Senin, 23 April 2018

BERITA JARINGAN GUSDURIAN

Informasi tentang peristiwa, kasus, dan kegiatan Jaringan Gusdurian Indonesia di berbagai daerah

Gusdurian Alternatif Gerakan Sosial untuk Perjuangkan Rakyat

oleh : MUHAMMAD AUTAD ANNASHER, 0 Komentar
Purbalingga-Komunitas Gusdurian harus menjelma menjadi gerakan sosial untuk menjembatani masyarakat memperoleh hak-haknya. Komunitas ini mesti mampu menjadi penggerak sosial di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Umum Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, dalam acara temu Komunitas Gusdurian Purbalingga, Rabu sore lalu (28/3).
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Gusdurian Purbalingga Gelar Workshop Video Dokumenter

oleh : MUHAMMAD AUTAD ANNASHER, 0 Komentar
Gusdurian Purbalingga berusaha mewadahi kreativitas dan potensi generasi muda dengan menggelar Workshop Video Dokumenter yang difasilitsi CLC Purbalingga yang selama ini sejalan bersama. Workshop yang rencana digelar selama sehari dari pagi hingga sore sempat molor hari berikutnya lantaran hujan pada Sabtu-Minggu, 17-18 Maret 2018. Materi teori diberikan di Sekretariat Gusdurian Purbalingga di Jl. Sekar Flamboyan Perumahan Griya Abdi Kencana Purbalingga.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kelas Pemikiran Gus Dur Surabaya: Melanjutkan Tongkat Estafet Gus Dur

oleh : MUHAMMAD AUTAD ANNASHER, 0 Komentar
Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur mungkin telah menghembuskan nafasnya 9 tahun lalu. Namun pemikiran, ideologi dan kontribusinya tetap abadi bagi pengikutnya, yaitu Gusdurian. Sebutan bagi para murid, pengagum dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Dengan adanya “Jaringan Gusdurian,” puluhan ribu gusdurian kini sudah menyebar tidak hanya di seluruh pelosok nusantara namun juga sampai di luar negeri. Hingga kini terhitung banyaknya Jaringan Gusdurian sejumlah; 28 di Jawa Timur, 20 di Jawa Tengah, 14 di Jawa Barat, 23 di luar Jawa dan 3 di luar negeri (yatu Malaysia, Jeddah, dan Saudi) dan masih akan bertambah lagi. Ungkap Mukhibullah, selaku perwakilan Seknas Gusdurian.
Kategori : Headline , Peristiwa

Haul Gus Dur dan Kisah Saya di Kampus Katolik

oleh : AHMAD NAUFA KHOIRUL FAIZUN , 0 Komentar
Di sebuah sudut di Kampus Katolik Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta, ada tempat berukuran sekitar 3×2 meter. Tak mewah, memang. Namun, di atap ruangan itu tertulis tanda panah, arah kiblat. Dan di bawahnya terhampar beberapa sajadah. Itulah, bentuk toleransi beragama yang nyata-nyata ada di Indonesia: sebuah Universitas Katholik, menyediakan Mushala, tempat untuk shalat bagi yang beragama Islam.
Kategori : Headline , Opini , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Kenang Haul Sewindu Gus Dur, Gusdurian Solo Pajang Poster

oleh : AJIE NAJMUDDIN, 0 Komentar
Gusdurian Solo punya cara unik untuk memperingati haul sewindu Gus Dur. Mereka memajang beberapa poster bergambar Gus Dur dalam ukuran besar di bundaran Gladak Solo, belum lama ini (30/12). Selain berisi gambar Gus Dur, pada poster tersebut juga ditulis beberapa kutipan terkenal dari Gus Dur, antara lain : “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu,” dan lain sebagainya.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi

Peringati Hari Santri, Gusdurian Kuala Lumpur Resmikan Griya Gusdurian

oleh : SITI NURFADILLAH, 0 Komentar
K.H Abdurrahman Wahid Wafat pada tanggal 30 Desember 2009 dalam usia 69 , kehilangan sosok pemimpin seperti beliau menyita kisah dan bekas yang mendalam, terutama untuk keluarga dan orang-orang didekatnya. Bahkan para pendukung dan pengagumnya turut merasa kehilangan. Gus Dur merupakan cucu KH. Hasyin Asyari, salah seorang pendiri Nahdatul Ulama, dan memiliki pesantren yang cukup besar di daerah Jombang Jawa Timur. Sosok kepemimpinan beliau sangatlah patut untuk dicontoh, kecintaannya terhadap Indonesia tidak pernah membuat dirinya membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Baginya siapa yang tertindas dialah yang patut untuk dibela, dibela keadilannya dan dibela dari sisi kemanusiaannya. Maka dari itu Gus Dur mendapat gelar Bapak Tionghoa, itu karena Gusdur getol membela keadilan kaum Tionghoa yang terdiskriminasi budaya dan agamanya.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Romo Katolik di Masjid Kedung Ombo

oleh : MUHAMMAD AZIZ DHARMA, 0 Komentar
BAGI WARGA Kedungpring, banjir bukan hal asing. Hidup di pinggir Waduk Kedung Ombo membuat mereka akrab dengan banjir. Saking seringnya terjadi, mereka tak akan panik sekalipun air sudah menggenangi lantai rumah. Kalau malam air naik, paling-paling esok harinya sudah surut kembali. Paling lama dua malam. Namun, hari itu berbeda. 12 Februari 1989, tepatnya pukul 9 malam, hujan lebat mengguyur Kedungpring. Air waduk mulai naik dan sampai ke kampung. Bukannya surut, air ternyata semakin tinggi saja hingga keesokan harinya. Warga salah perhitungan. Air naik bukan saja karena hujan, namun saluran air di hulu memang sengaja dibuka. Mereka panik dan lekas bergegas mencari tempat yang lebih tinggi.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Ketika Pastor Bergotong Royong Membangun Masjid: Kisah Toleransi dari Kedungombo

oleh : SARJOKO, 0 Komentar
Beberapa hari yang lalu penulis baru saja mengunjungi sebuah dusun di bantaran waduk Kedungombo, Boyolali. Warga dusun tersebut merupakan korban ketidakadilan dari pembangunan salah satu waduk terbesar di Jawa Tengah itu. Perjuangan warga untuk menuntut haknya (ganti rugi) saat itu didampingi oleh banyak tokoh kemanusiaan seperti KH Abdurrahman Wahid, Romo Mangunwijaya, KH Mahfudh Ridwan, dan lain-lain.
Kategori : Headline , Peristiwa , Pilihan Redaksi

Sepucuk Surat Takmir Masjid untuk Gereja di Malang Ini Sarat Makna Toleransi

oleh : LUGAS WICAKSONO, 0 Komentar
Sepucuk surat dilayangkan takmir Masjid Jami' ke Majelis Jamaat Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel, Selasa (13/6). Surat yang ditandatangani Ketua Takmir Masjid Jami' KH Zainuddin A Muchit dan Sekretaris KH Moch Effendi itu berisi permakluman bahwa solat Ied atau Idul Fitri dilaksanakan pada Minggu (25/6) mendatang. Dua tempat ibadah umat Islam dan Protestan tersebut lokasinya berdampingan di Jalan Merdeka Barat Kota Malang. Melalui surat itu pihak masjid memberitahukan bahwa solat Ied nantinya akan memanfaatkan sepanjang Jalan Merdeka Barat karena diperkirakan masjid tidak dapat menampung seluruh jamaah. Mengingat setiap Idul Fitri akan banyak umat Islam yang berbondong-bondong untuk solat Ied.
Kategori : Peristiwa , Pilihan Redaksi