Kamis, 23 Januari 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Tradisi Toleransi: Lebaran, Ucapan Salam/Selamat Hari Raya

oleh : ASRI WIDAYATI, 0 Komentar
Bakdan, Lebaran, Riyaya, atau Rorahea Mpuu—masyarakat Mina Perantauan, Sulawesi Selatan, menyebutnya, ialah istilah yang sama untuk menggambarkan satu suka cita atas terpenuhinya satu bulan penuh haru, tidak hanya bagi muslim yang menjalankan ibadah puasa. Namun, untuk penganut agama lainnya, dengan penuh kesabaran, saling menghormati, dan menghargai momen bulan penuh berkah yang berjalan sedemikian rupa, bahkan dari mereka hampir tak ada yang menolak untuk diajak berbuka bersama. Ataupun justru dengan rela hati menyiapkan menu sahur maupun berbuka dengan berjualan serta membantu kegiatan-kegiatan bulan ramadan umat islam, semampunya. Hingga perayaan yang dinanti itu datang, sebulan penuh telah terbiasa berjalan dengan baik, bukan saja karena peran muslim itu sendiri, akan tetapi juga peluh kesabaran agama lain yang memiliki rasa hormat tinggi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

GUSDURian Pasca Gus Dur: Catatan Pasca Rakornas 2019 Jaringan GUSDURian

oleh : M. FADLAN L NASURUNG, 0 Komentar
Saya adalah jenis manusia yang percaya, bahwa kata-kata bukanlah sekadar “kata-kata”. Kata-kata memiliki kuasa, ia adalah energi perubahan yang besar, karena kata-kata adalah sahabat karib pikiran manusia. Sedang perubahan selalu dimulai dari pikiran. Lewat kata dan bahasalah manusia meneguhkan dirinya sebagai mahluk berbudaya. Bahasa adalah senjata, dengannya ide-ide beredar dari kepala ke kepala. Saban waktu, ide-ide itu menjelma menjadi tindakan-tindakan nyata. Ia mencerahkan budi dan menggerakkan daya manusia. Mungkin kita tak menyadari, bahwa perjalanan umat manusia telah sampai sejauh ini. Manusia berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ kecil yang menciptakan sejarah peradabannya, pasca mengalami revolusi kognitif ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Revolusi yang bermula saat manusia berhasil menemukan kode-kode bahasa dan menciptakan aksara.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Perkataan “Jangan Temani Orang yang Perilakunya tidak Membangkitkan Semangat kepada Allah…”

oleh : NUR KHALIK RIDWAN, 0 Komentar
Gus Dur mengatakan: “Dalam kitab al-Hikam, penulisnya merumuskan sebuah sikap yang sangat fundamental dalam mendidik religiositas: “Jangan temani orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangat kepada Allah dan ucapan-ucapannya tidak menunjukkan kamu ke jalan menuju Allah” (Gus Dur, Pengantar dalam buku YB Mangunwijaya, Menumbuhkan Sikap Religiositas Anak-Anak (Jakarta: Gramedia, 1986).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Manakib Kebangsaan: Dari Soekarno Hingga Gus Dur dan Cara Menjadi Indonesia

oleh : RUMAIL ABBAS, 0 Komentar
Islam lahir setelah didahului berkembangnya Agama Hindu, Budha, Kristen-Katolik, Majusi, Zoroaster, Mesir Kuno, maupun agama-agama lain. Karena hal itu, Islam sangat memahami masyarakat pluralistik secara religius telah terbentuk dan Islam sangat sadar dengan kondisi seperti itu. Dengan membawa semangat tersebut, Islam datang ke bumi nusantara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

NU DAN OPOSISI YANG BERMARTABAT

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Nahdatul Ulama (NU) kecewa terhadap Jokowi karena tidak mendapatkan jatah Menteri Agama, itu sepenuhnya bisa dipahami. NU merasa telah berperan besar dalam kemenangan Jokowi untuk menjadi presiden kedua kali. Berbagai survey menunjukkan bahwa klaim NU itu bukan omong kosong. Data exit pollIndikator Politik, misalnya, menunjukkan bahwa 56 persen warga NU mengaku memilih Jokowi. Data ini juga diperkuat dengan temuan Avara Research Center bahwa 54,3 persen warga Nahdliyyin memilih Jokowi. Berdasarkan survey Indikator Politik Indonesia pada Pilpres 2019, dari 207,2 juta (87,2%) Muslim Indonesia, 52,8% mengidentifikasi dirinya berafiliasi dengan NU. Dari angka ini bisa diukur betapa besarnya suara warga NU yang masuk ke dalam kotak pasangan Jokowi-KMA. Tidak mengherankan jika para pengamat dengan sangat yakin menyatakan bahwa NU menjadi penentu kemenangan pasangan Jokowi-KMA pada Pilpre 2019.
Kategori : Headline , Opini

Sahabatku, Tak Setiap Habib itu Terhormat Loh

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Beberapa waktu lalu, saya menemani seorang kawan untuk menghadiri undangan jamuan makan malam di salah satu restoran mewah di Kota Surabaya. Kawan saya ini seorang tokoh nasional, dan dia layak untuk mendapatkan undangan makan malam jenis ini. Kawan saya ini diundang oleh salah seorang habib tajir di Kota Pahlawan. Dan, restoran itu milik si habib pengundang itu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Masa Depan Islam dalam Pandangan Gus Dur

oleh : ARIEF AZIZY, 0 Komentar
Islam merupakan salah satu dari beberapa agama yang memiliki ajaran yang humanis. Islam selalu memberikan pemahaman-pemahaman yang santun dan tidak merasa benar sendiri. Selain memberikan penanaman moral yang santun juga memberikan gambaran bahwa berislam itu tidak pententang-pententengan. Kemunculan rasa ketakutan dalam melihat islam itu sendiri selalu digambarkan atas stigma-stigma negatif.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Sebagai Kata Kerja, Kemanusiaan, dan Ahmadiyyah

oleh : A. ADE PRADIANSYAH, 0 Komentar
Gus Dur sebagai kata kerja adalah judul tulisan Muhammad Al-Fayyadl. Setelah Gus Dur kembali, banyak gagasan dan nilai yang diwariskan beliau untuk bangsa ini. Melihat Gus Dur sebagai sosok hanya bisa kita nikmati dalam obrolan kita di warung kopi dengan penuh canda tawa. Dalam forum resmi pun kita hanya mengenangnya dalam acara haul rutinan setiap tahunnya. Sehingga, sangat disayangkan apabila nilai-nilai yang telah beliau teladankan hilang ditelan bumi. Untuk itulah, perlu kiranya membaca Gus Dur sebagai kata kerja. Kitalah yang melanjutkan apa yang telah diperjungkan oleh beliau dimasa hidupnya. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan. Begitulah kira-kira kalimat yang sering saya dengar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Keragaman dan Islam Ramah

oleh : ARIF GUMANTIA, 0 Komentar
Dalam hidup di dunia ini, kita harus menerima dan menyadari kenyataan bahwa bumi tempat hidup manusia adalah satu planet yang dihuni dari berbagai suku, ras, bahasa, profesi, budaya, dan agama. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman atau kemajemukan adalah sesuatu realitas (kenyataan) yang harus kita terima karena merupakan pemberian Tuhan. Keragaman, kemajemukan atau pluralitas terdapat di berbagai bidang kehidupan, termasuk agama. Bahkan hal ini tidak hanya terjadi di lingkup masyarakat tetapi juga dalam lingkup rumah tangga.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi