Selasa, 22 Oktober 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Dakwah Berwatak Gus Dur

oleh : SHOLIHUN KASIM, 0 Komentar
Idealnya, dakwah dilakukan dengan lemah-lembut, nir-kekerasan dan juga dengan ilmu mumpuni, bukan seakan-akan mumpuni. Dengan begitu, dunia dakwah, termasuk dakwah digital tidak akan diselewengkan dan akan kembali pada ruhnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Problem Serius Glorifikasi ‘Pindah Agama’ dan Kita Tidak Sadar

oleh : EDI AH IYUBENU , 0 Komentar
Dalam sebuah riset di wilayah Sleman, Yogyakarta, kawan seangkatan magister saya di IAIN Sunan Kalijaga, M. Rozaki, menemukan fenomena kultural yang unik soal agama. Bagi masyarakat akar rumput, harmoni sosial adalah elan vital paling utama dalam keluarga dan masyarakat. Sebuah keluarga bisa menerima anggotanya yang berbeda agama dengan memandangnya sebagai keyakinan individual yang mutlak. Agama adalah ageman, begitu istilahnya, sesuatu yang “dipakai” –digenggam, diyakini sendiri—sehingga ia boleh saja berupa warna.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pasca Pilpres dan Membaca Kepulangan Rizieq Shihab ke Indonesia

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Pilpres dan Pemilu 2019 telah usai dan dimenangkan oleh Joko Widodo (Jokowi). Berbagai cara secara konstitusional telah ditempuh meskipun pada akhirnya tetap mengalami kekalahan. Namun upaya rujuk atau rekonsiliasi yang dilakukan oleh koalisi 02 masih diupayakan. Berbagai tawaran sebagai syarat rekonsialiasi pun diajukan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Cak Nur Sang Teolog Muslim Indonesia

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Abdurrahman Wahid (Gus Dur w. 2009) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur w. 2005) merupakan tokoh intelegensia Muslim Indonesia. Hingga saat ini pikirannya masih relevan untuk didiskusikan. Persoalan-persoalan terkait dengan demokrasi, HAM, politik, bahkan relevansi agama dan dunia modern sudah dibahas sedemikian rupa sehingga kontribusinya masih bisa dirasakan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Vantage Point: Menakar Gerakan Makar “12:00”

oleh : HERU HARJO HUTOMO DAN SILVIA AJENG DEWANTHI, 0 Komentar
Di sebuah podium, seorang lelaki tiba-tiba tergeletak, tertembak. Dan sesaat, sebuah bom meletup menghancukan podium dan membunuh orang-orang yang ada di sekitarnya. Terjadi kekacauan, massa panik dan tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sampai seorang pengawal presiden menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres. Sesaat sebelum ledakan, melalui rekaman yang berasal dari video VCR, seorang lelaki kulit hitam melihat fakta beberapa kejanggalan sebelum “bencana” itu terjadi.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Makna Puasa dalam Praktik Akuntansi

oleh : MUHAMMAD ARAS PRABOWO, 0 Komentar
Puasa bukan untuk puasa atau bulan Ramadhan bukan untuk bulan Ramadhan saja, akan tetapi keduanya harus termaknai hingga sebelas bulan yang akan datang. Seperti diketahui bahwa puasa merupakan rukun Islam yang ketiga setelah syahadat dan shalat, setelah puasa yaitu zakat dan berhaji jika mampu. Perintah terkait kewajiban berpuasa tertuang dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat ke-183 yang berbunyi “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gandhi dan Prinsip-prinsipnya

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Pada akhir Januari 2004 lalu penulis diundang oleh Gandhi Smriti untuk menghadiri ulang tahun ke-56 wafatnya tokoh tersebut. Walaupun New Delhi pada waktu ini sedang mencapai puncak cuaca dingin, kira-kira -2o C, penulis menerima undangan itu. Ini adalah karena kekaguman penulis atas ajaran-ajaran Mahatma Gandhi. Gandhi berani meninggalkan sebuah karir gemilang di bidang hukum –menjadi pengacara sukses, di Afrika Selatan dalam usia belum sampai 30 tahun, dengan penghasilan tinggi dan kedudukan terhormat di masyarakat India yang ada di Afrika Selatan. Ia tinggalkan itu semua, untuk mengabdi kepada kejayaan dan kemerdekaan India dari penjajahan Inggris. Untuk itu ia harus berjalan kaki berkeliling di seluruh India, dengan segala kesederhanaan hidup, termasuk memintal kapas untuk membuat sendiri kain yang dipakainya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Cintai Agama dengan Asyik, Jangan Obsesif

oleh : MOHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Laksmi terus meminta maaf. Dengan sekuat tenaga, dia mencoba mencegah istrinya supaya tidak pergi dari rumah. Laksmi tahu bahwa Gayatri, sang istri, sangat malu ketika suaminya membagikan pembalut bersih kepadanya dan para tetangganya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi