Minggu, 29 Maret 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Kiai Zawawi dan Nasi Bungkusnya

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
Pagi itu penyair dari Madura yang biasa disebut Sang Celurit Emas, Kiai Zawawi Imron bercerita sarapan paginya. Dia sedang berjalan ke Desa Nyabakan, Sumenep, sekitar 4 km ke arah timur dari desanya. Di sana Kiai Zawawi mampir ke sebuah warung kecil untuk membeli sarapan. Tak disangka, sarapan cukup dengan uang seribu rupiah, sudah dapat nasi dibungkus daun jati dan lauk ala kadarnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur, Natal, dan Kerinduan Pada Islam Ramah

oleh : AHMAD Z. EL-HAMDI, 0 Komentar
Sembilan tahun lalu, tepatnya 6 Januari 2011, seorang Indonesianis dari Belanda, Martin van Bruinessen, menerbitkan artikelnya berjudul “What Happened to the Smiling Face of Indonesian Islam?”. Di samping isinya, yang menarik dari artikel ini adalah bagian persembahannya. Tepat di bawah judul, penulis menuliskan persembahannya: “Dedicated to the memories of Abdurrahman Wahid” (Dipersembahkan kepada Abdurrahman Wahid).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Apa Makna Pluralisme Bagi Gus Dur?

oleh : MURLIYANTI, 0 Komentar
Belakangan ini, pluralisme memang telah menjadi isu kontemporer yang gencar dibahas dan dibicarakan. Di Indonesia, salah satu pemikir, guru bangsa, dan figur yang laten mengajukan klaim soal pluralisme adalah Gus Dur. Bagi Gus Dur, tujuan utama dari pluralisme adalah menciptakan interaksi di antara beberapa kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Ibarat Simbol Bangsa

oleh : AYATULLAH FAZLUR ROHMAN, 0 Komentar
Mungkin judul yang disematkan agak berbeda dengan tulisan-tulisan lain, yang sering digunakan seperti Gus Dur sebagai guru bangsa, sebagai tokoh bangsa, atau yang lainnya. Alasan kenapa saya menggunakan diksi simbol adalah pemikiran Gus Dur yang sampai saat ini menjadi dasar pemikiran generasi muda NU, serta generasi muda pada umumnya yang sepakat dengan spiritnya, khususnya menakar pada konsep pluralisme yang diusungnya. Sedikit membahas tentang pluralismenya Gus Dur makna dan hakikatnya ialah tentang seadil-adilnya hidup dalam keberagaman.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Habitus Haul Gus Dur

oleh : RUMADI AHMAD, 0 Komentar
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mungkin bisa dikatakan sebagai satu-satunya tokoh Indonesia modern yang kematiannya memunculkan habitus baru. Bukan hanya makamnya dikunjungi ribuan peziarah setiap hari, setiap Desember juga terjadi festival haul (peringatan wafatnya seseorang) di berbagai penjuru tanah air.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Do'a Aman, Damai dan Bersatu untuk Negeri

oleh : KH. HUSAIN MUHAMMAD, 0 Komentar
Secara tiba-tiba aku diminta Promotor Prof. Dr. Ema Marhumah untuk menyampaikan do'a, dalam acara penganugerahan Doktor HC untuk Ibu Sinta Nuriah. Aku mikir-mkir sejenak, do'a apa ya yang relevan untuk acara ini. Maka aku mendengarkan saja pidato ibu Sinta, Rektor dan Pak Mahfud MD, dan mengingat-ingat do'a yang pernah aku hafal, sambil menulis. Maka jadilah do'a ini :
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Natal

oleh : ADEN MANSYUR, 0 Komentar
Peringatan Natal laksana menumbukan cinta dan kasih sayang. Secara simbolik, Natal dirayakan dengan ucapan selamat dan berbagi hadiah. Natal tidaklah menjelma selayaknya Natal kalau tanpa hadiah. Dan tiada hadiah yang lebih berharga daripada cinta dan kasih sayang.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tahun 1990an, Hari-Hari Terberat Gus Dur

oleh : HAMZAH SAHAL, 0 Komentar
Tahun 1990, usia Kiai Abdurrahmad Wahid atau Gus Dur menapaki kepala lima–Gus Dur lahir di Jombang tanggal 4 Agustus (versi lain 7 September) 1940. Usia 50 tahun belum begitu “pantas” disebut tua, tapi jelas sudah tidak muda lagi. Kondisi fisik Gus Dur, tahun 1990an awal tampak makin tambun dan penglihatannya makin payah.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Tahun 1990an, Hari-Hari Terberat Gus Dur: Perjuangan Melawan Pencekalan

oleh : HAMZAH SAHAL , 0 Komentar
Pasca Munas NU di Bandar Lampung, Januari 1992, Gus Dur menjalani tugas sebagai ketua umum PBNU dengan lebih percaya diri. Diskursus keagamaan hasil Munas menjadi bahan perbincangan nasional. Ide dari mazhab Qauli ke mazhab Manhaji disambut hangat. Dan makin meneguhkan NU sebagai organisasi yang berhasil dalam mengembangkan tradisi pemikiran keagamaan. Ini membuat Gus Dur senang.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur

oleh : ABDUL KARIM, 0 Komentar
Dalam sebuah diskusi, Rocky Gerung bercerita tentang suatu masa ia berjumpa dengan Gus Dur. “Beliau selalu mengucapkan selamat Natal kepada saya,” kenang Rocky Gerung. Diberi ucapan selamat Natal, Rocky Gerung membalasnya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi