Senin, 23 April 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Ciri-ciri Organisasi Anti Pancasila

oleh : ARIF HIDAYATULLAH, 0 Komentar
Hari-hari belakangan, ramai sekali yang memberitakan dan membicarakan prihal Ormas yang anti terhadap Pancasila. Bahkan presiden Jokowi sampai mengintruksikan untuk menggebuk semua organisasi yang bertolak belakang dengan Pancasila dan UUD 1945. Kata “Gebuk” yang digunakan oleh presiden Jokowi ini oleh banyak kalangan dianggap sebagai peringatan keras presiden. Lalu, apakah isi dan maksud dari pancasila itu, kenapa Negara memandang bahwa ada ormas yang bertolak belakangan dengan pancasila? Apakah kita juga sudah memahami tujuan dan semangat dari pancasila yang sesuai dengan penggalinya, bung karno? Atau jangan-jangan kita hanyalah ekor dari dinamika yang sedang berlangsung.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menebar damai Menjaga NKRI dengan Safari Damai Ramadhan

oleh : M. ABDIK MAULANA, 0 Komentar
Tak terasa bulan Ramadhan yang menjadi salah satu bulan yang paling dinanti-nantikan oleh umat islam di seluruh dunia telah tiba, hal ini disambut baik olehkawan-kawan Gusdurian Malang, komunitas lintas agama maupun keyakinan di kota Malang khususnya untuk melakukan agenda rutinan, salah satunya dengan mengadakan kegiatan silaturahmi yang dikemas dalam “Safari Damai Ramadhan 2017”. Kegiatan ini ialah mengunjungi komunitas/lembaga keagamaan di Malang raya, yang bertujuan mempererat tali silaturahmi, menjaga toleransi, perdamaian, serta memupuk semangat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Agama dan Politik Kebangsaan

Indonesia selain sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, juga adalah negara demokrasi terbesar ke tiga di dunia. Kenyataan itu membuat Indonesia menjadi negara muslim yang berhasil melakukan demokratisasi beriringan dengan proses penerapan ajaran Islam dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat di tengah kebhinnekaan bangsa. Islam dan demokrasi yang kerap dipertentangan oleh sejumlah kelompok muslim, di Indonesia justru dapat hadir secara sinergis dan berkait kelindan satu sama lain. Hal tersebut ditopang oleh cara pandang moderat mayoritas muslim di Indonesia, yang selalu berusaha mencari titik temu di antara berbagai konsepsi kehidupan (termasuk konsep bernegara) dari berbagai aras kebudayaan dan peradaban, selama secara prinsipil tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Soekarno dan Ketimpangan

Tidak dapat dipungkiri bahwa Soekarno adalah salah satu pemimpin dan pemikir terbesar bangsa ini. Soekarno mampu meramu pengalaman dan pengamatannya terhadap situasi penindasan yang tersebar di berbagai pelosok negeri menjadi pemikiran yang bukan hanya revolusioner tetapi juga visioner. Revolusioner pada jamannya berarti mampu menggerakkan gairah massa untuk berjuang memperbaiki kondisi mereka melalui kemerdekaan, sementara visioner mencitakan kondisi bangsa ini kepada kemakmuran, kesejahteraan berbasis modal yang ada.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sejarah Kebangkitan Nasional dan Kebangkitan Islam di Indonesia

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Pada tanggal 20 Mei menjadi awal sejarah baru gerakan nasionalis di Hindia Belanda. Gerakan ini ditandai dengan munculnya organisasi masyarakat baik yang berasal dari agama, media, maupun sosial. Kemunculannya tidak lepas dari pengaruh politik Belanda yang pada saat itu menerapkan sistem politik etis untuk Hindia Belanda. Hal itu dikarenakan sebagai rasa terimakasih yang diberikan oleh Belanda kepada Hindia Belanda karena selama ini sudah membantu perekonomian Belanda. Sejarah telah mencatat bahwa antara tahun 1900 hingga 1916 organisasi di Hindia Belanda mulai muncul secara massif. Media Medan Priyayi, organisasi Budi Utomo, Syarikat Dagang Islam yang diganti menjadi Syarikat Islam (SI), dan masih banyak lagi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur: Ibu Kota Bagi Kaum yang Teraniaya

oleh : ANGGI AFRIANSYAH, 0 Komentar
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali, puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya (Durrahman, Joko Pinurbo) Puisi karya Joko Pinurbo sangat tepat dalam menggambarkan sosok Gus Dur. Gus Dur merupakan suaka bagi segala umat, terutama bagi mereka yang teraniaya, mereka yang patut untuk dibela. Gagasan dan tindakannya untuk kemanusiaan sungguh luar biasa. Tak jarang Gus Dur dicerca karena gagasan dan tindakannya tersebut. Meskipun demikian keteguhannya dalam memperjuangkan setiap apa yang diyakini sebagai kebenaran tak ada duanya. Cerita tentang kesederhanaan hidupnya, penghargaannya terhadap orang lain, pembelaan-pembelaannya terhadap kaum yang terpinggirkan, perjuangannya terhadap keislaman dan keindonesiaan telah banyak diungkapkan dalam beragam tulisan, diceritakan dalam banyak narasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Khilafah: Sebuah Kemunduran

Selain faktor geopolitik di Timur Tengah yang memicu lahirnya Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS), persoalan yang tak boleh diabaikan umat Islam ialah ide negara Islam atau khilafah. Sebab, pelarangan ISIS tak otomatis membuat pahamnya mati di negeri ini. Ide tentang khilafah dan pemberlakuan syariah akan terus menjadi perdebatan panas sebelum relasi antara Islam dan negara selesai disepakati oleh semua umat Islam. ISIS, dalam aspek ini, menjadi pelajaran penting.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sistem Khilafah Tidak Bisa Menunjukkan Perdamaian

oleh : MUHAMMAD MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Negara-negara yang mayoritas memeluk agama Islam sudah semestinya memiliki konsep tentang perpaduan Islam dan Negara. Ini akan terlihat ketika kita membandingkan konsep agama dan negara di Suriah, Iran, Mesir, dan Indonesia. Semua negara ini memiliki ciri khas tertentu dalam merumuskan konsep hubungan tersebut. Indonesia misalnya, sejak dirumuskannya Pancasila dan UUD 1945 banyak menuai perdebatan. Apakah Islam yang akan menjadi dasar negara, atau Islam dan agama lainnya akan menjadi perkakas dalam negara. Meskipun pada awalnya para pejuang sudah menetapkan sila pertama Pancasila disertai dengan tujuh kata (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya), namun pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui sidang pertama PPKI tujuh kata itu dihapus dan menjadi Pancasila yang kita tahu saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Toleransi Sejak Dini

Dulu kala, saya teracuni informasi yang berkeliaran. Informasi itu datang dari mulut ke mulut tanpa tahu benar tidaknya. Meskipun dianggap benar, tetapi kebenaran itu lahir dari sikap keagamaan yang mendasarinya tanpa tahu lebih jauh faktanya seperti apa. Keyakinan tidak ditopang oleh pengetahuan yang benar. Meyakini informasi yang datang, membentuk sikap curiga kepada agama orang lain, dan menimbulkan kesan spesifik yang melahirkan penilaian kebencian. Informasi yang membentuk prasangka tersebut tentang berita-berita misionarisme. Kalau hari ini kita mengenal sejenis informasi hoax.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ketika Massa Muslim Berkumpul

Beberapa bulan, saya sempat terpekur dalam kekhawatiran melihat gelombang massa aksi bela Islam-bela Ulama yang diakui atau tidak diakui, momentum itu terbentuk dari sebuah alasan dan desain peristiwa yang begitu politis. Kekhawatiran itu semakin menjadi setelah membaca beberapa ulasan dalam jurnal Maarif Institute antara lain dari Ahmad Najib Burhani, Mohammad Iqbal Ahnaf dan Airlangga Pribadi Kusman. Dalam jurnal edisi "Pasca Bela Islam" itu, saya menemukan poin-poin yang jika boleh diringkas saya sebut sebagai "Hal-hal berbahaya namun tidak disadari terjadi dalam aksi bela Islam", satu diantaranya adalah soal: Populisme Islam atau Fragmentasi Otoritas Keberagamaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi