Rabu, 21 Februari 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Belajar Sederhana dari Murid dan Pengagum Gus Dur

oleh : DHIHRAM TENRISAU, 0 Komentar
GUS DUR adalah guru bangsa yang sederhana, sama halnya bagaimana dia menjadi guru tidak langsung bagi saya. Ya, saya belum bertemu dengannya, namun saya banyak belajar utamanya kesederhanaannya dari murid-muridnya. Perkenalan pertama kali dengannya adalah saat salah seorang jeffrow (bahasa Belanda, sebutan untuk guru di sekolah saya) di SD saya, acap kali menyebut namanya sebagai contoh muslim yang pantas jadi panutan. Menariknya, jeffrow itu adalah seorang penganut Protestan–sekolah saya adalah sekolah yang didominasi Katolik dan Protestan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Islam, dan Demokrasi

Gus Dur dikenal sebagai sosok pejuang demokrasi di Indonesia. Ketika awal tahun 90 an, Gus Dur membentuk Fordem (Forum Demokrasi), untuk melawan rezim Orde Baru yang otoriter, kaku, dan anti kritik. Tentu, demokrasi yang diperjuangkan oleh Gus Dur untuk bangsa ini tidak lepas dari pemahaman dan penyerapan Gus Dur tentang nilai-nilai ajaran Islam. Dalam sebuah wawancara antara Gus Dur dan Kang Sobari, beliau mengatakan bahwa islam adalah agama demokrasi. Hal itu didasari beberapa alasan. Pertama, islam adalah agama hukum, agama hukum berarti ajaran islam berlaku bagi semua orang tanpa pandang bulu, baik yang bersifat pemegang jabatan tertinggi maupun rakyat jelat—semua dikenakan hukum yang sama.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Puisi Untuk Gus Dur

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Di bulan Gus Dur tahun ini, redaksi gusdurian.net mempersembahkan sejumlah puisi yang ditulis khusus untuk mendiang Gus Dur. Selamat menyimak.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tujuh Langkah Menjadi Muslim Militan

oleh : SUPRIANSAH, 0 Komentar
Segregasi antara kaum muslim seakan-akan meruncing, apalagi ditambah penolakan ustadz mualaf di Bangil, Jawa Timur (Baca: ustadz Mualaf itu dan Kelucuannya). Masing-masing mengklaim dirinya sebagai kaum pihak yang benar dan menyerang lawannya, ditambah bumbu media social, segalanya jadi kian tidak sehat. Pemerintah Indonesia mendeklarasikan perang terhadap radikalisme, namun bagi saya penggunaan kata radikalisme sebagai lawan dari Islam rahmatan lil alamin atau Islam damai kurang tepat. Saya lebih setuju penggunaan kata militant. Kata ini ini lebih tepat untuk menyebut mereka yang oleh Muhammad Said Al-Ashmawy sebagai penghancur imej Islam sebagai agama yang damai.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perjuangan Membela Difabel

oleh : AHMAD PALANGKA, 0 Komentar
Menjadi orang difabel atau berkebutuhan khusus bukanlah keinginan setiap orang. Namun ketika Tuhan berkehendak lain, apa mau dikata. Proses menerima kenyataan menjadi manusia berkebutuhan khusus membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahkan boleh dikata sepanjang hidupnya adalah perjalanan untuk menerima sebuah takdir Tuhan. Belum lagi ditambah dengan kenyataan akses pelayanan bagi kelompok difabel di negeri ini belum sepenuhnya diwujudkan oleh pemerintah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Memberikan Hak Penghayat Agama, Berarti Menghayati Agama

oleh : ANAS SHOFFAUL JANNAH , 0 Komentar
Apa yang diputuskan oleh MK adalah sebuah pengajaran bagi kita bersama untuk lebih menghayati ajaran agama masing-masing. Agama adalah seperangkat kepercayaan pada Sang Yang Adidaya dalam pengikraran diri sebagai hamba, termasuk dalam komitmen peribadatan maupun hubungan sosial-kemasyarakatan. Begitulah kiranya kata lain dalam definisi agama merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Spirit keagamaan ini setidaknya bersifat universal dan kemungkinan berlaku pada seluruh satuan ajaran agama apapun.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Perda Intoleransi, Perda Radikalisme, dan nasib RUU Antiterorisme

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
GP ANSOR DKI Jakarta pernah menggulirkan wacana tentang perda intoleransi. Wacana ini tentu saja tak menyembul begitu saja atau mengada-ada. Masih terekam dalam ingatan kita, efek dari pilkada Jakarta yang bahkan sampai menembus sampai ke daerah-daerah. Sentimen-sentimen SARA yang nyaris mengoyak keguyuban sosial—yang anehnya, kontestasi politik setingkat provinsi, mampu membuat gaduh secara nasional. Apakah ini bagian dari permainan timses ataukah komodifikasi media? Atau, bagian dari grand design untuk menjadikan negara-bangsa ini berazaskan agama tertentu?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Rekonsiliasi 1965, Belajar dari Gus Dur

Di sebuah pagi yang cerah, Gus Dur menghadiri undangan untuk meresmikan sebuah Yayasan Panti Jompo. Panti ini terletak di kawasan Kramat V, Jakarta Pusat, di gedung bekas kantor Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), pada 8 Februari 2004. Panti Jompo ini dikhususkan bagi perempuan-perempuan bekas tahanan politik (tapol) dan narapidana politik (napol). Peresmian itu juga dihadiri SK Trimurti —wartawan tiga zaman— yang menjadi saksi sejarah keberpihakan Gus Dur pada perempuan-perempuan jompo yang menjadi korban Peristiwa 1965. Yayasan yang mengelola Panti Jompo itu digerakkan oleh keluarga mantan anggota PKI yang sering dicap negatif. Waluyo Sejati Abadi, nama panti jompo itu, menjadi saksi betapa luasnya bentang kemanusiaan Gus Dur. Di panti itu, perempuan-perempuan eks tapol yang direjam kesakitan pada masa Soeharto, menghabiskan usia dengan secercah cahaya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Terorisme dan Emansipasi Gender

oleh : HERU HARJO HUTOMO, 0 Komentar
Ada yang baru dari gaya dan strategi teror yang dilancarkan IS (Islamic State), khususnya di Indonesia. Semenjak, ditengarai, dipegang oleh Bahrun Naim atau Anggih Tamtomo. Jebolan jurusan IT di salah satu universitas di Solo ini, memiliki peran yang boleh dibilang penting beberapa tahun terakhir ini. Salah satu prestasi barunya adalah merekrut sekaligus memberdayakan perempuan untuk menjadi “pengantin” atau pelaku aksi bom bunuh diri.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi