Minggu, 29 Maret 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur dan Perjuangan Melawan Kekerasan Simbolik

oleh : ARIF GUMANTIA, 0 Komentar
Sudah sepuluh tahun Gus Dur meninggalkan kita semua, satu dasawarsa beliau pulang ke haribaan Allah Swt. Ada banyak keteladanan yang dapat kita contoh dan kita teruskan perjuangannya, yaitu perjuangan beliau dalam membela kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan dan persaudaraan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Belajar Persatuan Indonesia dari Gus Dur dan Soekarno

oleh : ANWAR KURNIAWAN, 0 Komentar
Setidaknya hingga Jum’at dini hari (28/02) mendiang Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), masih dan akan selalu berkibar dalam memori. Bertempat di Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta, serangkaian acara haul memperingati satu dekade berpulangnya Gus Dur oleh komunitas Santri Gus Dur Jogja purna digelar.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Memahami Politik Kebangsaan Gus Dur

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Gejolak demi gejolak menghujam negeri ini, aneka diskriminasi politik kembali menguji kebhinekaan kita, munculnya sentimen rasial hingga agama yang difasilitasi oleh aktor politik, seolah-olah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir ini. Polarisasi politik kembali menjadi biang keladi atas gemuruh yang kita rasakan saat ini.
Kategori : Headline , Opini

LITTLE ROCK NINE

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Pada tahun 1954, di tengah pergolakan sosial politik Amerika Serikat terkait masyarakat Afrika-Amerika (pada masa itu disebut masyarakat kulit hitam), Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa praktik segregasi sekolah atas dasar kulit putih dan kulit hitam adalah tindakan inkonstitusional karena bertentangan dengan Konstitusi AS. Keputusan ini menjadi dasar bagi gerakan pencampuran sekolah-sekolah, terutama sekolah negeri di Amerika Serikat. Sejak saat itu, sekolah-sekolah wajib menerima siswa tanpa memperhatikan warna kulitnya.
Kategori : Headline , Opini

Pribumisasi Islam Sebagai Ejawantah Integrasi-Interkoneksi Nash Islam dan Kebudayaan (Bagian 1)

oleh : EDI AH IYUBENU, 0 Komentar
Dari tulisan panjang ini, secara khusus saya ingin menunjukkan berbagai kemungkinan ejawantah nyata dari integrasi-interkoneksi nash dan kebudayaan melalui praksis metodologi Ushul Fiqh, termasuk di negeri kita. Di lingkungan Nahdliyyin, kita kenal istilah Islam Nusantara belakangan ini. Di lingkungan Muhammadiyah, kita kenal istilah Islam Berkemajuan. Jauh sebelumnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah memunculkan istilah yang amat maju di zamannya sekaligus menuai kontroversidari sejumlah kalangan, utamanya konservatis Islam, yakni Pribumisasi Islam.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam Sebagai Ejawantah Integrasi-Interkoneksi Nash Islam dan Kebudayaan (Bagian 2)

oleh : EDI AH IYUBENU, 0 Komentar
Kedua, menjawab pertanyaan umum bukankah program KB sama dengan mengintervensi wewenang Tuhan dalam menciptakan anak? Siapakah sebenarnya pemilik hak menciptakan anak, apakah Tuhan atau manusia? Gus Dur mengatakan, dalam sebuah musyawarah ulama terbatas, semua hadirin sepakat bahwa jawabannya adalah Tuhan. Hak menciptakan anak, meniupkan ruh kepada janin di dalam rahim, merupakan hak mutlak Tuhan sebagai tanda kekuasaanNya. Karena itu, segala intervensi terhadap hal tersebut, yakni menghilangkan kemampuan ibu untuk mengandung dan melahirkan anak, adalah terlarang karena melanggar wewenang Tuhan. Ini dimensi pertamanya, tekstual syariatnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Pribumisasi Islam Sebagai Ejawantah Integrasi-Interkoneksi Nash Islam dan Kebudayaan (Bagian 3/Habis)

oleh : EDI AH IYUBENU, 0 Komentar
Keenam, Agenda prioritas. Gus Dur mengatakan bahwa kenyataannya Islam tidak sistemik, melainkan “hanya” mengandung wawasan-wawasan yang bisa diterapkan pada sistem apa pun, kecuali tiranisme. Atas dasar kenyataan ini, agenda prioritas yang perlu dibangun ialah menggeser paradigma berislam dari formalistik menuju simbolis etis. Inilah yang disebutnya sebagai “etika masyarakat yang baru”.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sebagai Laki-Laki, Saya Sangat Tersinggung

oleh : AHMAD ZAINUL HAMDI, 0 Komentar
Saya biasa mendengarkan radio ketika berangkat atau pulang kerja. Mendengarkan radio, terutama ketika programnya bersifat interaktif, memberi kenikmatan tersendiri. Menikmati obrolan remeh-temeh asyik antara pendengar dan penyiar memberi waktu bagi saya untuk sejenak keluar dari rutinitas kerja yang terus menerus datang tanpa ampun dan menuntut penyelesaian seketika, persis seperti para pembayar di loket antrian yang berdesakan karena semua minta dilayani paling dulu.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sanad Spirit Pembebasan Gus Dur: dari Mbah Hasyim Hingga Rasulullah

oleh : AHMAD SAJIDIN, 0 Komentar
Sepeninggal Gus Dur pada akhir Desember tahun 2009 silam, bangsa Indonesia telah kehilangan sosok yang begitu penting bagi sejarah peradaban bangsa Indonesia. Sosok tersebut tidak meninggalkan warisan kekayaan ataupun harta benda mewah, melainkan produk-produk pemikiran, keteladan, dan karya yang sampai hari ini dapat kita nikmati dalam berbagai bentuk, seperti tulisan-tulisannya maupun dari cerita kesaksian dari sahabat dan keluarga beliau. Dari sana lah maka lahir 9 nilai utama Gus Dur yang salah satunya adalah pembebasan.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi