Rabu, 28 Juni 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

NU Pascamuktamar Ke-33: Persatuan dalam Perbedaan

Pertanyaan paling populer hari-hari ini adalah bagaimana NU pascamuktamar ke-33 di Jombang? Pertanyaan ini dilontarkan oleh Nahdliyin tua-muda, oleh ulama dan santri, oleh intelektual dan awam, juga oleh politisi dan pejabat publik. Ini menunjukkan betapa luasnya lapisan stakeholders (pemangku kepentingan) NU. Walaupun kita menyayangkan ketegangan yang terjadi, dinamika suksesi kekuasaan yang terjadi di Muktamar lalu bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah NU. Beberapa Muktamar NU juga demikian. Misalnya, Muktamar Cipasung 1994 yang diwarnai dengan panser militer. Tradisi dinamis ini disumbang oleh faktor-faktor khas NU.
Kategori : Headline , Opini

Memojokkan Muktamar NU

oleh : ABAZ ZAHROTIEN, 0 Komentar
"Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya 'Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh'." Petikan sambutan Rais Aam PBNU, KH Mustofa Bisri ini menunjukkan bahwa kondisi muktamar NU yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur berlangsung dengan tidak sehat. Ketidaksehatan sendiri terjadi baik disebabkan faktor internal maupun faktor eksternal. Internal diantaranya adalah munculnya ‘konflik’ ditubuh muktamar yang membuat pihak luar (media) menangkapnya sebagai isu menarik untuk menjadi bahan ulasan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Indonesia, Islam dan Intoleransi

oleh : MOH AFFAN, 0 Komentar
Perbuatan intoleran atas mana agama yang dilakukan oleh kelompok tertentu sering terjadi di Indonesia, seperti kasus syi’ah Sampang, ahamdiyah, kekerasan kepada jemaah kristen dan kelompok minoritas lainnya. Perbuatan intoleran atas nama agama yang sering terjadi di negara ini, dengan menggunakan dalil ayat al-Qur’an dan al-Hadist untuk melancarkan aksinya dan dengan lantang bersuara bahwa aliran dan gerakannya adalah yang paling benar sedangkan yang tidak sama dengan alirannya adalah “sesat” dan harus diganti dengan ajaran yang diyakini paling benar itu. Agama digunakan sebagai ladang intoleransi oleh orang-orang tertentu yang ingin melanggengkan perbuatan intoleran. Padahal pada umumnya, tidak ada ajaran dari salah satu agama yang ada di dunia ini yang mengandung perbuatan intoleran
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Strategi Gerakan Kerakyatan di hadapan Pemodal yang Tak Kurang Akal

oleh : AHMAD FAHRI, 0 Komentar
Sejak media nasional memberitakan aksi ibu-ibu di Kabupaten Rembang yang dengan gigih menolak pendirian pabrik PT. Semen Indonesia, kasus Kendeng mendapatkan respon yang demikian luas dari masyarakat Indonesia, terutama di media-media sosial. Konflik ini kemudian menyeret sederet nama besar, mulai dari tokoh agama, akademisi, hingga pekerja seni. Dukungan untuk ibu-ibu, terutama moril, yang kemudian memutuskan mendirikan tenda perlawanan di lokasi pabrik mengalir dari segala penjuru mata angin.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pesantren dan Tradisionalisme Islam

Dalam sejarah penyebaran Islam, para Ulama memegang peran nomor wahid dalam proses transmisi dan tranformasi ajaran Islam dari generasi ke generasi dan dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga kini Islam menjadi salah satu agama mayoritas yang dianut oleh ummat manusia dan telah tersebar dihampir seluruh pelosok jagad. Ajaran Islam disebarkan melalui berbagai cara dan metode, dari pendekatan politik kekuasaan hingga pendekatan kebudayaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mencangkok Kecerdasan Gus Dur

oleh : ILUNG S. ENHA, 0 Komentar
ADA satu hal yang belum sanggup kita urai tentang Gus Dur; dari manakah kecerdasan Gus Dur berasal? Teori genetika, tentulah bukan jawaban yang melegakan - bila itu kita berikan sebagai jawaban. Sebab model kecerdasan Gus Dur, kayaknya tak dimiliki oleh saudaranya yang lain. Bahkan tak sedikit orang tua jenius, justru memiliki anak-anak idiot atau setidaknya bodoh dan bebal.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Blokir Kini Blokir Nanti

oleh : AGUNG HIDAYAT, 0 Komentar
Pemblokiran 22 situs bermuatan radikalisme oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) ternyata dianggap anti-Islam. Didorong oleh laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bermunculan berbagai reaksi dari bermacam kalangan. Ada yang menyebut ini bentuk penyensoran. Ada pula yang menyakini ini bentuk pemblokiran yang memarginalikan umat Islam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apa Pentingnya Mengenang 60 Tahun KAA?

April 2015 ini kita akan mengenang 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), sebuah peristiwa bertemu dan bermufakatnya para pemimpin Asia dan Afrika pada 18-24 April 1955 di Bandung. Mohamad Nasser, Presiden Mesir saat itu, menyebut knferensi ini sebagai salah satu peristiwa penting di abad 20. Lalu, apa pentingnya kita mengenang peristiwa yang telah silam ini? Untuk menjawabnya, kita harus melihat dulu latar historis peristiwa tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Islam dan Radikalisme dalam Tinjauan Sosiologi Agama

oleh : MOH AFFAN, 0 Komentar
Tema ini tidak pernah usang dibicarakan, dan didiskusikan, karena tema ini adalah sesuatu yang tidak akan lepas dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat beragama. Sejarah mencatat munculnya sebutan islam radikal dan islam phobia, mulai dari kisah kelam penyerangan menara kembar di Amerika pada 11 September 2001, yang diduga pelakunya adalah orang yang beragama islam dan belum tentu mereka ber-islam secara struktur (identitas) dan kultur (jiwa). Atau pelaku yang dikatakan orang yang beragama islam hanya beragama secara struktur saja (identitas).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Menjiplak Tulisan Orang Lain, Halalkah?

oleh : ADITYA PRAHARA, 0 Komentar
Pagi tadi saya membaca buku dari seorang sastrawan yang sangat saya kagumi, Pramoedya Ananta Toer. Judulnya “Midah: Simanis Bergigi Emas”. Ini untuk kali kedua saya membaca novel tipis ini. Entah mengapa novel yang satu ini begitu menarik hati saya sehingga saya mau membacanya kembali.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi