam horizon pemahaman yang luas dan kaya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tanggapan atas Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub soal Wahabi-NU

Tulisan KH. Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub berjudul Titik temu NU-Wahabi, yang dimuat di sebuah Harian di Jakarta, menggugah pikiran al-Faqir, yang benar-benar mengharap pertolongan Allah ini. Penulisnya sangat dikenal di kalangan para pengkaji ilmu hadits, karena beliau ini adalah guru besar di bidang hadits. Al-Faqir, yang menanggapi tulisan ini, termasuk orang yang mengoleksi buku-buku dan membaca tulisan-tulisannya. Bahkan kadang-kadang, al-Faqir menggunakannya sebagai referensi ngisi pengajian, khutbah jum’at, dan kultum, terutama ketika mengutip hadits, meskipun tidak seluruhnya al-Faqir setujui.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Setelah Hebdo

oleh : AGUNG HIDAYAT, 0 Komentar
Tragedi penyerangan dan penembakan di Kantor Charlie Hebdo adalah preseden buruk bagi kehidupan toleransi masyarakat Perancis. Aksi itu ialah sebuah pembunuhan sadis yang mengorbankan 12 nyawa. Sejarah akan mencatat betapa demokrasi dan kebebasan berpendapat dibayar dengan cara yang biadab. Namun, apa hanya aksi pembunuhan ini saja yang berbahaya? Tidak, kondisi masyarakat Perancis setelah tragedi itu lebih parah lagi. Setelah ini Perancis akan mendapat tantangan untuk menjaga kehidupan toleransi dan keberagaman penduduknya. Hal ini akan menuntut kedewasaan dari negara yang menjunjung Liberté, égalité, fraternité (Kebebasan, keadilan, persaudaraan) mencegah terjadinya konflik SARA di tubuh masyarakat Perancis.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Jika Kau Sebut Gus Dur, Mereka Menyahabatimu

oleh : MIFTAHUL JANNAH, , 0 Komentar
Cita-cita tentang terwujudnya perdamaian dunia adalah tujuan kemanusiaan yang mulia. Di mana pun, konflik dan peperangan adalah kesedihan bagi yang menyaksikannya. Terlebih lagi bagi yang mengalaminya. Anak-anak, perempuan mengalami trauma. Juga kaum bapak dan semua yang kehilangan anggota keluarga, harta benda dan pekerjaan. Begitu juga Konflik Israel-Palestina. Konflik di sana berawal dari adanya resolusi PBB yang membagi tanah Palestina menjadi dua bagian. Israel mendapatkan tanah lebih luas sementara Palestina mendapat bagian yang lebih kecil. Konflik semakin memuncak ketika Israel mendirikan negara pada tahun 1948 berdasarkan resolusi tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Milik Kita

"Tidak penting apa Agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa Agamamu," (Gus Dur) Dalam sebuah obrolan ringan di angkringan bersama kawan-kawan Gusdurian Solo, ada salah seorang teman yang menyeletuk melontarkan pertanyaan kepada kami : Kenapa haul Alm. KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Gus Dur, diperingati pada Bulan Desember?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi