Minggu, 25 Februari 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur dan Gagasan Pemberdayaan

Tanggal 4 agustus, tepat 77 tahun hari kelahiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Semasa hidup, beliau dikenal sebagai seorang kiyai, intelektual, budayawan, politisi sekaligus sufi, sesuatu yang begitu kompleks hadir dalam diri seorang manusia yang lahir dan tumbuh besar dalam kultur keagamaan pesantren dan sekian tahun hidup dalam tradisi dua kutub peradaban; Timur Tengah dan Eropa. Perjalanan panjang Gus Dur dalam mengarungi samudera intelektualitas dengan bacaan yang begitu luas dan keragaman realitas yang dijumpainya, kiranya turut membentuk pemikiran dan cara pandangnya terhadap banyak hal yang kemudian ia perjuangkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dalam Cakrawala Seni

oleh : ANDRE TANAMA, 0 Komentar
Berbicara ikhwal kerinduan terkadang menggiring saya pada sebuah kenangan. Dalam pengalaman masa lalu yang pernah saya alami, kenangan terhadap peristiwa, rasa kehidupan, perasaan yang meninggalkan jejak, semuanya mendorong kita untuk memunculkannya kembali. Dalam perkataan lain, ada semacam romantisme terhadap suatu peristiwa maupun seseorang, sosok, tokoh yang memberi inspirasi. Gus Dur sebagai sosok multidimensional dan tokoh yang ‘low profile’ sekaligus, ia pun menjelma menjadi wajah kerinduan. Kerinduan bagi banyak orang, lintas agama dan lintas etnis. Kerinduan di sini memiliki objek kerinduan yang tak tunggal, maka Gus Dur merupakan wajah semua kerinduan (seperti tema pameran seni rupa dalam Muktamar NU ke-33 tahun 2015).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menghadang Arus Ekstremisme

Ekstremisme, istilah yang lebih senang saya pakai daripada radikalisme, kini telah menjadi problem nasional, bahkan internasional. Orang-orang mencemaskan banyak anak muda yang terpengaruh pemikiran ekstremisme dalam keagamaan. Bahkan sebagian telah menjurus ke praktik kekerasan untuk memenuhi harapan dan tujuannya: ekstremisme kekerasan. Sudah banyak riset yang menunjukkan bagaimana sekolah umum kini telah menjadi wahana persebaran ekstremisme ini. Melalui kegiatan-kegiatan yang terbuka –bahkan didukung sekolah—maupun klandestin, para siswa menjadi subjek sekaligus objek penyebaran ekstremisme ini. Angka mereka yang terpapar paham ekstremisme ini bisa diperdebatkan, dan dalam banyak hal sulit dideteksi karena sifatnya yang dinamis dan fluktuatif, tapi diyakini jumlahnya sudah pada level yang mengkhawatirkan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, HTI, dan Kita

oleh : M. NURKHOIRON, 0 Komentar
Apa yang membedakan Gus Dur dengan generasi muda NU saat ini? Harus diakui banyaknya anak muda NU yang memiliki wawasan terbuka dan inklusif baik di bidang keagamaan dan kebangsaan tidak lain karena pengaruh yang sangat besar dari sang maha guru Gus Dur. Namun menurut saya tetap terbentang perbedaan yang sangat tajam antara pemikiran dan sikap Gus Dur dengan anak anak muda NU saat ini. Gus Dur lahir dan besar di lingkungan NU yang mengalami masa trauma paling kelam dalam menghadapi kelompok komunis. Puncaknya pada tahun 1965 NU dan komunis berhadapan secara diametral sehingga menimbulkan pertumpahan darah yang tidak sedikit.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Perppu No 2 Tahun 2017 Ancaman Demokrasi?

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
PRESIDEN RI, Joko Widodo, mengambil langkah berani dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 2 Tahun 2017 sebagai pengganti UU No 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas). Sebelumnya saya tidak menduga pemerintah akan menempuh jalan perppu. Hal yang saya tunggu justru langkah konkret yang akan dilakukan setelah pemerintah melalui Menko Polhukam, Wiranto, mengumumkan akan mengambil langkah untuk membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 8 Mei. Namun, hingga dua bulan tidak tampak langkah apa pun yang dilakukan sebelum akhirnya Presiden menandatangani perppu pada 10 Juli. Pemerintah rupanya tidak yakin UU Ormas bisa digunakan untuk menjerat organisasi seperti HTI yang mengusung ideologi khilafah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Salaman Gus Dur

oleh : HAMZAH SAHAL, 0 Komentar
Suatu malam Gus Dur datang ke sebuah pesantren untuk menghadiri haul temannya. Gus Dur bertugas mengisi pengajian, puncak acara haul. Namun, setiba di pesantren dan duduk di rumah shohibul bait, Gus Dur terheran-heran. “Kok tidak banyak yang salaman dengan saya?,” tanya Gus Dur. “Tidak seperti biasanya.” Setelah Gus Dur mengawali pembicaraan, ruang tamu sedikit hening. Sepertinya tidak ada yang berani menjawab obrolan pembuka putra sulung Kiai Abdul Wahid Hasyim tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tuan Guru H. Zaini Ganie dan Gus Dur: Sebuah Pertemuan

Minggu yang lalu saya pulang ke kampung halaman, Tabalong, yang berada sekitar 200km dari Banjarmasin. Dalam perjalanan dari Banjarmasin, kami singgah di sebuah warung makan di kota Kandangan. Seperti umumnya warung dan rumah orang Banjar di kawasan ini, dinding warung ini dipenuhi poster foto-foto ulama. Di antara puluhan poster foto itu, ada foto Tuan Guru H. Zainie Ghanie atau biasa dipanggil dengan sebutan “Guru Sekumpul” duduk bersila berhadapan dengan K.H. Abdurrahman Wahid, atau akrab disebut Gus Dur (GD). Jika Guru Sekumpul mengenakan baju koko putih dan serban putih, maka Gus Dur mengenakan kemeja batik oranye dan peci hitam. Tangan kanan Guru Sekumpul berada di bahu Gus Dur. Jelas keduanya terlihat akrab dan dekat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sketsa Nilai dan Pemikiran Gus Dur

Tidak semua, atau bahkan sangat sedikit, orang yang gagasan dan pemikirannya terus dikaji, dipikirkan kembali, sekaligus diikuti setelah ia tiada. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah salah satu dari segelintir itu. Hingga kini, lama setelah wafatnya, gagasan dan pemikirannya tetap diperbincangkan dan dipikirkan. Mengapa Gus Dur menjadi sedemikian kuat pengaruhnya? Jawabannya bisa sangat kompleks dan beragam. Salah satunya adalah karena dia tidak hanya orang yang bicara dan menuangkan gagasan dalam tulisan, namun juga bekerja memperjuangakan apa yang ia pikirkan. Sejarah atau biografinya dengan terang benderang menerangkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pelaksanaan kata-kata. Mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat organisasi NU, hingga menjadi politikus dan presiden. Semua itu tidak bisa dipisahkan dari pemirkiran dan gagasannya yang dituangkan dalam berbagai tulisan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Keislaman Dua Sahabat Menerangi Kekatolikanku

oleh : PASTOR KOPONG MSF, 0 Komentar
Dua sahabat; Quraish Shihab dan Gus Mus bertemu dan berkisah di Mata Najwa (21 Juni 2017). Mereka mengulang kembali romantika kebersamaan 50 tahun yang lalu di kota Firaun-Mesir tempat mereka berdua menimba ilmu agama Islam di Universitas Islam ternama Al-Ashar. Lima puluh tahun lalu mereka bermain voly dan sepak bola bersama dan dari permainan itu pun mereka memaknai hidup dan ke-Islaman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Humor Sebagai Sarana Dialog

"Orang yang ingin tahu tentang orang lain, harus memahami lelucon. Jangan gampang tersinggung dengan lelucon." (Abdurrahman Wahid, 1990) Tahun 1994. Di dalam satu acara mensyukuri dan merayakan 65 tahun YB. Mangunwijaya, seorang pastur Katolik, arsitek dan sastrawan, di hadapan sekitar 400an orang dari beragam kalangan, Gus Dur mengemukakan sebuah humor:
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi