Senin, 19 Agustus 2019

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Bersumber dari Pendangkalan

oleh : KH. ABDURRAHMAN WAHID, 0 Komentar
Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, penulis dikritik oleh Dr. Yusril Ihza Mahendra. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci al-Qur’ân menyatakan salah satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah “bersikap keras terhadap orang kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (asyiddâ’u ‘alâl-kuffâr ruhamâ baynahum)” (QS al-Fath [48]:29). Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya Bang Yusril mempelajari kembali ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang dimaksud al-Qur’ân dalam kata “kafir” atau “kuffar” adalah orang-orang musyrik (polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja Bang Yusril tidak tahu, bagaimana ia berani menjadi mubaligh?
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Kafirku, Kafir Anda, Kafir Kita

oleh : MUHAMMAD AUTAD AN NASHER, 0 Komentar
Ribut ramai soal istilah kafir dan pemaknaan kata kafir yang sampai detik ini mewarnai temlen media sosial penulis, bukanlah barang baru. Ulama dan kaum agamawan sejak dulu kala sudah mendiskusikan ini dengan sangat cermat dan teliti. Bahkan, Nabi Muhammad Saw sendiri dalam hadisnya melarang umatnya saling mengafirkan. “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan”. [HR Bukhari]
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tentang Non-Muslim Bukan Kafir

oleh : KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Hasil Bahtsul Masâil Maudlū’iyah dalam Munas dan Konbes NU 2019 di Banjar Patroman, Jawa Barat, memicu polemik. Dari sekian isu penting, yang paling menyengat publik adalah hasil bahasan di tema “Negara, Kewarganegaraan, Hukum Negara, dan Perdamaian.” Bagi saya, ini bukan tema baru, tetapi kelanjutan dari visi kebangsaan NU yang telah ditanamkan sejak tahun 1936, 1945, 1953, 1984, dan 1987. Tahun 1936, NU menyebut kawasan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Tahun 1945, NU setuju NKRI berdasarkan Pancasila dan kemudian menggalang Resolusi Jihad untuk mempertahankan NKRI dari pendudukan kolonial. Tahun 1953, NU mengakui keabsahan kepemimpinan Soekarno secara fikih dan menggelarinya dengan julukan Waliyyul Amr ad-Dlarūri bis Syaukah. Tahun 1983-84, NU menegaskan NKRI final bagi perjuangan umat Islam. Tahun 1987, NU memperkenalkan trilogi ukhuwwah: Ukhuwwah Islâmiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, Ukhuwwah Basyariyah/Insâniyah.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mengembalikan Politik Kebangsaan yang Rahmatan Lil Alamin

oleh : WAHYU EKA SETYAWAN, 0 Komentar
Musim 2018-2019 tengah memanas, terpolarisasi oleh perseteruan sengit dua kontestan pilpres, yang keduanya mewakili pemikiran serta kelompoknya masing-masing. Ada kubu Jokowi yang mengklaim sebagai representasi politik nasionalis, milenial serta kekinian, sementara Prabowo dianggap sebagai representasi nasional relijius yang pro terhadap Islam. Ibarat sebuah kompetisi mereka bersaing satu sama lainnya dengan ketat, memperebutkan podium kursi kepresidenan. Namun, persaingan mereka meninggalkan problem, yakni cukup signifikan berimplikasi pada polarisasi rakyat Indonesia. Perseturuan bersifat top-down kemudian berubah menjadi ajang saling hujat, fitnah dan menyakiti sesama anak bangsa. Khususnya jika kita mengikuti linimasa media, baik mainstream ataupun sosial.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sukarnois dan Gusdurian

oleh : HARIS EL-MAHDI, 0 Komentar
Seorang yang mengklaim sebagai Sukarnois, pengikut Sukarno, secara otomatis tidak langsung ia adalah juga Gusdurian. Sukarno, Presiden pertama Indonesia adalah orang yang mempunyai jasa besar menarasikan "nilai" dan "makna" keindonesiaan. Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 tentang Pancasila merupakan landasan filosofis mengenai alasan kita berindonesia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Samakah Islam Pribumi dan Pribumisasi Islam?

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Islamisasi Jawa sudah ada sejak berabad-abad lalu. Karakteristik Islam Jawa telah menjadi identitas tersendiri pada masa itu., meskipun proses masuknya masih bisa diperdebatkan. Identitas keislaman tersebut telah terbentuk ketika adanya interaksi antara dua unsur yaitu agama dan budaya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Merumitkan Wacana Gus Dur

oleh : A. KHOIRUL ANAM , 0 Komentar
Pada hari pemakamannya di Jombang, Pak Presiden SBY ketika itu menyebut Gus Dur sebagai “bapak pluralisme”. Pemerintah mungkin ingin menyederhanakan “wacana Gus Dur” hanya pada urusan ini, dalam bahasa yang agak konspiratif menyederhanakan adalah melokalisir: seputar pembelaan terhadap hak-hak minoritas terutama terkait agama dan kepercayaan. Putri-putrinya juga hampir selalu menceritakan “Bapak” hanya terkait hal ini. Perayaan-perayaan di hari haulnya juga tidak jauh dari urusan ini juga.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Ustadzah Mencari Presiden

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Jangan dikira bahwa seorang ustadzah hanya tahu shalat istikharah ketika dia hendak mencari solusi dari masalah yang dihadapinya. Shalat istikharah sudah pasti dilakukan. Tapi seorang ustadzah juga tidak jarang mengambil keputusan yang sangat rasional sebagaimana ustadzah muda yang saya temui kali ini. Saya mengenalnya cukup lama. Dia putri seorang kiai besar di negeri ini. Di samping pendidikan agama yang langsung didapatkan dari ayah ibunya, dia sendiri juga mendapatkan pendidikan formal yang cukup baik. Saat ini dia memiliki jamaah anak-anak muda yang sangat banyak. Di mana pun dia berkunjung, anak-anak muda selalu mengerumuniya untuk meminta nasehatnya.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi