Selasa, 22 Oktober 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

CINTA MENDALAM, AIR MATA MENGHUJAN

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Seorang paeditrician, K.K. Choudhary, pernah mengatakan “Too much love, too much pain, too much sacrifice makes you cry like rain”. Artinya kurang lebih seperti ini “Terlalu cinta, terlalu duka, telalu berkorban akan membuatmu menangis sederas hujan”. Quote ini mungkin barangkali bisa menggabarkan kedukaan hati Virginia saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Upaya Rekonsiliasi Konflik Aceh dan Papua

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Persoalan identitas merupakan masalah yang wajar terjadi dalam negara multikultural seperti Indonesia. Konflik identitas antar suku, agama, ras, maupun etnis yang terjadi akhir-akhir ini menambah rapot merah keberagaman di Indonesia. Namun bukan hanya persoalan horizontal saja, persoalan vertikal pun juga terjadi dengan melibatkan negara sebagai aktornya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sudahkah Kita Menjadi Manusia?

oleh : AHMAD SOLKAN, 0 Komentar
Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti menistakan penciptanya. Sebuah kata-kata mutiara yang mungkin tak asing baik di telinga atau mata kita.
Kategori : Headline , Opini

Menyimak Kritik Sastra Gus Dur kepada HAMKA

oleh : ALI USMAN, 0 Komentar
Pada 1983, Gus Dur pernah menulis esai yang cukup panjang sebagai pengantar untuk kumpulan tulisan (antologi) tentang Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Bukan semata-mata perkara ketebalan jumlah lembar, yang dalam edisi cetak mencapai 16 halaman, apa yang digubah Gus Dur itu bagi saya sangat mengesankan.
Kategori : Headline , Opini

Posisi Perempuan Dalam Ruang Politik Praktis

oleh : FAISAL SAIDI, 0 Komentar
Di zaman yang terlampau maju ini, kesadaran kita dalam memosisikan perempuan justru semakin memprihatinkan. Kedudukan perempuan menjadi tidak aman dan terkesan harus lebih waspada dalam beraktifitas di dunia yang serba praktis seperti ini. Apalagi hampir seluruh pergerakan perempuan seolah-olah diawasi dengan nilai moral. Artinya, perempuan dalam ruang sosial, agama, lebih-lebih dalam ruang politik [partai poltik], akan dinilai dengan pendekatan moralitas. Tidak demikian dengan ‘laki-laki’. Jarang sekali kita melihat, mendengar, atau menyaksikan bahwa ukuruan perilaku laki-laki dinilai dari pendekatan moralitas.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Jejak Gus Dur di Tanah Persia

oleh : PURKON HIDAYAT, 0 Komentar
“Khaili mamnun, lutf kardid, terima kasih, sudah berbaik hati memberi ini”, ujar seorang pria berusia mendekati lima puluh tahun dengan raut wajah sumringah ketika saya sodorkan sebuah gantungan kunci sebagai hadiah. Dengan aksen Persia yang sangat kental, dia mencoba mengeja tulisan yang tertera di gantungan kunci plastik bundar berdiameter kurang dari enam centimeter berwarna padu; hijau, kuning, putih, dan sedikit hitam dan merah. “Yang Lebih penting dari politik adalah kemanusiaan -KH.Abdurrahman Wahid”. “Ishan roshan fekr Mosalman ast, beliau adalah intelektual Muslim !”, tutur pakar tasawuf dan filsafat ini, sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah gambar Gus Dur yang tersenyum, lengkap dengan kacamatanya dalam gantungan kunci pemberian teman-teman Seknas Gusdurian tahun lalu di Yogyakarta.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apapun Salahnya, Salah Amerika dan Yahudi!

oleh : MOHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Bermula dari komentar saya atas postingan seorang kawan di status media sosialnya, kami pun terlibat diskusi kecil. Dalam postingannya, dia membagikan berita tentang meninggalnya 100 anak hafidz-hafidzah di Afghanistan akibat serangan udara sebuah helikopter. Anak-anak ini meninggal di hari bahagia kelulusannya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Menolak Ide Khilafah

oleh : MOH MAHFUD MD, 0 Komentar
“Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada agak marah itu diberondongkan kepada saya oleh seorang aktivis ormas Islam asal Blitar. Saat saya mengisi halaqah di dalam pertemuan Muhammadiyah se-Jawa Timur ketika saya masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Antara Gus Dur dan Stanley Harsya Membayangkan Masa Depan Islam

oleh : ZAKKY ZULHAZMI , 0 Komentar
Stadion Sriwedari Solo penuh sesak manusia pada acara puncak haul Gus Dur, 23 Februari lalu. Hadir di acara itu sejumlah tokoh antara lain: Sudjiatmi Noto Mihardjo, Yenny Wahid, Gus Mus, KH Abdul Rozaq Shofawi, Mahfud MD, Oman Fathurahman, Gus Yasin, Irjen Condro Kirono,dan F.X Hadi Rudyatmo. Apa yang disampaikan Yenny Wahid di acara itu patut kita catat: pesan Gus Dur hanya satu kepada anak-anaknya, ia mengatakan hidup itu adalah cinta dan ibadah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Rasulullah, Perempuan Bersama Anjingnya dan Kisah Masjid

oleh : SARJOKO WAHID, 0 Komentar
Saya cukup sedih melihat komentar-komentar bernada SARA dalam unggahan video yang menampakkan seorang perempuan yang memasuki masjid dengan membawa seekor anjing. Di dalam video tersebut, si perempuan tampak dengan lantang menyebut dirinya sebagai “saya Katolik”. Di dalam sebuah komentar, ada yang mengatakan seperti ini: “Hari ini minoritas semakin berani semena-mena. Jangan sampai umat bertindak karena kemarahan.”
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi