Kamis, 12 Desember 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur dan Bagimu Agamamu

oleh : AHMAD SOLKAN, 0 Komentar
Belakangan ini sedang santer-santernya orang-orang menggembar-gemborkan agama. Agama dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi dan golongan. Saking parahnya, setiap apa-apa harus dilabeli dengan nama agama supaya laku keras di masyarakat. Mulai dari makanan, pakaian, hotel, perbankkan, hingga perpolitikan. Sedikit-sedikit mudah mengharam-haramkan dan menyesat-sesatkan sesuatu. Apabila tidak sepaham berarti salah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ibu Gedong dan Gus Dur: Persahabatan Hindu dan Islam

oleh : LISTIA SUPROBO , 0 Komentar
Ibu Gedong Bagoes Oka atau terlahir dengan nama Ni Wayan Gedong (lahir 1921) adalah perempuan Hindu Bali yang dikenal sebagai perempuan penggera perdamaian. Pengalaman pendidikan yang ditempuh oleh Ibu Gedhong sejak kanak-kanak hingga dewasa telah memberi kesempatan bertemu dengan berbagai masyarakat dan budaya yang berbeda dengan budaya Bali dan di luar penganut Hindu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengenal Gus Dur, Memahami Toleransi

oleh : NURSODIK EL HADEE, 0 Komentar
Indonesia belum bisa dibilang mapan dalam menghadapi isu-isu kemanusiaan. Sederet polemik kemanusiaan tidak berkesudahan hingga sekarang. Hal ini nampak masih banyak kasus intoleran, diskriminatif, persekusi terhadap kelompok-kelompok minoritas masih terpampang jelas dalam catatan pelik kemanusiaan. Indonesia by default sebagai negara yang Majemuk, tentu tidak menutup kemungkinan isu-isu kemanusiaan lah yang selalu menghujani negeri ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Wayang dari Kacamata Gus Dur: Pembentuk Budaya Politik

oleh : SURAJI, 0 Komentar
Tulisan berikut adalah kelanjutan dari rangkuman ceramah KH. Abdurrahman Wahid pada diskusi dan pementasan wayang kulit dalang Ki Purbo Asmoro dengan lakon “Kunti Pinilih”. Selain untuk mentransfer nilai-nilai masyarakat, wayang juga dapat dipakai sebagai medium untuk meninjau hubungan antara negara dan warganya. Kewajiban-kewajiban warga negara, kewajiban-kewajiban para penyelenggara pemerintahan, semuanya mendapatkan tempat dalam cerita wayang. Karena isi cerita wayang sebenarnya perihal perebutan tahta, yang berujung pada Mahabaratha atau Barathayuda.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ilmu Tauhid, Gus Dur, dan Pendakwah yang Suka Marah

oleh : WILDAN IMADUDDIN , 0 Komentar
Peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah terkait dengan kerasnya pertentangan seputar Tauhid dan Ilmu Kalam dapat tergambar dari kasus mihnah, dimana para cendekiawan dipaksa untuk meyakini konsep khalq al-Quran yang disodorkan mu’tazilah, dipimpin oleh sang khalifah al-Ma’mun. Akibat perdebatan ini, tokoh-tokoh yang menentang pendapat ini dijebloskan ke penjara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Anak Muda, dan Narasi Baru Islam Tradisional

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
“Gus Dur menginspirasi!” Itu hal biasa, selumrah mengatakan Gus Dur adalah tokoh Nahdlatul Ulama. Yang belum banyak diuraikan adalah penjelasan bagaimana Gus Dur mewariskan “hartanya” kepada para anak muda, khususnya generasi muda NU, yang membuat kelompok ini membangun dirinya menjadi generasi baru NU yang berbeda. Tidak bisa diingkari bahwa penangkap antusias ide-ide Gus Dur adalah anak-anak muda. Legacy Gus Dur itu hingga kini tetap menginspirasi ribuan anak-anak muda, baik yang berlatar belakang NU maupun tidak.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dunia Digital, Anak Muda dan Tantangan Kebangsaan

oleh : SUPRIANSYAH, 0 Komentar
Di hari Pahlawan kemarin, beberapa platform media sosial saya diramaikan dengan ucapan peringatan hari Pahlawan. Dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak muda, muncul untukmengucapkan sekaligus memperingati pertempuran 10 Nopember yang heroik tersebut. Media sosial sebagai bagian dari dunia digital menjadi wadah yang paling sering dipakai oleh anak muda untuk mengekspresikan diri mereka. Rasa nasionalisme dan kebangsaan dari anak muda sering sekali muncul lewat teks hingga visual, sebagai medium mengekspresikannya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tradisi Toleransi: Lebaran, Ucapan Salam/Selamat Hari Raya

oleh : ASRI WIDAYATI, 0 Komentar
Bakdan, Lebaran, Riyaya, atau Rorahea Mpuu—masyarakat Mina Perantauan, Sulawesi Selatan, menyebutnya, ialah istilah yang sama untuk menggambarkan satu suka cita atas terpenuhinya satu bulan penuh haru, tidak hanya bagi muslim yang menjalankan ibadah puasa. Namun, untuk penganut agama lainnya, dengan penuh kesabaran, saling menghormati, dan menghargai momen bulan penuh berkah yang berjalan sedemikian rupa, bahkan dari mereka hampir tak ada yang menolak untuk diajak berbuka bersama. Ataupun justru dengan rela hati menyiapkan menu sahur maupun berbuka dengan berjualan serta membantu kegiatan-kegiatan bulan ramadan umat islam, semampunya. Hingga perayaan yang dinanti itu datang, sebulan penuh telah terbiasa berjalan dengan baik, bukan saja karena peran muslim itu sendiri, akan tetapi juga peluh kesabaran agama lain yang memiliki rasa hormat tinggi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

GUSDURian Pasca Gus Dur: Catatan Pasca Rakornas 2019 Jaringan GUSDURian

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Saya adalah jenis manusia yang percaya, bahwa kata-kata bukanlah sekadar “kata-kata”. Kata-kata memiliki kuasa, ia adalah energi perubahan yang besar, karena kata-kata adalah sahabat karib pikiran manusia. Sedang perubahan selalu dimulai dari pikiran. Lewat kata dan bahasalah manusia meneguhkan dirinya sebagai mahluk berbudaya. Bahasa adalah senjata, dengannya ide-ide beredar dari kepala ke kepala. Saban waktu, ide-ide itu menjelma menjadi tindakan-tindakan nyata. Ia mencerahkan budi dan menggerakkan daya manusia. Mungkin kita tak menyadari, bahwa perjalanan umat manusia telah sampai sejauh ini. Manusia berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil yang menciptakan sejarah peradabannya, pasca mengalami revolusi kognitif ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Revolusi yang bermula saat manusia berhasil menemukan kode-kode bahasa dan menciptakan aksara.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perkataan “Jangan Temani Orang yang Perilakunya tidak Membangkitkan Semangat kepada Allah…”

oleh : NUR KHALIK RIDWAN, 0 Komentar
Gus Dur mengatakan: “Dalam kitab al-Hikam, penulisnya merumuskan sebuah sikap yang sangat fundamental dalam mendidik religiositas: “Jangan temani orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangat kepada Allah dan ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu ke jalan menuju Allah” (Gus Dur, Pengantar dalam buku YB Mangunwijaya, Menumbuhkan Sikap Religiositas Anak-Anak (Jakarta: Gramedia, 1986).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi