Minggu, 21 April 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Apa Jadinya Islam Indonesia Jika Tidak Ada NU dan Muhammadiyah?

oleh : ANNAS ROLLI MUCHLISIN, 0 Komentar
Judul di atas sempat terbesit di pikiran penulis setelah mengikuti seminar bertajuk “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara Untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM pada Jum’at 25 Januari 2019. Selain untuk mengemukakan penemuan riset mereka yang dituangkan dalam buku Dua Menyemai Damai Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi, seminar ini juga dalam rangka mendukung dua organisasi Muslim Indonesia terbesar tersebut untuk meraih Nobel Perdamaian.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

PERAYAAN TAHUN BARU KAUM BIDAH

oleh : AHMAD Z. EL HAMDI, 0 Komentar
Di dalam buku yang sudah menjadi klasik, Pergolakan Pemikiran Islam Indonesia, (alm.) Ahmad Wahib pernah menyatakan bahwa umat Islam perlu memperbanyak bidah kultural. Bidah kultural adalah suatu kreativitas kultural yang dibutuhkan sebagai respon tepat terhadap kebuyaan manusia yang bersifat dinamis. Menghindar dari bidah kultural atas nama apapun hanya akan terjerembab ke dalam konservatisme.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Multikulturalisme; Corak Keberagaman Bangsa

oleh : FATHULLAH SYAHRUL, 0 Komentar
Sebagai negara majemuk Indonesia dihuni oleh beberapa suku, agama, ras dan budaya. Tolok ukur Indonesia sebagai negara yang majemuk terletak pada keberagaman. Keberagaman, itu dikukuhkan dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam aspek agama misalnya, Indonesia salah satu negara yang cukup beragama, agama dan kepercayaan (pluralisme). Karena itu, agama sebagai penopang hidup atau bingkai bernegara dan bermasyarakat harus diarahkan untuk menerima dan merawat perbedaan sebagai bagian dari kekuatan bernegara (Bhineka Tunggal Ika).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menelusuri Islam di Kenya (2): Assalamu'alaikum, Mombasa

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
"Are you a moslem?" tanya seorang chief di restoran tempat saya menginap, ketika saya meminta telor ceplok sebagai menu sarapan. Saat itu saya mengenakan sarung dan kemeja lengan panjang yang masih saya kenakan sejak menunaikan salat subuh. Sontak saya langsung mengangguk dan bertanya balik, bagaimana dia bisa menebak demikian? Ternyata sarung inilah yang membuatnya yakin bahwa saya seorang muslim. Kami terlibat dalam percakapan singkat mengenai sarung yang konon banyak ditemukan di Mombasa city. "Ya, di sana banyak orang muslim," jelas chief tersebut.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Perempuan, Pelecehan Seksual, dan Perkosaan

oleh : HARIS EL MAHDI, 0 Komentar
"Saya pernah mengalami pelecehan seksual. Ini baru pertama kali saya ceritakan. Kejadian di asrama dinas tempat keluarga saya tinggal. Pelaku adalah ayah dari sahabat saya, ia meremas payudara saya......." Cerita berhenti, perempuan itu histeris, menangis cukup lama. Memorinya terbuang ke masa itu, saat pelecehan seksual menimpa dirinya. Trauma yang ia pendam lama tak cukup kuat untuk diucap dalam kata-kata yang lugas. Kemudian, setelah forum berhenti sejenak, perempuan lain bercerita tentang pengalamannya dilecehkan secara seksual oleh laki-laki.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Menelusuri Islam di Kenya (1): Membincangkan Keberagaman

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Beberapa hari lalu saya menghadiri sebuah pertemuan di county (setingkat kabupaten) Kwale, bagian dari regional Coast, Kenya. Kenya merupakan sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk lebih dari 40 juta jiwa. Dari segi keberagamaan, 80% penduduk Kenya menganut Kristiani. Sekitar 10% memeluk Islam, dan lainnya adalah pemeluk agama Hindu dan agama lokal.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Perlukah Perda Syariah untuk Mengatur Kehidupan Islami?

oleh : FATIKHATUL FAIZAH, 0 Komentar
Tahun politik kali memang tak henti memberikan kejutan-kejutan bagi bangsa Indonesia. Kali ini kejutan hadir dari pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie. Pernyataannya membuka kembali kontroversi tentang Perda (Peraturan Daerah) Syariah. Grace menyatakan menolak atau bahasa halusnya tak sependapat dengan adanya Perda syariah. Sebenarnya ketidaksetujuannya tidak hanya pada Perda syariah, tapi lebih kepada perda-perda berdasarkan kepentingan kelompok tertentu karena rawan diskriminasi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Memaknai Kembali Hari Toleransi Internasional

oleh : ILMI NAJIB, 0 Komentar
Di setiap peringatan atau hari besar, kita diiingatkan dengan keberadaan momentum tersebut. Seperti pada momentum Hari Toleransi Internasional 16 November 2018 kemarin, kita diingatkan kembali untuk menjadi manusia yang lebih terbuka; baik dalam berfikir maupun bersikap. Apalagi melihat kondisi saat ini, di mana antar anak bangsa terlihat sering memanas dan bersitegang. Di tambah dengan berita hoaks dan ujaran kebencian di media sosial yang dapat mencederai keberagaman bangsa Indonesia yang majemuk.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Kita Diciptakan Berbeda?

oleh : SYAHRUL BAHRONI, 0 Komentar
Sepertinya kita sering bicara pluralitas, toleransi, dan keragaman. Namun realitanya kita tidak pernah mengaplikasikan pemahaman itu. Kemajemukan atau perbedaan dalam islam yang kita pahami sebagai suatu keniscayaan atau istilah arabnya mutlak dan tidak bisa terhindarkan lagi, seharusnya itu menjadi suatu yang harus kita terima. Apalagi kita hidup di negara yang begitu kaya akan keragaman dan perbedaan agama, suku, ras, dan budaya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Hitam Putih Budaya Versus Agama

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Beberapa tahun lalu, saya terkejut atas pernyataan seorang wali kota. Di dalam sebuah diskusi panel, ia berkata, ”Semua tradisi yang tidak sesuai dengan kitab suci harus kita ubah”, saat membahas tentang jejak perempuan daerahnya yang menari di ruang publik. Jika hanya dibaca dari sepotong kalimat itu, pandangan sang wali kota tampak berangkat dari niat baik dan mulia walau mungkin juga hanya jargon populis untuk memenangi pemilihan kepala daerah. Namun, pernyataan itu juga menunjukkan betapa hitam-putihnya sang wali kota memandang budaya, lebih tepatnya ritual tradisi budaya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi