Minggu, 25 Februari 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Om Siuman Om

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pesan berantai dan media sosial masih menjadi sarana efektif membangun citra hingga opini publik dengan berbagai sudut pandangnya, satu contoh, dizalimi. Pesan berantai belakangan ini muncul di sejumlah linimassa hingga grup-grup Whatsapp ialah "Gerakan Siluman". Padanan kata tersebut sepertinya enak dibahas sembari ngopi dengan pertanyaan: baru siuman, om? Pesan berantai dimaksud intinya menyebarkan isu, ada desain dibuat lembaga bentukan institusi negara agar masyarakat di berbagai daerah ramai-ramai sepakat, membubarkan organisasi identik dengan radikal, suka menghujat dan merasa paling benar sebagaimana performance pemimpinnya yang bisa disaksikan di youtube.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Siapakah yang Layak Disebut Kafir?

oleh : SHOHIB SIFATAR, 0 Komentar
Seneng ngafirke marang liyane Kafire dewe ora digateke Dalam Kitab Suci Al-Qur’an, kata kafir dipakai bukan semata sebagai konsep teologis, tetapi juga konsep etis. Memahami konsep ini semata-mata sebagai sebutan untuk mereka yang non-Muslim (kategori teologis) sangatlah simplistis. Karena banyak penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kata kafir ini juga banyak merujuk konsep etis. Ini contoh pengunaan kata kafir dalam dua ayat berbeda, yang sangan popular di kalangan Islam. Ayat pertama, pernyataan Allah dalam surat Luqman ayat 12. Ayat tersebut menyebut kafir bagi orang yang tidak syukur nikmat. Ayat kedua dalam surat al-Ma’un, “pendusta agama” (frase lain untuk kufr) juga digunakan untuk mereka yang tidak punya sensitivitas pada keadilan sosial, meskipun rajin bersembahyang. Wal hasil, siapa saja, termasuk orang Muslim, bisa saja terperosok pada jurang kekafiran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dengan Mati Gus Dur Abadi

oleh : YUDI LATIF, 0 Komentar
"Tunjukkan padaku seorang pahlawan, niscaya akan kutulis suatu tragedi,” ujar pujangga F Scott Fitzgerald. Di tengah gemuruh takbir dan derai isak tangis yang mengiringi kepergian KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebuah ode ditulis banyak orang di media dan jejaring maya yang menobatkannya sebagai pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang berani mengubah tragedi menjadi jalan emansipasi. Seperti itu jualah Gus Dur. Secara individual ataupun komunal, ia tumbuh mengerami rangkaian kepahitan dan keterpinggiran.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Fatwa MUI Bukan Hukum Positif

oleh : HIFDHIL ALIM, 0 Komentar
“Fatwa Majelis Ulama Indonesia bukanlah hukum positif.” Pernyataan tersebut saya gunakan sebagai mukaddimah dalam kolom ini dengan tujuan penegasan pendapat saya bahwa fatwa yang diterbitkan oleh MUI tidak bernilai sebagai hukum positif. Tentunya, sebelum sampai ke penegasan itu, saya mengajukan dua perihal yang saya jawab terlebih dahulu, yang kemungkinan besar menggelayut di pikiran para pembaca yang budiman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Tak Perlu Fatwa Tentang Korupsi

oleh : ADMIN, 0 Komentar
Banyak masyarakat awam yang tidak tahu menahu apa fungsi dan kedudukan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI). Faktanya, sampai hari ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan MUI kerap kali menuai kontroversi. 4 tahun silam, wartawan Tempo pernah mewawancarai almarhum KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, yang notabene pernah menjabat sebagai ketua MUI. Kiai Sahal menyatakan bahwa “Fatwa MUI itu bukan satu-satunya fatwa. MUI juga bukan lembaga operasional seperti NU atau Muhammadiyah, yang bisa menggerakkan anggotanya. Jadi, fatwa MUI tidak mengikat.”
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Peran Guru Agama dalam Memutus Akar Radikalisme

oleh : MUHAMMAD ARAS PRABOWO, 0 Komentar
Kedamian adalah suatu hal yang sangat berpengaruh dalam harmonisasi berbangsa dan bernegara. Kehidupan yang damai hanya bisa diwujudkan dengan sikap toleransi antar manusia, khususnya dalam negara yang memiliki penduduk dengan suku, agama, ras yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut hanya dapat diikat dengan tali toleransi antara ummat Seperti yang digagas oleh KH. Abdurrahaman Wahid (Gus Dur) yang tertuang dalam beberapa karyanya. Pimikirannya tidak hanya tertuang dalam bentuk tulisan saja, tapi telah banyak mengubah arah kehidupan bangsa ini. Pluralisme Gus Dur telah menjadi corak tersendiri dalam menata kehidupan bangsa yang beragam perbedaan ini. Kerena pemikirannya yang monumental ini, berhasil mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan di negara kesatuan republik Indonesia.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Wacana Khilafah di Negara Pancasila

Perdebatan antara diskursus Keislaman dan Pancasila sebagai dasar negara, menemukan titik temu, ketika para perumus dasar negara Indonesia yang tergabung dalam panitia sembilan mencapai kompromi (kalimatun sawa). KH. Wahid Hasyim disebut-sebut sebagai tokoh yang menjadi penengah antara kelompok Islamis dan Nasionalis dalam perdebatan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berbunyi "Ketuhanan dan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya", yang kemudian disepakati perubahannya menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan itu diterima dan disepakati oleh seluruh anggota dalam tim Sembilan menjadi sila pertama dalam rumusan Pancasila.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Media “Islam” yang Menyebarkan Marah

Islam berasal dari kata as-silmu (damai), aslama (menyerahkan diri/pasrah), istalma mustaslima (penyerahan total kepada Allah), saliimun salim (bersih dan suci), dan salamun (selamat). Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tersebut terbukti mampu membawa masyarakat kegelapan menuju dunia baru, yang terang serta melampaui zaman. Apakah yang tidak tepat dalam Al Quran sebagai kitab suci, petunjuk, tuntunan? Alam semesta telah dibahas dalam QS Al Anbiya ayat 30. Bahkandermatoglyphics alias studi ilmiah sidik jari yang ngetrend beberapa tahun ini dengan tegas telah dinyatakan dalam QS Al Qiyaamah ayat 3-4. Termasuk bagaimana ketentuan lisan, hingga berita yang baik telah ditegaskan dalam QS Al Hujurat ayat 6.
Kategori : Headline , Opini

Lagi, Tentang "PAKAI"

Hingga saat ini, setidaknya dari yang sudah saya temui, ada dua bentuk keberatan dari kalangan yang bersikukuh bahwa Ahok tetaplah menista al-Quran sekalipun ada kata “pakai” dalam pernyataanya. Pertama, analogi yang dipakai seharusnya sama-sama dengan kalimat pasif. Dalam tulisan sebelum postingan ini, misalnya, analoginya adalah “makan pakai tangan” dan “makan tangan”. Keberatan ini mudah dipatahkan. Yah, tinggal diganti saja dengan kata kerja pasif: “dimakan pakai tangan” dan “dimakan tangan”. Gampang, to? Maknanya sama saja. Karena titik tengkarnya bukan pada kata kerjanya aktif atau pasif, tapi pada siapa subjeknya antara dengan “pakai” dan tanpa “pakai”. Mau dibuat aktif (“makan pakai tangan”) atau pasif (“dimakan pakai tangan”), selama ada kata pakai di situ, maka kata setelah pakai tetap berfungsi sebagai alat, bukan subjeknya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Republik Gaduh, Republik Aduh

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Bagi Republik Indonesia yang menganut sistem demokrasi, demontrasi sejalan dengan Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan: "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat". Demikian juga aksi yang sudah dan akan berlangsung 4 November 2016 terkait dugaan penistaan agama Islam dan Al Quran (Al Maidah [5]: 51) oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.
Kategori : Headline , Opini