Selasa, 22 Oktober 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Meneladani Gus Dur sebagai Pembaca yang Rakus

oleh : DEDI SAHARA, 0 Komentar
Gus Dur adalah kebudayaan, yang tak akan aus digerus zaman. Ide-idenya masih terus diperdebatkan. Wajahnya pun semakin jamak ditemukan pada poster, selembaran, dan grafiti, di jalanan dan media sosial, di halaman-halaman majalah atau koran nasional. Ia sangat dikagumi, dicintai, oleh sebagian besar orang, dan disalahpahami oleh sebagian kecil lainnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Pesan Kemanusiaan dalam Bermusik

oleh : ZIKO RIZKY PRABOWO, 0 Komentar
Pada era milenial ini kita dimudahkan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Hal ini sejalan dengan kemajuan di bidang informasi yang tentunya sangat memudahkan dalam mencari informasi mengenai apa saja. Namun di sisi yang lain kita belum dapat merumuskan bagaimana cara mencounter informasi-informasi yang masuk dalam kategori hoax. Berita-berita hoax itu begitu derasnya mengalir bagaikan tsunami yang tidak ada yang dapat menahannya kecuali bangunan-bangunan yang sangat kokoh.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Unggah-ungguh dan Kearifan Tradisi

oleh : RAHMA DIANA SAYIDAH, 0 Komentar
“Unggah-ungguh”atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan etika atau tata krama. Masyarakat Jawa dikenal dengan masyarakat yang sangat menjunjung tinggi “ unggah-ungguh” atau yang biasa dikenal tata krama tersebut. Masalah unggah-ungguh atau tata krama sendiri termasuk masalah yang sangat krusial dan sangat diperhatikan oleh orang Jawa. Orang tua-orang tua di Jawa telah mendidik anak-anaknya sejak dini untuk memiliki unggah-ungguh yang sopan, semisal ketika lewat di depan rumah orang kita harus berkata “nderek langkung” atau “nuwun sewu” yang artinya permisi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Indonesia yang Bhinneka, Kini Kehilangan Ika

oleh : NURUL KHASANAH, 0 Komentar
Memperbincangkan keberagaman dan pentingnya toleransi di negeri ini rasanya takkan selesai sampai kapanpun. Kita telah ketahui bersama negara Indonesia ini adalah negara yang multikultural. Memiliki dataran dengan 17.504 pulau, terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Dengan penduduk yang tak sedikit, mencapai 265 jiwa, terdiri dari bergagai suku, ras, bangsa, bahasa dan agama yang sangat beragam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

JOKOWI DAN DILEMA PERPPU KPK

oleh : HARIS EL-MAHDI, 0 Komentar
Merespon demonstrasi mahasiswa yang marak di beberapa kota, Pada 26 September 2019, Presiden Jokowi mengundang para tokoh, budayawan, akademisi, pelaku seni, dan beberapa aktivis. Jokowi bermaksud meminta nasehat terutama dalam merespon tuntutan mahasiswa menolak UU KPK hasil revisi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ketika Seorang Bertanya: Mengapa Takut Salafi?

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Ketika membaca tulisan saya yang mempertanyakan kemana saja NU dan Muhammadiyah saat Salafi merajalela, seorang kolega bertanya “mengapa takut Salafi?”. Jika yang dipertanyakan adalah sikap keterbukaan saya, maka saya katakan, saya sepenuhnya sadar bahwa eksklusivisme adalah cara beragama yang tidak sehat dan dewasa. Emas yang keluar dari mulut anjing tetaplah emas. Bahkan jika berbicara tentang pluralisme, yang sering dihujat kalangan salafi pun, mensyaratkan adanya keberanian untuk saling belajar dengan kelompok lain yang berbeda. Fokus saya terletak pada potensi kekerasan yang mengeram dalam aliran Salafi-Wahabi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Penghargaan kepada Kaum Difabel

oleh : NAISA AQILA, 0 Komentar
Indonesia pernah menjadi tuan rumah ASIAN Paragames. Ajang olahraga yang dikhususkan bagi para atlet difabel ini memiliki tujuan untuk mewadahi kaum difabel berkiprah secara profesional di bidang olahraga serta meningkatkan kesejahteraan difabel melalui aktivitas olahraga.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tidak Ada Agama yang Lebih Tinggi dari Kejujuran

oleh : MOH. KAMIL ANWAR, 0 Komentar
Ada setidaknya tiga nash popular di kalangan Muslim yang kemudian tidak dimaknai lebih lanjut dan menutup cara berpikirnya. Pertama, ayat [5:3] “...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu...”. Kedua, ayat [3:19] “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam...”. Ketiga, hadis Nabi riwayat Bukhari “Islam itu unggul dan tidak dapat diungguli” (Al-Islam Ya’lu wa la Yu’la ‘alaih).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Wacana Berpikir Kritis bagi Kalangan Pesantren di Indonesia

oleh : FUAD FAIZIN, 0 Komentar
Perkembangan intelektualisme muslim Indonesia mulai berkembang sejak abad XVII/XVIII dengan ditandai munculnya tulisan-tulisan tentang Islam dari ulama’ Nusantara misalnya Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniri, Samsuddin As Sumatrani di Sumatera Syekh Yusuf al Makasari di Sulawesi, Syekh Arsyad Al Banjari di Kalimantan serta Syekh Mahfudz At Tarmasi, Syekh Nawawi Al Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan di Jawa dan masih banyak lainnya. Perjuangan mereka kemudian diteruskan oleh murid-muridnya dengan mendirikan banyak pesantren yang bertahan hingga sekarang. Mayoritas pesantren yang didirikan oleh murid-murid mereka mempunyai kemiripan dalam kurikulum maupun sistem pendidikannya yaitu menggunakan kitab-kitab ulama’ klasik yang beraliran Ahlussunnah wal Jamaah dan mayoritas bermazhab Syafii dengan metode pengajaran
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi