Minggu, 29 Maret 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Mereka Menjerat Gus Dur dan Menjatuhkannya dari Kursi Presiden dengan Segala Cara

oleh : VIRDIKA RIZKY UTAMA, 0 Komentar
Sebagai presiden di masa transisi, Gus Dur memiliki tugas yang amat berat. Ia harus memenuhi tuntutan reformasi yang ingin diadakannya penuntutan dan pembersihan rezim lama. Celakanya, anasir Orde Baru begitu menggurita di segala sendi kehidupan. Dengan kata lain, kekuatan Orde Baru masih teramat kuat. Sedangkan, konsolidasi kekuatan baru belum mencapai titik temu. Akibatnya, posisi Gus Dur menjadi sulit, karena Gus Dur tak memiliki modal politik yang cukup kuat. Gus Dur terpilih karena adanya koalisi Poros Tengah yang digagas Amien Rais dan Partai Golkar.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kebudayaan Menertawakan Kehidupan

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Tema Haul Gus Dur ke-10 adalah “Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan”. Tema ini tidak hanya digunakan pada acara Haul Gus Dur yang diadakan di Ciganjur, tapi juga menjadi tema dari berbagai acara haul yang diadakan oleh ratusan komunitas GUSDURian di seluruh penjuru Indonesia. Haul Gus Dur yang diadakan oleh GERDU Suroboyo, komunitas GUSDURian Surabaya, juga mengambil tema ini.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa

Haul dan Kerinduan

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Wafat di penghujung tahun 2009, almarhum Gus Dur masih terus menggerakkan perubahan dalam masyarakat, sebagaimana dijalaninya sepanjang kehidupan. Penggal-penggal perjuangannya meninggalkan jejak perubahan yang signifikan dalam perjalanan bangsa. Jejak gerakan Gus Dur pada dekade 1970an di ranah pesantren dan Nahdlatul Ulama berpuncak di tahun 1984 saat terpilih menjadi Ketua Umum PBNU dibarengi penerimaan terhadap Pancasila sebagai ideologi organisasi. Dasawarsa 1980an, ia semakin kuat menjejak gerakan kebudayaan dan gerakan masyarakat sipil. Gus Dur, bersama Romo Mangunwijaya, Th.Sumartana dan ibu Gedong Oka mendorong peran agama dan organisasi agama sebagai kekuatan pembebasan masyarakat dari ketidakadilan sosial.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menelusuri Jejak Gus Dur di Tegalrejo (1957-1959)

oleh : NUR KHALIK RIDWAN , 0 Komentar
Gus Dur pindah dari Yogyakarta ke Magelang, tepatnya di Pesantren Tegalrejo pada 1957. Di pesantren ini Gus Dur nyantri selama sekira dua tahun lebih sedikit, di bawah asuhan KH. Chudlori. Greg Barton menyebut demikian, “Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan KH. Chudlori selama dua tahun di Tegalrejo.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Bedanya Gus Dur dan GUSDURian

oleh : SUAIB PRAWONO, 0 Komentar
Pasca kepergian KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, sekolompok anak muda mendirikan komunitas bernama Jaringan GUSDURian. Komunitas yang dikomandoi oleh putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid ini, bertujuan untuk melanjutkan cita-cita perjuangan Gus Dur yang dianggap belum selesai. Salah satunya adalah bagaimana merawat perbedaan, mengkampanyekan toleransi dan memperjuangkan kesetaraan umat manusia.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

KEKUATAN CINTA

oleh : ALISSA WAHID, 0 Komentar
Sepuluh tahun yang lalu, dalam penerbangan dari Yogyakarta ke Jakarta, sekitar pukul 18.30 WIB lebih, saya merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. Saat itu saya tengah membaca Surah ar-Ra’du, memohon diberikan keteguhan dan keikhlasan hati untuk menerima yang terbaik bagi Bapak. Saya tertegun dalam rasa damai yang melimpah ruah di rongga dada menyebar ke sekujur tubuh serasa Lailatul Qadar. Tidak ada setitikpun emosi negatif. Semacam pengalaman trance, sisi psikolog saya berkata.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi