Senin, 21 Agustus 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Ketika Gusdurian Terlibat Korupsi

oleh : MAHMUD SUYUTI, 0 Komentar
Korupsi dalam literatur Islam disebut ghulul (penipuan dana), yang derivasinya dalam Al Quran terulang 16 kali. Konteks yang sama, istilah ghulul disabdakan Nabi SAW mencapai 10 hadis. Selebihnya term risywah, bersekongkol menggelapkan dana sebanyak 12 hadis. Term usrat, menggunakan dana untuk kepentingan pribadi sebanyak 9 hadis. Ghulul dalam Al Quran mengarah pada tindak kejahatan untuk penggelapan uang dan sanksi bagi pelakunya, koruptor adalah dibelenggu tengkuknya dengan rantai besi, kemudian diseret ke dalam api yang menyala-nyala (QS al-Haqqah/69: 30; QS Yasin/36: 8 dan QS al-Insan/76: 4).
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Dalil-Dalil Islam Nusantara

oleh : KHOLID SYEIRAZI, 0 Komentar
Muktamar ke-33 NU di Jombang, 1-5 Agustus 2015 telah usai. Tema Muktamar, “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia,” telah memantik pembicaraan hangat dan, dalam beberapa hal, sengaja disalahpahami oleh mereka yang pahamnya salah. Mereka membuat idiom tandingan: Mengislamkan Nusantara. Dalam struktur bahasa Indonesia,menambahkan awalan ‘me’ dan akhiran ‘kan’ berfungsi, salah satunya, membentuk kata kerja transitif bermakna “membuatnya jadi” seperti dalam kata “melebarkan,” artinya membuat sesuatu jadi lebar. Dengan demikian, secara semantik, “mengislamkan Nusantara” berarti membuat Nusantara menjadi Islam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

NU Pascamuktamar Ke-33: Persatuan dalam Perbedaan

Pertanyaan paling populer hari-hari ini adalah bagaimana NU pascamuktamar ke-33 di Jombang? Pertanyaan ini dilontarkan oleh Nahdliyin tua-muda, oleh ulama dan santri, oleh intelektual dan awam, juga oleh politisi dan pejabat publik. Ini menunjukkan betapa luasnya lapisan stakeholders (pemangku kepentingan) NU. Walaupun kita menyayangkan ketegangan yang terjadi, dinamika suksesi kekuasaan yang terjadi di Muktamar lalu bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah NU. Beberapa Muktamar NU juga demikian. Misalnya, Muktamar Cipasung 1994 yang diwarnai dengan panser militer. Tradisi dinamis ini disumbang oleh faktor-faktor khas NU.
Kategori : Headline , Opini

Memojokkan Muktamar NU

oleh : ABAZ ZAHROTIEN, 0 Komentar
"Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya 'Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh'." Petikan sambutan Rais Aam PBNU, KH Mustofa Bisri ini menunjukkan bahwa kondisi muktamar NU yang diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur berlangsung dengan tidak sehat. Ketidaksehatan sendiri terjadi baik disebabkan faktor internal maupun faktor eksternal. Internal diantaranya adalah munculnya ‘konflik’ ditubuh muktamar yang membuat pihak luar (media) menangkapnya sebagai isu menarik untuk menjadi bahan ulasan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Indonesia, Islam dan Intoleransi

oleh : MOH AFFAN, 0 Komentar
Perbuatan intoleran atas mana agama yang dilakukan oleh kelompok tertentu sering terjadi di Indonesia, seperti kasus syi’ah Sampang, ahamdiyah, kekerasan kepada jemaah kristen dan kelompok minoritas lainnya. Perbuatan intoleran atas nama agama yang sering terjadi di negara ini, dengan menggunakan dalil ayat al-Qur’an dan al-Hadist untuk melancarkan aksinya dan dengan lantang bersuara bahwa aliran dan gerakannya adalah yang paling benar sedangkan yang tidak sama dengan alirannya adalah “sesat” dan harus diganti dengan ajaran yang diyakini paling benar itu. Agama digunakan sebagai ladang intoleransi oleh orang-orang tertentu yang ingin melanggengkan perbuatan intoleran. Padahal pada umumnya, tidak ada ajaran dari salah satu agama yang ada di dunia ini yang mengandung perbuatan intoleran
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Strategi Gerakan Kerakyatan di hadapan Pemodal yang Tak Kurang Akal

oleh : AHMAD FAHRI, 0 Komentar
Sejak media nasional memberitakan aksi ibu-ibu di Kabupaten Rembang yang dengan gigih menolak pendirian pabrik PT. Semen Indonesia, kasus Kendeng mendapatkan respon yang demikian luas dari masyarakat Indonesia, terutama di media-media sosial. Konflik ini kemudian menyeret sederet nama besar, mulai dari tokoh agama, akademisi, hingga pekerja seni. Dukungan untuk ibu-ibu, terutama moril, yang kemudian memutuskan mendirikan tenda perlawanan di lokasi pabrik mengalir dari segala penjuru mata angin.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Pesantren dan Tradisionalisme Islam

Dalam sejarah penyebaran Islam, para Ulama memegang peran nomor wahid dalam proses transmisi dan tranformasi ajaran Islam dari generasi ke generasi dan dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga kini Islam menjadi salah satu agama mayoritas yang dianut oleh ummat manusia dan telah tersebar dihampir seluruh pelosok jagad. Ajaran Islam disebarkan melalui berbagai cara dan metode, dari pendekatan politik kekuasaan hingga pendekatan kebudayaan.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Mencangkok Kecerdasan Gus Dur

oleh : ILUNG S. ENHA, 0 Komentar
ADA satu hal yang belum sanggup kita urai tentang Gus Dur; dari manakah kecerdasan Gus Dur berasal? Teori genetika, tentulah bukan jawaban yang melegakan - bila itu kita berikan sebagai jawaban. Sebab model kecerdasan Gus Dur, kayaknya tak dimiliki oleh saudaranya yang lain. Bahkan tak sedikit orang tua jenius, justru memiliki anak-anak idiot atau setidaknya bodoh dan bebal.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Blokir Kini Blokir Nanti

oleh : AGUNG HIDAYAT, 0 Komentar
Pemblokiran 22 situs bermuatan radikalisme oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) ternyata dianggap anti-Islam. Didorong oleh laporan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bermunculan berbagai reaksi dari bermacam kalangan. Ada yang menyebut ini bentuk penyensoran. Ada pula yang menyakini ini bentuk pemblokiran yang memarginalikan umat Islam.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apa Pentingnya Mengenang 60 Tahun KAA?

April 2015 ini kita akan mengenang 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), sebuah peristiwa bertemu dan bermufakatnya para pemimpin Asia dan Afrika pada 18-24 April 1955 di Bandung. Mohamad Nasser, Presiden Mesir saat itu, menyebut knferensi ini sebagai salah satu peristiwa penting di abad 20. Lalu, apa pentingnya kita mengenang peristiwa yang telah silam ini? Untuk menjawabnya, kita harus melihat dulu latar historis peristiwa tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi