Senin, 23 April 2018

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Tentang Buku Ahmad Wahib dan Gus Dur

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Sekitar tahun 1982-1983 Ismed minta mengedit catatan harian Ahmad Wahib. Dia mengerjakannya seperti seorang pertapa. Ia tinggal di daerah Sandratex di Pasar Jumat. Singkat kata, suntingan yang berasal dari “bengkalai catatan harian itu” selesai dan karena telah terikat kontrak dengan LP3ES, Ismed yang ketika itu freelance diminta untuk bertanggung jawab sampai buku itu terbit. Maka resmilah Ismed menjadi editor buku di penerbit LP3ES. Suatu hari Gus Dur datang dan disodori naskah draft buku itu. Seharian ia membacanya sambil duduk di kursi rotan di bagian dalam ruang redaksi. Menjelang sore ketika staf menjelang pulang Gus Dur baru merampungkan bacaannya. Lalu dia menghampiri Ismed, “Dahsyat ini Med, best seller nih, apa judulnya”?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Humanisme Religius ala Gus Dur (Menggali Semangat, Melakukan Pembaharuan)

oleh : DESIDERIO JULIO SUDIRMAN SMM, 0 Komentar
Agama mendapat tantangan yang serius dewasa ini. Tampaknya pergulatan manusia mengenai tujuan hidup yang dicari dalam nilai-nilai religiusitas dalam berbagai tradisi religius dirongrong. Ini terjadi karena seringkali agama dalam kenyataannya justru menjadi suluh yang membakar api perpisahan, pemecahan antara manusia. Tak jarang, agama menjadi alasan utama pertumpahan darah. Namun benarkah agama in se membawa serta pengaruh-pengaruh dekstruktif bagi kehidupan manusia? Pertanyaan yang diajukan di atas tidak mudah untuk dijawab. Kita tidak hanya sekedar menjawab dalam kerangka afirmasi dan negasi. Lebih dari pada itu, perlu dicari pendasaran yang kuat dan meyakinkan apakah agama memang berwajah ganda, atau sebaliknya agama sejatinya hanya membawa kedamaian dalam hidup manusia. Bagi saya, pendasaran yang kuat dapat ditemui dalam sosok Gus Dur. Intisari dari perjuangannya menjadi jawaban yang amat gamblang untuk menguraikan betapa tradisi religius sejatinya membawa kedamaian bagi setiap pemeluknya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Dan Masalah Islam Telah Sempurna

Tidak semua persoalan yang kita hadapi sekarang ini, ada pada zaman Nabi Muhammad Saw. Seperti, persoalan tes DNA, kita hidup di negara bangsa, demonstrasi berjilid-jilid seperti yang dilakukan GNPF MUI, mendengar ngaji lewat kaset rekaman, persoalan sholat di pesawat terbang dan kereta api, komunikasi via WA-telegram-tweeter, dan berbagai persoalan lain. Persoalan-persoalan baru seperti itu akan terus muncul dan senantiasa berkembang, seiring dengan perkembangan budaya, politik, ekonomi, dan peradaban umat manusia. Perkembangan-perkembangan ini membawa implikasi pertanyaan: bagaimanakah akhirnya kita memahami wawasan tentang “Islam telah sempurna”, seperti yang selama ini dikenal di dalam tradisi Islam?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kata Pengantar Buku "Mati Ketawa ala Rusia"

oleh : LIES MARCOES, 0 Komentar
Suatu hari, Gus Dur datang ke Grafitipress tempat Ismed Natsir, suami saya, bekerja sebagai editor. Dia tanya, "Med ada yang bisa saya bantu, ada perlu untuk pendaftaran anak sekolah". Suami saya menjawab" Ada Gus membuat pengantar untuk buku". Gus Dur pun bersetuju. Ia duduk membuka-buka dan membaca draft buku. Tak terlalu lama - hanya selintasan membaca. Lalu ia minta mesin tik, dan mulailah ia menulis, tanpa tip-ex tanpa ada satu pun kalimat yang dia perbaiki. Dalam waktu tak sampai satu dua jam, pengantar redaksi untuk buku pun selesai. Sembari dia mengetik, suami saya mengurus pembayaran. Selesai, ia pun pamit dengan mengantongi honor untuk biaya sekolah salah satu dari 4 anaknya yang akan masuk SMA... Sore hari menjelang pulang suami saya baru sempat membaca pengantar itu, dan ia terperangah....
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Masalah Hidup Berdampingan

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan: “Nabi Muhammad langsung diber itahu Tuhan bahwa ada perbedaan- perbedaan dalam beragama, sebagaimana firman Tuhan, lakum dinukum waliyadin,“ Bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku” (QS. Al- Kafirun [109]: 6). Agama Islam mengajarkan semangat toleran yang menghargai sesama manusia, walaupun berbeda agama.” (KH. Abdurrahman Wahid dan Daisaku Ikeda, Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian, hlm. 186).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kesaksian Prof. Quraish Shihab atas Sosok Gus Dur

oleh : PROF. DR. QURAISH SHIHAB, 0 Komentar
Dinasihatkan oleh Rasulullah SAW, kita berkumpul di suatu majlis yg oleh agama dinamai majelis dzikir. Tidak kurang dari 200 kali, kata-kata dzikir terulang di dalam Al-Quran. Objeknya bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah berdzikir, merenung, mengingat, menyebut-nyebut tokoh-tokoh, lebih lebih yang memiliki jasa di dalam masyarakat. Rasulullah SAW pun memerintahkan kita dengan sabdanya: Udzkuru mahasina mautakum.. (Renung renungkanlah, ingat-ingatlah, sebut-sebutlah jasa-jasa, kebaikan-kebaikan orang-orang mati kamu)
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Kewarganegaraan Kultural

Renato Rosaldo (2003), antropolog asal Amerika Serikat, mengritik pendekatan dan teori dari Ben Anderson tentang nasionalisme yang kemudian menjadi klasik dengan apa yang dikenal imagined communities. Dengan rumusan nasionalisme individualistik yang bersumber dari media dan sarana komunikasi modern lainnya, menurut Rosaldo, Anderson telah jatuh pada selektif. Hanya mereka yang terliput dan memiliki akses kepada media modern lah yang tercakup ke dalam nasionalisme, sedangkan mereka yang marjinal, tersingkir, mioritas dan miskin, tidak terliput.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur – Edward Soeryadjaya, Rahasia Membentuk NU-Summa

Bukan Gus Dur jika tidak membuat manuver yang mengejutkan lawan-lawan politiknya. Bahkan, internal para pengurus Nahdlatul Ulama dan warga Nahdliyyin seringkali harus merenung mendalam untuk memahami langkah taktis Gus Dur. Pertemanan Gus Dur dengan orang-orang Tionghoa tidak sekedar dalam aspek kebudayaan. Gus Dur bergerak maju dengan membentuk kongsi bisnis untuk membangun ekonomi kerakyatan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Benarkah Gus Dur Keturunan Tan Kim Han?

Benarkah Gus Dur keturunan Tionghoa? Pada beberapa forum, Gus Dur sering menyatakan bagaimana nasab keluarganya tersambung dengan darah Tionghoa. Gus Dur juga sering mengungkapkan silsilah keluarganya, hingga tersambung dengan jaringan Tionghoa muslim pada masa kerajaan Majapahit, dan terkait dengan sejarah muhibah Laksamana Cheng Ho (Zheng He, 1371-1433/1435). Bagaimana kisahnya?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Om Siuman Om

oleh : GATOT ARIFIANTO, 0 Komentar
Pesan berantai dan media sosial masih menjadi sarana efektif membangun citra hingga opini publik dengan berbagai sudut pandangnya, satu contoh, dizalimi. Pesan berantai belakangan ini muncul di sejumlah linimassa hingga grup-grup Whatsapp ialah "Gerakan Siluman". Padanan kata tersebut sepertinya enak dibahas sembari ngopi dengan pertanyaan: baru siuman, om? Pesan berantai dimaksud intinya menyebarkan isu, ada desain dibuat lembaga bentukan institusi negara agar masyarakat di berbagai daerah ramai-ramai sepakat, membubarkan organisasi identik dengan radikal, suka menghujat dan merasa paling benar sebagaimana performance pemimpinnya yang bisa disaksikan di youtube.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi