Senin, 23 April 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Cara Gus Dur Memahami Ayat Tegas Terhadap Non-Muslim

oleh : WILDAN IMADUDDIN, 0 Komentar
Salah satu ayat al-Quran yang seringkali dikutip oleh sebagian saudara kita sesama umat Islam untuk menegaskan eksklusifitas antar sesama Muslim adalah Q.S al-Fath [48] ayat 29 yang bunyinya sebagai berikut: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Otonomi untuk Akomodasi

Dalam suatu pertemuan para pemangku adat atau para sultan nusantara dengan presiden Joko Widodo di Istana Bogor (Kompas, 5 Januari, hlm. 4) lalu berkembang aspirasi agar mereka dilibatkan dalam pembangunan yang lebih nyata. Tidak lupa mereka menguitp UUD 1945 Pasal 18B Ayat 1 dan 2. Namun, menurut penulis, lahirnya pasal 18B ayat 1 dan 2 harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas dan menyeluruh dalam penataan kebinekaan Indonesia ke depan, tidak hanya -- mengutip aspirasi salah seorang pemangku adat tersebut-- agar perwakilan mereka dimasukkan pada unit kerja presiden. Tulisan ini hendak mencoba mengeksplorasi pengembangan implementasi dari Pasal 18 B tersebut untuk antisipasi tantangan pengelolaan kebinekaan Indonesia ke depan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Haul Gus Dur dan Kisah Saya di Kampus Katolik

oleh : AHMAD NAUFA KHOIRUL FAIZUN , 0 Komentar
Di sebuah sudut di Kampus Katolik Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta, ada tempat berukuran sekitar 3×2 meter. Tak mewah, memang. Namun, di atap ruangan itu tertulis tanda panah, arah kiblat. Dan di bawahnya terhampar beberapa sajadah. Itulah, bentuk toleransi beragama yang nyata-nyata ada di Indonesia: sebuah Universitas Katholik, menyediakan Mushala, tempat untuk shalat bagi yang beragama Islam.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Nasihat Gus Dur di Tahun Politik

oleh : ANWAR KURNIAWAN, 0 Komentar
“Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan”. Demikian nasihat Gus Dur kepada siapapun yang telah berkuasa dan berebuat kuasa. Harta, ketenaran, kekuasaan. Terkisah orang yang telah memperoleh segala sesuatu di dunia ini, raja bajak laut bernama Gold D. Roger. Kata-kata terakhir yang diucapkan menjelang eksekusinya, membuat orang seluruh dunia tergerak mengarungi lautan. Era bajak laut terbesar pun dimulai. Begitulah kira-kira prolog serial anime One Piece besutan Eichiro Oda diputar.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pesan Kemanusiaan Warisan Gus Dur

Di pengujung tahun 2017, tepatnya pada tanggal 30 Desember, genap delapan tahun atau sewindu K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali keharibaan Yang Maha Kuasa. Meski Gus Dur telah tiada, estafet perjuangan sang ”guru bangsa” ini masih tetap bisa kita saksikan melalui para generasi penerusnya. Demikian pula melalui jejak pemikiran yang pernah ia tuangkan dalam tulisan-tulisan. Lewat tulisan-tulisannya tersebut, Gus Dur mampu menginspirasi banyak orang, termasuk mereka yang belum pernah bertemu langsung dengan dia atau bahkan tidak ”menangi” Gus Dur ketika masih hidup.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kegagalan Demi Kegagalan Gus Dur

Jika kita menelusuri riwayat hidup Gus Dur, akan terlihat bahwa ia adalah sosok manusia yang boleh dikata “sering gagal”. Kok bisa? Ya, memang begitulah kenyataannya. Kita bisa mulai dari yang sangat umum diketahui: Gus Dur tak pernah berhasil menyelesaikan pendidikan S-1. Tahun 1962 Gus Dur pergi ke Mesir untuk kuliah di Universitas Al-Azhar atas beasiswa dari pemerintah yang merupakan kelanjutan kerja sama negara-negara yang ikut dalam Konferensi Asia-Afrika. Di Kairo ini ia lebih banyak baca buku, nonton film, dan keluyuran. Ia bosan kuliah karena pelajarannya, menurutnya, banyak mengulang yang sudah ia dapatkan di pesantren di tanah air.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Cita-Cita Gus Dur

oleh : ZAIM AHYA, 0 Komentar
"Guru bangsa. Saya ingin jadi guru bangsanya Indonesia. Itu saja. Saya tidak ingin jadi yang lain. Kalau sekarang saya berkiprah di politik, karena panggilan" Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Begitulah petikan wawancara dengan Gus Dur di Majalah Tempo edisi 28 Desember 1998. Wawancara yang berjudul "Abdurrahman Wahid: Saya Nggak Mau Bangsa Ini Terbakar" berhubungan dengan keadaan Indonesia saat reformasi. Lalu apa makna guru bangsa, bagi Gus Dur?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Sang Haus Kekuasaan

Gus Dur suka nyeleneh? Maka Gus Dur adalah orang yang haus kekuasaan. Dimana-mana dan di semua komunitas dan bahkan sebagai presiden selalu mengambil jalan yang tidak biasa. Aneh dan nyleneh! Seorang penulis menjuluki Gus Dur sebagai dissent democrat, karena kesuakaan Gus Dur menentang komunitas atau umatnya sendiri. Di tengah-tengah umatnya, pesantren dan NU, dia selalu menang melawan mereka. Tapi, kata penulis itu, di komunitas yang lebih luas Indonesia, ketika dia menjadi presiden: kalah! Dia terguling dari kursi presiden dan tidak bisa meraih lagi untuk selanjutnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan (keluarga) Nitisastro

Ketika menjabat presiden, Gus Dur meminta Widjojo Nitisastro, menjadi salah seorang anggota Dewan penasehatnya dalam bidang ekonomi. Pengangkatan ini sudah barang tentu mengecewakan sebagian besar pendukungnya karena Widjojo dikenal sebagai salah seorang arsitek ekonomi orde baru dan bagian penting dari mereka yang disebut sebagai 'mafia barkeley'. Orang ingin Gus Dur menarik garis putus sama sekali thd orde baru. Nyatanya ini tidak dilakukan, dan dalam beberapa hal Gus Dur maasih pakai orang-orang lama, sebagian demi alasan simbolik rekonsialiasi dan sebagian lain karena kebutuhan praktis-pragmatis. Pertanyaannya mengapa Widjojo?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi