Senin, 19 Agustus 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur: “Saya Ini Makelar Akhirat.”

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Berikut dokumentasi Majalah MATRA saat wawancara K.H Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke-4. Masa jabatan 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001. Gus Dur kelahiran 7 September 1940, yang meninggal pada 30 Desember 2009 (umur 69). Edisi MATRA Maret 1992 (Wawancara ABDURRAHMAN WAHID): SAYA INI MAKELAR AKHIRAT
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Penggerak Islam Indonesia

oleh : ABDULLAH ALAWI, 0 Komentar
Di akhir tahun 1990, majalah Editor edisi No 15/THN IV/22 Desember, menobatkan KH Abdurrahman Wahid sebagai penggerak Islam Indonesia. Kulit muka majalah itu memuat potret kiai yang biasa disapa Gus Dur itu dengan kepala tulisan Tokoh 1990, Tahun Bergeraknya Islam Indonesia. Proses penobatan dijelaskan pada rubrik Dari Editor. Menurut sidang redaksi yang berjumlah 18 orang keputusan yang menempatkan Ketua Umum PBNU waktu itu sebagai Tokoh Editor setelah mendapat nilai terbanyak (136) dan menyisihkan 6 finalis lain.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Citra Perempuan Ideal dalam Islam

oleh : NUR ROFIAH, 0 Komentar
Ada kutipan menarik dalam Kata Pengantar Penerbit buku Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur'an karya Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Kata pengantarnya sendiri ditulis oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA. Menurut Prof. Komar, ada banyak temuan penting dalam penelitian disertasi yang kemudian dicetak menjadi buku ini. Salah satunya adalah tentang citra perempuan ideal dalam al-Qur'an.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Fondasi Islam Kaffah ala Gus Dur

oleh : INUNG HAMDI, 0 Komentar
Anda benar, jika berpikir bahwa Gus Dur tidak pernah menyuarakan jargon islam kaffah. Memang, Gus Dur selama ini dikenal sebagai suara terlantang dari “Islam ramah” yang dihadapkan dengan “Islam marah”. Sekalipun gak ada salahnya membayangkan Gus Dur memaknai Islam kaffah. Satu hal yang harus dicatat di awal, Gus Dur tidak pernah menempuh cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan gagasannya. Pesan yang konstan disuarakannya adalah perdamaian. Marilah mengawali perbincangan ini dengan salah satu kutipan dari Gus Dur tentang dialog antaragama dan kerja sama dengan kelompok agama lain.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kekalahan dan Kemenangan Umat Islam Indonesia

oleh : ACHMAD MUNJID, 0 Komentar
Sejak Masyumi kita belajar, selama orang Islam masih berpikir bagaimana meraih kemenangan pertama-tama untuk kelompok sempitnya--kemenangan eksklusif umat Islam--selama itu pula umat Islam akan kalah. Umat Islam memang mayoritas, tapi Indonesia tidak cuma milik orang Islam. Hasil pemilu dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam cenderung menghendaki kemenangan yang inklusif, kemenangan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

#TIDAKATASNAMASAYA

Sebuah video singkat menunjukkan seorang tokoh berapi-api mengatakan umat Islam marah kepada Kapolridalam menangani aksi unjuk rasa berujung kerusuhan beberapa waktu lalu. Saat menyaksikan video tersebut, tiba-tiba terbersit pikiran #NotInMyName di kepala saya. Dengan segera saya menuliskan dua cuitan di akun twitter saya @alissawahid. Satu cuitan menegaskan bahwa sebagai seorang Muslim di Indonesia, saya menolak diwakili paksa oleh narasi bahwa umat Islam ditindas dan marah, sebab saya merasa Islam di Indonesia baik-baik saja. Cuitan lainnya tentang penolakan saya untuk diatasnamakan paksa dalam narasi rakyat tolak hasil pilpres dan gerakan kedaulatan rakyat.Terinspirasi oleh tagar #NotInMyName, saya mengadaptasinya menjadi #TidakAtasNamaSaya yang saya sematkan dalam kedua cuitan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perihal Melawan Melalui Lelucon

oleh : M. FAKHRU RIZA, 0 Komentar
Di masa rezim pemerintahan yang otoriter, segala urusan menjadi sangat sulit. Kebebasan berbicara dilarang dan kebebasan pers diberangus. Masyarakat sipil tak boleh memberikan kritik kepada pemerintah. Pokoknya, apapun yang diinginkan oleh penguasa harus diterima dengan pasrah dan legowo oleh masyarakatnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tuhan Modernitas dan Tuhan Penjaga di Tokyo dan Kawaba

oleh : KALIS MARDIASIH, 0 Komentar
Di hadapan kuil arca berbentuk alat kelamin pria, Akemi Sensei bercerita tentang sejarah God of Cause milik penganut Shinto di Jepang. Dulu, simbol itu dibuat ketika pemeluk Shinto mengalami masalah dengan kesehatan, utamanya urusan fertilitas. Orang-orang berdoa dengan memberikan koin persembahan, membungkukkan badan tiga kali dengan tangan menelungkup di dada dan bertepuk tangan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Merebut Narasi Islam Damai dan Keindonesiaan di Dunia Maya

oleh : NUR SHOLIKHIN, 0 Komentar
Dalam sebuah diskusi yang dilaksanakan oleh Jaringan Gusdurian di Yogyakarta pada hari Sabtu (28/Juli/2018), dan yang difasilitatori oleh Savic Ali, penulis mendapatkan data yang menarik terkait narasi Islam dan Indonesia. Narasi Islam dan keindonesiaan sangat penting untuk kita lihat, mengingat banyak agenda kelompok tertentu yang berusaha merebut narasi Islam untuk kepentingan politik. Penulis mengatakan untuk kepentingan politik, mengingat 2019 merupakan momentum politik pergantian legislatif dan presiden.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sinta Nuriyah: Ibu Negara, Ibu Rakyat

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Ntah, ini kali yang ke berapa. Tampaknya lebih dari 19 tahun, beliau memilih untuk sahur keliling ketimbang sahur di rumah bersama keluarga. Sejak suaminya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden keempat (1999-2001), Ibu Negara Nyai Hj. Sinta Nuriyah memilih untuk sahur bersama fuqara dan masakin (kaum miskin) serta mustadl'afin dan madhlumin (kaum tertindas) di sejumlah daerah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi