Senin, 11 Desember 2017

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur, Tionghoa, dan Kepemimpinan

Ada banyak kisah tentang Gus Dur dalam Imlek tahun ini. Beliau tidak hanya menjadi panutan warga pesantren, namun juga diingat sebagai pejuang bagi warga Tionghoa.Momentum Imlek tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi orang Tionghoa, namun telah menjadi bagian dari peristiwa lintas etnis. Tahun Baru Imlek 2567 ini menjadi momentum refleksi kebangsaan, di tengah kontestasi politik, konspirasi antar elit. Imlek menjadi media komunikasi antar etnis, budaya dan agama. Di Indonesia, Imlek tidak hanya dirayakan orang Tionghoa dalam tradisi Konghucu semata, namun menjadi bagian dari tradisi komunal yang mempertemukan ragam budaya. Dari sana pula, kita bisa kita saksikan narasi panjang historiografi Nusantara.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Sumpah GUSDURian vs Syahadat Heteronormativitas

Soal keberadaan LGBT, setiap orang punya hak untuk bersepakat atau tidak. Namun, yang tidak bisa saya pahami, sebagai seorang GUSDURian, adalah ketika ketidaksepakatan tersebut digunakan untuk menghalangi hak-hak dasar kelompok LGBT. Analogi simplenya kira2 begini. Saya tidak bisa menghalangi pemakan babi mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai manusia, hanya karena saya merasa jijik memakannya. Saya -misalnya lagi- tidak sependapat dengan keyakinan yang menyatakan Isa adalah Anak Tuhan. Namun apakah dengan pendirian seperti itu saya boleh mendzalimi mereka? Atau membiarkan hak mereka disewenang-wenangi karena keyakinannya?atau, malah justru ikutan-ikutan bertindak koplak mendesak negara memberangus mereka? Jika kalian menjawab “YA” untuk ketiga pertanyaan di atas saat saya jadi fasilitator Kelas Pemikiran Gus Dur, saya akan menyarankan kalian mengulang KPG lagi.
Kategori : Headline , Opini

Terorisme, Media Sosial, dan Kita

oleh : WISNU PRASETYA UTOMO , 0 Komentar
Di era media sosial, ketakutan sama mudah menyebarnya seperti keberanian. Dalam tulisannya yang berjudul Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda(2008), Manuel Soriano dengan mengutip Marshall McLuhan bilang bahwa “without communication terrorism would not exist". Inti argumennya sederhana: perkembangan teknologi media telah membuat para kerja para teroris untuk menyampaikan pesan-pesan teror menjadi lebih luas, ringkas, dan menjangkau orang secara lebih luas dan efektif
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Natal 2015 dan Ulah Gus Dur

Kemarin, sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk ke WA saya. dari profil fotonya saya segera mengenali kalau itu milik Gus Z, pengasuh salah satu pesantren besar di Jombang. Saya biasa memanggilnya "Mas". "Apakah ini benar perkataan Gus Dur" katanya sembari menyertakan meme ucapan natal yang ada foto Gus Dur duduk. Saya cermati sekilas, ada penanda akun twitter resmi Jaringan GUSDURian, pimpinan ibu Alissa Wahid, @Gusdurians
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur Menasehati Umat Kontroversi Ucapan Natal

oleh : M. RIKZA CHAMAMI , 0 Komentar
Hari ini, 25 Desember 2015 umat Kristiani merayakan Natal. Tentunya hari yang sangat spesial dan bermakna bagi umat Nasrani. Sebagian kecil umat Islam masih mempersoalkan boleh dan tidaknya ucapan Natal. Wajar saja karena cara memahami dan memaknai sebuah ucapan itu dengan perspektif dan metode yang tidak sama juga. Sama halnya ketika mengucapkan "durian ini nikmat dan harum". Bagi penggemar durian kalimat itu benar. Namun bagi bukan penggemar durian, ungkapan itu dianggap tidak tepat karena ia tidak bisa menikmati durian dan tidak merasa harum. Padahal durian jelas-jelas nikmat dan harum (bagi penggemarnya).
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Mengapa Takut Mengucapkan Selamat Natal?

Tidak ada habisnya tenaga dan pikiran orang Indonesia setiap tahun untuk selalu berdebat mengenai ucapan Selamat Natal. Perdebatan saat ini pun terlihat lebih masif bila dibandingkan zaman dahulu ketika belum ada internet dan android. Sewaktu lagi bomingnya fesbuk tentu kita bisa melihat banyak dari para netizen yang ramai membincangkan status hukum mengucapkan Selamat Natal. Akan tetapi saat ini jauh lebih gaduh dibandingkan dengan era dahulu. Karena sudah ada aplikasi canggih seperti Whatsapp dan BBM yang bisa mengirimkan pesan (broadcast) ke siapapun yang dikehendaki. Terlebih obrolan di group-group. Di satu sisi saya bersyukur bahwa bangsa kita berani mengeluarkan opininya, hak berdaulat atas pendapatnya terpenuhi. Tidak seperti era orde baru yang lebih banyak bungkam dan sendiko dawuh terhadap kekuatan politik saat itu. Termasuk soal keagamaan. Namun di sisi lain saya justru mengaggap kalau perdebatan lewat media sosial sekarang ini jauh lebih berisik dan mengganggu pandangan mata saya ketika membaca notifikasi.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Implementasi Pendidikan Perdamaian Ala Gus Dur

oleh : AHMAD NURCHOLISH, 0 Komentar
Implementasi pendidikan erat kaitannya dengan kurikulum yang telah dirancang sebelumnya. Begitupun dengan kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum yang sesuai bagi masyarakat Indonesia yang majemuk adalah kurikulum yang dapat menunjang proses peserta didik mejadi manusia yang demokratis, pluralis dan menekankan penghayatan terhadap nilai-nilai kultural baik yang terkandung dalam ajaran agama maupun tradisi atau adat istiadat yang ada dan berkembang di tengah masyarakat.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Presiden, Penulis, dan Inspirasi Generasi Bangsa

oleh : ALI USMAN, 0 Komentar
Indonesia sesungguhnya pernah dipimpin oleh seorang presiden yang gemar membaca dan menulis sebuah buku. Pengalaman melahap banyak buku dan menjadi seorang penulis, yang di kemuudian hari rupanya takdir hidup mengantarkan mereka menjadi orang nomor satu di negara ini, tentu saja berpengaruh terhadap wawasan kebangsaan serta pola kepemimpinannya. Siapa saja gerangan?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

‘Dusta’ Yudhistira dan Janji Kampanye

Para calon pemimpin sering tidak memenuhi janji-janji yang diumbarnya di panggung kampanye. Apakah mereka telah berdusta? Mungkin tidak. Dalam salah satu episode dari perang Baratayudha terdapat cerita mengenai tewasnya Drona. Lelaki tua yang pernah menjadi guru wangsa Kurawa maupun Pandawa ini, seperti tertera dalam Mahabarata versi R. K. Narayan, dibunuh dengan cara yang ‘licik.’ Berada di kubu Kurawa, Drona menjadi banteng yang luar biasa kuat, besar, dan tangguh. Barisan Pandawa kocar-kacir dan berantakan di tangannya. Tak ada cara lain, Drona harus dimusnahkan, jika tidak ingin barisan Pandawa habis satu persatu. Tapi Drona seorang yang digjaya. Ia tidak mudah untuk dibunuh.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Di Balik Ritual (Haji) Bawakaraeng

Janganlah pernah tanyakan kepada seorang muslim, apakah Ia punya niatan naik haji ? Pertanyaan itu bagi saya tak lebih dari sekadar basa-basi. Karena tak satupun dari puluhan juta kaum muslimin yang tidak bercita-cita menunaikan rukun Islam kelima ini. Sayapun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu. Naik haji ke Baitullah (Makkah al-Muqarramah) memang adalah idaman tiap umat Islam. Betapa tidak, selain pelaksanaannya merupakan pemenuhan rukun Islam yang kelima, beribadah di tanah suci ini, nilai pahalanya bisa seribu kali lipat dibanding dengan beribadah di tanah air.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi