Minggu, 21 April 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Paska 17 April 2019

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Lima tahun yang lalu, di tahun 2014, ketika KPU telah menetapkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai pemenang Pilpres mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, serta-merta publik terbelah menjadi dua kubu secara ekstrim. Kubu yang pro Prabowo dan kubu yang Pro Jokowi. Pembelahan dukungan selama kampanye yang sangat keras diteruskan paska penetapan KPU. Praktis, selama lima tahun, narasi politik Indonesia penuh sesak dengan saling caci masing-masing kubu.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Apakah Demokrasi adalah Ilusi?

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Meningkatnya kesadaran politik di Indonesia pasca Orde Baru tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam terhadap demokrasi. Demokrasi yang menjadi jalan untuk menempuh cita-cita bangsa dalam mengantarkan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan tidak banyak disadari oleh kalangan elit sehingga demokrasi hanya sebatas tujuan bukan menjadi jalan. Kehidupan demokrasi akan berhasil manakala diskursus di ruang publik juga disertai dengan kedewasaan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Islam Kebudayaan

oleh : SYAIFUL ARIF, 0 Komentar
Dalam perkembangan selanjutnya, keselarasan Islam dan Pancasila terjadi di dalam pemikiran keislaman yang belakangan hari telah mencetuskan istilah “Islam Indonesia”. Gagasan “Islam Indonesia” sendiri dilontarkan salah satunya oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak tahun 1987. Gagasan ini ia lontarkan untuk mengimbangi kecenderungan Arabisasi di sebagian gerakan Islam.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kebencian

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Di pojok dunia yang terkenal damai, bahkan pernah didapuk menjadi salah satu negeri Islami, mendadak seseorang bersenjata menghamburkan peluru membantai puluhan orang di sebuah masjid saat ibadah shalat Jumat. Akibatnya, 49 Muslim meregang nyawa di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, menambah jumlah korban jiwa berbagai aksi terorisme lone-wolf dari seluruh dunia. Aksi para serigala penyendiri diumbar dalam berbagai metode: bom bunuh diri, penembakan bersenjata, penyerangan pisau, sampai menabrakkan mobil ke kerumunan warga tak berdosa.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

RUU P-KS Harus Segera Diundangkan

oleh : KH HUSEIN MUHAMAD, 0 Komentar
Pagi ini, 14.03.19, saya bicara tentang RUU PKS atas undangan KPPA, bersama sahabat Nur Herawati, Komis ioner Komnas Perempuan dan Prof. Dr. Topo Santoso, SH, (FH-UI). Moderator sahabat Ninik Rahayu. Saya menyampaikan : Respon Islam atas RUU P-KS. Intinya ini: RUU P-KS harus segera Diundangkan
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Europa dan Islamophobia: Catatan untuk Serangan Teroris di Selandia Baru

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
Europa, sebagaimana tertuang dalam Iliad karya Homer, merujuk pada nama seorang perempuan cantik, putri dari Phoenix (anak Agenor). Kisah tentang Europa berkait-paut dengan Dewa Zeus. Kala Europa sedang mandi di sungai, Dewa Zeus terpikat dengan kemolekan dan paras ayunya. Kemudian, Zeus mengubah dirinya menjadi seekor sapi jantan, perlahan mendekati Europa, dan dari bibirnya, ia meniupkan "safron crocus", semacam bisa yang membuat seseorang pingsan. Zeus, kemudian, membawa Europa lari, membawanya ke Crete dan menyatakan cinta sekaligus memperistrinya. Ada beberapa varian mitos yang menyebut Zeus memperkosanya, tapi tidak terlalu familier dalam khazanah folklor Europa.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Bersumber dari Pendangkalan

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr. Yusril Ihza Mahendra. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci al-Qur’ân menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâl-kuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya Bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja Bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kafirku, Kafir Anda, Kafir Kita

oleh : MUHAMMAD AUTAD AN NASHER, 0 Komentar
Ribut ramai soal istilah kafir dan pemaknaan kata kafir yang sampai detik ini mewarnai temlen media sosial penulis, bukanlah barang baru. Ulama dan kaum agamawan sejak dulu kala sudah mendiskusikan ini dengan sangat cermat dan teliti. Bahkan, Nabi Muhammad Saw sendiri dalam hadisnya melarang umatnya saling mengafirkan. “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan”. [HR Bukhari]
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi