Sabtu, 14 Desember 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Tablo Paskah: Refleksi Seorang Herodes Muslim (bag I)

oleh : AHMAD SM, 0 Komentar
45. (Ingatlah), ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), nama Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”. (QS. Ali-’Imran (3): 45) 9. itulah sebabnya Allah sangat menjunjung-Nya tinggi dan menganugerahkan-Nya nama di atas segala nama, 10. supaya dalam nama Isa semua akan bertekuk lutut, baik di langit, di bumi, maupun yang ada di bawah bumi, 11. dan semua lidah mengakui “Isa al-Masih adalah Junjungan Yang Ilahi”, bagi kemuliaan Allah, Sang Bapa kita. (Filipi 2: 9-11)
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Benarkah Islam Anti Feminisme?

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Di Media Sosial, lagi ramai muncul gerakan Indonesia tanpa feminis. Seolah-olah feminis adalah masalah, sehingga Indonesia harus bersih dari feminis. Penolak feminis ini menggunakan agama sebagai argumen. Muncul pertanyaan, benarkah Islam anti feminisme, sehingga harus dibersihkan?
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Balada Gus Dur

oleh : ES WIBOWO, 0 Komentar
1 Di Jombang, Gus Dur mangkat sebagai guru bangsa Maha guru kiai yang telah mengajariku Menjadi lelaki penyabar dan pemberani Lalu dengan langkah lembut Ditakwin rahasia maut, tabir arasy ataukah Dengus talkin mendekatkan diri pada Tuhan Serta mengubur hasrat keduniawian
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Jacinda

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mulai mendulang perhatian ketika ia menghadiri Sidang Umum PBB tahun 2018 dengan membawa bayi putrinya. Ia mengantarkan pesan tegas pada dunia: perempuan tidak harus memilih antara fungsi kodratinya sebagai ibu yang sedang menyusui dengan peran publik profesionalnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Anti-Semitisme dan Kekalahan Telak Kemanusiaan

oleh : MOHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Kebetulan, saya sedang membaca Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (2017) karya Fernando Báez. Di sana diceritakan, saat kecamuk Perang Dunia II, Joseph Goebbels selaku kepala Kementerian Penerangan dan Propaganda Jerman telah membumihanguskan hampir semua produk budaya bangsa Yahudi, terutama buku dan kitab suci.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Simponi ke-9

oleh : M MUHAMMAD PUTRA, 0 Komentar
Kematian adalah tragedi kehidupan yang memilukan bagi manusia. Sebisa mungkin manusia menghindarinya. Namun, kematian adalah keniscayaan bagi makhluk yang bernyawa. Tak pandang bulu; tua-muda, kaya-miskin, kuasa-lemah, pandai-bodoh, tak luput dari yang namanya kematian.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tafsir Muslimah Progresif dan Harapan untuk Asama

oleh : KALIS MARDIASIH, 0 Komentar
Kami berangkat ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dengan taksi yang sama. Penerbangan masih dua jam lagi. Asama, perempuan yang bersama saya, akan pulang ke Thailand dan saya ke Yogyakarta. Selama delapan hari, kami baru saja mengikuti sebuah lokalatih bertema keadilan gender di Cyberjaya, Malaysia bersama perempuan aktivis muslim Asia Tenggara. Saya mengajak Asama makan sambil menunggu waktu check in. Akhirnya, kami duduk di sebuah restoran fast food KLIA.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Paska 17 April 2019

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Lima tahun yang lalu, di tahun 2014, ketika KPU telah menetapkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang Pilpres mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, serta-merta publik terbelah menjadi dua kubu secara ekstrim. Kubu yang pro Prabowo dan kubu yang Pro Jokowi. Pembelahan dukungan selama kampanye yang sangat keras diteruskan paska penetapan KPU. Praktis, selama lima tahun, narasi politik Indonesia penuh sesak dengan saling caci masing-masing kubu.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Apakah Demokrasi adalah Ilusi?

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Meningkatnya kesadaran politik di Indonesia pasca Orde Baru tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam terhadap demokrasi. Demokrasi yang menjadi jalan untuk menempuh cita-cita bangsa dalam mengantarkan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan tidak banyak disadari oleh kalangan elit sehingga demokrasi hanya sebatas tujuan bukan menjadi jalan. Kehidupan demokrasi akan berhasil manakala diskursus di ruang publik juga disertai dengan kedewasaan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi