Senin, 21 Agustus 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Terorisme, Media Sosial, dan Kita

oleh : WISNU PRASETYA UTOMO , 0 Komentar
Di era media sosial, ketakutan sama mudah menyebarnya seperti keberanian. Dalam tulisannya yang berjudul Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda(2008), Manuel Soriano dengan mengutip Marshall McLuhan bilang bahwa “without communication terrorism would not exist". Inti argumennya sederhana: perkembangan teknologi media telah membuat para kerja para teroris untuk menyampaikan pesan-pesan teror menjadi lebih luas, ringkas, dan menjangkau orang secara lebih luas dan efektif
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Natal 2015 dan Ulah Gus Dur

Kemarin, sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke WA saya. dari profil fotonya saya segera mengenali kalau itu milik Gus Z, pengasuh salah satu pesantren besar di Jombang. Saya biasa memanggilnya "Mas". "Apakah ini benar perkataan Gus Dur" katanya sembari menyertakan meme ucapan natal yang ada foto Gus Dur duduk. Saya cermati sekilas, ada penanda akun twitter resmi Jaringan GUSDURian, pimpinan ibu Alissa Wahid, @Gusdurians
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Menasehati Umat Kontroversi Ucapan Natal

oleh : M. RIKZA CHAMAMI , 0 Komentar
Hari ini, 25 Desember 2015 umat Kristiani merayakan Natal. Tentunya hari yang sangat spesial dan bermakna bagi umat Nasrani. Sebagian kecil umat Islam masih mempersoalkan boleh dan tidaknya ucapan Natal. Wajar saja karena cara memahami dan memaknai sebuah ucapan itu dengan perspektif dan metode yang tidak sama juga. Sama halnya ketika mengucapkan "durian ini nikmat dan harum". Bagi penggemar durian kalimat itu benar. Namun bagi bukan penggemar durian, ungkapan itu dianggap tidak tepat karena ia tidak bisa menikmati durian dan tidak merasa harum. Padahal durian jelas-jelas nikmat dan harum (bagi penggemarnya).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Takut Mengucapkan Selamat Natal?

Tidak ada habisnya tenaga dan pikiran orang Indonesia setiap tahun untuk selalu berdebat mengenai ucapan Selamat Natal. Perdebatan saat ini pun terlihat lebih masif bila dibandingkan zaman dahulu ketika belum ada internet dan android. Sewaktu lagi bomingnya fesbuk tentu kita bisa melihat banyak dari para netizen yang ramai membincangkan status hukum mengucapkan Selamat Natal. Akan tetapi saat ini jauh lebih gaduh dibandingkan dengan era dahulu. Karena sudah ada aplikasi canggih seperti Whatsapp dan BBM yang bisa mengirimkan pesan (broadcast) ke siapapun yang dikehendaki. Terlebih obrolan di group-group. Di satu sisi saya bersyukur bahwa bangsa kita berani mengeluarkan opininya, hak berdaulat atas pendapatnya terpenuhi. Tidak seperti era orde baru yang lebih banyak bungkam dan sendiko dawuh terhadap kekuatan politik saat itu. Termasuk soal keagamaan. Namun di sisi lain saya justru mengaggap kalau perdebatan lewat media sosial sekarang ini jauh lebih berisik dan mengganggu pandangan mata saya ketika membaca notifikasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Implementasi Pendidikan Perdamaian Ala Gus Dur

oleh : AHMAD NURCHOLISH, 0 Komentar
Implementasi pendidikan erat kaitannya dengan kurikulum yang telah dirancang sebelumnya. Begitupun dengan kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum yang sesuai bagi masyarakat Indonesia yang majemuk adalah kurikulum yang dapat menunjang proses peserta didik mejadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan terhadap nilai-nilai kultural baik yang terkandung dalam ajaran agama maupun tradisi atau adat istiadat yang ada dan berkembang di tengah masyarakat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Presiden, Penulis, dan Inspirasi Generasi Bangsa

oleh : ALI USMAN, 0 Komentar
Indonesia sesungguhnya pernah dipimpin oleh seorang presiden yang gemar membaca dan menulis sebuah buku. Pengalaman melahap banyak buku dan menjadi seorang penulis, yang di kemuudian hari rupanya takdir hidup mengantarkan mereka menjadi orang nomor satu di negara ini, tentu saja berpengaruh terhadap wawasan kebangsaan serta pola kepemimpinannya. Siapa saja gerangan?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

‘Dusta’ Yudhistira dan Janji Kampanye

Para calon pemimpin sering tidak memenuhi janji-janji yang diumbarnya di panggung kampanye. Apakah mereka telah berdusta? Mungkin tidak. Dalam salah satu episode dari perang Baratayudha terdapat cerita mengenai tewasnya Drona. Lelaki tua yang pernah menjadi guru wangsa Kurawa maupun Pandawa ini, seperti tertera dalam Mahabarata versi R. K. Narayan, dibunuh dengan cara yang ‘licik.’ Berada di kubu Kurawa, Drona menjadi banteng yang luar biasa kuat, besar, dan tangguh. Barisan Pandawa kocar-kacir dan berantakan di tangannya. Tak ada cara lain, Drona harus dimusnahkan, jika tidak ingin barisan Pandawa habis satu persatu. Tapi Drona seorang yang digjaya. Ia tidak mudah untuk dibunuh.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Di Balik Ritual (Haji) Bawakaraeng

Janganlah pernah tanyakan kepada seorang muslim, apakah Ia punya niatan naik haji ? Pertanyaan itu bagi saya tak lebih dari sekadar basa-basi. Karena tak satupun dari puluhan juta kaum muslimin yang tidak bercita-cita menunaikan rukun Islam kelima ini. Sayapun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu. Naik haji ke Baitullah (Makkah al-Muqarramah) memang adalah idaman tiap umat Islam. Betapa tidak, selain pelaksanaannya merupakan pemenuhan rukun Islam yang kelima, beribadah di tanah suci ini, nilai pahalanya bisa seribu kali lipat dibanding dengan beribadah di tanah air.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Kyai Haji Bawakaraeng

Aku kaget ketika sopir mobil yang aku tumpangi tiba-tiba berteriak: “Kahayya”. Buru-buru aku raih tas ransel di bawah jok mobil yang aku duduki. “ Ya…..pak, berhenti, aku turun di sini”. Mikrolet merah yang aku tumpangi menepi. Aku turun, lalu membayar ongkos tumpangan ke pak sopir. Untuk sesaat aku berdiri di sisi jalan tersebut. Memejamkan mata sesaat sambil menghirup udara kampung Kahayya. Kebiasaan ini sering aku lakukan setiap sampai dikampung ini. Aku suka dengan udara kampung ini, sejuk dan bersih. Udara dingin merasuki paru-paruku. Sejuk. Sambil tetap memejamkan mata aku mencoba menghirup kembali udara dalam-dalam. Udara sejuk itu kembali merasuk ke paru-paruku, tapi rasa dinginnya membuat aku terbatuk-batuk. “Sial….mungkin kampung ini tidak mau bersahabat lagi denganku”. Rutukku dalam hati. Mungkin karena sudah agak lama aku tidak berkunjung kemari, pikirku.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

(Ber)Islam Nusantara sembari Merokok dan Minum Kopi

oleh : IJHAL THAMAON, 0 Komentar
Saya sedang tidak bercanda dengan judul tulisan ini. Saya sungguh-sungguh sadar dan serius ketika memilihnya. Sebagai pendukung wacana ini, tentu saja judul itu pun pastilah tak bermaksud meremehkan diskursus Islam Nusantara yang lagi berdentum di mana-mana. Lantas, ada apa Islam Nusantara dengan persoalan rokok dan minum kopi? Bukankah minum kopi, khususnya rokok, dalam diskursus Fiqih Islam, lebih banyak yang tidak menyetujui. Minum kopi, misalnya, dianggap mendatangkan mudharat oleh ulama semacam Syeikh Abtawi dari Syiria, Syeikh al-Syanbathi, dan Ibnu Sultan dari Mesir. Meski di posisi yang berseberangan, banyak pula ulama di barisan itu. Adapun rokok, jangan ditanya lagi. Masyhur ulama menganggapnya makruh dan tidak sedikit yang menyatakan haram. Di barisan terakhir ini, ada al-Qolyubi, Al-Laqani, dan al-Bujairomi. Tentu juga kita masih ingat fatwa MUI, yang mengharamkan rokok bukan?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi