Senin, 21 Agustus 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Jihadisme Toleran

oleh : YAHYA CHOLIL STAQUF, 0 Komentar
Sebelum naik cetak, Gus Dur meminta saya membacakan naskah buku The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid yang ditulis Greg Barton itu. Pada bagian pendahuluan, Greg sudah mencicil kesimpulan tentang Gus Dur dengan menyebutnya sebagai ’’pemimpin muslim liberal’’. Saat saya membacanya, Gus Dur serta-merta menyela. ’’Greg keliru itu!’’ katanya. ’’Saya ini bukannya liberal. Saya toleran.’’ Apa bedanya? ’’Kalau liberal, tidak perlu jihad. Setiap individu dipersilakan berpikir apa saja dan menjadi apa saja semau-maunya. Toleran itu tidak meninggalkan jihad, tapi tidak memaksakan kehendak.’’ Mungkinkah berjihad secara toleran?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sekali Lagi Tentang Gus Dur

oleh : NADIRSYAH HOSEN , 0 Komentar
Masih adakah yang tersisa yang belum ditulis tentang Gus Dur? Rasanya sudah dibahas semuanya baik yang fanatik mendukungnya maupun yang fanatik membencinya. Tapi tidak mengapalah saya tuliskan juga catatan ini –ini bukan bid’ah kan. Saya orang yang rasional, bukan gemar dunia mistik. Jadi, saya memahami Gus Dur juga lewat pendekatan yang rasional. Kalau memahami beliau lewat ‘dunia lain’ tentu bukan maqam saya bicara hal seperti itu.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Meninggalkan Pekerjaan di Luar Negeri, Membangun Desa dengan Kopi

oleh : FAWAZ, 0 Komentar
Alkisah, di sebuah negeri bernama Abyssinia (kini bernama Ethiopia), seorang pengembala bernama Kaldi heran melihat kambing-kambing gembalaannya bertingkah aneh usai menyantap buah yang baru pertamakali ia lihat. Kambing-kambing itu terlihat gembira. Kaldi lalu mencicip buah itu, seketika tubuhnya terasa segar usai mengonsumsi buah tersebut. Lantas ia lekas memberitahukan hal ini kepada penduduk desa tempat ia tingal. Tak butuh waktu lama, buah itu menjadi populer di desanya hingga menjalar ke desa-desa sekitar. Selanjutnya, kopi menjadi semakin populer dalam waktu singkat. Lebih lagi usai Ethiopia menginvasi Yaman dan mulai menanam kopi di sana. Berkat andil pedagang-pedagang dari jazirah arab, penyebaran kopi semakin menjangkau banyak wilayah. Bangsa Arab juga yang menemukan cara baru mengonsumsi buah kopi, yaitu kopi diolah menjadi bahan minuman setelah sebelumnya buah kopi dikonsumsi dengan cara dimakan begitu saja. Kisah ini bisa ditemukan di Majalah National Geographic pada artikel berjudul Escape from Arabia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Halal Bihalal: Merajut Harmoni Kemanusiaan

Sejak awal ibadah puasa di bulan Ramadan dimulai, dimensi sosial berupa penghargaan dan perhormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan selalu merefleksi dalam berbagi ritualitas ibadah yang memiliki nilai khusus di bulan Ramadan, dari puasa, sedekah, infaq, hingga zakat fitrah. Bahkan setelah Ramadan berlalu, penghargaan ajaran Islam terhadap perikemanusiaan itu semakin dipertegas oleh momentum Idul fitri, hari dimana umat Islam merayakannya sebagai hari kemenangan, hari kembali kepada fitrah (asal kejadian) yang berarti suci, seperti seorang bayi yang baru keluar dari rahim Ibunya, bersih, suci ibarat selembar kertas putih tanpa noda.
Kategori : Headline , Opini

Bom Madinah Kebohongan Kafir?

oleh : MOHAMAD SYAFI ALI , 0 Komentar
Seiring bom tak jauh dari masjid Nabawi beserta pemberitaannya, ada tulisan yang menyangkal informasi umum yang beredar. Nara sumbernya orang bernama Fathuddin Ja’far, yang saat kejadian mengatakan berada di dalam Masjid Nabawi. Kesaksian ini dimuat di sejumlah media, beredar di socmed, grup WA dan seterusnya, yang intinya berita bom Madinah tak sesuai fakta, berlebihan dan merupakan sebuah konspirasi untuk menyudutkan Islam. Berdasar kesaksian Ja’far, ia tidak mendengar ledakan, hanya melihat kepulan asap. “Kami hanya melihat kepulan asap spt ada kebakaran di seberang Baki’, makam para sahabat Rasulullah.”
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Yang Selalu Absen Saat Ramadlan

Saat Ramadlan baru berjalan kurang dari 10 hari, media massa telah dipenuhi oleh berbagai aksi mengejutkan yang mengusik nalar dan nurani publik. Adalah Ibu Saeni yang menangis terbalut kalut saat segerombolan Satpol PP Serang Banten menyita kasar makanan yang ia jual siang hari. Sementara itu ancaman razia warung dan restoran juga dilontarkan oleh Kepala Satpol PP Banjarmasin. Disana sweeping bahkan dilakukan terhadap warung-warung yang menjual makanan bagi non-muslim (babi), yang bahkan konsumennya sangat mungkin bukan muslim.
Kategori : Headline , Opini

Bu Sinta, Gus Dur, Al-Azhar dan Para Penghina itu

Sudah hampir 20 tahun terakhir Bu Sinta Nuriyyah Abdurrahman Wahid, menggelar sahur dan buka bersama dengan kalangan masyarakat bawah, yang dilaksanakan dengan kalangan non-muslim. Beliau, seperti sang suami, ingin menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk menyapa kalangan bawah dan mereka yang dianggap berbeda. Bu Sinta datang ke daerah-daerah terpencil dan ke tempat-tempat yang kalangan agama mungkin banyak mengabaikan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Shinta Nuriyah dan Para Pembenci

oleh : ALAMSYAH M DJAKFAR, 0 Komentar
Jika bukan karena komentar dan pernyataan kurang patut dan terkesan melecehkan pribadi atau keterbatasan fisik Bu Shinta Nuriyah di dinding-dinding facebook dan pagar-pagar twitter sejumlah akun, mungkin saya tak akan tergesa-gesa menulis sepagi ini. Soal penolakan FPI atas acara bukber yang digagas beliau bukanlah perkara serius. Mereka tak setuju hal biasa. Saya kira publik sudah mengerti ini. Tapi, soal pelecehan dan kebencian, itu perkara serius dan “tidak biasa”. Orang mungkin bakal menilai pandangan saya ini subyektif. Saya kan “orang” Wahid Foundation, organisasi yang didirikan almarhum Gus Dur. Wajar dong ingin membela pimpinan atau keluarga pendiri organisasi tempat bekerja. Tapi di sinilah masalahnya
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Benturan Antar-Wahabisme di Indonesia

oleh : AHMAD SUAEDY, 0 Komentar
Banyak orang tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada Wahabisme a la Indonesia yang dalam sejarah, setidaknya sejak tahun belasan abad ke-20 telah lahir, dan berbenturan dengan Wahabisme yang lahir di Arab Saudi. Wahabisme Indonesia dinisbatkan kepada KH. Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bersama-sama dengan KH. Hasyim Asy’ari. Bisa jadi disebabkan karena kelemahan dalam tradisi intelektual di kalangan santri dan pesantren sendiri bahwa mereka tidak tercatat secara tertulis dalam sejarah sebagai perintis ide nasionalisme di awal-awal abad ke-20. Namun, jika menengok naskah Deklarasi atau Piagam Nahdlatul Wathon kalangan santri yang bertitel 1916 (Munim DZ, 2014) maka kalangan santri telah mendeklarasikan cinta tanah air berhadapan dengan penjajah Belanda untuk menuju kemerdekaan ketika itu. Piagam tersebut tidak lain merupakan reformulasi dan ringkasan dari syair ciptaan KH. Wahab Chasbullah jauh sebelumnya yang berjudul “Ya Lal Wathon”, yang artinya ”Wahai Bangsa (Indonesia).”
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Merah Putih dan Reruntuhan

oleh : NURUDDIN HIDAYAT, 0 Komentar
Tak sengaja saya membuka lemari lama di belakang. Ku temukan sebuah kaset lama dari seorang penyanyi balada Frangki S yang menyanyikan lirik lagu Emha Ainun Najib yang sangat menyentuh. Aku pun teringat tragedi itu, di dekade 90 an, di mana ketika aku masih menjadi mahasiswa yang melakukan pendampingan kepada korban penggusuran Waduk Kedung Ombo, sebuah tragedi kemanusiaan yang mengatasnamakan pembangunan. Nilai-nilai kemanusiaan ditiadakan. Ketika itu masih ada lebih kurang 660-an keluarga yang menolak ganti rugi, yang mana ketika proyek itu dicanangkan pada tahun 1985 dengan dana USD 156,2 juta, bantuan dari bank dunia, bank Exim Jepang USD 25,2 juta dan APBN th 1985 hingga 1989. Waduk tersebut menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten. Permasalahannya bukan kita menolak pembangunan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi