Kamis, 23 Januari 2020

OPINI

Pendapat pribadi atau tulisan singkat, padat, dan ringan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian para gusdurian.

Gus Dur Merancang KPK, Jokowi Mematikannya?

oleh : SARJOKO S, 0 Komentar
Koran Tempo edisi Kamis 12 September 2019 menurunkan sebuah headline yang membuat siapa saja teriris. ‘Selamat Jalan Komisi Pemberantasan Korupsi: 29 Desember 2002 – 11 September 2019. Ada ilustrasi yang melengkapi headline tersebut, yaitu dua wajah presiden Joko Widodo. Wajah pertama adalah wajah Jokowi tersenyum khas, akrab seperti pemimpin yang peduli pada rakyatnya. Ada caption yang menyertai gambar tersebut.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

QUO VADIS REVISI UU KPK?

oleh : MARZUKI WAHID, 0 Komentar
Setelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada 11 September 2019 kemarin akhirnya Presiden Joko Widodo menandatangani dan mengirimkan Surat Presiden (Surpres) Nomor R-42/Pres/09/2019 ke DPR sebagai bentuk persetujuan revisi UU KPK. Harapan publik bahwa Presiden Jokowi berani menolak revisi UU KPK pupus sudah. Tidak ada harapan lain untuk memberantas korupsi di negeri ini, kecuali menunggu arah ke mana revisi ini hendak diputar DPR bersama Presiden: melemahkan atau menguatkan KPK?
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Taliban, Oh Taliban. Kamu Ngapain Sih di KPK?

oleh : ANITA WAHID, 0 Komentar
Beberapa minggu terakhir saya perhatikan ada tulisan-tulisan yang seliweran di berbagai WAG, bicara tentang fenomena yang sedang terjadi di KPK. Intinya, tulisan-tulisan ini mau bilang begini: 1. KPK sudah masuk angin, kena radikalisasi 2. Akibatnya, sekarang ada pertentangan yang keras antara kubu polisi Taliban dengan kubu polisi India. Maksudnya tentu polisi Taliban itu yang udah kena asupan radikalisme. 3. Kelompok polisi Taliban ini selama bertahun-tahun sudah “memelihara” LSM-LSM yang sekarang sedang dikeluarkan untuk meributkan pansel dan capim KPK.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

CINTA MENDALAM, AIR MATA MENGHUJAN

oleh : AHMAD INUNG, 0 Komentar
Seorang paeditrician, K.K. Choudhary, pernah mengatakan “Too much love, too much pain, too much sacrifice makes you cry like rain”. Artinya kurang lebih seperti ini “Terlalu cinta, terlalu duka, telalu berkorban akan membuatmu menangis sederas hujan”. Quote ini mungkin barangkali bisa menggabarkan kedukaan hati Virginia saat ini.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Gus Dur dan Upaya Rekonsiliasi Konflik Aceh dan Papua

oleh : M. MUJIBUDDIN, 0 Komentar
Persoalan identitas merupakan masalah yang wajar terjadi dalam negara multikultural seperti Indonesia. Konflik identitas antar suku, agama, ras, maupun etnis yang terjadi akhir-akhir ini menambah rapot merah keberagaman di Indonesia. Namun bukan hanya persoalan horizontal saja, persoalan vertikal pun juga terjadi dengan melibatkan negara sebagai aktornya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Sudahkah Kita Menjadi Manusia?

oleh : AHMAD SOLKAN, 0 Komentar
Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, merendahkan dan menistakan manusia berarti menistakan penciptanya. Sebuah kata-kata mutiara yang mungkin tak asing baik di telinga atau mata kita.
Kategori : Headline , Opini

Menyimak Kritik Sastra Gus Dur kepada HAMKA

oleh : ALI USMAN, 0 Komentar
Pada 1983, Gus Dur pernah menulis esai yang cukup panjang sebagai pengantar untuk kumpulan tulisan (antologi) tentang Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Bukan semata-mata perkara ketebalan jumlah lembar, yang dalam edisi cetak mencapai 16 halaman, apa yang digubah Gus Dur itu bagi saya sangat mengesankan.
Kategori : Headline , Opini

Posisi Perempuan Dalam Ruang Politik Praktis

oleh : FAISAL SAIDI, 0 Komentar
Di zaman yang terlampau maju ini, kesadaran kita dalam memosisikan perempuan justru semakin memprihatinkan. Kedudukan perempuan menjadi tidak aman dan terkesan harus lebih waspada dalam beraktifitas di dunia yang serba praktis seperti ini. Apalagi hampir seluruh pergerakan perempuan seolah-olah diawasi dengan nilai moral. Artinya, perempuan dalam ruang sosial, agama, lebih-lebih dalam ruang politik [partai poltik], akan dinilai dengan pendekatan moralitas. Tidak demikian dengan ‘laki-laki’. Jarang sekali kita melihat, mendengar, atau menyaksikan bahwa ukuruan perilaku laki-laki dinilai dari pendekatan moralitas.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi

Jejak Gus Dur di Tanah Persia

oleh : PURKON HIDAYAT, 0 Komentar
“Khaili mamnun, lutf kardid, terima kasih, sudah berbaik hati memberi ini”, ujar seorang pria berusia mendekati lima puluh tahun dengan raut wajah sumringah ketika saya sodorkan sebuah gantungan kunci sebagai hadiah. Dengan aksen Persia yang sangat kental, dia mencoba mengeja tulisan yang tertera di gantungan kunci plastik bundar berdiameter kurang dari enam centimeter berwarna padu; hijau, kuning, putih, dan sedikit hitam dan merah. “Yang Lebih penting dari politik adalah kemanusiaan -KH.Abdurrahman Wahid”. “Ishan roshan fekr Mosalman ast, beliau adalah intelektual Muslim !”, tutur pakar tasawuf dan filsafat ini, sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah gambar Gus Dur yang tersenyum, lengkap dengan kacamatanya dalam gantungan kunci pemberian teman-teman Seknas Gusdurian tahun lalu di Yogyakarta.
Kategori : Headline , Opini , Pilihan Redaksi

Apapun Salahnya, Salah Amerika dan Yahudi!

oleh : MOHAMMAD PANDU, 0 Komentar
Bermula dari komentar saya atas postingan seorang kawan di status media sosialnya, kami pun terlibat diskusi kecil. Dalam postingannya, dia membagikan berita tentang meninggalnya 100 anak hafidz-hafidzah di Afghanistan akibat serangan udara sebuah helikopter. Anak-anak ini meninggal di hari bahagia kelulusannya.
Kategori : Opini , Pilihan Redaksi