Minggu, 26 Januari 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur dan Perihal hari Minggu

oleh : MUHAMMAD ISBAH HABIBI , 0 Komentar
"Jangan sebut Minggu, Minggu itu berasal dari Dominggo, Dominggo artinya hari menyembah Tuhan Allah Yesus Kristus." Bunyi potongan video Ustaz Abdul Somad melarang jamaahnya menggunakan kata Minggu.
Kategori : Headline , Opini

Gus Dur, Guru Politik Kemanusiaan: Refleksi Hari Guru dan Menjelang Pilkada

oleh : TAUFIK BILFAQIH, 0 Komentar
Ada beberapa peristiwa tersohor terkait sikap KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dalam menghadapi problem politik. Diantaranya, pembelaan terhadap calon Gubernur Bangka Belitung dari kaum minoritas seperti Basuki Tjahya Purnama (Ahok), Tionghoa. Sikap lainnya, ketika ia "dilengserkan" dari jabatannya sebagai presiden. Ribuan orang siap berjihad untuk mendukung Gus Dur, namun bapak bangsa ini justru meminta para pendemo untuk pulang dan tidak melanjutkan aksi turun lapangan. Demikian pula pembelaannya terhadap kelompok-kelompok aliran kepercayaan yang berbeda dengan maenstream baik Syiah dan Ahmadiyah.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sikap Gus Dur terhadap Orang yang Memusuhinya

oleh : MUHAMMAD AS HIKAM , 0 Komentar
Pelajaran yang termasuk paling sulit dari Gus Dur kepada saya (mungkin juga bagi seluruh warga NU dan sebagian terbesar bangsa Indonesia) adalah: berteman dengan pihak yang tak sependapat dengan – atau malah memusuhi- kita. Tampaknya hal ini sederhana saja, apalagi kalau cuma diomongkan, diseminarkan, dikhotbahkan, dan ditulis. Yang sulit adalah ketika dipraktikkan. Secara konsisten lagi. Bukan saja mempraktikkan kata “cintailah musuhmu” adalah kerja keras pribadi, tetapi juga punya dampak kepada yang lain.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Privilese

Masalah privilese itu nyata, bukan fiksi. Gus Dur mungkin satu dari banyak tokoh yang tumbuh karena adanya privilese. Dan ia mengakui adanya privilese tersebut. Kita tahu, ia adalah anak (mantan) menteri, cucu pendiri NU dan Pesantren Tebu Ireng. Ia adalah seorang yang berdarah biru.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menelisik Akar Ekstrimisme dalam Agama

oleh : MUH. ERSAD MAMONTO, 0 Komentar
Qarin (samaran) adalah nama ponakan saya yang masih duduk di bangku SD. Dia pada dasarnya adalah anak yang ceria, cerewet dan sangat suka menjahili orang di sekitarnya. Sampai kira-kira sebulan yang lalu, ada pernyataan darinya yang cukup membuat saya tersentak.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Bagimu Agamamu

oleh : AHMAD SOLKAN, 0 Komentar
Belakangan ini sedang santer-santernya orang-orang menggembar-gemborkan agama. Agama dijadikan alat untuk memenuhi kepentingan pribadi dan golongan. Saking parahnya, setiap apa-apa harus dilabeli dengan nama agama supaya laku keras di masyarakat. Mulai dari makanan, pakaian, hotel, perbankkan, hingga perpolitikan. Sedikit-sedikit mudah mengharam-haramkan dan menyesat-sesatkan sesuatu. Apabila tidak sepaham berarti salah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ibu Gedong dan Gus Dur: Persahabatan Hindu dan Islam

oleh : LISTIA SUPROBO , 0 Komentar
Ibu Gedong Bagoes Oka atau terlahir dengan nama Ni Wayan Gedong (lahir 1921) adalah perempuan Hindu Bali yang dikenal sebagai perempuan penggera perdamaian. Pengalaman pendidikan yang ditempuh oleh Ibu Gedhong sejak kanak-kanak hingga dewasa telah memberi kesempatan bertemu dengan berbagai masyarakat dan budaya yang berbeda dengan budaya Bali dan di luar penganut Hindu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengenal Gus Dur, Memahami Toleransi

oleh : NURSODIK EL HADEE, 0 Komentar
Indonesia belum bisa dibilang mapan dalam menghadapi isu-isu kemanusiaan. Sederet polemik kemanusiaan tidak berkesudahan hingga sekarang. Hal ini nampak masih banyak kasus intoleran, diskriminatif, persekusi terhadap kelompok-kelompok minoritas masih terpampang jelas dalam catatan pelik kemanusiaan. Indonesia by default sebagai negara yang Majemuk, tentu tidak menutup kemungkinan isu-isu kemanusiaan lah yang selalu menghujani negeri ini.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Wayang dari Kacamata Gus Dur: Pembentuk Budaya Politik

oleh : SURAJI, 0 Komentar
Tulisan berikut adalah kelanjutan dari rangkuman ceramah KH. Abdurrahman Wahid pada diskusi dan pementasan wayang kulit dalang Ki Purbo Asmoro dengan lakon “Kunti Pinilih”. Selain untuk mentransfer nilai-nilai masyarakat, wayang juga dapat dipakai sebagai medium untuk meninjau hubungan antara negara dan warganya. Kewajiban-kewajiban warga negara, kewajiban-kewajiban para penyelenggara pemerintahan, semuanya mendapatkan tempat dalam cerita wayang. Karena isi cerita wayang sebenarnya perihal perebutan tahta, yang berujung pada Mahabaratha atau Barathayuda.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ilmu Tauhid, Gus Dur, dan Pendakwah yang Suka Marah

oleh : WILDAN IMADUDDIN , 0 Komentar
Peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah terkait dengan kerasnya pertentangan seputar Tauhid dan Ilmu Kalam dapat tergambar dari kasus mihnah, dimana para cendekiawan dipaksa untuk meyakini konsep khalq al-Quran yang disodorkan mu’tazilah, dipimpin oleh sang khalifah al-Ma’mun. Akibat perdebatan ini, tokoh-tokoh yang menentang pendapat ini dijebloskan ke penjara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi