Senin, 21 Agustus 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur: Ibu Kota Bagi Kaum yang Teraniaya

oleh : ANGGI AFRIANSYAH, 0 Komentar
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali, puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya (Durrahman, Joko Pinurbo) Puisi karya Joko Pinurbo sangat tepat dalam menggambarkan sosok Gus Dur. Gus Dur merupakan suaka bagi segala umat, terutama bagi mereka yang teraniaya, mereka yang patut untuk dibela. Gagasan dan tindakannya untuk kemanusiaan sungguh luar biasa. Tak jarang Gus Dur dicerca karena gagasan dan tindakannya tersebut. Meskipun demikian keteguhannya dalam memperjuangkan setiap apa yang diyakini sebagai kebenaran tak ada duanya. Cerita tentang kesederhanaan hidupnya, penghargaannya terhadap orang lain, pembelaan-pembelaannya terhadap kaum yang terpinggirkan, perjuangannya terhadap keislaman dan keindonesiaan telah banyak diungkapkan dalam beragam tulisan, diceritakan dalam banyak narasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Khilafah: Sebuah Kemunduran

Selain faktor geopolitik di Timur Tengah yang memicu lahirnya Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), persoalan yang tak boleh diabaikan umat Islam ialah ide negara Islam atau khilafah. Sebab, pelarangan ISIS tak otomatis membuat pahamnya mati di negeri ini. Ide tentang khilafah dan pemberlakuan syariah akan terus menjadi perdebatan panas sebelum relasi antara Islam dan negara selesai disepakati oleh semua umat Islam. ISIS, dalam aspek ini, menjadi pelajaran penting.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sistem Khilafah Tidak Bisa Menunjukkan Perdamaian

oleh : MUHAMMAD MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Negara-negara yang mayoritas memeluk agama Islam sudah semestinya memiliki konsep tentang perpaduan Islam dan Negara. Ini akan terlihat ketika kita membandingkan konsep agama dan negara di Suriah, Iran, Mesir, dan Indonesia. Semua negara ini memiliki ciri khas tertentu dalam merumuskan konsep hubungan tersebut. Indonesia misalnya, sejak dirumuskannya Pancasila dan UUD 1945 banyak menuai perdebatan. Apakah Islam yang akan menjadi dasar negara, atau Islam dan agama lainnya akan menjadi perkakas dalam negara. Meskipun pada awalnya para pejuang sudah menetapkan sila pertama Pancasila disertai dengan tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya), namun pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui sidang pertama PPKI tujuh kata itu dihapus dan menjadi Pancasila yang kita tahu saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Toleransi Sejak Dini

Dulu kala, saya teracuni informasi yang berkeliaran. Informasi itu datang dari mulut ke mulut tanpa tahu benar tidaknya. Meskipun dianggap benar, tetapi kebenaran itu lahir dari sikap keagamaan yang mendasarinya tanpa tahu lebih jauh faktanya seperti apa. Keyakinan tidak ditopang oleh pengetahuan yang benar. Meyakini informasi yang datang, membentuk sikap curiga kepada agama orang lain, dan menimbulkan kesan spesifik yang melahirkan penilaian kebencian. Informasi yang membentuk prasangka tersebut tentang berita-berita misionarisme. Kalau hari ini kita mengenal sejenis informasi hoax.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ketika Massa Muslim Berkumpul

Beberapa bulan, saya sempat terpekur dalam kekhawatiran melihat gelombang massa aksi bela Islam-bela Ulama yang diakui atau tidak diakui, momentum itu terbentuk dari sebuah alasan dan desain peristiwa yang begitu politis. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah membaca beberapa ulasan dalam jurnal Maarif Institute antara lain dari Ahmad Najib Burhani, Mohammad Iqbal Ahnaf dan Airlangga Pribadi Kusman. Dalam jurnal edisi "Pasca Bela Islam" itu, saya menemukan poin-poin yang jika boleh diringkas saya sebut sebagai "Hal-hal berbahaya namun tidak disadari terjadi dalam aksi bela Islam", satu diantaranya adalah soal: Populisme Islam atau Fragmentasi Otoritas Keberagamaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Buku Ahmad Wahib dan Gus Dur

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Sekitar tahun 1982-1983 Ismed minta mengedit catatan harian Ahmad Wahib. Dia mengerjakannya seperti seorang pertapa. Ia tinggal di daerah Sandratex di Pasar Jumat. Singkat kata, suntingan yang berasal dari “bengkalai catatan harian itu” selesai dan karena telah terikat kontrak dengan LP3ES, Ismed yang ketika itu freelance diminta untuk bertanggung jawab sampai buku itu terbit. Maka resmilah Ismed menjadi editor buku di penerbit LP3ES. Suatu hari Gus Dur datang dan disodori naskah draft buku itu. Seharian ia membacanya sambil duduk di kursi rotan di bagian dalam ruang redaksi. Menjelang sore ketika staf menjelang pulang Gus Dur baru merampungkan bacaannya. Lalu dia menghampiri Ismed, “Dahsyat ini Med, best seller nih, apa judulnya”?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Humanisme Religius ala Gus Dur (Menggali Semangat, Melakukan Pembaharuan)

oleh : DESIDERIO JULIO SUDIRMAN SMM, 0 Komentar
Agama mendapat tantangan yang serius dewasa ini. Tampaknya pergulatan manusia mengenai tujuan hidup yang dicari dalam nilai-nilai religiusitas dalam berbagai tradisi religius dirongrong. Ini terjadi karena seringkali agama dalam kenyataannya justru menjadi suluh yang membakar api perpisahan, pemecahan antara manusia. Tak jarang, agama menjadi alasan utama pertumpahan darah. Namun benarkah agama in se membawa serta pengaruh-pengaruh dekstruktif bagi kehidupan manusia? Pertanyaan yang diajukan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kita tidak hanya sekedar menjawab dalam kerangka afirmasi dan negasi. Lebih dari pada itu, perlu dicari pendasaran yang kuat dan meyakinkan apakah agama memang berwajah ganda, atau sebaliknya agama sejatinya hanya membawa kedamaian dalam hidup manusia. Bagi saya, pendasaran yang kuat dapat ditemui dalam sosok Gus Dur. Intisari dari perjuangannya menjadi jawaban yang amat gamblang untuk menguraikan betapa tradisi religius sejatinya membawa kedamaian bagi setiap pemeluknya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Dan Masalah Islam Telah Sempurna

Tidak semua persoalan yang kita hadapi sekarang ini, ada pada zaman Nabi Muhammad Saw. Seperti, persoalan tes DNA, kita hidup di negara bangsa, demonstrasi berjilid-jilid seperti yang dilakukan GNPF MUI, mendengar ngaji lewat kaset rekaman, persoalan sholat di pesawat terbang dan kereta api, komunikasi via WA-telegram-tweeter, dan berbagai persoalan lain. Persoalan-persoalan baru seperti itu akan terus muncul dan senantiasa berkembang, seiring dengan perkembangan budaya, politik, ekonomi, dan peradaban umat manusia. Perkembangan-perkembangan ini membawa implikasi pertanyaan: bagaimanakah akhirnya kita memahami wawasan tentang “Islam telah sempurna”, seperti yang selama ini dikenal di dalam tradisi Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kata Pengantar Buku "Mati Ketawa ala Rusia"

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Suatu hari, Gus Dur datang ke Grafitipress tempat Ismed Natsir, suami saya, bekerja sebagai editor. Dia tanya, "Med ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah". Suami saya menjawab" Ada Gus membuat pengantar untuk buku". Gus Dur pun bersetuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama - hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai. Sembari dia mengetik, suami saya mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA... Sore hari menjelang pulang suami saya baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah....
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Masalah Hidup Berdampingan

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan: “Nabi Muhammad langsung diber itahu Tuhan bahwa ada perbedaan- perbedaan dalam beragama, sebagaimana firman Tuhan, lakum dinukum waliyadin,“ Bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku” (QS. Al- Kafirun [109]: 6). Agama Islam mengajarkan semangat toleran yang menghargai sesama manusia, walaupun berbeda agama.” (KH. Abdurrahman Wahid dan Daisaku Ikeda, Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian, hlm. 186).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi