Senin, 11 Desember 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Perppu No 2 Tahun 2017 Ancaman Demokrasi?

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
PRESIDEN RI, Joko Widodo, mengambil langkah berani dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 2 Tahun 2017 sebagai pengganti UU No 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas). Sebelumnya saya tidak menduga pemerintah akan menempuh jalan perppu. Hal yang saya tunggu justru langkah konkret yang akan dilakukan setelah pemerintah melalui Menko Polhukam, Wiranto, mengumumkan akan mengambil langkah untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 8 Mei. Namun, hingga dua bulan tidak tampak langkah apa pun yang dilakukan sebelum akhirnya Presiden menandatangani perppu pada 10 Juli. Pemerintah rupanya tidak yakin UU Ormas bisa digunakan untuk menjerat organisasi seperti HTI yang mengusung ideologi khilafah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Salaman Gus Dur

oleh : HAMZAH SAHAL, 0 Komentar
Suatu malam Gus Dur datang ke sebuah pesantren untuk menghadiri haul temannya. Gus Dur bertugas mengisi pengajian, puncak acara haul. Namun, setiba di pesantren dan duduk di rumah shohibul bait, Gus Dur terheran-heran. “Kok tidak banyak yang salaman dengan saya?,” tanya Gus Dur. “Tidak seperti biasanya.” Setelah Gus Dur mengawali pembicaraan, ruang tamu sedikit hening. Sepertinya tidak ada yang berani menjawab obrolan pembuka putra sulung Kiai Abdul Wahid Hasyim tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tuan Guru H. Zaini Ganie dan Gus Dur: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200km dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama. Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan “Guru Sekumpul” duduk bersila berhadapan dengan K.H. Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur (GD). Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sketsa Nilai dan Pemikiran Gus Dur

Tidak semua, atau bahkan sangat sedikit, orang yang gagasan dan pemikirannya terus dikaji, dipikirkan kembali, sekaligus diikuti setelah ia tiada. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu dari segelintir itu. Hingga kini, lama setelah wafatnya, gagasan dan pemikirannya tetap diperbincangkan dan dipikirkan. Mengapa Gus Dur menjadi sedemikian kuat pengaruhnya? Jawabannya bisa sangat kompleks dan beragam. Salah satunya adalah karena dia tidak hanya orang yang bicara dan menuangkan gagasan dalam tulisan, namun juga bekerja memperjuangakan apa yang ia pikirkan. Sejarah atau biografinya dengan terang benderang menerangkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pelaksanaan kata-kata. Mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat organisasi NU, hingga menjadi politikus dan presiden. Semua itu tidak bisa dipisahkan dari pemirkiran dan gagasannya yang dituangkan dalam berbagai tulisan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Keislaman Dua Sahabat Menerangi Kekatolikanku

oleh : PASTOR KOPONG MSF, 0 Komentar
Dua sahabat; Quraish Shihab dan Gus Mus bertemu dan berkisah di Mata Najwa (21 Juni 2017). Mereka mengulang kembali romantika kebersamaan 50 tahun yang lalu di kota Firaun-Mesir tempat mereka berdua menimba ilmu agama Islam di Universitas Islam ternama Al-Ashar. Lima puluh tahun lalu mereka bermain voly dan sepak bola bersama dan dari permainan itu pun mereka memaknai hidup dan ke-Islaman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Humor Sebagai Sarana Dialog

"Orang yang ingin tahu tentang orang lain, harus memahami lelucon. Jangan gampang tersinggung dengan lelucon." (Abdurrahman Wahid, 1990) Tahun 1994. Di dalam satu acara mensyukuri dan merayakan 65 tahun YB. Mangunwijaya, seorang pastur Katolik, arsitek dan sastrawan, di hadapan sekitar 400an orang dari beragam kalangan, Gus Dur mengemukakan sebuah humor:
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Terorisme Di Sekeliling Kita

oleh : DONNY WS, 0 Komentar
Sekali lagi, teror bom kembali mengguncang Indonesia. Kali ini bom meledak di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5/2017). Lima orang tewas dari serangan ini termasuk pelaku. Sebelumnya, serangkaian aksi teror juga baru terjadi di kota Manchester dan Marawi. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan mengancam akan ada lebih banyak serangan susulan. Jika kita melihat serangkaian aksi teror yang mengatasnamakan Islam, banyak sekali pertanyaan yang akan muncul. Apakah betul Islam mengajarkan kekerasan? Apakah Islam mengajarkan kebencian? Mengapa aksi terorisme masih terus terjadi? Sepemahaman penulis, Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawakan amanat perasaudaraan dalam kehidupan (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin). Oleh karena itu, segala bentuk tindak kekerasan dan terorisme sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ciri-ciri Organisasi Anti Pancasila

oleh : ARIF HIDAYATULLAH, 0 Komentar
Hari-hari belakangan, ramai sekali yang memberitakan dan membicarakan prihal Ormas yang anti terhadap Pancasila. Bahkan presiden Jokowi sampai mengintruksikan untuk menggebuk semua organisasi yang bertolak belakang dengan Pancasila dan UUD 1945. Kata “Gebuk” yang digunakan oleh presiden Jokowi ini oleh banyak kalangan dianggap sebagai peringatan keras presiden. Lalu, apakah isi dan maksud dari pancasila itu, kenapa Negara memandang bahwa ada ormas yang bertolak belakangan dengan pancasila? Apakah kita juga sudah memahami tujuan dan semangat dari pancasila yang sesuai dengan penggalinya, bung karno? Atau jangan-jangan kita hanyalah ekor dari dinamika yang sedang berlangsung.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menebar damai Menjaga NKRI dengan Safari Damai Ramadhan

oleh : M. ABDIK MAULANA, 0 Komentar
Tak terasa bulan Ramadhan yang menjadi salah satu bulan yang paling dinanti-nantikan oleh umat islam di seluruh dunia telah tiba, hal ini disambut baik olehkawan-kawan Gusdurian Malang, komunitas lintas agama maupun keyakinan di kota Malang khususnya untuk melakukan agenda rutinan, salah satunya dengan mengadakan kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam “Safari Damai Ramadhan 2017”. Kegiatan ini ialah mengunjungi komunitas/lembaga keagamaan di Malang raya, yang bertujuan mempererat tali silaturahmi, menjaga toleransi, perdamaian, serta memupuk semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Agama dan Politik Kebangsaan

Indonesia selain sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, juga adalah negara demokrasi terbesar ke tiga di dunia. Kenyataan itu membuat Indonesia menjadi negara muslim yang berhasil melakukan demokratisasi beriringan dengan proses penerapan ajaran Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat di tengah kebhinnekaan bangsa. Islam dan demokrasi yang kerap dipertentangan oleh sejumlah kelompok muslim, di Indonesia justru dapat hadir secara sinergis dan berkait kelindan satu sama lain. Hal tersebut ditopang oleh cara pandang moderat mayoritas muslim di Indonesia, yang selalu berusaha mencari titik temu di antara berbagai konsepsi kehidupan (termasuk konsep bernegara) dari berbagai aras kebudayaan dan peradaban, selama secara prinsipil tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi