Minggu, 21 Oktober 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Ibu Meiliana, Maafkan Aku....

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Ibu Meiliana, maafkan aku. Ternyata keterangan saya sebagai saksi ahli dalam persidanganmu tak didengarkan hakim. Hakim lebih memilih bisikan lain, daripada bisikanku. Saya sudah berusaha sekuat pengetahuan yang saya miliki untuk membebaskankanmu dari tuduhan melakukan penodaan agama, meskipun saya tahu biasanya hakim tidak akan tahan dengan tekanan massa. Engkau akhirnya tetap divonis melakukan penodaan agama dengan pidana 18 bulan. sebelumnya menduga, jaksa akan terpengaruh dengan argumentasi saya dan menuntutmu bebas. Mengapa? Setelah sidang, salah satu jaksa mendekati saya sambil berkata: "Terima kasih pak atas keterangannya. Banyak yang mencerahkan saya, termasuk posisi fatwa dalam Islam". Ternyata, dugaan saya inipun meleset.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam (Catatan untuk Tunas Gusdurian 2018)

oleh : IRFAN AFIFI, 0 Komentar
Ada rumusan umum yang setidaknya bisa disepekati dalam Temu Nasional Gus Durian 2018 terkait perumusan salah satu dari Sembilan nilai Gus Dur, yakni khususnya terkait gagasan “pribumisasi Islam”, bahwa Pribumisasi Islam sebagai sebuah nilai yang ditawarkan Gus Dur tidak dimaksudkan untuk mengganti bacaan Al Fatihah yang berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, Minang, Batak dll. Dalam konteks abstraksi, Gagasan Pribumisasi islam tidak ingin mengganti apa yang universal dan tetap dari ajaran agama (ast-stabit), seperti nilai ibadah sholat atau ajaran-ajaran keimanan, tauhid, dll yang bersifat pokok dalam agama (usul). Namun, Pribumisasi Islam hanya berusaha menempatkan apa yang cabang (furu’) yang bersifat berubah (al mutaghaiyyir) dalam ajaran syari’at (fikih) sebagai sebuah fakta yang lentur dalam persinggungannya dengan realitas kebudayaan Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Langkah Strategis Pasca-Tunas Gusdurian 2018

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Pertemuan Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian yang diadakan pada tanggal 10-12 Agustus di Asrama Haji Yogyakarta telah selesai dilaksanakan. Tercatat ada sekitar 106 komunitas Gusdurian di seluruh Indonesia yang menghadiri Tunas. Setiap anggota komunitas yang hadir berkisar antara dua hingga 10 orang, sehingga total peserta Tunas dari komunitas Gusdurian kurang lebih 400 orang. Jumlah ini belum termasuk tamu undangan dan rombongan liar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

GUSDURIAN: MENGGERAKKAN TRADISI, MENEGUHKAN INDONESIA

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Yogyakarta, 12/8/18. Selama tiga hari, 10-12 Agustus 2018, saya berada di tengah-tengah tunas Gusdurians se-Indonesia, plus Gusdurian dari beberapa negara. Sekitar 700an anak-anak muda hadir dalam acara Temu Nasional (Tunas) Penggerak Gusdurian di Yogyakarta. Mereka datang dengan biaya sendiri. Sebagian dari mereka, menabung sejak lama untuk bisa hadir di Tunas ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Mengatasi Radikalisme ala Gus Dur

oleh : KH. HUSEIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Andaikata Gus Dur masih ada hari ini dan menyaksikan hiruk-pikuk aksi-aksi radikalisme dan kekerasan atas nama agama, apakah yang akan beliau lakukan?. Ini pertanyaan yang diajukan seorang pemuda pada acara bedah buku “Gus Dur dalam Obrolon Gus Mus”, pada peresmian Pergerakan Griya Gus Dur, 24/01/16 lalu. Aku mengira-ngira saja atau berimajinasi. Membaca dan mempelajari paradigma, world view dan karakter spiritualisme Gus Dur, pertama-tama kita akan mengatakan bahwa Gus Dur tidak akan melakukan perlawanan terhadap para pelaku kekerasan dan kaum radikal melalui cara yang sama. Dengan kata lain Gus Dur tidak akan mengatasi kelompok garis keras dan kaum radikal tersebut dengan jalan kekerasan serupa dan militeristik.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam sebagai Dakwah yang Rahmatan Lil Alamin

oleh : RIZAL MUBIT , 0 Komentar
Hukum Islam sementara ini hanya mampu menolak kemungkaran, kebatilan dan kemaksiatan, namum belum mampu menjadi solusi kebaikan dalam arti luas. Sejak pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dan dilanjutkan oleh para sahabat, Islam tidak serta merta menolak semua tradisi pra-Islam (tradisi masyarakat Arab pra-Islam). Juga tidak menghapus budaya, tradisi dan adat setempat yang tidak bertentangan secara diamental dengan Islam, sehingga menjadi ciri khas dari fenonema Islam di tempat tertentu. Demikian juga proses pertumbuhan Islam di Indonesia, tidak serta merta menghapus semua tradisi, budaya dan adat masyarakat setempat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur di Tegalrejo (1957-1959)

Gus Dur pindah dari Yogyakarta ke Magelang, tepatnya di Pesantren Tegalrejo pada tahun 1957. Di pesantren ini Gus Dur nyantri selama sekitar 2 tahun lebih sedikit, di bawah asuhan KH. Chudlori. Greg Barton menyebut demikian: “Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan KH. Chudlori selama 2 tahun di Tegalrejo. Kebanyakan siswa lain memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikan pelajaran ini. Bahkan di Tegalrejo ini Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku Barat (2003: 50). Meski sudah di Tegalrejo, Gus Dur kadang menyempatkan waktunya untuk belajar paruh waktu ke Denanyar-Jombang di bawah asuhan Mbah Bishri (2003: 51). Dan pad saat yang sama, Gus Dur juga mencari peluang menonton wayang kulit, kegemarannya yang sudah dilakoninya ketika di Yogyakarta. Untuk hal itu, menurut Greg, Gus Dur harus berjalan kaki cukup jauh agar dapat menonton wayang kulit.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur di Tambakberas (1959-1963)

oleh : NUR KHOLIK RIDWAN, 0 Komentar
Pada tahun 1959 Gus Dur pindah ke Jombang dari Magelang, yaitu di Tambakberas. Greg Barton menyebut: “Ia belajar di sini hingga tahun 1963, dan selama kurun itu ia selalu berhubungan dengan Kyai Bishri Syansuri secara teratur. Selama tahun pertamanya, ia mendapat dorongan untuk mulai mengajar. Ia kemudian mengajar di Madrasah Moderen yang didirikan dalam kompleks dan juga menjadi kepala sekolahnya. Selama masa ini, ia tetap berkunjung ke Krapyak secara teratur. Di sini ia tinggal di rumah KH. Ali Maksum (Greg Barton, 2003: 50). Di Tambakberas, Gus Dur menempati Bilik Pangeran Diponegoro, dibawah asuhan KH. Abdul Fattah Hasyim. Kyai Fattah ini memiliki salah satu wirid rutin setelah sholat shubuh dengan ngaji Shohîh al-Bukhôrî dan Ihyâ’ `Ulûmuddîn (Tambakberas, 2017: 215).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

CATENACCIO HANYALAH ALAT BERAT

oleh : ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
SINDHUNATA telah menguraikan pendapatnya mengenai jalannya pemerintahan dalam harian ini, beberapa hari yang lalu. Inti pendapatnya, sistem bertahan (catenaccio) saja di dalam persepakbolaan Italia sulit untuk dikembangkan di Indonesia dalam perkembangan terakhir ini. Ia mengemukakan, pemerintah dengan sadar haruslah menegakkan demokrasi secara menyeluruh, dan untuk itu sistem bertahan saja tidaklah cukup. Haruslah digunakan sistem menyerang dalam persepakbolaan walaupun tidak jelas strategi mana yang digunakan. Total football-kah atau yang lain?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dawam Raharjo dan Gus Dur, Dua Outlier dari Latar Berbeda

oleh : AL MUIZ LIDDINILLAH , 0 Komentar
Malcom Gladwell dalam bukunya, Outliers (2018), menjelaskan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh faktor perjuangan dan motivasi saja. Akan tetapi, kesuksesan itu juga dipengaruhi oleh kapan kita lahir, siapa orang tua kita, kondisi kebudayaan dan seberapa jauh lingkungan kita memberikan kita kesempatan untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan kita. Outlier juga didefinisikan sebagai orang yang tidak sesuai dengan pemahaman pencapaian orang normal.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi